
Sebelum berangkat, Dion harus menyelesaikan satu masalah lagi, Alice, ia harus menemui Alice.
Sebelum menemui Alice, Dion menyempatkan untuk membeli sekuntum mawar merah untuk Alice.
Sesampainya di rumah sakit, Dion langsung menuju kamar perawatan Alice, saat itu Dion melihat Alice sedang bersandar pada tempat tidur nya.
Dion menghampiri Alice, memberikan sekuntum mawar merah, dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Dion," ucap Alice senang, terlihat keceriaan di wajah Alice.
"Alice, bagaimana denganmu apa kau sudah baikan?" tanya Dion, seraya melempar senyum kearah Alice.
Alice hanya menggangguk.
"Aku senang Dion, kau ada di sini," tuturnya dengan perasaan bahagia.
"Syukurlah, sekarang aku bisa pergi dengan tenang." Dion memberi isyarat kepergiaanya.
"Pergi Dion?, kau mau kemana Dion?" tanya Alice yang terlihat kecewa.
"Aku harus pulang, seseorang sedang menunggu ku disana," ujar Dion.
"Dion mengapa kau tak pernah menghargai sedikitpun perasaan ku, Dion?" Apa semua ini, belum cukup untuk membuktikan cinta ku padamu," ucap Alice terbata, menahan rasa sakit di hatinya.
"Bukannya aku tak menghargai Alice, tapi saat pertama bertemu, sebenarnya aku sudah menjaga jarak dengan mu, aku juga sudah jujur padamu, bahwa aku sudah punya istri, aku pikir kau hanya mengganggapku sebatas teman, dan aku tak mengira akan terjadi seperti ini." tutur Dion.
Iya menggenggam erat tangan Alice, kemudian dengan perlahan ia melepaskanya dan beranjak ingin pergi, tapi kemudian tanganya di tarik kembali oleh Alice.
"Dion, aku ingin menjadi yang halal untuk mu," ucap Alice lirih, ia pun meneteskan air matanya.
"Alice cinta tak harus memiliki, jika kita tak berjodoh, pasti Tuhan akan memberi yang lebih baik dari ku, untukmu Alice, setidaknya, ia tak kan membagi cinta mu," papar Dion.
"Lice, cinta itu bisa datang dan pergi, kau tak perlu terlalu larut dalam perasaan mu, apalagi berbuat nekat dan menyakiti dirimu sendiri, lihat lah dirimu, kau begitu sempurna, akan banyak pria yang akan mencintaimu dengan tulus, dan kau juga tak perlu menyakiti hati wanita lain untuk meraih kebahagiaan mu, lice," papar Dion.
"Kau masih punya masa depan yang cerah, dan kau masih bisa meraihnya," tutur Dion, mencoba menguat Alice.
Tapi air mata Alice terus membanjiri pipinya, dengan lembut Dion menghapus air mata yang jatuh di pipi Alice.
__ADS_1
Tapi Alice kemudian meraih tangan Dion yang menyentuh pipinya, dan menggengam kembali tangan Dion, kali ini ia menciumnya dengan lekat, seakan ingin mengungkapkan perasaannya yang tulus, "Aku tak tahu apa aku sanggup jauh dari mu, Dion," ujar Alice, ia pun menempel kan jari-jemari Dion di pipinya kemudian ia mencium nya kembali.
Melihat Alice yang menangis, Dion ikut terharu, tapi ia tak mau larut terbawa perasaanya kembali.
Dion berusaha menarik kembali tangganya, dan bukanya melepaskanya, Alice malah menarik kembali tubuh Dion dan memeluknya, Alice pun menangis haru dalam pelukan Dion.
"Dion tidakkah kau merasakanya, rasakanlah detak jantung ku yang selalu memanggil nama mu, Dion, cuma kamu yang aku mau," ujar Alice terdengar sangat lirih, Dion semakin binggung harus bersikaf.
"Tapi aku harus pergi, aku tak bisa menerimamu, karna aku sudah ada yang memiliki," ia pun menarik dirinya dari pelukan Alice.
Alice melepaskan pelukanya, tapi ia masih menggenggam erat tangan kanan Dion, dengan kedua tangganya, Alice mendekap nya di dada dan kembali mencium tanggan Dion, seolah tak mampu mengatakan, Jangan pergi Dion, Alice malah memberi isyarat yang lebih mengharukan.
"Aku harus pergi Alice." Dion mengulangi ucapanya.
Tapi Alice tetap menggenggam erat tangan Dion, setiap Dion mengatakan keinginannya untuk pergi, Alice malah mencium tangan nya dengan lekat, ia pun meneteskan air matanya.
Dion tak tahu harus bagaimana, ia tak ingin memaksa Alice, karna kondisi Alice saat itu, mungkin ia masih merasa trauma.
Tapi keputusan Dion sudah bulat, kesalahan tak ingin di ulanginya lagi.
"Aku harus pergi Alice," ucapnya, ia pun mengecup kening Alice, kali ini giliran Dion menumpahkan air matanya, Alice memejamkan mata, seraya menikmati kecupan Dion, yang ia dambakan, ia kemudian melepaskan genggaman tanganya, dan merelakan kepergian Dion, dengan hati yang berat.
Hari yang melelahkan bagi jiwanya, di usia yang masih muda, Dion harus memecahkan dilema cinta yang kini menghampirinya.
Semua di luar kuasa Dion, bukan Dion yang meminta mereka untuk mencintainya, bukan salahnya nya juga, jika mereka melakukan tindakan yang berlebihan, harus nya ia tak perlu pusing, tapi ia juga punya hati, ia tak ingin meninggalkan mereka dalam keterpurukan, setidaknya dengan memberi kepastian, ia akan pergi dengan tenang.
Dion sudah sampai di bandara, dan sebentar lagi ia akan sampai di rumahnya, kali ini ia harus mempersiapkan hati, untuk menghadapi Cahaya, ia merasa bingung apa semua harus di katakan dengan jujur, atau ia tutupi saja semua.
Sepenjang perjalanan menuju rumahnya, Dion terus terpikir, apa yang akan di katakan kepada kedua orang tuanya tentang masalah Tyas.
Meski gelisah, Dion mencoba untuk tenang, karna kini ia berada tepat di pintu rumahnya.
Rasa rindu begitu menggebu, saat ia mendengar langkah kaki dari orang yang kini berjalan menuju pintu, dan membukakan pintu untuknya.
Pintu di buka,
"Dion," sapa Ummi, ia pun memeluk putra semata wayang nya.
__ADS_1
Tanpa bisa menahan Dion pun menangis haru di pelukan Ummi, ia seperti baru bebas dari kemelut hatinya.
"Di mana Cahaya Ummi?" tanya Dion.
Tapi belum sempat Ummi menjawab, Dion sudah berlari menghampiri Amira yang berjalan kearah nya.
Dion langsung melepaskan kerinduanya pada Cahaya.
"Dion," ucap Amira, ia memeluk Dion, rasa rindu itu begitu kuat, hingga Amira tak mampu lagi menahan, untuk menunggu Dion menghampirinya, ia pun berjalan melangkah menuju pintu.
"Cahaya," Dion ikut terharu, ia memeluk Cahayanya kemudian mencium perut Amira yang terlihat sudah besar.
"Akhir nya kau pulang Dion," tutur Amira menangis haru.
"Maaf Cahaya, aku tak bawa oleh-oleh untuk mu, kepergian mendadak jadi...," kata-kata Dion terhenti dan langsung di sambar Amira.
"Tak apa, yang terpenting bagi ku, kau pulang dengan selamat, itu sudah cukup bagi ku Dion," tambah Amira.
Dion terharu mendengar kata-kata Amira, ia pun teringat dengan perasaan bersalahnya pada Amira.
"Sayang aku kangen pada mu, kita ke kamar yuk," ajak Dion.
Amira tersenyum," Ngak enak Dion sama Ummi, masa' baru datang kamu langsung bawa aku kekamar," ujar Amira tersipu malu.
"Biar saja, Ummi kan juga pernah muda, jadi ia pasti mengerti, rasanya seseorang yang di landa rindu berat," jawab Dion asal.
"Em Dion, aku jadi malu," ia mencubit lembut perut Dion.
"Malu tapi mau kan?" tanya nya sambil merangkul Amira menuju kamar.
Amira pun mengikuti tanpa protes, ia sendiri juga sangat rindu pada Dion, setelah beberapa bulan tak bertemu, apalagi akhir-akhir ini ia sering mimpi buruk tentang Dion.
Ummi hanya melongo melihat mereka yang langsung masuk kekamar, terlihat sekali mereka ingin melepaskan kerinduanya.
"Dion, Dion, segitu-gitunya rindu kamu, sampai ngak sabar nunggu malam," ujar Ummi sambil tersenyum melihat tingkah putranya.
"Ya sudalah mereka kan suami istri, sah-sah saja," Ummi bicara sendiri.
__ADS_1
Mereka pun asik di kamar, meninggalkan Ummi sendiri, padahal Ummi juga rindu pada putranya tersebut.