
Amira keluar dari kamar Amanda dengan wajah merah padam, dengan geram ia mencari keberadaan Dion, perasaanya sudah bercampur baur saat itu.
Amira menghampiri Dion yang berada di dapur, ia sedang menyiapkan sarapan untuk mereka semua.
"Apa ini Dion ?" tanyanya sambil memperlihatkan selembar foto dari masa lalu Dion, dengan memicingkan matanya, dan nafas yang semakin memburu karna menahan rasa kesal dan kecewanya.
Dengaan mata terbelakak karna kaget, Dion melihat fotonya yang masih menggunakan seragam SMA, bahkan ia masih ingat di mana foto itu diambil.
Ya, foto itu di ambil saat dokumentasi saat perayaan tujuh belas Agustus, di mana angota organisasi osis berfoto bersama, tak terkecuali Amanda, karna Amanda, mejabat sekertaris dan ia sendiri sebagai ketua OSISnya.
Entah kenapa Amanda bisa mengambil fose dirinya hanya sendiri, padahal Dion tak pernah mau di foto sendiri.
"Sandiwara apa ini Dion ? kenapa dia bisa menyimpan foto masa lalu mu? " tanya Amira dengan nada sedikit kencang, hingga mengagetkan Gea dan Geo.
Melihat kedua orang tuanya seperti punya masalah, Gea dan Geo tak berani keluar, mereka hanya menangis, karna selama ini, ia tak pernah mendengar keduanya bertengkar, apalagi sang ibu sampai menangis.
"Sayang biar aku jelaskan, tahan emosimu, aku tak ingin terjadi sesuatu pada mu," ucap Dion sambil memeluk erat Amira.
"Lepaskan aku Dion, ku pikir kau sudah berubah Dion, ternyata aku salah, harusnya aku sadar, selama ini aku hanya di permainkan oleh mu, apa salah ku pada mu Dion, hingga berulang kali kau tega menyakitiku seperti ini, aku bahkan meninggkan keluarga ku, hanya karna percaya pada pada bujuk rayu mu, harusnya aku percaya pada mereka, jika sebenarnya kau tak pernah berubah, aku memang tak mengenalmu Dion, kau kini asing bagi ku," tuturnya menangis, sambil berusaha meronta melepaskan pelukan Dion.
"Dengar sayang, dengan penjelasan ku dulu," ucap Dion, sambil memeluk Amira.
"Katakan saja Dion, aku sudah siap dengan semuanya, aku juga sudah siap jika harus mengakhiri rumah tangga dengan mu selamanya," suara Amira lirih, ia seperti orang yang putus asa.
Sementara kedua anak mereka menanggis mendengar kata-kata Amira, mereka tak mau Ayah dan ibu mereka kembali berpisah.
"Tidak sayang, aku bersumpah demi Tuhan, aku tak ada hubungan apa pun dengan Amanda, dan aku tak pernah menyentuhnya, meski aku dan dia berada dalam rumah, dan tak ada siapa-siapa di antara kami, itu karna aku tak punya perasaan apapun padanya, terlebih aku tak pernah berniat mengkhianati mu, sayang," tutur Dion, sambil memeluk Amira, ia pun mencium lekat kening Amira.
"Dengarkan kan dulu, kau jangan gegabah, aku tak ingin karna emosi, terjadi sesuatu yang akan membuat kita menyesal nantinya, ingat sayang kau sedang hamil, cobalah untuk mengontrol emosi mu sedikit," paparnya.
Amira berusaha melepaskan pelukan Dion, tapi Dion malah semakin erat memeluknya.
"Katakan saja Dion , aku tak perlu dengan pemaparan mu yang panjang lebar, ada apa sebenarnya antara kau dan Amanda?" tanyanya masih terisak.
Dion menarik nafas panjangnya,
"Dengar Cahaya, aku dan Amanda, teman satu sekolah saat SMA, dan dia adalah cinta pertamaku," ujarnya dengan pelan.
Mendengar jawaban Dion, seketika tubuh Amira menjadi gemetar dan ia hampir ke hilangan keseimbanganya.
Amira masih menangis dalam dekapan Dion, tubuhnya masih bergetar dengan nafas yang masih terengah-engah, seketika ia terkulai lemas, dan tak sadarkan diri.
"Sayang, sayang, "Dion mengguncang tubuh Amira, yang tak berdaya dalam pelukanya.
__ADS_1
Seketika Dion juga menangis, karna kini Amira pingsan dalam dekapanya.
"Sayang bangun sayang, ucapnya ," ia pun membawa Amira ke atas tempat tidur, dan meletakanya dengan hati-hati.
Dion bukan main panik, bahkan ia tak tahu harus berbuat apa pada istrinya, meski pun ia seorang dokter.
Setelah beberapa kali mencoba untuk membangunkan nya, tapi Amira juga tak bangun, karna tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, Dion pun membawa Amira ke rumah sakit.
"Sayang bangun sayang, " ucapnya berkali kali, ia pun menangis.
Gea dan Geo menghampiri ayah mereka, "Ayah, ibu kenapa Yah, kenapa Ayah menangis?", tanya mereka yang juga ikut panik, melihat ibunya tak sadarkan diri.
"Ayo ikut Ayah, kita bawa ibu kerumah sakit, "Dion mengangkat tubuh istrinya sebenarnya ia juga gemetar, melihat Amira yang pingsan, tapi ia coba untuk menguatkan dirinya.
Setelah sampai dirumah sakit, Dion langsung membawa Amira keruangan UGD, tentu tenaga medis di sana sudah mengenal Dion, tapi melihat ekspresi kesedihan di wajahnya, tak satu pun berani menyapanya.
Para perawat langsung memeriksa tekanan darah dan denyut nadinya.
"Seratus enam puluh per delapan puluh dokter," ungkap salah seorang perawat kepada Dion.
"Denyut nadinya lebih dari 90 per menit ," tambahnyanya lagi.
Dion panik, tekanan darah Amira naik lagi, kemaren ia memeriksanya hanya berkisar seratus empat puluh per delapan puluh.
Amira pun di pasang selang oksigen, dan saat mereka menusuk jarum untuk memasang selang infus, Dion malah mengejutkan merea, "Hati-hati, " ucapnya pada suster, karna sudah berapa kali mereka gagal karna pembuluh darah nya tak terlihat.
Suster tersebut merasa tak nyaman, karna pergerakan mereka terus di awasi Dion.
Huh, jika takut istrinya terluka, kenapa ngak di pasang sendiri saja sih, batin suster tersebut kepada Dion.
Mereka baru kali ini melihat dokter Reziq panik, bahkan hampir menangis.
Melihat keadaan Dion yang sepertinya sedang kacau, dokter Diah menghampirinya.
"Dokter, jika anda tak bisa mengontrol emosi anda, maka kami akan kesulitan bertindak, sekarang dokter serahankan saja kepada perawat di sini, dokter tahu sendirian seberapa profesionalnya mereka," tutur dokter Diah.
"Tapi aku sangat mengkhawatirkan istri," ku, ujarnya.
"Aku tahu, tapi biarkan kami bertindak sesuai prosedur, " ungkapnya lagi.
"Dan anda bisa menunggu di luar sementara waktu, bersama anak anda, istri anda juga akan langsung di bawa keruang perawatan," bujuk dokter Diah, dan Dion pun setuju.
Di luar ruangan Dion langsung menelpon ummi dan mengabarkan keadaan Amira.
__ADS_1
Telpon pun tersambung,
"Assalamualakum, Dion" sapa Ummi dengan suara yang lembut.
"Waalaikum salam Ummi," balas Dion terdengar kepanikan di vibra suaranya.
"Ada apa Nak ?" tanya Ummi.
"Cahaya, Ummi, dia terancam keguguran, karna tekanan darahnya tinggi," keluh nya dengan suara parau menahan tangis.
"Tapi kenapa bisa terjadi seperti itu Dion, kamu itu dokterkan, masa' kamu ngak bisa ngontrol istri kamu sih," sungut Ummi.
"Bukan begitu Ummi, ada masalah yang membuat Cahaya stress, selain strees dengan pekerjaannya, ia juga strees karna masalah rumah tangga yang kami hadapi sekarang," tuturnya.
"Dion, apalagi sih, jangan bilang sama Ummi penyebab masalah rumah tangga kalian karna hadirnya orang ketika lagi," terka Ummi.
"Sudalah Ummi, Ummi harus pulang, karna Dion kewalahan, Cahaya sakit sementara Gea dan Geo tak ada yang menjaga," paparnya.
"Ia Dion, Insya Allah Ummi akan pulang segera, tapi apa kamu sudah mengabari keluarga Amira ?" tanya Ummi.
"Belum Ummi, Dion takut, mereka akan mempengaruhi Cahaya kembali, agar meninggal kan Dion, Ummi."
"Dion ngak mau berpisah lagi dengan Cahaya Ummi, biar saja dulu, setelah Dion berhasil membujuk Cahaya, baru Dion akan memberi kabar ke keluarganya,"
"Ya sudah, Ummi segera pulang," ia menutup telponya.
Dion melihat kearah anak-anaknya yang menangis sedih.
"Ayah, ibu kenapa, Apa ibu akan pergi seperti Opa ?" tanya Gea.
Mereka pun menangis.
"Geo mau ibu cepat sembuh Yah," tutur Geo pula.
Melihat keadaan kedua anaknya, Dion merasa sedih, mungkin karna mereka melihat Dion panik, mereka juga ikut panik, Dion pun berusaha menenangkan dirinya, seraya menenangkan Gea dan Geo, meski dalam hatinya begitu mengkhawatirkan keadaan Amira.
Please
🍎Like
🍎komen
🍎dan votenya
__ADS_1
🍎hadiah juga boleh