
Amira duduk di meja makan, meski baru memasuki minggu ke tujuh belas kehamilanya, tapi perutnya tampak sangat buncit.
Dengan perasaan bahagia, ia terus mengusap perut nya, sembari membisikan harapan-harapan untuk ke dua janin nya yang tak lama lagi hadir di dunia, membayang kan itu semua, ia pun tersenyum sendiri.
Ummi menata hidangan di atas meja, ia pun melihat Amira tersenym sendiri.
"Duh, ada apa nih? kok senyum-senyum sendiri sih?" tanya Ummi.
"Amira ngak sabar Ummi, menanti mereka lahir, meski Amira tak kan bisa melihat seperti apa wajahnya," perasaan Amira langsung berubah dari bahagia, menjadi kecewa.
Melihat kesedihan Amira, Ummi pun langsung mendekati nya, "Kamu jangan putus asa ya sayang, jika anakmu lahir, Ummi akan abadikan dalam video ataupun foto, setiap hari, setiap moment berharga," ujar Ummi seraya mengusap lembut kepala Amira.
Amira pun menitikan air matanya.
"Kamu harus yakin dan percaya, harapan pasti selalu ada, sekarang Dion berusaha mewujutkan impian kalian."
"Semoga saja, suatu saat, kamu bisa melihat lagi Amira."tutur Ummi.
"Ia Ummi, Amira juga selalu berharap, agar suatu saat Amira bisa melihat Dion dan anak-anak Amira."
"Ia sayang, Ummi juga sudah berusaha mencari donor kornea mata di bank mata, jika sudah ada pendonornya, kita akan di beri tahu secepatnya, Ummi dan Abi akan mengusahakan nya untuk kamu."
"Kamu harus sabar ya, suatu saat kamu pasti bisa melihat lagi."
"Terima kasih Ummi," Amira pun tersenyum.
"Ummi, Dion kapan pulang, Amira benar-benar kangen Ummi, ngak tahu kenapa, Amira selalu memimpi kan kehadiran Dion," ujar Amira.
"Nanti Ummi tanyakan sama Dion, kapan dia bisa pulang, Ummi langsung pesankan tiket."Ummi.
Dengan senyum mengembang, Amira pun makan, ia bersemangat sekali, berharap sebentar lagi ia akan bertemu Dion.
**
Sepanjang perjalanan Dion hanya diam, tak sedikit pun ia bicara pada Pria yang disamping nya, Ayahnya Alice, Pria paruhbaya itu juga tak mengajaknya bicara, mungkin karna ia mengkhawatirkan putrinya yang sedang koma.
Sesampainya di rumah sakit, mereka menuju ruang perawatan Alice, di sana sudah ada wanita yang terlihat sedih di samping tubuh Alice.
Dion pun menghampiri Alice, tubuhnya gemetar, tak kala melihat wajah Alice yang pucat.
Alice memang seperti wanita yang ada di mimpinya, wanita yang memanggilnya dengan lirih, dan wanita yang seolah menyalahkanya dirinya, atas kejadian semua ini.
Dion terlihat terpuruk, ia duduk di samping Mama nya Alice, tak ada lagi kecantikan yang tampak di wajah Alice, wajah nya kini pucat, menyiratkan kepedihan hatinya.
Air mata Dion menetes tanpa sengaja, apa yang terjadi pada Alice? kenapa Alice bisa seperti ini? apa yang membuat gadis ceria seperti Alice, bisa melakukan hal yang nekat seperti ini, batin Dion.
"Maafkan aku Alice, aku tak bermaksud menyakitimu." Dion pun menangis, sambil meraih tangan Alice, ia menggenggamnya dengan erat, meski tangan Dion juga gemetar.
__ADS_1
Wanita yang di sampingnya terusik dengan kata-kata Dion.
"Apa kamu yang bernama Dion?" tanya wanita yang berada di sampingnya, wanita itu terlihat terpuruk.
Dion tak mampu menjawab, ia hanya menunduk.
"Apa kamu pacar Alice?" tanyanya lagi.
Dion menggeleng, ia masih tak mampu menatap wajah wanita yang memandangnya tajam.
"Jika kau bukan pacarnya, lalu apa hubungan mu Alice, kenapa ia selalu menyebut namamu?"
"Apa yang kau lakukan, hingga Alice bisa seperti ini?" tanya Mamanya dengan emosi.
Dion tak menjawab, ia terlalu gugup, melihat keadaan Alice, dan mendapat tekanan dari Mamanya Alice, Dion hanya bisa meneteskan air matanya.
"Jawab Dion? apa yang kau lakukan pada anakku!" wanita itu membentak Dion.
Pak Halim langsung masuk ke ruangan, berusaha menenangkan istrinya.
"Ma, sabar Ma, belum tentu juga ini kesalahan Dion," ujar Hilman menenangkan istrinya.
Sementara Dion, ia juga binggung, keadaan ini sungguh berat baginya, Dion yang kini baru memasuki masa pendewasaan, kini di uji dengan hal yang begitu berat, apa lagi tak ada Ummi dan Abi, ia juga binggung kenapa masalah jadi serumit ini.
Awalnya ia hanya ingin membantu Tyas dan keluarganya, Tyas juga hampir melakukan bunuh diri saat itu, dan ibunya juga berlutut memohon pada Dion, agar menikahi Tyas, niatnya hanya ingin menyelamatkan Tyas, dan keluarga nya dari aib, tapi kini ia malah terjebak dalam ke rumitan ini.
Dion kini harus berada di antara kerapuhan hati, dua wanita, Tyas dan Alice.
Sementara istrinya, kini juga mengharap kehadiranya.
"Ya Allah berilah aku petunjuk, kini aku tersesat, aku tak tahu jalan mana yang ku pilih," batin Dion.
Dion menggenggam erat tangan Alice, ia berharap agar Alice merasakan kehadiranya, semoga saja Alice segera sadar, karna jika tidak, Dion akan merasa sangat berdosa.
"Alice bangun, Alice." suara Dion lirih memanggil nama Alice, berharap Alice mendengarkanya.
Ia pun bicara di telinga Alice.
"Alice, aku di sini, bangun lah Alice," bisik Dion.
Sementara kedua orang tua Alice hanya diam, melihat semua itu, ia berharap Alice bisa segera sadar.
Berkali-kali Dion mengulangi nya, ia terus memanggil nama Alice, namun tak ada reaksi.
Waktu pun berlalu, sudah berjam-jam Dion berada di samping Alice, namun tak ada perbahan, malah detak jantung Alice semakin lemah.
Mama dan papa Alice, semakin panik, mereka pun menangis, melihat Alice yang semakin terpuruk.
__ADS_1
Sementara Dion, ia juga semakin gelisah, ia juga tak mau Alice pergi dengan cara seperti ini, ia pasti akan menyesal jika Alice meninggal karna dirinya.
Dion kehabisan cara, meski beberapa kali memanggil nama Alice, namun tak ada jawaban dari nya.
"Bangun lah Alice, jika kau marah, kau lampiaskan saja padaku, jangan nenyakiti dirimu sepertu ini Alice," ujarnya. Dion pun menangis, kali ini air matanya begitu deras.
Dion memang tak memiliki perasaan cinta kepada Alice, tapi melihat Alice seperti ini karna mencintainya, Dion merasa sangat bersalah.
Orang tua Alice semakin gelisah, detak jantung Alice kian melemah, diagfragma nya pun tak terlihat.
Alice seperti mayat dengan detak jantung yang lemah.
Rasa putus asa mulai menghinggapi kedua orang tua Alice, mereka pun menangis kembali.
Dion terus berpikir dan berusaha, bagaimana agar Alice bisa sadar, sebenarnya Alice sudah kehilangan harapan dalam hidupnya, ia merasakan kekecewaan, ia pun menutup matanya dan tak ingin bangun lagi.
Tiba-tiba Dion teringat dengan kejadian yang menimpa Cahaya, saat itu Cahaya juga sudah tiada, tapi dengan menempelkan dadanya ke dada Cahaya, Cahaya pun bereaksi, jantung Dion, seolah ikut memompa jantung Amira, tak lama setelah itu, jantung Amira pun berdetak dan Amira pun kembali, bangkit dari tidurnya.
Akan ku lakukan hal yang sama pada Alice, mungkin ini satu-satunya jalan untuk menyadarkan Alice, jika ini juga tak berhasil, kan ku serah kan kembali pada tuhan, batin Dion.
Dion pun memeluk Alice, ia sengaja menemempelkan dadanya ke dada Alice, berharap Alice merasakan kehadiranya.
"Bangun Alice, bangun lah, aku di sini, bersama mu, kau mencintai ku kan Alice? bangun lah, kini aku ada bersama mu," ucap Dion lirih di telinga Alice.
Mama Alice sempat bereaksi melihat apa yang di lakukan Dion, tapi di cegah papanya, "Biarkan saja, mungkin dengan begitu, Alice akan mengetahui keberadaan Dion, dan ia akan sadar, " ujar Pak Halim pada istrinya.
Sejenak tak bereaksi, tapi Dion belum menyerah, ia pun kembali memanggil nama Alice.
"Ayo bangun Alice, aku disini, sedang memeluk mu, ayo Alice, bangun dan peluklah aku," ucap Dion semakin lirih, ia hampir putus asa.
Setelah cukup lama ia memeluk Alice, tak ada reaksi apa pun, Dion pun akhirnya menyerah, ia melepaskan pelukanya, dan hendak menarik diri.
Tapi kemudian, ia merasa tangan Alice mulai bergerak, tanggan yang lemah itu, bergerak perlahan, hingga kini tangan Alice menyentuh bagian pinggang Dion, Alice seolah ingin membalas pelukan Dion.
Melihat reaksi itu, mereka pun senang.
"Ayo Alice, bangunlah, buka mata mu Alice, aku masih di sini menunggumu," ucap Dion.
Manusia memang mudah sekali mengambil keputusan, tanpa memikirkan akibat yang akan timbul nantinya, lagi-lagi,Dion seperti memberi harapan baru bagi Alice, entah apa yang akan terjadi selanjutnya, saksikan episode selanjutnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih sudah membaca karya ku, mohon tinggalkan like, komentar dan vote, dengan demikian kalian telah mendukung aurhor, untuk berkarya lebih baik lagi.
Mampir juga yuk di karya author lainya dengan judul KETIKA TAKDIR MENYATIKAN AKU DAN MEREKA, dengan cerita yang seru dan kisah yang berbeda.
See you next time, thank you very mush para raider dan sahabat author.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷,,,