Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Jatuh cinta


__ADS_3

Amanda akhirnya sudah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan.


Kemoterapi yang ia jalani akhirnya berdampak positif, meski awalnya ia merasa tak nyaman akibat efek samping.


Dokter menyarankan agar ia rutin mengkonsumsi obat, dan makanan yang bergizi, dan tetap berkonsultasi.


Setelah membayar administrasi rumah sakit, bu Nita menemui Dion, untuk mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Dion.


Bu Nita menemui Dion yang berada di ruangan UGD.


"Nak Dion, ibu pamit ya, hari ini Amanda sudah di perbolehkan pulang, terima kasih ya Nak, berkat kamu membujuk Amanda, keadaan Manda akhirnya membaik," ucapnya ketika berada di hadapan Dion.


"Oh, ia Bu, sama-sama, saya juga senang mendengar keadaan Amanda baik-baik saja, tapi maaf Bu, beberapa hari ini saya sangat sibuk, jadi ngak sempat menjenguk Amanda lagi Bu," tutur Dion.


"ngak apa-apa Ibu pamit ya Nak," tutur nya sekali lagi.


"Iya bu, sampai kan saja salam saya untuk Amanda dan jika ibu butuh sesuatu, ini kartu nama saya, silahkan ibu hubungi saya, kapan saja, jika saya bisa membantu, Insa Allah saya akan membantu." Dion menyerahkan kartu namanya.


Bu Nita meraih kartu nama yang di berikan Dion, ia pun berlalu.


***


Malam harinya, Dion sudah siap untuk pergi tahlilan Ayahnya Amira, ia pun mengenakan baju koko dan peci, dengan berpakaian seperti itu, Dion malah terlihat lebih ganteng dan kharismatik.


Dion mendapat telpon dari dokter Diah, menanyakan alamat rumahnya,karna malam ini malam minggu, sebenarnya hari ini mereka ada rencana makan malam, tapi Dion membatalkan acara makan malamnya dengan alasan ia harus pergi tahlilan.


Dokter Diah pun memutuskan untuk ikut tahlilan, bersama Dion.


"Ya dari pada ngak jadi jalan sama dokter ganteng itu, ngak apa-apa deh, ikut tahlilan, kencan sekaligus ibadah, oh so sweet, calon imam tunggu aku ya, akan ku pinang kau dengan bismilah, ops... kok aku yang meminang, mestinya aku dong yang dipinang, lagian aku pingin tahu, seperti apa sih mantan istrinya dokter Reziq, siapa tahu juga aku bisa minta tips gimana cara nya biar dapat hatinya dokter Reziq, lagian punya suami cakep kayak gitu di ceraiin, kalau aku sih ogah, kalau aku punya suami seganteng dia, aku simpan di lemari saja biar ngak di lihat orang, biar cuma aku saja yang melihat,,,"ia pun cekikikan sendiri.


" Aduh Diah, Diah lama-lama bisa gila kamu klau ngak dapat cinta dokter itu, sekarang saja udah kayak orang gila pakai ngomong-ngomong sendiri. " Dokter Diah cuap-cuap sendiri sambil menyetir mobil nya menuju rumah Dion.


Setelah sampai di depan rumah Dion, ia pun kembali merapikan baju gamisnya dan kerudung syar'i nya.


"Mau ketemu camer nih deg-degan, hu kesan pertama harus menggoda, selanjut nya seterah Diah," katanya pada diri sendiri, ia tertawa sendiri melihat kelakuanya konyol akhir-akhir ini, sejak ia merasa ada hati dengan Dion, ia merasa diri nya sedikit norak, seperti remaja yang sedang di mabuk cinta.


Diah memencet tombol bell yang ada di pintu rumah Dion, tak berapa lama seseorang membukakanya pintu.


"Assalammua'laikum," ucap Diah dengan sangat sopan.


"Wa'alakum sallam, mari masuk," ajak Ummi, ia pun membuka pintu.


"Silahkan duduk Nak Diah," ucap Ummi kepadanya.


Diah kaget karna ibu tersebut sudah mengenal namanya.


"Terima kasih Bu," balas Diah, ia pun duduk.


"Sebentar ya Ummi panggil Dion," Ummi pun masuk ke dalam rumahnya.


Dokter Reziq pasti sudah menceritakan tentang aku sama Ummi nya, dan kayaknya Ummi setuju saja jika aku sama anaknya, lihat saja sambutanya sangat baik terhadapku, batin Diah.


Tak lama Dion pun keluar dari kamarnya, melihat dokter Reziq yang berpakaian seperti itu dokter Diah semakin mengaguminya.


Ih dokter makin cakep saja, pakai baju koko, jadi pingin cepat minta di halalin deh.ia pun berdecak kagum.dalam batinya.


"Ayo dokter, nanti kita terlambat," titah Dion.


"Langsung pergi saja Dion, ngak di ajak minum dulu tamunya?" tanya Ummi yang langsung keluar mendengar Dion yang langsung mengajak tamunya pergi.


"Ngak usah Ummi, nanti terlambat, Dion pamit ya Ummi."


"Diah juga ya Ummi, pamit ya."


"Ia Dion, ingat selalu ya pesan Ummi,"Ummi memberi kode.


"Insya Allah ya Ummi, kalau ngak kebelet," canda nya.

__ADS_1


"Dion, Ummi emang ngak lihat, tapi Allah lihat loh Dion," jawab Ummi.


"Iya Ummi, ngak usah di anggap serius."


Mereka pun berlalu.


Sebenarnya Ummi tidak setuju jika Dion jalan berdua dengan yang bukan mahramnya, Ummi sangat berharap agar Dion segera membina rumah tangga kembali.


Mereka pun sudah sampai dirumah kediaman orang tua Amira.


Di sana sudah ada Arkan dan Raihan juga, melihat kedatangan Dion, Arkan dan Raihan pun berdiri menyambut mereka.


"Hai Dion gebetan baru ya?" tanya Raihan dengan nada bercanda.


"Oh, ini dokter Diah, teman seprofesi ku di rumah sakit.


"Dokter, ini Raihan dan Arkan, mereka sahabat ku." Dion memperkenalkan mereka.


Mereka tidak berhabat tanggan, hanya saling mengenalkan nama saja, Raihan juga orang yang taat beragama, ia juga tak mau menyentuh wanita sembarangan, berbeda dengan Arkan.


Arkan langsung menyodorkan tangannya, dan langsung di sambut dokter Diah.


"Aku Arkan, " Arkan pun melempar senyum termanisnya, ketika melihat sosok cantik yang ada di hadapanya.


"Aku Diah," jawab dokter Diah sambil tersenyum membalas senyum Arkan.


"Ayo Diah, aku bawa kau menemui tuan ruamah, sekalian kau duduk di tempat ibu-ibu saja, di sini khusus pria."


"Ia boleh," jawab Diah, ia pun mengikuti Arkan.


Mereka melewati pintu samping untuk masuk, karna di ruang tamu itu, di khusus kan laki-laki, dan di ruang tengah khusus untuk perempuan, rumah itu sangat besar, jadi sangat mungkin menampung ratusan orang.


Arkan membawa Diah menemui Amira, mereka pun mendekati Amira yang sedang duduk di samping ibu dan kedua amaknya.


"Amira," sapa Arkan.


"Amira ini temanya Dion, dokter Diah, dan dokter Diah, ini Amira mantan istri dokter Dion, dan ini kedua anaknya." Arkan


Amira merasa cemburu saat Arkan menyebut wanita itu adalah teman Dion, tapi berusaha ia tutupi.


"Amira," ia pun menyodorkan tanganya,


"Diah," mereka pun berjabat tanggan.


Jadi ini mantan istrinya dokter Reziq, cantik sih, tapi ngak seperti espektasi ku, aku kira cantiknya seperti bidadari, ternyata beda-beda tipis sama aku, jadi makin percaya diri deh dekatin dokter Reziq, batinya.


"Diah kamu di sini ya, sebentar lagi tahlilannya akan di mulai, aku harus kembali ke sana." Arkan


"Amira jagain Diah untuk aku ya," Arkan memberi kode, karna memang ia sepertinya menyukai Diah.


Diah mendekati dan duduk di samping Amira dan kedua anaknya.


"Ini anaknya mbak Amira dengan dokter Reziq ya?" tanya Diah ramah.


"Iya," jawabnya sambil tersenyum.


"Gea, Geo perkenalkan ini tante Diah, temanya Ayah." Amira.


Gea dan Geo pun bersalaman, dan menyebut nama mereka masing-masing.


"Aku Gea"


"Aku Geo"


"Tante siapa?" tanya Gea.


"Panggil saja tante Diah," Diah memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Tante tante temanya Ayah ya?" tanyanya.


"Ia, Tante bekerja di rumah sakit yang sama dengan Ayah, " jawab Diah.


"Oh tapi tante bukan pelakor kan yang ingin merebut Ayah dari ibu," ucap Gea dengan polos, tak ada beban sedikit pun, dengan lancar ia menanyakan hal tersebut.


Tak hanya Diah yang kaget mendengar ucapan Gea, tapi juga Amira.


"Gea kamu ngomong apa? dari mana kamu tahu kata-kata itu Gea?," tanya Amira dengan sedikit emosi.


Sementara Diah menjadi tak enak hati mendengar ucapan gadis kecil tersebut, yang menyebutnya pelakor, sepertinya gadis itu begitu protek terhadap hubungan ibu dan Ayahnya.


"Gea tahu dari bu atun bu, waktu bu atun nonton film korea, bu atun sering menyebut dasar pelakor, gitu katanya, jadi Gea tanya pelakor itu apa sama bi Atun, kata bi Atun, pelakor itu orang yang merusak hubungan orang lain, Gea cuma ngak mau Ayah nikah sama orang lain," jawab nya polos.


Jawaban Gea malah membuat Amira malu, terlihat sekali ia tak mendidik anaknya dengan baik, ia hanya mengandalkan orang lain dalam mengasuh anak-anaknya,hingga jadi seperti ini, Gea terlihat lebih dewasa sebelum waktu nya.


"Maaf kan anak saya ya Mbak Diah, dia suka nonton drama korea, sama pengasuhnya, jadi bicaranya seperti orang dewasa, padahal dia sendiri ngak tahu artinya," ucap Amira meminta maaf.


"Ngak apa kok, namanya juga anak kecil," jawab Diah tak enak hati.


Hingga pulang, Diah hanya Diam, Amira pun tak enak hati atas perkataan Gea yang spontanitas, melihat cara Gea, sepertinya Gea memang tak menginginkan perpisahan mereka.


Anak sekecil Gea, bahkan bisa menjadi agresif saat ada orang lain yang coba memasuki kehidupan orang tuanya, Amira menjadi sadar, betapa anak-anak mereka menginginkan mereka bersatu kembali.


Selesai tahlilan, Arkan yang di samping Dion pun berbisik padanya.


"Dion, dokter Diah bukan gebetan kamu kan?" tanya Arkan.


"Ya bukan lah, kamu suka ya?" tanya Dion.


"Ia Dion, boleh minta nomor nya kan?" tanyanya.


"Minta sendiri lah sama dia, tuh orangnya," Dion menunjuk Diah yang baru terlihat.


Wajah Diah sedikit datar, tak seperti saat ia datang.


Mereka pun berdiri menyambut kedatangan Diah yang mendekati mereka.


"Hai Diah," sapa Arkan.


"Hai juga Arkan," Diah tersenyum memaksa kan dirinya, karna ia masih tersinggung dengan ucapan Gea.


"Boleh aku minta nomor mu Diah?" tanya Arkan.


"Tentu," ia pun memberi nomornya kepada Arkan.


Setelah memereka saling bertukar nomor, Dion dan Diah pun pulang.


Mengingat perkataan Gea terhadapnya, Diah seolah menyurut kan niatnya mendekati Dion, bukan karna ia tersinggung, tapi ia merasa kasihan pada Gea, ia sendiri merasakan hal yang sama ketika kedua orang tuanya berpisah.


Sepertinya Gea menginginkan kedua orang tuanya bersama, apalagi ia melihat hal yang sama pada dokter Reziq, sepertinya dokter Reziq juga belum bisa move on dari mantan istrinya.


Lamunan Diah terhenti ketika handphone nya bergetar, ada pangilan masuk dari Arkan.


Diah pun mengangkat terlponya, dan dari caranya sepertinya ia senang dengan lawan bicaranya, meski baru mengenal, mereka seperti nyambung saat bicara.


Mendengar percakapan Diah dan Arkan, Dion jadi tersenyum.


"Selamat malam Arkan," Diah menutup telponya.


Wajah Diah yang tadinya datar, kini mulai tersenyum, setelah bicara pada Arkan di telpon.


"Ehm kayaknya ada yang lagi bucin ya? tanya Dion kepada Diah.


Diah hanya tersenyum.


"Ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama rupanya," tambah Dion.

__ADS_1


Diah hanya tersenyum, ia tak menyangka bisa bertemu Arkan di tempat ini, seseorang yang akan membuatnya melupakan sosok sang dokter.


__ADS_2