Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Di Tolak mentah mentah


__ADS_3

-Sambil menunggu kedatangan si kembar, Dion memasak untuk istri dan anak-anaknya, sementara Amira ia sudah tertidur dengan pulas.


Amira memang harus beristirahat, karna ia belum sepenuhnya pulih.


Dengan telaten Dion mengupas bumbu, menyuci sayuran dan ayam yang akan di hidangkanya untuk makan malam keluarga nya nanti.


Meski hari masih sore, tapi Dion sengaja menyiapkan nya lebih awal, agar bisa merasakan qualitytime bersama keluarganya.


Sesekali ia mengintai di kamar, melihat Amira yang tertidur pulas, rasa bahagia menyelimuti hatinya saat itu, akhirnya ia bisa berkumpul bersama keluarganya kembali.


Dion membersihkan ayam, kemudian ia ungkep dengan bumbu-bumbu racikanya sendiri.


Dion sedikit kaget, ketika ada tangan melingkar di pinggang nya.


"Selain dokter, suami ku juga cheef ternyata," suara dari arah belakang, yang memeluk tubuhnya.


Dion membalikan badannya, "Kamu sudah bangun sayang?" tanyanya sambil mencium kening istrinya.


"Kamu masak apa? Masak buat makan malam kita sayang."


"Makan malam, hari masih sore begini," lanjutnya.


"Nanti si kemnar datang aku ngak mau repot, aku mau habiskan waktu bersama kalian, besok aku sudah bekerja."


"Dion bagaimana cara menjelaskan semuanya ke keluarga ku nanti nya?" Amira sedikit khawatir, ia takut Oma akan syok dan terkena serangan jantung.


"Apa kita sembunyikan saja dulu Dion," usul Amira.


"Sembunyikan, Ngak usahlah biarkan mereka semua tahu, nanti malam kita bicarakan semua ini dengan keluarga mu, mau tidak mau mereka harus terima."


Amira hanya diam, ia merenungi apa yang harus ia katakan pada Omanya nanti.


"Sayang kamu jangan mikir macam-macam, ngak akan terjadi sesuatu pada Oma, jika memang belum waktunya terjadi, ya sudah kita pasrah kan saja."


***


Raihan pulang kerja dan langsung di sambut oleh ibunya.


"Raihan kamu sudah fitting bajukan sama Amira?" tanya ibunya.


Raihan tak menjawab ia menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


"Raihan berencana membatalkan pernikahan dengan Amira bu," jawabnya lesu.


"Apa Raihan? bukanya dari dulu kamu yang menginginkan pernikahan dengan Amira? bagaimana mungkin ini di batalkan, kedua keluarga sudah sepakat Raihan."


"Bu Raihan ngak mau nikah sama orang yang tidak mencintai Raihan, apa ibu lupa sama Rani?" tanya Raihan.


"Karna kami ngak saling cinta, setiap hari kami hanya bertengkar dan bertengkar, ngak ada keharmonisan sama sekali, Raihan ngak mau memaksa Amira bu, karna cinta ngak bisa di paksakan, percuma Raihan menikahi tubuhnya, jika hatinya masih milik orang lain," Papar Raihan.


"Raihan cinta itu bullsit, cinta bisa datang jika kalian sudah menikah? lagi pula Amira itu mantan tunanggan kamu, jadi ngak mungkinlah jika ia ngak punya hati kepada mu," balas Ibunya.


"Kenapa ibu memaksa Raihan menikah dengan Amira sekarang, Ibu ngak ingat, bagaimana ibu menolaknya mentah-mentah saat Amira mengalami kebutaan, Ibu ngak melihat betapa deritanya ia saat itu, Ibu hanya memikirkan kebahagian Raihan kan, nyatanya Raihan juga ngak bahagia, sudahlah ngak usah memaksakan sesuatu," paparnya ia pun naik kelantai atas menuju kamarnya.


Rasa kecewa begitu terasa di hati Raihan, ini yang kedua kalinya ia gagal menikahi Amira, padahal jauh di lubuk hatinya ia sangat menginginkan Amira.


Sejarah seolah terulang kembali, kali ini ia kembali harus merelakan orang yang ia sayangi untuk orang lain, tapi dengan iklas Raihan rela berkorban, karna cinta memang membutuhkan pengorbanan.


Kali ini ia harus melupakan perasaanya pada Amira, selama ini Raihan tak pernah dekat dengan seorang wanita, tapi melihat Alice, ia coba mengalihkan rasanya, agar rasa putus cinta tak terlalu kentara di hatinya.


Begitu pun Alice, ia sudah putus asa mengejar cinta Dion, yang namanya tidak jodoh di kejar seperti apapun hasilnya hanya percuma, batinya


Bukan nya mencari pelarian dari perasaanya kini, tapi melihat sosok Raihan, yang sabar, tenang dan dewasa, Alice pun merasa nyaman bicara denganya, meski mereka belum mengenal.


Alice membuka lemarinya dan memilih pakaian yang akan ia gunakan untuk nanti malam, undangan makan malam ini harus sukses menarik hati Raihan, batinya.

__ADS_1


***


Gea dan Geo sudah tiba, mereka di antar oleh Arkan.


"Ayah, Ibu, !!!," Teriaknya dari kejauhan.


Mendengar teriakan anak-anaknya, Dion pun melepaskan pelukanya terhadap Amira.


Mereka pun menyambut kedatangan buah hati mereka.


"Ayah, Ibu," Gea dan Geo langsung memeluk ke duanya.


Setelah memberi salam, Arkan langsung masuk, ia pun duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


Mereka menggampiri Arkan.


"Bagaimana Dion, jadi ngak rencananya kita ke Jerman menemui Ayah ku?" tanya Arkan.


"Ke Jerman, ngak jadi," jawab Dion, ia tersenyum sambil melirik Amira yang juga tengah meliriknya.


"Loh kenapa?" tanyanya heran, karna sebelumnya Dion yang bersemangat sekali.


"Karna kami sudah rujuk, jadi ngak perlu kawin lari," jawab Dion.


"Hah, Kok bisa?" tanya Arkan.


"Ya bisalah," jawab Dion singkat.


"Jadi Amira bagaimana kau akan memberi tahu Oma tentang hal ini, ia pasti akan marah besar," papar Arkan.


"Aku tahu Kan, tapi aku juga ngak bisa menikah dengan Raihan, aku ngak cinta sama dia," ungkap Amira.


"Aku sih bahagia melihat kau bahagia, apalagi melihat Gea dan Geo, aku selalu mendukung mu, meski harus menentang keluarga kita," tambah Arkan.


"Oke lah kalau begitu, aku pamit ya, aku ngak mau gangguin kalian." Arkan pun berdiri dan pamit pada mereka.


"Kamu bukan ngak mau gangguin kami, bilang saja kamu mau menemui dokter Diah kan, Kan?" tanya Amira.


"Eh tahu aja," ia pun nyengir.


Dion menyiapkan makan malam untuk keluarganya, setelah magrib dan sebelum sholat Isya mereka makan malam.


Tampak kecerian pada wajah Gea dan Geo.


Mereka terlihat lahap memakan masakan Dion.


"Gimana sayang?" tanyanya pada Gea dan Geo.


"Enak yah, apalagi ayam gorengnya, ini siapa yang masak yah?" tanya Gea.


"Pasti Ayah yang masak, kalau ibu kan ngak bisa masak, "sambar Geo dengan santai.


Mereka pun tertawa bersama, kecerian menghiasi wajah buah hati mereka.


Selepas sholat isya berjamaah, Mereka pun bersiap menemui keluarga Amira.


Dion membawa anak dan juga istrinya turut serta.


Sesampainya di sana, ternyata kehadiran Amira sudah di tunggu oleh Oma dan ibunya.


Mereka mengucap salam sebelum masuk, dan langsung di jawab oleh Oma.


Oma kaget karna Amira pulang bersama Dion.


Dengan penuh emosi Oma langsung mendekati Dion dan menghardiknya.

__ADS_1


"Kenapa kamu ada di sini, rumah ini tak pernah menerima kehadiran kamu," hardiknya sambil menunjuk wajah Dion.


Melihat Ayahnya di kasari, Gea dan Geo menangis.


Mereka memeluk Amira.


"Eyang, jangan marah-marah sama Ayah," kata Gea sambil menangis.


"Diam kamu, anak kecil tahu apa?" bentak Oma.


Gea dan Geo semakin kaget, mereka pun memeluk Amira dan Dion masing-masing.


"Sekarang kamu pergi, dan jangan pernah dekati cucuku lagi," masih dengan nada emosi.


Mendengar suara ribut-ribut, bu Lastri pun keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri mereka.


"Tidak bisa Oma, karna aku dan Cahaya sudah rujuk kembali, dan kedatangan ku kemari untuk memberi tahu, bahwa aku akan membawa anak istri ku," katanya dengan tegas.


"Amira bagaimana kau bisa bersama Dion? tanya Ibunya dengan tak kalah emosi.


"Kami sudah rujuk bu, dan aku akan membawa mereka untuk tinggal bersama ku," jawabnya dengan tegas kembali.


"Apa Amira? kau mengambil keputusan sendiri tanpa memberi tahu kami, apa kau tidak ingat Amira, bagaimana ia menyakitimu, mengkhianati mu, dan semudah itu kau kembali padanya," bentak bu Lastri.


"Tapi Bu Amira..., kata-kata Amira terhenti ketika Amira melihat Oma memegang dadanya dan seketika tubuhnya tumbang.


"Oma!!!" teriak Amira, semua panik berlari mendekati Oma.


"Oma maafkan Amira Oma," tuturnya sambil menangis, sementara Oma sudah tak sadar kan diri.


"Ibu!!!!" panggil Lastri.


"Kau lihat Amira, akibat perbuatanmu, Oma sampai seperti ini, dasar anak tak berbudi, kau tak hanya menginggkari wasiat Ayahmu, tapi kau juga buat Oma seperti ini." sergah ibunya.


Amira hanya menangis, sambil menggoyangkan tubuh Oma, sementara Dion binggung.


"Pergi saja, kau dari sini Amira, pergi!!!!!" teriak ibunya.


"Tapi Bu, Amira...,"


"Sudalah pergi," usir Lastri pada mereka.


Dion pun menarik tubuh Amira dan memeluknya.


"Sudah sayang, ibu masih marah, nanti jika marahnya reda, ibu pasti menerima kita," tuturnya sambil memeluk Amira yang menangis, mereka pun berlalu dari tempat itu.


"Bagaimana ini Dion, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Oma Dion?" tanya Amira menangis.


"Kita doa kan saja Oma baik-baik saja ya, sekarang kau tenangkan dirimu," papar Dion.


"Bagaimana aku bisa tenang Dion, seluruh keluarga pasti akan menyalahkan ku," tangis nya kembali.


Dion hanya Diam sambil menenangkan istrinya, ia juga tak menyangka akan seperti ini kejadianya.


Tak hanya Amira yang menangis, Gea dan Geo dan Geo pun ikut menangis.


Selalu mengingatkan, jangan lupa


🍎like


🍎komen


🍎vote,


Biar author semangat up nya

__ADS_1


__ADS_2