Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Kebersamaan


__ADS_3

Arkan mengutarakan maksud nya untuk menikahi Amanda, kepada Oma.


Oma sedang melamun di atas kursi goyang, rumah ini terasa sepi tanpa kehadiran Gea dan Geo.


Tak ada lagi suasana suka, tak ada lagi tawa riang dan suara tangis mereka, perlahan Oma menitikan air matanya, ia merasa rindu kepada Amira dan si kembar.


Arkan menghampiri Oma, dan duduk di samping nya.


Melihat Arkan yang datang, Oma langsung menghapus air matanya.


"Oma, karna pernikahan Arkan dan Dyah batal, Arkan mau menikahi gadis lain bermama Amanda, " Arkan.


"Ha, apa dia gadis terhormat?" tanya Oma sinis.


"Tentu saja Oma, Arkan juga ngak mau memilih gadis sembarangan untuk Arkan persunting sebagai istri." Arkan.


"Maksud Oma, apa dia selevel, atau paling tidak seperti Dyah, "


"Dia hanya gadis biasa, dari keluarga yang sederhana, tapi Arkan yakin dia gadis yang baik," tutur Arkan.


"Benarkah Arkan ? jika menurut mu itu baik lakukan saja, Oma tak kan menghalangi mu, Oma sudah tua, yang terpenting kau bahagia, Oma sudah kehilangan Amira, dan Oma tak ingin lagi kelihangan mu," tutur sang Oma sedih, ada tetes air mengalir melewati kulit keriputnya.


"Oma, Oma ngak kehilangan Amira dan cicit Oma, mereka ada, mereka juga rindu sama Oma," katanya sambil menatap mata Oma.


"Arkan, Oma sangat merindukan mereka, kenapa Amira tak datang kemari, apa karna lelaki itu, dia melupakan keluarga ini ?" tanya nya sambil menangis sedih.


"Oma, Amira juga kangen sama Oma, ia juga sangat merindukan keluarga ini, hanya saja, Amira takut Oma akan menolak kehadirannya," papar Arkan menjelaskan.


"Tapi Amira, ia sudah jauh berubah setelah dia mengenal Dion, Amira lebih memilih keluarga barunya dari pada keluarga ini, yang telah membesarkan dan memberinya kasih sayang, sejak dia lahirkan hingga dia menjadi dewasa, " papar sang Oma, ia begitu sedih, hingga ia menangis terisak.


"Oma, Amira tetaplah Amira yang dulu, hanya saja dia sekarang sudah dewasa, dia bisa memilih mana yang terbaik untuknya dan bisa membuatnya bahagia, Dion dan Amira saling mencintai, mereka sudah punya anak, apalagi Amira tengah mengandung sekarang, jadi kita tak mungkin memisahkan mereka, kenapa kita tak membiarkan saja hubungan mereka, dan menerima Dion sebagai bagian dari keluarga besar kita Oma, " lanjut Arkan.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin, kita dan dia berbeda, kita ini keturunan darah biru, keturunan Ningrat, sedangkan mereka hanya orang biasa, dan bagaimana kita bisa melangsungkan keturunan kita, jika wanita dalam keluarga kita menikah dengan orang biasa, maka darah ningratnya tak akan terwarisi," papar Oma kembali.


"Oma, itu hanya tradisi leluhur kita, saat itu mereka belum mengenal arti kesetaraan, arti dari pancasila, kita sama sama manusia, bagaimana kita bisa merasa derajat kita lebih tinggi, dan orang lain lebih rendah derajatnya, siapa kita yang bisa menilai semuanya, sedangkan Tuhan saja tak pernah membeda-bedakan mahluk ciptaanya, tekecuali berdasar kan amalnya masing-masing," jelas Arkan.


Sejenak Oma merenungi kata-kata cucunya tersebut.


"Baiklah Arkan, bawalah dia menemui Oma," ia pun beranjak dari kursinya.


"Dan satu lagi Arkan, sampaikan pada Amira, Oma sangat merindukan dia dan si kembar," tambah Oma lagi, ia pun masuk kedalam kamarnya.


Arkan pun tersenyum melihat Oma, sepertinya ia sudah berhasil menasehati Oma.


***


Arkan sudah menunggu di bandara untuk menjemput kedua orang tuanya yang telah tiba dari Jerman, kali ini ia membawa Amanda bersamanya.


Amanda begitu cantik, wajahnya di rias tipis, dengan lipstik berwarna soft pink.


Amanda sangat gugup, ia tak begitu mengenal calon suaminya, tapi dari tutur kata dan tindak tanduknya, Amanda sangat yakin, jika Arkan adalah pria yang baik.


"Amanda kau baik-baik saja kan?" tanya Arkan, karna di lihatnya Amanda hanya diam.


"Iya Mas, saya baik-baik saja," jawabnya sambil tersenyum kearah Arkan.


"Kamu gugup ya? karna akan bertemu dengan kedua orang tua ku," tanyanya lagi.


"Iya Mas, " Jawab nya.


"Amanda kamu harus tahu, sebelum ini aku sudah bertunangan dan hampir menikah, tapi semua gagal, karna seseorang telah memfitnah ku, dengan tuduhan telah menghamilinya, akhirnya kekasih ku pun pergi meninggalkan ku, dan harusnya seminggu lagi kami akan menikah," papar Arkan dengan jujur.


"Jadi itu sebabnya Mas, kamu ingin menikahiku, hanya untuk sebagai penggantin pengganti mu Mas," tutur nya dengan vibra yang kecewa.

__ADS_1


"Kamu salah paham Amanda, aku ingin menikahi kamu, bukan karna akan menjadi kan mu sebagai penggantin pengganti, tetapi aku ingin mewujudkan ke inginan mu, untuk menikah," jawab Arkan.


"Ke inginan ku? Memang Mas tahu dari mana?" tanya Amanda heran.


"Maaf sebelumnya, aku dan Amira lancang membaca buku harian mu, kami tak bermaksud apapun, Amira hanya ingin membuktikan jika kau dan Dion, tak ada hubungan apapun, meski kau sangat mencintainya dan menginginkannya," papar Arkan.


Amanda tertunduk malu, perlahan ia meneteskan air matanya.


Melihat Amanda seperti itu, Arkan meraih tanganya dan menggenggamnya erat.


"Tenang saja Amanda, aku bisa menerima mu apa adanya, belajarlah mencintaiku mulai dari saat ini, karna aku pun begitu, aku akan belajar mencintaimu dengan segala kekurangan mu, aku tak kan pernah mengunggkit perasaan cinta mu terhadapnya, yang berlalu biar lah berlalu, kita buka lembaran yang baru bersama," papar Arkan.


Amanda begitu terharu, ia semakin yakin jika calon suami nya itu adalah pria yang baik, bahkan ia tetap menerima kekurangan dirinya, Amanda menangis haru, seketika ia memeluk Arkan yang sedang menyetir di sampingnya, di sana Amanda tumpahkan seluruh perasaanya, menangis di pelukan Arkan.


Dengan penuh kelembutan Arkan mengusap kepalanya, dan saat itu Amanda semakin terharu, karna baru kali ini, merasa bahagia, ia merasa begitu di cintai dan di sayangi, meski pun ia tahu, Arkan belum tentu mencintainya, tapi melihat sikafnya, Amanda sudah merasa bahagia, akhirnya kini ia temukan bahu yang kokoh untuk ia bersandar dari ke rapuhan tubuhnya.


Melihat Amanda menangis, Arkan langsung menghapus air matanya.


"Ngak usah menangis Amanda, nanti orang tua ku melihat mu, dikiranya kau tak bahagia bersama ku," ucapnya.


Amanda tersenyum dan menghapus air matanya.


"Mana mungkin aku tak bahagia, jika mendapat calon suami sebaik diri mu, bahkan kau terlalu baik untuk ku," ucapnya sambil tersenyum bahagia.


"Kalau begitu, berjanjilah kau tak kan pernah menangis lagi di hadapan ku," tuturnya lagi.


Amanda pun tersenyum dan mengangguk, ia pun kembali merebahkan tubuhnya di bahu Arkan.


Mereka merasa bahagia, meski tak pernah mengenal sebelumnya, tapi kini mereka merasa nyaman saat bersama.


jangan lupa dukunganya, like , komen dan vote, terima kasih

__ADS_1


__ADS_2