
Dion pulang di sambut dengan kecerian si kembar.
"Ayah !!!," teriak mereka mengejar Dion.
Dengan merentangkan tangganya, ia menyambut terpaan si kembar.
"Ibu mana sayang?" selalu pertanyaan pertama yang ia tanyakan ketika tak mendapati sang istri menyambutnya.
Keduanya di gendong, masing-masing di kedua sisinya.
Dion masuk dan mendapati Amira tengah berbincang dengan Amanda.
"Assalammualaikum," salam Dion.
"Wa'alaikum salam," serempak mereka menjawab.
Melihat kedatangan Dion, Amanda memutuskan untuk pamit.
"Mbak saya permisi ya, karna tugas saya sudah selesai, dan suami Mbak juga sudah pulang." Amanda berdiri hendak pamit.
Dion duduk di samping Amira.
"Eh tunggu kamu pulang pakai apa?" tanya Amira.
"Jalan kaki mbak, ngak jauh kok," jawabnya.
"Eh diantar saja ya?"
"Yuk Yah, kita antar Amanda, ibu sekalian mau makan sop iga sapi," titahnya pada Dion.
Dion pun menuruti keinginan istrinya.
"Yuk Manda, kamu ikut kami makan sekalian, setelah itu, kami antar kamu pulang," Amira.
Dion kaget mendengar perkataan Amira, padahal ia sendiri ingin menghindar darinya.
"Ngak usah Mbak, saya pulang jalan kaki saja," tolaknya halus, ia merasa tak enak melihat ekspresi Dion yang datar.
"Ayo saja, sekalian saya mau mampir ke rumah kamu," ajaknya kembali.
Amira pun menggandeng mesra tangan Dion, mereka langsung menuju mobil, setelah mengunci pintu.
Dion membukakan pintu bagi istrinya, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, tapi Amanda sudah terbiasa dengan sikap acu dan cueknya Dion dari dulu.
"Mau makan di mana Bu?" tanya Dion.
"Di restoran samping jalan sudirman, dulu ibu sering makan di sana sama Mas Raihan," paparnya.
"Jadi ceritanya ingat mantan Bu?" cetusnya bibirnya di bikin manyun sedikit.
Melihat Dion yang manyun," Jangan jealous dong Yah." Amira merebahkan kepala nya di lengan Dion.
Akhir-akhir ini Amira memang selalu bersikaf manja pada Dion, mungkin karna ngidam.
Dan langsung di rangkul oleh Dion, kemestra itu lagi-lagi di lihat oleh Amanda,ia hanya mampu meremas bajunya, untuk menahan rasa cemburunya.
__ADS_1
"Tante-tante sudah punya anak belum Tante?" tanya Gea yang duduk di samping Amanda.
"Belum, Tante belum menikah sayang," jawabnya sambil mencolek pipi Gea yang chabi.
"Oh belum nikah, kenapa belum nikah Tante?" tanyanya kepo.
"Belum ada jodoh," jawabnya.
"Jodoh itu apa tante?" tanyanya kembali.
"Gea, ngak usah gangguin Tante," sahut Dion, karna terlihat Amanda sedikit kewalahan menjawab pertanyaan Gea.
Setelah makan, mereka langsung mengantar Amanda pulang ke rumahnya.
Dion langsung melaju kearah rumah Amanda, karna ia tahu dimana rumahnya berada.
Amira heran, "Amanda rumah kamu daerah sini ya?" tanya Amira.
"Iya Mbak," jawabnya.
"Yah, kok kamu tahu arah menuju rumah Amanda?" tanya Amira.
Sejenak Dion terdiam, ia juga binggung harus menjawab apa, untung saja ia melewati warung Mpok Siti, jadi ia punya alasan untuk memjawab pertanyaan Amira.
"Kamu tetangganya Mpok Siti kan?" tanya Dion.
"Iya," jawab Manda singkat.
"Ayah tahu rumah Mpok Siti bu, makanya Ayah langsung mengarah ke sini, "jawabnya memberi alasan.
Aduh bohong lagi, padahal justru aku tahu rumah Amanda dan ngak tau rumah Mpok Siti, maaf kan aku Cahaya, aku tak bermaksud berbohong, aku hanya tak ingin kau curiga bahwa aku dan Amanda, sudah saling mengenal sebelum nya, aku tak ingin terjadi masalah dalam rumah tangga kita lagi, batin Dion.
Dion berhenti di depan rumah Amanda, "Yah masuk dulu yuk, kita beri tahu ibunya Amanda, bahwa Amanda bekerja dengan kita Yah," ajak Amira.
"Ibu saja Ya, Ayah putar mobil." Dion ngeles, karna tak ingin bertemu Mamanya Amanda.
Amanda dan Amira pun turun dari mobil, seperti sudah akrab, tanpa sungkan Amira menggandeng tangan Amanda, mereka lebih terlihat seperti teman sebaya, dari pada bos dan asistennya.
"Assalammualaikum," ucap mereka berbarengan.
"Wa'alaikum salam," jawaban dari dalam, dan keluarlah wanita parohbaya, yang menyambut hangat mereka.
"Eh ada tamu, mari masuk Nak," sambut Bu Nita dengan ramah.
"Ma, ini mbak Amira, sekarang Manda bekerja dengan Mbak Amira," paparnya.
"Saya Amira Bu," iya pun menyodorkan tangganya dan langsung di sambut oleh Bu Nita.
"Bu kedatangan saya kesini untuk memberi tahu, jika Amanda sekarang bekerja dengan saya, dan sebelumnya saya juga ingin ijin agar Manda bisa menginap di rumah saya, di saat suami saya bekerja," tambahnya lagi.
"Oh, ngak apa kok, asal Amanda ngak ngerepotin saja," tutur nya.
"Kalau gitu saya permisi Bu." Amira pamit.
"Iya terima kasih ya Nak,"
__ADS_1
Amira pun kembali masuk dalam mobil, dan mereka langsung menuju arah pulang.
"Yah, kok kamu gitu sih Yah, cuek banget di depan Amanda, kan dia jadi sungkan, makan saja ia ngak mau,"Amira
"Ayah harus gimana Bu, terlalu ramah dengan wanita, nanti timbul fitnah, lagi pula emang dari dulu sikaf Ayah seperti ini kok, cuma dengan Ibu saja Ayah bisa bucin," tuturnya sambil tersenyum kearah Amira.
"Ah Ayah so sweet banget, ngak bohongkan Yah?"
"Ngak lah Bu, ngak percaya, belah saja dada ini," ujarnya sambil menujuk dadanya.
"Ngaklah nanti Ibu janda lagi," sahutnya, kembali merebahkan kepalanya bersandar pada lengan Dion kembali.
***
"Amanda kamu sudah makan Nak?" tanya Bu Nita.
" Tadi sudah Bu, di ajak makan sama Mbak Amira."
"Syukurlah Nak, karna hari ini Mama ngak punya uang untuk membeli beras, Mama baru saja nebus obat kamu," ia pun menunjukan sekantong kecil obat, yang bisa di perkirakan haraganya mencapai jutaan.
Amanda menangis, melihat pengorbanan Mamanya, saat ini kondisi mereka sudah sangat sulit, untuk makan saja, Mamanya harus ngutang di warung, meski begitu, Mama tetap berusaha agar bisa menebus obat untuknya, seketika air mata itu perlahan menetes di pipi mulusnya.
"Manda kamu kenapa menangis?" tanya bu Nita, karna melihat Amanda tiba-tiba menangis.
"Ma, Amanda sudah sembuh, Mama pijam uang pada siapa lagi Ma, untuk membeli obat Manda?"tanya nya sambil terisak.
"Mama ngak pijam uang sama siapa-siapa, ini hasil penjualan toko baju Mama hari ini, untung saja cukup untuk nebus obat kamu selama dua minggu ini Nak," ucapnya sambil meneteskan air mata.
"Ma, kalau Mama terus-terusan pakai uang toko, nanti Mama ngak bisa mutar, usaha mama bisa bangkrut Ma, trus kita mau makan pakai apa?" tanyanya masih dengan terisak. Amanda semakin sedih melihat pengorbanan ibunya.
Bu Nita langsung memeluk putrinya," Mama tahu Nak, tapi hanya ini yang bisa Mama lakukan untuk mengobati penyakit mu, Mama akan perjuangkan kesembuhan mu, apa pun yang akan terjadi, andai saja, nyawa Mama bisa di gadai untuk kesembuhan kamu, maka dengan suka rela, akan mama berikan, Amanda," tuturnya dengan tangisan pilu menyayat hati.
Eeeee, tangisan Amanda pecah, "Manda tahu penyakit Manda ngak akan sembuh, di obati atau tidak, sama saja, Manda kini hanya tinggal menunggu waktu Ma, jadi Mama ngak usah repot, Manda kuat menjalani ini semua, Manda Iklas, asal Manda yakin, saat Manda pergi, Mama ngak akan kesusahan lagi karna harus menebus obat Manda yang mahal, mending duitnya di tabung Ma, untuk masa tua mama setelah Manda ngak ada," tuturnya dengan berurai air mata.
"Jangan bicara seperti itu Nak, kau adalah nyawa Mama, jika kau tak ada, maka hidup Mama ngak akan bearti, jangan putuskan harapan Mama sayang, dengan berdoa dan berusaha, Mama yakin kamu pasti sembuh," tutur nya tak kalah haru.
Mereka pun saling berbelukan.
"Ma, Mama belum makan kan?" Manda melepas pelukanya.
"Ini Ma, Mbak Amira membungkus ini untuk Mama, sop iga sapi Ma, tadi Manda ngak nafsu makan, Manda ingat Mama, pasti Mama juga belum makan, karna di rumah kita ngak ada apapun untuk di makan, kita makan sama-sama ya Ma," Manda pun menyuap kan nasi putih dengan sop iga sapi yang di belikan Amira.
Selesai makan, mereka pun mengucap syukur karna ada saja rejeki, setelah seharian menahan lapar, akhirnya Tuhan menurunkan rezekinya melalui perantara hambanya, Bu Nita bersyukur karna punya anak yang berbakti seperti Amanda.
Jangan lupa
Like
Komen
dan vote nya,
Biar author semangat lagi upnya.
Mampir juga di novel author yang lain dengan kisah yang lebih seru dengan judul
__ADS_1
Ketika takdir menyatukan aku dan mereka