Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Tyas VS Alice


__ADS_3

Amira membuka matanya, rona bahagia terpancar dari raut wajahnya, karna si kembar lah membangunkan Amira dengan gerakanya.


Amira mengelus perut nya yang semakin buncit, Harapan baru yang akan hadir di dalam hidupnya, dan akan ada sapaan baru baginya, Ibu, akan ada yang memanggilnya dengan panggilan Ibu.


Si kembar dalam rahimnya, seolah memberi kekuatan baru baginya, Amira beranjak, dan langsung menuju kamar mandi, Meski penyandang tuna netra, namun ia selalu bersikaf mandiri, itulah mengapa ia mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru dan tempat tinggal baru, cuaca di sana sangat ekstrim menurut orang indonesia, apalagi kini di sana mulai memasuki musim dingin.


Amira melukis di ruang keluarga, karna rumah keluarga mereka di sana, tak sebesar rumah yang ada di indonesia, rumah tersebut milik Pak De Amira, yang bekerja di kantor KBRI di Berlin.


Amira mendengar suara agak berisik dari luar, namun ia tetap fokus dengan lukisanya, melukis saat tak melihat, memang membutuh kan konsentrasi tingkat tinggi, Amira melukis bukan untuk di pajang atau untuk di jual, ia sengaja melukis, agar jika ia sudah bisa melihat, ia sendiri bisa menilai lukisanya saat dia tak melihat, tak ada kesibukan apa pun yang bisa ia lakukan untuk mengalihkan dunianya, terkecuali melukis.


Seseorang menyapanya,


"Hai, Amira," suara lembut dari seorang Pria.


Amira binggung, karna ia tak mengenali suara pria itu.


"Hai Juga," Jawab Amira singkat.


"Kau tak mengenali ku ya?" tanya nya.


"Kau siapa? beritahu saja aku tak suka bermain teka-teki," jawabnya ketus.


"Aku Arkan, Amira," Jawabnya.


"Arkan, sepupu ku yang nakal itu," sahutnya dengan bercanda.


"Kenapa sih yang kau ingat, hanya kenakalanku, anak kecil nakal, ya wajar saja," jawabnya.


Amira pun tertarik untuk berbincang dengan Arkan, hampir sepuluh tahun ia dan Arkan tak bertemu.


Amira melepaskan kuasnya dan mencuci tanganya, ia pun duduk, bermaksud berbincang dengan Arkan.


"Arkan, bagaimana dengan kabarmu?" tanya Amira dengan semangat, ia seperti mendapat teman baru, setelah beberapa hari tinggal di sini, ia tak pernah bicara pada siapa pun sebelumnya.


"Aku baik Amira, kau sendiri?" tanya Arkan.


Amira tak menjawab, ia hanya tertunduk.


"Maaf aku ngak sengaja bertanya hal itu pada mu, aku sudah mendengar semua cerita mu, dari Bapak dan Ibu mu, aku harap kau sabar Amira, aku tahu kau wanita yang kuat," tutur Arkan.


"Ya, Arkan, jika aku tak kuat, aku pasti takkan berada di sini," ucap Amira lirih.


"Kemarin saat aku ke indonesia, aku bertemu dengan Raihan, dan kabarnya, ia sudah berpisah dengan istrinya, Amira."


"Trus apa hubunganya dengan ku?" tanya Amira.


"Amira aku rasa Raihan lebih tepat untuk mu, dari pada suami mu itu, Raihan dewasa, sedangkan Dion..., "kata-katanya terhenti.


"Cukup Arkan, jangan sebut namanya di hadapan ku, itu sama saja menyiram garam di atas luka ku yang baru saja mengering." Amira menetes kan air matanya.

__ADS_1


Arkan menghampiri Amira dan memeluknya," Maaf Amira, aku tak sengaja, aku tak bermaksud melukai hati mu, aku sedih mendengar semua cerita tentang mu, mulai dari kecelakaan yang mengubur semua impian mu, hingga penghianatan yang di lakukan suami mu, Aku hanya ingin kau mengobati luka mu saja Amira, dan aku tahu, cara yang paling ampuh untuk mu adalah membuka diri untuk seseorang, kau masih muda, kau pantas bahagia," tutur Arkan sambil memeluk Amira.


"Aku bisa menjalani semuanya sendiri, aku tak butuh orang lain, Arkan," balas Amira.


"Aku tahu kau wanita yang kuat Amira, tapi jika kau butuh sesuatu kau bisa hubungi aku," mereka pun melepaskan pelukanya.


Arkan pun menghapus air mata di pipi Amira, dan rasanya ia kini semakin tegar.


"Sudah cukup bicara tentang aku, kau sendiri, bukannya Oma sudah menyiapkan calon untuk mu, Arkan?"


"Aku tak ingin di jodohkan Amira, aku ingin menentang tradisi yang ada di keluarga kita, kau adalah salah satu seseorang yang mengispirasi ku Amira, tradisi itu tak bisa di lanjutkan, lihat lah berapa banyak pasangan yang berpisah, hanya karna mereka menikah karna di jodohkan dan bukan karna cinta." papar Arkan.


"Ngak begitu juga Arkan, aku juga menikah karna cinta. tapi nyatanya, juga harus berpisahkan? dan mirisnya lagi, tak ada yang bisa ku salahkan, karna itu pilihan yang ku ambil sendiri," tutur Amira sambil tersenyum.


"Nah gitu dong, tersenyum, aku kan juga bahagia melihatnya. " Arkan mencolet hidung Amira.


Mereka pun ngobrol sepanjang hari, terkadang terdengar suara cekikikikan tawa mereka, terkadang juga terlihat kesedihan di mata mereka, dan Amira pun cukup terhibur dengan kehadiran Arkan.


***


Dion memulai aktifitas kuliahnya, ia hanya berjalan kaki, baru masuk lingkungan kampus, sudah terdengar desas desus tentangnya, mereka berbisik membicarakan kekagumannya pada sosok Dion, ketampananya dan sikaf dinginnya, Dion memang tak pernah bergaul, ia hanya punya satu teman yaitu Alice.


Alice sudah menunggunya, di depan kelas, namun Dion masuk tanpa menyapa Alice.


Alice pun menghampiri Dion.


"Bukan begitu, terlalu banyak masalah yang ku hadapi akhir-akhir ini, aku tak ingin di ganggu, aku hanya ingin sendiri," tuturnya tanpa menatap mata Alice.


Dan sudah beberapa hari, Dion tak pernah bicara pada Alice, ia pun bermaksud untuk menemui Dion, di kos-an nya.


Alice mengetuk pintu kos-an Dion, tak berapa lama ia pun membukakan pintu, Dion sedikit kaget dengan kedatangan Alice, meski tak ingin di ganggu, tapi ia coba untuk menghargai tamu.


"Ada apa Alice?" tanya Dion di muka pintu.


"Apa aku boleh masuk Dion?" tanya Alice.


Dion hanya menggamgguk, sembari membiarkan pintu kos-an nya tetap terbuka, ia tak mau akan tejadi fitnah.


"Dion aku bawakan makanan untuk mu, masakan Padang, rendang dan perkedel kentang."Alice menyodorkan rantang ke Dion.


"Trima kasih Alice, tapi kau tak perlu repot, aku sudah makan," jawab Dion.


"Kalau gitu,itu bisa kau simpan untuk nanti saja, Dion." Alice pun duduk.


Dion menyimpan makanan nya di dapur, setelah itu, ia kembali keluar untuk menemui Alice.


Dion duduk agak menjauh dari Alice, meski mereka berada di posisi sejajar.


"Dion kenapa kau menghindariku?" tanya Alice, terlihat kekecewaan pada tutur katanya.

__ADS_1


"Aku memang harus menghindar dari mu Lice, Aku tak ingin di ganggu, aku ingin menyelesaikan kuliah ku dengan cepat, agar aku bersama dengan istriku lagi," tutur Dion dengan jujur.


"Jadi, menurut mu, aku mengganggu mu?" tanya Alice.


"Lice, aku tak ingin ada masalah seperti kemaren lagi, karna masalah aku dan Tyas, istri ku pergi meninggalkan ku Lis, dan aku sudah bersumpah untuk tetap menunggunya, sampai ia kembali."


"Tapi Dion, kita bisa jadi sahabat saja," balasnya.


"Kemarin kamu bilang kita cuma berteman, tapi nyatanya kamu punya perasan terhadapku kan, dan lebih parah lagi, kamu sampai melakukan hal yang nekat."


Alice hanya diam, "Aku janji Dion ngak melakukan hal nekat itu lagi, tapi Dion, kau jangan menghindariku lagi," paparnya.


Mereka diam sejenak, Dion juga tak tahu harus berkata apa, tiba-tiba ia di kejutkan dengan kedatangan Tyas.


Melihat Alice, Tyas langsung masuk tanpa permisi.


"Mau apa kau kemari?" tanya Tyas.


"Mau mengganggu suami ku Ya?" tanya nya bertubi-tubi sambil menunjuk Alice.


Alice langsung emosi, ia pun berdiri dan langsung berhadapan dengan Tyas.


"Suami? Dia hanya terpaksa menikahi mu, karna kau hamil dengan sepupunya kan? dasar perempuan tak tahu malu, cuih." Alice menghina Tyas.


"Apa kata mu?" Tyas yang emosi langsung menjambak rambut Alice, begitu pun sebaliknya, mereka saling tarik menarik dan melontarkan kata hinaan dan celaan.


"Dasar perempuan murahan,"Alice.


"Dasar pelakor, beraninya kau mengganggu suami ku," Tyas.


Dion sempat syok melihat kejadian itu, suasana yang tenang mendadak ribut, karna tak ingin mengganggu tetangga, Dion pun berdiri dan melerai mereka.


Kejadian itu begitu cepat, Dion pun langsung melerai keduanya, Dion menarik tangan Tyas, dan menjauh kan nya, tapi Alice yang tak puas, kembali menarik rambut Tyas.


"Sudah! sudah! bentak Dion, berani nya kalian berkelahi di rumah ku," bentak Dion, dan seketika mereka pun diam.


"Alice kamu pulang sekarang," usir Dion.


"Tuh kan, Dion cuma mau bersama ku," kata Tyas sambil mencibir Alice, Alice pun pulang dengan hati dongkol.


Dion menatap tajam mata Tyas," Kebetulan kau ada di sini, ada sesuatu yang akan ku katakan pada mu," Dion mendekati Tyas, dan menatap dalam matanya.


Dion memeluk tubuh Tyas, "Maaf Tyas, aku tahu ini akan menyakiti perasaan mu, tapi yakin lah, ini yang terbaik," Dion berhenti sebentar.


Seperti tahu apa yang akan Dion katakan, Tyas semakin erat memeluk Dion, ia pun menangis.


"Tyas, aku jatuh kan talaq pada mu," ucapnya di tepi telinga Tyas, air mata Dion pun menetes.


Sebenarnya, Dion tak tega mengucapkanya, entah mengapa ia selalu tak tega jika berhadapan dengan Tyas, tapi kali ini, harus bersikaf tegas, karna melihat sikaf Tyas yang semakin agresif.

__ADS_1


__ADS_2