Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Cemburu


__ADS_3

Amira langsung di larikan di rumah sakit, ada beberapa luka di sekujur tubuh termasuk pada bagian kepala.


Sementara Revan, melihat Amira yang tertabrak mobil, bukanya membantu, ia malah berniat melarikan diri.


Evan pulang kerumahnya dan langsung di sambut bahagia oleh Ayahnya.


"Van, gimana Van, kencan pertama kamu?" tanya Pak Dedy dengan sumringah.


"Kacau Pa, Amira tertabrak mobil," jawabnya.


"Tertabrak mobil, bagaimana itu bisa terjadi Van?"


"Tadinya Revan mau paksa Amira untuk berhubungan intim Pa, eh dianya malah kabur, mana mata Evan di semprot lagi pakai parfum nya."


"Apa Van?" Pak Dedy menampar Evan.


"Bisa-bisanya kamu bersikaf kurang ajar terhadap Amira," hardik Pak Dedy.


"Evan pikir Amira sama kayak pacar Evan yang lain, apalagi dia janda Pa," jawab nya santai.


"Kamu tuh ya seenaknya saja berbuat, kamu sudah mencoreng nama baik kita, apa kata Ayah Amira nanti, aduh Evan bisnis Papa bisa kacau gara-gara kamu Van."


"Dan kamu dalam keadaan bahaya Van, kamu bisa di laporkan ke polisi, atas kasus pelecehan, kamu bagaimana sih Van, semua nya kini jadi hancur, karna kecerobohan kamu."


"Bisnis Papa, nama baik keluarga kita, semua karna kamu Van, kamu tahu sendirikan keluarga Amira bukan sembarangan," bentak Dedy.


"Trus Evan mesti gimana Pa, evan ngak maulah di penjara." Evan mulai gusar.


"Kamu kabur saja Van, biar bapak yang menghadapi semua."


Dan Evan pun setuju, malam itu juga ia melarikan diri.


**


Amira berada dalam ruang UGD sedang di lakukan pengobatan dan pembersihan luka, ada beberapa luka di sekujur tubuhnya, untung saja mobil itu tidak laju, hingga Amira tak terlalu parah.


Hasil CT scan menunjukan Amira mengalami cedera kepala ringan, karna belum sadar, ia pun dilarikan diruang ICU.


Amira hanya di jaga Arkan selama berada di ICU, karna saat itu kondisi ayahnya juga memburuk, akibat mendapat kabar kecelakaan yang menimpa putri semata wayangnya.


Keadaan Amira cukup stabil, setelah beberapa lama berada di ruang ICU ia pun sadar.


Amira mengeluhkan sakit pada kepalanya, maklum saja iya juga pernah mengalami trauma pada bagian kepala, beberapa tahun yang lalu.


"Amira kamu sudah sadar?" tanya Arkan.


"Aku di mana Kan? kenapa kepala ku sakit sekali," keluh nya.


"Kamu berada di ICU Amira, kamu di tabrak mobil, untung tak terjadi sesuatu pada kamu Amira."


Amira pun ingat bagaimana ia bisa sampai tertabrak mobil.


"Amira kamu harus banyak istirahat, jangan terlalu di pikirkan, biar aku yang mengurus Evan nanti."


"Ia Kan," Amira pun menutup matanya, meski kepalanya masih terasa pusing.

__ADS_1


Keesokan harinya.


Dion membawa seikat bouqet bunga mawar merah, yang akan ia berikan pada Amanda.


Sesampainya di kamar perawatan Amanda, Ia pun mengucapkan salam sebelum masuk.


Dan langsung di sambut hangat oleh kedua penghuni kamar itu.


"Amanda kamu sudah siapkan untuk kemo?" tanya Dion sambil menyerahkan boqet mawar merah yang indah.


"Siap pak dokter," jawab nya dengan semangat dan senyum mengembang di wajahnya.


Dion menarik kursi roda yang ada di samping tempat tidur Amanda.


Ia pun membantu Amanda untuk turun dari tempat tidur, dan duduk di atas kursi roda, Amira merasa bersemangat dalam menjalani pengobatanya kali ini, dengan sedikit saja perhatian yang Dion berikan, mampu membangkitkan semangat dan rasa percaya dirinya kembali.


Benar saja jika orang bilang cinta adalah semangat dalam hidup ini, hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga, tak akan terasa indah.


Hal itu yang dirasa kan Amanda saat ini, secercah asa pun menggantung di hatinya, berharap cinta segera berbalas.


Hidup adalah penantian, akan selalu ada harapan selama kita masih mau berjuang, namun apa bila harapan hanya tinggal angan-angan, yakin lah apa yang di berikan oleh tuhan, adalah yang terbaik untuk kita.


Dion mendorong kursi roda dan membawa Amanda keluar dari kamar itu, Amanda tersenyum bahagia, sambil memeluk bunga mawar yang di berikan Dion kepadanya.


***


Karna kondisinya membaik Amira pun di pindahkan kan dari ruang ICu ke ruang perawatan, dua orang suster dan Arkan, membantu Amira untuk duduk di kursi rodanya.


Arkan mendorong kursi roda Amira, sementara seorang suster membawa infusan Amira, mereka berjalan melewati lorong-lorong di rumah sakit.


"Aku ngak mikirin diri ku Kan, aku mikirin anak-anaku sekarang Kan, mereka pasti sedih karna ku tinggalkan," tutur Amira.


"Kenapa ngak suruh Dion saja yang merawat mereka sementara waktu, dari pada mereka kesepian, karna Bapak kamu juga di rawat di rumah sakit akibat serang jantung, karna mendengar berita kecelakaan yang menimpa mu Amira."


Amira hanya diam, tak bereaksi, Arkan pun melanjutkan kata-katanya.


"Aku sudah bilang pada mu kan? Evan itu pria ngak bener, masih aja kamu mau sama dia, kalau mau move on, cari dong yang lebih dari Dion, atau minimal setara lah sama dia."


Amira hanya diam mendengar Arkan yang menceramahinya.


Saat akan menuju bangsal wanita, Amira dan Arkan berpapasan dengan Dion dan Amanda.


Amira melihat Dion mendorong kursi roda gadis tersebut, gadis itu terlihat bahagia sambil memeluk bunga mawar, yang bisa di pastikan pemberian Dion.


Amira hanya tertunduk melihat mereka berlalu, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Dion, ia hanya berlalu tanpa menyapa nya terlebih dahulu.


Amira kecewa, cemburu, perasaan itu bercampur baur dalam dadanya kini.


Secepat itu kah Dion menandapatkan pengganti ku, secepat itu kah Dion berpaling dari cinta nya, tanya nya menangis dalam hati.


Arkan berhenti sejenak, dan memaling kan wajahnya ke belakang untuk memastikan bahwa yang di lihatnya barusan adalah Dion.


"Amira, bukan nya itu tadi Dion?" tanya Arkan.


Tapi Amira sepertinya tak mendengar pertanyaan Arkan, ia terlalu larut dalam perasaan cemburu dan kecewanya, hingga ia pun tak sadar kini wajah Arkan, sudah tepat berada di hadapanya.

__ADS_1


Arkan memperhatikan mimik wajah Amira yang terlihat sedih, kecewa dan terlihat sekali Amira menahan rasa cemburunya.


"Ehm," Arkan berdehem mengejutkan Amira dan Amira kaget karna melihat wajah Arkan sudah ada di hadapanya.


"Jealous ya?" tanya nya mengoda Amira.


"Siapa yang jealous?" sahut Amira.


"Ia kamu ngak jealous, cemburu aja," tuturnya sembari menanjutkan perjalanan mereka, sementara suster sudah jauh kedepan meninggalkan mereka.


Sesampainya di kamar perawatan, Amira pun berbaring di atas tempat tidur dengan tatapan mata yang kosong.


"Amira, kamu kenapa begong terus sih, udah... kalau masih ada rasa, mendingan cepat kamu utarakan, tepis sikaf angkuh dan egois kamu itu," cetus Arkan.


"Kamu ngomong apa sih Kan, siapa juga yang masih punya rasa sama dia, biar saja dia sama wanita lain, bukanya sekarang kami sudah ngak ada hubungan," balasnya.


"Ya itu terserah kamu, cowok sekeren dan super ganteng seperti Dion, ngak heran cepat dapat pacar lagi, bahkan menurut aku, ia bisa dapat yang lebih cantik dan lebih muda dari kamu dengan mudah Amira," Cetusnya lagi, semakin memanasi Amira, karna ia tahu, Amira masih mencintai Dion, dan ia tak ingin Amira menyiksa dirinya sendiri, karna mengingkari perasaanya terhadap Dion.


"Sebelum terlanjur di ambil orang, mendingan kamu cepat rebut kembali hati mantan suami kamu itu, "bisiknya di telinga Amira.


"Apa an sih kamu Kan, bukannya support aku, malah nyarannin aku balikan sama dia, aku bilang ngak ya ngak, aku ngak peduli mau dia punya pacar satu atau seribu, bukan urusan ku lagi," jawabnya dengan kesal."


"Itu terserah pada kamu, yang sakit hati juga kamu, aku saranin aja, kalau kamu ngak mau balikan sama Dion, mending kamu sama Raihan, meski Raihan ngak seganteng Dion, tapi Raihan itu baik, aku yakin dia bisa membantumu melupakan Dion."


"Kamu pikir aku tuh piala bergilir apa, setelah ngak jadi sama Raihan, aku nikah sama Dion, dan setelah pisah sama Dion, aku balikan sama Raihan, kayak ngak ada laki-laki lain aja di dunia ini," ia pun menarik selimutnya.


"Udah kan aku mau tidur, kepala ku sakit," Amira pun merebahkan tubuhnya, karna memang kepalanya masih terasa sakit akibat luka jahitan di kepalanya.


Sementara Dion, melihat Amira yang di perban bada bagian kepalanya, ia merasa khawatir, namun apa daya, ia tak ingin mencampuri urusannya nya lagi, baginya Cahaya hanya ibu dari anaknya, dan tak lebih dari itu.


Meski ia masih mencintainya, tapi Dion tak mau terlalu larut dalam perasaannya, ia pun merasa kecewa, penantianya selama bertahun-tahun bahkan tak di anggap sedikit pun.


Sebagai lekaki Dion juga punya harga diri, ia juga tak mau terus-terusan mengemis cinta pada orang yang pernah menghargai kesetian, dan pengorbanannya selama bertahun-tahun, setelah kejadian itu, hati Dion menjadi hancur, bahkan ia sendiri, sudah tak mengharap cinta Amira.


Meski terpuruk, Dion berusaha bangkit, ia yakin suatu saat ia akan temukan bahagia, meski tanpa Cahaya.


Biar saja waktu berlalu menghapus jejak mu...


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Please like, komen dan vote nya ya reader, kalau bukan kalian siapa lagi yang bisa support author,


Mampir juga di novel author yg lain dengan judul Ketika takdir menyatukan aku dan mereka.


mu..


****


Please like, komen dan vote, untuk dukung author, kalau bukan para reader siapa lagi yang bisa mendukung author.


Mampir juga di novel author yg lainya


Dengan judul ketika takdir menyatukan aku dan mereka.


__ADS_1


__ADS_2