
Setelah asik bermain dengan Ummi dan Abi, si kembar yang kelelahan pun tidur siang di rumah itu.
Ummi berkali-kali mencium cucu kembarnya yang lucu dan menggemaskan, apalagi ternyata Geo samgat mirip dengan Dion di waktu kecil dari wajah dan hobi nya juga sama, Geo dan Dion sama-sama punya hobi main basket.
Melihat Geo, Ummi seperti bernostalgia, ia seperti mengasuh Dion di waktu kecil, meski tidak banyak bicara, namun Geo ternyata suka usil terhadap Gea, Gea sering menangis karna ulah Geo.
Setelah menidurkan mereka, Ummi menghampiri Dion.
"Dion kenapa kamu ngak jujur saja sama istri kamu Dion?" tanya Ummi.
Dion menghela nafas panjang.
"Belum waktu nya Ummi, suatu saat pasti Dion akan mengakuinya sendiri"
"Bagaimana pun kamu ngak boleh menyembunyikan kebenaran itu Dion, sama saja kamu menipu Amira dan menipu diri kamu sendiri, bagaimana jika Amira tahu kebenaran ini dari orang lain, apa dia tidak semakin kecewa sama kamu Dion?" tanya Ummi.
"Dion belum siap Ummi, Dion akan buktikan terlebih dahulu pada Cahaya jika Dion hanya mencintainya dari dulu hingga sekarang, dan Cahaya seperti nya belum yakin Ummi, ia masih merasakan kekecewaan terhadap Dion, lalu bagaimana jika ia pergi membawa anak-anak Dion lagi Ummi, saat ini Dion merasa sangat bahagia, karna bisa berada dekat dengan mereka semua," paparnya.
"Itu terserah kamu Dion, Ummi berharap kamu secepatnya bicara jujur terhadap Amira, "
Di kantor.
Arkan dan Amira berada di satu ruangan, Ayah Amira meminta Arkan untuk mendampingi Amira dalam kepengurusan perusahaanya.
Kedatangan seorang tamu berhasil membuat Amira kaget.
"Assalammualaikum semua," sapa Raihan ia pun masuk kedalam ruangan.
"Wa'alaikum salam," serempak
Dan ternyata Raihan juga kaget, karna melihat Amira yang kini duduk di kursi kebesaran Ayahnya.
"Suprise, Amira kamu ada di sini?" tanya Raihan dengan sangat senang.
"Mas Raihan apa kabar?" Amira berdiri menghampiri Raihan dan mengulurkan tanggan.
Mereka pun saling berjabat tangan.
"Baik Amira, kamu gimana?" tanya Raihan.
"Baik dong Mas," jawabnya.
"Kamu makin cantik saja Amira," puji Raihan.
"Ehm, Ehm udah basa-basi nya, ketemu mantan, aku kayak ngak di anggap ya," sindir Arkan.
"Hey, Arkan sahabat ku." Raihan langsung memeluk Arkan.
"Kamu juga di sini, aku pikir kamu masih di Jerman"
"Aku di suruh Bapaknya Amira untuk mendampinginya dalam mengurus perusahan ini." papar nya.
"Aku sudah mengadakan kontrak kerja sama dengan Ayahmu Amira, nanti rencana kita akan meluncur kan produk baru di pasaran yang lebih ramah lingkungan, dengan mesin dan teknologi yang di buat anak bangsa, mahasiswa jurusan teknik mesin, yang ada di kota ini" papar Raihan.
"Aku setuju sekali, jika bukan kita siapa lagi yang bisa menghargai kreatifitas bangas kita sendiri" sahut Arkan.
"Bagaimana menurut mu Amira?"tanya Raihan.
__ADS_1
"Aku setuju saja," jawab Amira dan mereka pun melanjutkan obrolannya.
Terlihat sekali Raihan masih menyimpan perasaan terhadap Amira, di sela-sela pembicaraan, nya matanya selalu tertuju pada Amira.
Setelah meeting, mereka melanjutkan makan siang bersama, lagi-lagi Arkan merasa kehadiranya tak diangap oleh Raihan, meski ia mengerti, Raihan kini coba menarik hati Amira kembali.
Meski Arkan menyukai Amira, tapi ia sadar, ia dan Amira adalah saudara yang di besarkan dalam satu rumah, ia dan Amira menghabiskan masa kecil bersama di rumah itu, Ayahnya dan Ayah Amira bersaudara, jadi ngak akan mungkin keluarga nya akan merestui hubungan mereka, Arkan menutupi perasaanya terhadap Amira.
"Amira, bagaimsna hubungan mu dengan Dion? apa setelah pulang, kau sudah menemuinya?" tanya Raihan.
"Belum Mas, sampai sekarang aku ngak pernah melihat Dion, aku juga tak tahu di mana alamatnya rumahnya," tuturAmira.
"Aku tahu Amira di mana Alamat Dion, jika kau mau, aku bisa mengantar mu,"
"Aku masih belum siap rasanya, jika harus menemui Dion dan keluarganya, jujur saja aku marasa bersalah sama Ummi dan Abi, mereka begitu baik terhadap ku, aku tlah membawa cucu mereka jauh dari mereka, bagaimana pun, ini bukan kesalahan kedua orang tuanya," ungkap Amira dengan lirih, ia pun meneteskan air matanya.
"Kamu harus kuat Amira, kamu juga harus kasi keputusan terhadap Dion, bagaimana jika ia masih menunggu kamu kembali, kamu harus segera menemuinya, dan jangan lagi lari dari kenyataan, cepat atau lambat kamu harus menghadapinya," saran Raihan.
"Raihan benar Amira, kamu ngak bisa terus-terusan lari, kita hadapi sama-sama, aku mau kok mendampingi kamu menemui Dion dan kedua orang tuanya," kata Arkan, berusaha meyakinkan Amira.
Setelah beberapa saat merenungi kata-kata Raihan dan Arkan, Amira pun mengambil keputusan.
"Iya insya Allah, Akhir pekan nanti aku akan menemui Ummi dan Abi, Aku juga akan membawa Gea dan Geo, mereka pasti ingin bertemu cucu mereka," jawab Amira, ia pun kembali meneteskan air matanya.
Raihan dan Arkan memang benar, semua harus di selesaikan sesegera mungkin, karna tak mungkin ia akan lari untuk selamanya, batin Amira.
Keesokan harinya.
Di ruang UGD Dion masih sibuk dengan tugasnya, memeriksa keadaan pasien yang baru tiba, dengan keluhan yang bermacam-macam.
Dion pun mendekati pasien yang mengalami penurunan tingkat kesadaranya, akibat demam tinggi.
Setelah memeriksa detak jantung, tekanan darah, Mereka memasang infus di pergelangan tanggan pasien.
"Tekanan darahnya normal, dengan detak jantung normal, suhu tubuh pasien 41 derajat celcius."papar salah seorang suster.
"Tinggi sekali demam nya," cetus Dion.
Dion pun menanyakan kondisi terakhir pasien kepada keluarga korban yang berada di samping.
"Bagaimana keadaan Amanda sebelumnya Bu?" tanya Dion.
"Belakangan ini, ia sering merasakan pusing, mual dan demam tinggi dokter, katanya daerah punggung bagian belakang juga sakit, dan terakhir dia sampai mimisan," ungkap ibu Amanda.
"Sudah berapa hari Amanda demam Bu?" tanya Dion.
"Tiga hari dok, terkadang ia menggigil," jawabnya.
"Dokter, dokter mengenal anak saya?" tanya Ibunya.
"Saya dan Amanda teman semasa SMA Bu," jawabnya singkat.
Setelah mencatat rekam medisnya, Dion memerintahkan kepada salah seorang perawat, untuk mengambil sample darahnya.
"Suster, karna demam tinggi dan sudah tiga hari, ambil sample darahnya dan lakukan uji di laboratorium, untuk mengetahui kadar leokositnya." papar Dion kepada seorang suster.
Suster tersebut mengambil samplel darah Amamda kemudian di uji di laboratorium.
__ADS_1
Setelah mendapat obat yang di suntikan di langsung di infusnya, Amanda pun sadar dari tidurnya, dan merasa berada di tempat asing.
"Kita di mana Ma?" tanya Amanda heran memperhatikan sekeliling.
"Kita di rumah sakit Amanda, Mama segera membawa mu kerumah sakit, karna keadaan mu terlihat makin parah," papar Mamanya.
"Ma, Manda pasti hanya kelelahan, istiharat beberapa hari juga akan pulih. "
"Sudahlah sayang, jika kamu sudah di periksa dan ternyata baik-baik saja, baru Mama Akan yakin."
Kedua orang suster datang menghampiri mereka.
"Maaf Ya Bu, Mbak permisi, setelah melakukan pengujian di laboratorium, ternyata trombosit pasien di bawah normal, untuk itu, perlu di lakukan transpusi darah," ungkap salah seorang suster.
"Transpusi, Anak saya sakit apa Suster?" tanya Mama nya Amanda.
"Kita juga belum tahu, besok Pasien akan kembali melakukan tes darah dan pengambilan sample sumsum tulang nya, Bu," jawab suster, ia pun melanjutkan tugasnya.
Mama Amanda begitu khawatir, karna Amanda terlihat sangat pucat, Ia berharap putri nya hanya menderita penyakit Ringan.
Setelah jam kerja nya selesai, Dion bermaksud menjenguk Amanda, ada ke khawatiran Dion, saat melihat hasil laboratorium Amanda.
Ia pun menuju kamar perawatan Amanda, Amanda adalah cinta pertama Dion semasa SMA, meski ia selalu menutupi perasaannya pada waktu itu, dan setelah sekian lama tidak bertemu, ternyata ia dan Amanda di pertemukan di tempat ini.
Dion mengetuk pintu dan mengucapkan kata permisi, saat akan masuk ke ruangan Amanda.
"Permisi," ucap Dion dan langsung di sambut baik oleh Ibu Amanda.
"Eh dokter, masuk saja dok," sapa Ibunya ramah.
Amanda tak percaya ketika ia melihat siapa yang kini menghampirinya.
"Dion, " sebutnya dengan bahagia.
"Hai, Manda bagaimana, apa sudah merasa mendingan?" tanya Dion.
"Iya Dion, sudah mendingan, " jawab Amanda bahagia, ia tak menyangka, Dion yang selama ini ia cari keberadaan nya, malah datang sendiri dan menghampirinya.
"Kamu kenapa bisa ada di sini Dion?" tanya Amanda.
"Aku dokter yang bertugas di ruang UGD, saat pertama kamu tiba, aku yang menangani kamu langsung," jawab Dion.
"Dokter, sebenarnya apa penyakit Amanda?" tanya Ibunya.
"Masih belum di pastikan Bu, masih harus melakukan serangkaian tes lagi, untuk memastikanya," jawab Dion.
"Tapi penyakitnya tidak berbahaya kan dok?" tanya Ibunya dengan perasaan cemas.
"Kita lihat saja, Ibu harus tetap yakin, semua penyakit pasti ada obatnya," jawab Dion singkat.
Setelah berbincang beberapa saat, Dion mendapat telpon dari Amira, Ia pun menjauh dari mereka.
"Assalam mu'alakuim sayang?" sapa Dion, Meski telah menjauh, namun masih terdengar di telinga Amanda ungkapan sayang Dion terhadap seseorang di seberang telpon, ada rasa kecewa di hati Amanda, padahal selama ini ia masih berharap pada cinta Dion.
Setelah mendapat telpon dari Amira, Dion pun bermaksud Pamit.
"Bu, Manda, saya permisi ya," ucap Dion dan ia pun berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1