
Setelah Gea dan Geo tidur, Dion mendekati Amira dan berbarig di sampingnya.
Dengan lembut ia mengusap kepala Amira kemudian memiringkan tubuh nya agar bisa mencium kening Amira.
Amira tersenyum mendapat kecupan sang dokter, ia sendiri masih tak mengerti tentang perasaanya, kenapa ia membiarkan lelaki lain menyentuh nya, Amira juga tak sangup menolaknya, karna cinta itu kini tumbuh subur di hatinya.
Tak hanya itu, kini Dion kembali mencium lembut bibir Amira, ia menggenggam tangam Amira, menikmati setiap getaran yang terasa di sekujur tubuhnya.
Gerakan lincah yang menari di atas tubuh Amira, mereka terus saja *******, mengecup dengan mesra, bahkan Amira membuka mulutnya agar sang dokter bisa mengeksplor lebih dalam lagi.
Kedua nya sudah mengerang, merasakan nikmat yang tak tertahankan, bibir mendesah, seketika detak jantung berdetak lebih kencang, seiring dengan nafas yang semakin memburu menuntut hasrat untuk melampias kan.
Kedua nya kini sama-sama ingin merasakan sesuatu yang sudah lama mereka tinggalkan, Saat hasrat sudah memuncak, getaran rasa tak mungkin lagi di redam, keduanya larut dan hampir tenggelam dalam lautan emosi jiwa yang sempat padam.
Dion masih berada di atas tubuh Amira, ia terus mencium bibir Amira dan **********, gerakan tak beraturan dengan tanggan merayap menyapu lembut di setiap sudut tubuhnya, mereka seperti kedua insan yang bercinta, namun mereka masih menggunakan pakaian lengkap, saat hasrat sudah tak terbendung, Dion berhenti dan lebih memilih mengakhirinya, terlihat kekecewaan pada Amira.
"Kenapa berhenti dokter?" tanyanya antara kecewa dan heran.
"Aku berhenti bukan karna aku tak menginginkan mu, tapi aku ingin membuktikan kepada mu, bahwa apa yamg ku rasa kan pada muu adalah cinta yang murni, bukan nafsu sesaat, yang akan hilang dengan mudah bila hasrat tlah usai."
Amira menelan saliva nya, tengorokan nya begitu kering, ia kagum pada cinta seorang pria yang ada di hadapanya, cinta itu nyata ada nya, dan ia merasakan sendiri, meski keraguan selalu datang menghampirinya.
"Dokter apa kau serius mencintaiku?" tanya Amira?
"Apa kau tak bisa melihat nya di mata mu, jika kau tak bisa melihat di mata mu, maka bukalah mata hati mu, kau pasti bisa melihatnya, Saat kau melihat atau kau tak melihat, kau pasti bisa merasakannya, karna begitulah cinta, cinta bukan dari mata turun kehati, tapi dari hati, kehati," papar Dion.
Amira sejenak terdiam mendengar penuturan dokter, ia pun melihat kearah dokter yang menatapnya.
"Tapi kenapa aku yang kau pilih, aku merasa tak pantas untuk mu, kau punya segalanya dokter, pasti akan ada wanita yang lebih cantik dan lebih muda dari ku, yang juga menginginkan mu," Amira pun tertunduk lesu.
"Dengarkan, aku tak memilih mu, karna aku yakin kau hanya tercipta untukku, buang saja rasa ragu mu, terima saja aku apa adanya, kau mengertikan" Dion mengangkat dagu Agar Amira bisa menatap matanya, agar ia yakin akan kesungguhanya.
"Aku hanya punya satu hati, dan satu cinta, dan itu hanya untuk mu," tambahnya lagi.
Amira menitikan air matanya, ia semakin tak bisa menolak rasa cinta yang dokter ciptakan di hatinya.
Amira menatap mata Dion dengan lekat.
"Dokter mau kau menemui suamiku? dan bilang pada nya jika kita saling mencintai, bilang juga padanya bahwa aku hanya mencintai mu, dan aku membencinya, bilang padanya aku takan pernah bisa menerima nya kembali." tutur nya dengan emosi, terlihat sekali masih ada rasa kecewa di hatinya, terhadap Dion.
Dion semakin binggung.
Apa yang terjadi, seandainya kau mengetahui, jika ternyata orang yang kau benci, dan orang yang cinta ,adalah orang yang sama, batin Dion.
***Ku coba, menguatkan hati dari kamu yang belum juga kembali, satu keyakinan yang membuatku bertahan, penantian ini akan terbayar pasti,
Ingat aku sayang, yang sudah berjuang, menunggu mu datang, menjemput mu pulang,
Ingat slalu sayang, hati ku kau genggam, aku tak kan pergi, menunggu kamu di sini,
__ADS_1
Jika bukan kamu aku tak tahu lagi, pada siapa rindu ini akan ku beri,".nyanyian Dion lirih di telinga Amira,
Rasanya lagu itu memang pantas, mengambarkan penantinya, meski Amira belum juga menyadari betapa ia sanggup menahan kerinduan di setiap malam sepi, yang harus di laluinya sendiri, tanpa seorang teman atau pun kekasih.
Mereka pun saling menatap, kali ini bulir bening menetes di pipi Dion.
"Apa kau masih tak percaya cinta ku Sayang ? Ia langsung menggenggam erat tangan Amira dan menciumnya, Amira yang ikut haru kembali memeluknya erat.
"Seberapa banyak lagi bukti yang akan kau cari," tambah Dion, ia masih memeluk Amira.
"Ia dokter aku percaya," jawab Amira lirih, masih dalam pelukanya.
Aku tak hanya ingin kau percaya, tapi ingin membuat mu lebih yakin, agar kau tetap sanggup menerimaku, jika aku ini adalah Dion mu, seseorang telah menghabiskan banyak waktu nya, untuk menunggu mu kembali, batin Dion.
Dion mengusap rambut Amira hingga Amira terlelap, sesekali ia pun mencium istri nya, sudah sangat lama, ia memimpi kan hal ini, melihat kedua anak dan istrinya, Dion merasa telah mendapkan anugrah yang paling indah, apalagi jika mereka di persatukan kembali dalam sebuah keluarga, Dion pun memiringkan tubuhnya, memeluk Amira kemudian menutup matanya.
Pagi harinya mereka berenang di kolam renang, Dion dan kedua anaknya berenang, sedangkan Amira ia hanya tersenyum melihat tingkah kocak kedua anaknya yang manja dan usil terhadap dokter.
Amira curiga ketika melihat ketiga nya berkumpul seperti sedang berunding di dalam kolam, tak lama kemudian ia melihat Pak dokter naik dan menghampirinya, dokter itu pun menarik tanganya agar ia bisa berdiri, setelah Amira berdiri sang dokter malah mengangkat tubuh nya hingga sampai di tepi kolam.
"Dokter, jangan dokter, aku ngak bisa berenang dokter !" teriaknya ketakutan.
Tapi Dion tetap melompat ke dalam kolam, sambil tetap mengangkat tubuh Amira dengan kedua lenganya.
Blumm
Seketika mereka meloncat kedalam kolam, tengelam, kemudian timbul kembali, Amira langsung memeluk tubuh Dion, ia terengah-engah sambil mengatur nafasnya.
"Dokter, aku ngak bisa berenang," ia memeluk erat tubuh Dion.
Dion hanya tertawa, "Tenang saja, ada aku di sini, tak kan terjadi sesuatu apa pun padamu," ucapnya sambil memeluk Amira.
Geo dan Gea, yang menggunakan pelampung itu pun mendekati mereka.
"Om dokter dengan Ibu kok peluk-pelukan sih? " tanya Gea usil,
"Ibu kan ngak bisa berenang, kalau ngak di peluk, nanti tenggelam," tuturnya.
"Om dokter mau melindungi ibu ya, kalau gitu, om dokter nikah sama ibu saja, biar bisa selalu jagain ibu," tambahnya.
"Ia sayang, Om dokter akan nikahin ibu, biar bisa jagain Ibu, dan menjaga kalian semua, Gea setujukan?" tanya Dion.
"Setuju," jawab Gea dan Geo kompak.
Dan mereka pun saling berpelukan bahagia.
Beberapa hari kemudian,
Pagi ini Amira sudah sibuk, selain akan berangkat ke kantor, ia juga harus mengantar anaknya ke sekolah.
__ADS_1
Dengan menggunakan sopir pribadi, ia mengantar kedua buah hatinya kesekolah, sesampainya disana, sudah ada dokter Reziq yang menunggu mereka.
Amira membuka pintu mobil untuk keduanya,karna hari ini, hari pertama masuk sekolah, orang tua murid mengantar anak-anak mereka dan menunggu untuk mendampingi mereka, karna masih tahap perkenalan.
Amira dan Dion keduanya mendampingi Gea dan Geo, di hari pertama sekolah, orang tua murid di perkenan kan hadir dan mendampingi untuk mendengar pengarahan dari pihak sekolah.
Mereka terlihat seperti pasangan serasi, apalagi sosok Dion yang mampu mencuri perhatian para ibu-ibu muda.
Setelah jam sekolah usai, Amira langsung menuju kantor, dan Dion meminta ijin membawa Gea dan Geo untuk bertemu orang tuanya.
"Sayang, aku boleh kan bawa Gea dan Geo menemui orang tua ku?" tanya Dion.
"Menemui orang tua mu? apa kedua orang tua mu, mau menerima aku dan anak-anak ku?" tanya nya ragu.
"Tentu saja, aku sudah menceritakan semua tentang mu, bahkan mereka yang meminta membawa Gea dan Geo, mungkin mereka ingin melihat calon cucunya, sayang," bujuk Dion.
"Tapi ...," Amira ragu.
"Sayang, ini alamat rumahku, tak kan terjadi sesuatu pada mereka, setiap saat, aku akan menelpon mu untuk memastikan keadaan mereka." Dion memberi kartu namanya yang tertera alamat rumah dan tempat praktek mandirinya.
"Ia, nanti saat makan siang, bawa mereka ke kantor ku"
"Ok sayang, terima kasih sayang, karna telah percaya pada ku," ia pun mencium kening Amira.
Dion membawa Gea dan Geo menemui Ummi.
Sesampainya di rumah, Geo dan Gea di sambut baik dan ramah oleh Ummi dan Abi saat di depan pintu.
Melihat kedatangan kedua cucu yang di rindukanya tanpa sadar keduanya meneteskan air mata.
Gea dan Geo turun dari mobil, tapi mereka sedikit takut melihat Ummi dan Abi.
"Om, mereka siapa Om?" tanya Geo
"Oh itu, Oma dan Opa kalian, mereka baik dan sayang pada kalian, ayo kita hampiri, jangan lupa salaman dan ucapkan salam ya" "
Mereka pun berjalan, mendekati keduanya dengan perlahan, semakin di dekati oleh cucunya, air mata Ummi semakin deras hingga keduanya berada di hadapan mereka.
"Assalamualaikum Oma," ucapnya serentak.
"Walaikum salam,"Ummi langsung berlutut agar bisa mencium pipi kedua nya.
Melihat Oma yang menangis mereka pun bertanya.
"Oma kenapa Oma menangis, apa ada orang yang mengganggu Oma?" tanya Gea.
Ummi langsung memeluk kedua cucunya, ia tak sanggup berkata-kata lagi, yang terdengar kini hanya suara tangisan kerinduanya untuk melihat ke dua cucu, yang tak pernah ia temui selama ini.
"Oma jangan sedih, nanti kami ikut sedih," mereka pun ikut menangis, mendengar keduanya menangis, Ummi langsung menghapus air matanya dan melepaskan pelukanya, melihat kedua cucunya meneteskan air mata, Ummi langsung menghapus air mata di pipi kedua cucu kembarnya, kemudian ia memeluknya kembali, suasana begitu kentara, hingga mereka semua menangis haru, bercampur bahagia, tak terkecuali Abi dan Dion, bahkan Gea dan Geo ikut menangis, seolah mereka terbawa emosi, akibat ikatan batin yang terjalin diantara semua, kemudian semuanya memeluk Si kembar secara bersama, dan kembali menangis haru.
__ADS_1
*** Anji, menunggu kamu
Please like komen dan vote nya ya, thanks