
***Bunga-bunga layu,
Tak mengapa,
Asal kau tumbuh di sampingku,
Malam telan cahaya,
Tak mengapa,
Asal kau sinari cintamu,
Mimpi buruk menyapa,
Tak mengapa asal kau ada di pelukku,
Tiada pernah berjumpa,
Tak mengapa, asal kau ada khayalku,
Sgala bujuk rayu mu buat sejuta ragu, jantung ku memacu.
Di sini ku berdiri, mencoba mengerti arti hadirmu...,
Suara lagu ngebeat, terdengar di mobil Dion yang sedang melayu menuju luar kota, di samping nya sudah ada Amira dan kedua anak mereka.
Dion sengaja membawa mereka keluar kota untuk reflesing, sekalian liburan, mengingat jadwal mereka akan padat setelah minggu ini, kesibukanya sebagai dokter, kesibukan Amira yang menggantikan posisi ayahnya, apalagi si kembar, akan mulai sekolah di salah satu taman kanak-kanak.
Kesempan seperti ini akan sangat jarang, karna profesi seorang dokter adalah profesi pengabdian, meski hari libur, ia tetap bekerja dan hanya mendapat, libur dua hari dalam seminggu, jam kerja yang padat dan dengan waktu yang tak menentu, akan sangat jarang bagi mereka bisa bersama.
Di mobil Gea dan Geo sibuk bermain dan bercanda di kursi belakang, sementara kedua orang tua mereka sibuk pacaran, berpegangan tanggan dan menggumbar kata-kata mesra.
Amira merasa dokter di samping nya adalah seseorang yang dekat di hatinya, hingga ia berani liburan bersama anak-anaknya, meski Arkan sudah mengingatkan nya.
Flashback,
Amira sedang menyiapkan pakaian dan perlengkapan yang akan di butuh kan mereka nantinya, menginap satu hari di villa, bersama sang dokter dan kedua Anak-Anak nya.
Setelah semua beres, ia pun tinggal menunggu jemputan, di depan rumahnya, keadaan rumah sepi karna tak ada orang di rumahya, Oma dan kedua Orang tua nya mereka berangkat ke singapura untuk memeriksan kesetan Oma, selain Ayahnya, Oma juga mempunyai riwayat penyakit jantung, dan biasa dua atau tiga bulan sekali mereka akan melakukan chek up.
Amira membawa barang-barang yang akan mereka bawa kedepan pintu rumahnya dan saat itu, Arkan baru tiba, dan heran melihat Amira yang membawa beberapa koper.
"Kamu mau kemana Amira?" tanya Arkan.
"Mau liburan Kan, ke luar kota" jawabnya.
"Apa kau akan membawa Gea dan Geo?"
"Iya lah Kan, aku mau bawa mereka liburan, karna selama berada di Jerman mereka jarang sekali keluar rumah,
apalagi liburan, mengingat kesibukan ku di sana."
__ADS_1
"Aku tak kan punya banyak waktu, setelah Bapak ku pulang dari Singapura, Aku harus mengurusi perusahaanya, Gea dan Geo sebentar lagi mereka juga masuk sekolah."
"Baik lah, boleh aku ikut dengan mu?" tanya Arkan lagi.
"Ngak boleh, kamu aku tugasin jaga rumah ini, ok," Ia pun berlalu.
"Tunggu Amira kau liburan bersama siapa?" tanya nya lagi.
"Dengan dokter Reziq," jawabnya singkat.
"Amira kau jangan mengulangi kesalahan yang sama, kau baru Mengenal dokter itu, dan sekarang kau begitu percaya dengan nya, bahkan sampai membawa anak-anak mu, bagaimana jika kalian dalam keadaan bahaya, atau bagaimana jika dokter itu berniat jahat pada mu dan anak-anak mu Amira," Arkan coba untuk menahan Amira agar tak pergi.
"Arkan, aku bisa jaga diri dan anak-anakku, karna aku merasa dokter itu orang yang baik ia orang yang sangat tulus, dan aku percaya pada nya seratus persen," ujar Amira.
"Amira, aku hanya takut kau kecewa, kau terlalu mudah percaya pada seorang yang baru kau kenal, ingat Dion, kau begitu mempercayainya tapi dia...," kata-kata Arkan terhentik karna di sambar langsung oleh Amira.
"Cukup Arkan, dokter itu berbeda denga Dion, aku tak mau kau mengungkit namanya, Dion bisa saja menipuku, membodohiku, karna saat itu aku buta, mata hatiku pun ikut di butakan oleh cinta nya, tapi sekarang aku bisa melihat Arkan, aku tahu orang yang bersungguh sungguh mencintaiku, atau hanya bermulut manis di depan ku, aku tahu dokter itu mencintai ku dengan tulus, ia bahkan tak peduli status ku Arkan," papar Amira.
"Tak peduli, atau dia tak tahu Amira, jika sebenarnya status mu masih gantung, harus nya cari Dion terlebih dahulu, baru silahkan kau buka hati mu pada siapa pun," ujar Arkan, ia pun berlalu.
Setelah di jemput dokter, mereka pun pergi, suasana suka menyelimuti semua jiwa yang ada dimobil itu, terutama Dion, kini ia bisa membujuk Amira untuk membawa kedua anak mereka.
Gea dan Geo selalu bersikaf manja, baru sampai di depan rumah saja Dion sudah mendapat kan sambutan berupa pelukan dan ciuman dari kedua nya, padahal mereka baru dua kali bertemu, mungkin karna ikatan batin antara ayah dan anak, naluri mereka mengatakan bahwa dokter tersebut adalah Ayah mereka, namun karna mereka masih kecil mereka tak bisa mencerna perasaan itu,
Di dalam mobil,
Dion sedang menyetir mencoba meraih tangan Amira dan menciumnya, penampakan itu di lihat langsung si centil Gea, ia pun berceloteh.
"Emang Gea tahu artinya melamar?" tanya Dion, ia heran anak sekecil itu bisa bicara seperti itu.
"Tau dong kan Gea suka nonton film, film kartun, sinetron drakor, dan banyak lagi Om."
"Loh kok nonton nya film dewasa, kan ngak boleh Gea,"
"Abisnya Gea ngak punya teman di sana, main sama Geo kan ngak nyambung, dia suka main bola basket, tapi melemparnya bukan ke jaring tapi kearah Gea, kan Gea sebel Om, jadi Gea suka nemanin Bi Atun nonton film, jadi Gea ikut nonton." jawab nya polos.
Pemaparan Gea cukup menyentak hati Amira, itu membuktikan lemahnya pengawasaan nya dan kurang nya waktu untuk anak-anak nya di sana, hingga Gea menonton apa yang seharusnya tak di tontan anak seusianya.
"Kalau Gea, ngak punya teman, Gea hubungi Om dokter saja, nanti Om dokter jemput, biar Om dokter bawa Gea bermain kemana saja kalian Mau, tuturnya,"
Dion merasa sedih dengan penuturan anak-anaknya, mereka tak hanya kurang kasih sayang, tapi pendidikan dari keluarga juga kurang semua karna keegoisan kedua orang tuanya.
Ya perpisahan akan sangat berdampak pada anak, mereka yang tidak tahu menahu permasalahan kedua orang tua nya, malah mereka yang ikut menanggung akibatnya.
Sejenak Dion dan Amira menunduk dan merenungi semua yang telah terjadi, hingga celotehan Gea membuyarkan lamunan mereka.
"Om dokter, Om dokter janji ya, akan menemani Gea, kita ke moll shoping, ke salon menikur dan pedikur." Gea asal sebut, ia sendiri tak tahu apa artinya.
Mendengar ucapan Gea, keduanya pun mentertawa kan kepolosan Gea.
"Sayang kamu tuh seperti wanita dewasa dari pada anak ingusan, memang kamu tahu arti yang kamu sebutkan?
__ADS_1
"Ngak tahu Om, biasanya di film gitu," jawab nya polos.
Dion menarik Gea dan memangkunya, ia pun mencium pipi Gea," Om dokter janji ngak akan buat Gea dan Geo kesepian lagi," tutur nya.
"Bener ya Om," Gea pun mencium pipi Dion.
Amira menetas kan air matanya, betapa anak-anak nya memang butuh figur seorang Ayah.
Melewati jalan luar kota dan melewati
pantai, Dion pun membawa mereka ke pantai.
"Om kita kemana Om?" tanya Gea.
"Ke pantai sayang"
"Ke pantai? Asik, Gea ngak pernah ke pantai Om," ia pun melonjak kegirangan.
Sesampainya di pantai, mereka Asik bermain, sementara Dion dan Amira hanya memperhatikan mereka yang sibuk bermain air dan pasir, wajah mereka sungguh ceria.
Dion mendekati Amira dan memeluk nya dari belakang, tapi Amira menghindar.
"Jangan dokter, jangan lakukan itu," ia pun mengelak.
"Tapi kenapa? Apa kau tak percaya pada ku?" tanya Dion.
"Bukan aku tak percaya, tapi...," Amira menghentikan kata-katanya.
"Tapi kenapa?" tanya Dion.
"Sebenarnya status ku masih istri orang," jawab nya.
Mendengar jawaban Amira, Dion begitu senang, ternyata perasaan mereka sama, sama-sama menjaga ikatan pernikahan mereka, meski mereka berpisah dalam waktu yang lama.
Dion bahkan merelakan kepergian Amira, agar ikatan pernikahan mereka tak terputus.
Dion menarik tanggan Amira, kemudian memeluknya.
"Kalau begitu, kau hanya punya dua pilihan, melupakan nya dan menerima ku, atau kau kembali padanya," ujarnya.
"Aku tak bisa kembali padanya, aku juga tak mungkin kembali padanya, karna dia telah menorehkan luka yang tak mungkin sembuh di hatiku," Amira meneteskan air matanya.
"Jika begitu, biarkan aku masuk dan mengobati lukamu, aku berjanji akan membuat mu bahagia," ucap Dion.
"Tapi aku belum pernah melihatnya, aku juga tak tahu di mana dia sekarang, dan rasanya aku tak sanggup bertemu dengan nya." Amira pun menangis.
"Aku tak bisa menemuinya, karna aku masih mencintainya," tangis nya pecah, Dion pun memeluknya dengan haru.
"Biar ku bantu kau melupakannya, kemudian, biar kan aku masuk secara perlahan, biar sama-sama kita obati luka mu, kau percaya pada ku kan? "ucap Dion dengan sungguh-sungguh.
Amira pun menggangguk kan kepalanya, mereka pun kembali haru dan saling memeluk kembali, bahkan kedua anak mereka yang melihat pun, berlari dan memeluk mereka, mereka semua larut dalam bahagia, seperti keluarga yang lama terpisah namun kembali bertemu, meski Amira dan kedua anaknya tak tahu siapa dokter itu.
__ADS_1