
Amira membantu Dion mengemas kan barang-barang nya, sesekali Amira menetes kan air mata nya.
Baru saja satu bulan menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia dengan Dion, tapi kini iya harus merela kan kepergian Dion untuk melanjut kan study nya.
Sangat berat bagi Amira untuk berpisah, tapi semua seolah tak ada pilihan lain, Amira tak ingin masa depan Dion menjadi suram seperti diri nya.
Iya inggin, Dion menjadi dokter yang terbaik dan bermanfaat bagi banyak orang, meski iya harus merela kan kebersamaan nya bersama Dion.
Begitu pun Dion, meski berat meninggal kan istri nya yang sedang hamil, namun Dion harus tetap tegar karna diri nya seorang laki-laki dan iya juga kini akan menjadi calon ayah bagi anak yang di kandung Amira.
Mereka berada di kamar bersama membereska barang-barang yang akan di bawa Dion.
Namun tak banyak kata yang keluar dari mulut mereka, hanya sesekali Dion dan Amira bergantian menghapus titik air mata yang jatuh di pipi mereka masing-masing.
Mereka sama berat untuk meninggal kan dan di tinggal kan, tapi Dion telah berjanji pada Amira akan menjadi dokter spesialis mata terbaik, agar kelak iya bisa mengembalikan penglihatan Amira.
Dan setiap perjuangan pasti ada pengorbanan, dan ini lah pengorbanan pertama mereka.
Dion berharap suatu saat Amira akan bisa menatap dunia bersama nya, dan menjalani kehidupan yang normal seperti wanita yang lainya.
Dan itu tak bisa terjadi jika iya tetap di sini, dan berpangku tangan. Lama sudah Dion memendam tangis nya, dan akhir nya tumpah juga.
Dion menangis terisak di tepi kasur, belum saja iya pergi, tapi iya sudah tak tahan memikir kan Amira yang akan di tinggak kan nya.
Mendengar Dion yang menangis lirih, Amira pun menghampiri nya, mendekat dan memeluk nya,
Amira pun menangis bersama Dion, tak ada kata yang keluar dari mulut mereka, mereka seperti bicara dari hati ke hati.
Dan begitu lah mereka menjalani hubungan mereka, tanpa banyak bicara dan tanpa melihat, mereka selalu saling mengerti,
Tak terkira seberapa besar cinta dan kasih sanyang antara mereka karna semua itu tak pernah tersebut dalam dan tersurat sebuah ungkapan kata-kata.
Cinta mereka seperti air yang mengalir tanpa banyak kata-kata puitis. Kasih sayang mereka terlalu sempurna, hingga tak mampu tertulis sebagai sajak para pujangga.
Cinta datang dari mata turun ke hati, tapi Amira bahkan tak pernah melihat Dion, tapi iya mencintai nya.
Dion juga melihat, tak ada yang cacat pada diri Amira, hingga rasa yang begitu sempurna hanya iya curah kan pada Amira.
__ADS_1
Mereka hanya diam dan saling membelai, kini sudah saat nya melepas kan pelukan kan itu, telah tiba saat nya untuk Dion pergi.
Amira duduk di samping Dion dan memeluk erat lengan Dion, sementara Dion hanya diam terpaku, sesekali iya hanya mencium kening Amira dan merangkul nya.
Ummi dan Abi yang berada di duduk di depan mereka heran, karna melihat Dion dan Amira saling diam.
Mereka seperti orang yang sedang bertengkar tapi melihat gerak-gerik mereka, mereka juga tidak saling bertengkar.
Mungkin bagi Ummi, mereka mempunyai cara lain untuk mengungkap kan kesedihan mereka,
"Dion, Amira, apa kalian baik-baik saja?" tanya Ummi khawatir karna sepanjang jalan mereka hanya diam.
"Iya, Ummi. " Dan hanya Amira yang menjawab.
Sementara Ummi melihat ada titik air mata di sudut mata Dion. Ummi tak tega melihat keadaan Dion.
Dion memang selalu diam, jika iya ada masalah atau jika hati nya terluka.
"Dion jika memang berat bagi kamu untuk meninggal kan Amira kita pulang saja Dion."
"Tidak Ummi, Dion tetap akan pergi, Dion sudah janji pada Cahaya akan jadi dokter mata dan menngembalikan penglihatan nya."
Amira terharu, ternyata alasan Dion untuk pergi adalah karna Dion ingin menepati janji nya.
Amira semakin haru memeluk Dion.
Mereka pun tiba di bandara, Amira tetap menggandeng Dion, iya terus berada di samping nya hingga saat Dion akan pergi.
Dion pun pamit pada ke dua orang tua nya.
"Ummi, Dion titip Amira." suara Dion lirih dan ada bulir air mata jatuh di pipi nya.
"Iya, Nak Ummi akan jaga Amira.Kamu juga harus jaga diri mu baik-baik dan jangan tinggal kan sholat ya." ujar Ummi yang kemudian memeluk dan mencium Dion.
Dan saat berhadapan dengan Abi pun Dion berpesan yang sama.
"Abi Dion titip Amira,"ucap Dion lirih.
__ADS_1
Kemudian Abi memeluk Dion."Insya allah Dion, Abi akan jaga Amira seperti Abi menjaga kamu."
Dan kini Dion langsung menangis, iya tak mampun menahan air mata nya,iya pun memeluk Amira.
"Sayang, kamu jaga diri dan bayi kita ya, aku akan segera kembali," ucap nya semakin lirih.
Amira pun mengganguk," Kamu juga diri baik-baik ya, Dion."
"Aku dan anak kita akan menunggu mu kembali, " ucap nya pula.
"Ngak lama kok sayang, setiap akhir semester aku akan pulang, "ujar Dion menenangkan Amira.
Dion pun kembali memeluk dan mencium Amira, kali ini dengan durasi yang agak lama kemudian iya pun mencium perut Amira.
Dion pun pergi dan belalu dari hadapan mereka, dan kali ini Amira yang menangis sejadi-jadi nya.
Amira merasa ingin membawa Dion kembali iya pun mencurah kan kesedihan nya dengan menangis.
Ummi dan Abi yang melihat keadaan itu, langsung menghampiri Amira dan memeluk nya.
Mereka pun pulang dan sepanjang perjalanan Amira masih menangis.
Setelah sampai, Dion di jemput oleh paman nya dan untuk sementara iya tinggal di sana.
Dion pun di sambut kedatangan nya, oleh keluarga paman nya.Dion memanggil paman nya dengan panggilan Om dan Bibi nya dengan panggilan Mami.
Mami adalah kakak kandung dari ibu nya. Dion juga mempunyai sepupu yang hampir sebaya dengan nya, yaitu Ilham dan Yunita.
Ilham lebih tua setahun dari nya, sedangkan Yunita lebih muda setahun dari nya.
Dion di bawa menuju kamar nya, dan untuk sementara waktu iya sekamar bersama Ilham.
Hanya Mami dan Om fendi yang ada di rumah saat itu, Ilham dan Yunita sedang berada di luar.
Dion hanya berbaring di kamar sambil melepas kan penat nya, iya pun menelpon Ummi memberi tahu bahwa iya telah sampai di rumah Mami.
Dion pun meminta Ummi untuk menyambungkan telpon kepada Amira, baru sebentar iya berpisah rasa nya iya sudah rindu dengan Amira.
__ADS_1