
Dion tersentak ketika mendengar panggilan dari handphone nya, seketika ia menarik diri dari dekapan Tyas.
Dion meraih handphone dan melihat panggilan dari handphone nya.
Dengan tanggan yang gemetar, Dion pun langsung menjawab telpon tersebut.
"Ummi, Dion ingin pulang," ucapnya di telpon, dan seketika itu juga Dion menangis.
"Hallo Dion, kamu kenapa sih? beri salam dulu," jawab Ummi.
"Assalamualaikum Ummi," ucap Dion sedikit terisak.
"Wa'alaikum sallam, Nak, kamu kenapa Dion? ada masalah yah?" tanya Ummi khawatir.
"Ngak, Ummi Dion hanya ingin pulang, Dion kangen sama cahaya,"
"Dion kamu kayak anak kecil saja, kangen nangis, ingat Dion, sebentar lagi kamu akan jadi Ayah," tutur Ummi.
Dion sebenarnya bukan menangis karna rindu, Dion menangis karna rasa sesalnya, ia hampir kembali melakukan kesalahan lagi.
"Ummi, Cahaya ada di sana ngak? tanya Dion, perasaanya pun sudah agak tenang."
"Ada, Cahaya ada di sini, ia selalu menunggu telpon dari kamu Dion,"Ummi.
"Ummi, Dion ingin bicara pada Cahaya Ummi."Dion.
"Assalamualaikum, Dion," sapa Amira ramah, seketika senyum mengembang di wajahnya.
"Wa'alaikum sayang, eh maksudnya Wa'alaikum sallam sayang," ucap Dion gugup.
"Dion kamu kenapa kok jadi gugup gitu?" Amira.
"Ngak apa-apa " jawab Dion singkat.
"Dion kapan kamu pulang? aku kangen sekali sama kamu Dion," Amira.
"Kapan saja kamu menyuruh aku pulang sayang, aku akan pulang, karna aku pergi untuk kamu, aku juga akan pulang karna kamu," jawab Dion, suaranya lirih karna menahan air matanya.
Sementara Tyas, ia kembali mengenakan pakaianya, hati nya seperti teriris-iris mendengar percakapan mesra Dion dan istrinya.
Dion bahkan tak pernah memanggilnya dengan sebutan sayang, Dion juga tak pernah menyatakan cinta padanya.
Tyas merasa malu, karna dialah yang selalu menggoda Dion, karna cinta buta nya, Tyas bahkan tak perduli dengan akibat yang akan terjadi, ia tak peduli bagaimana nasib anak nya kelak, hamil dari lelaki lain, dan melakukan hubungan dengan pria yang lain pula.
"Harusnya aku tak seperti ini, sekeras apa pun aku mengejar Dion, Dion hanya mencintai istrinya," batin Tyas.
Setelah selesai pembicaraanya di telpon Dion pun menutup paggilanya.
__ADS_1
Dion mendekati Tyas, yang kini bersandar di dinding, ia tak takut lagi jika Tyas menggodanya kembali, karna kini ia semakin yakin, ia tak kan terpengaruh lagi.
"Tyas, kamu tidur di kamar, sementara aku tidur di sini, aku minta kamu jangan lakukan hal nekad lagi Tyas."
"Maaf Dion, aku...," Tyas gugup ia tak tahu harus berkata apalagi.
"Sudalahlah Tyas, kita bicarakan besok saja, besok aku juga akan pulang, sekarang tidur lah di kamar, biar aku yang tidur di sini."Dion
Tyas pun beranjak masuk ke kamar dan meninggalkan Dion sendiri.
Dion menatap langit-langit, rasa nya tak ada jalan lain, untuk memecahkan masalah ini, selain kembali dan meminta saran pada Ummi.
Ternyata hidup jauh dari orang tua dan istri, tidak lah mudah, apalagi Dion di karuniai, anugrah yang luar biasa, ketampananya yang ia miliki, bukan sekedar anugrah, tapi jadi masalah untuknya kini.
Menjadi idola dan di kagumi banyak wanita, itu sudah biasa, bahkan sudah sejak di bangku SMA, dan Dion bisa mengatasinya, setelah semakin dewasa, masalah malah semakin bertambah, di mana kini ia sudah punya istri, Dion harus tetap menjaga iman dan kesetiaanya, meski banyak wanita yang terobsesi denganya, diantara nya Tyas dan Alice.
Dion memejamkan mata, berharab dengan kepergianya, semua masalah bisa teratasi.
Pagi harinya, Dion sudah bersiap membereskan barang yang akan di bawanya.
Hari menunjukan pukul tujuh pagi, masih ada waktu beberapa jam lagi, sebelum keberangkatanya.
Tyas keluar dari kamar dan menghampirinya.
"Dion berapa lama kau akan pergi?" tanya Tyas.
Tyas kembali memeluk Dion.
"Dion, aku akan selalu menunggu mu, Dion, sampai kapan pun," ucapnya sambil memeluk Dion dari belakang.
Dion melepaskan pelukan Tyas." Tidak kah kau mengerti Tyas, aku tak pernah mencintai mu, aku menikahi mu, hanya saat itu aku terdesak, melihat kau dan ibu mu, aku menjadi iba, apalagi situasi saat itu, membuat ku harus memutus kan secara cepat.
"Mengertilah Tyas, aku tak bisa mencintaimu, akan ku pikirkan cara yang terbaik untuk kita berdua, aku harus pulang saat ini," tutur Dion.
"Tapi aku mencintaimu Dion, aku rela menunggu mu, aku juga rela, jika harus menjadi yang kedua, Dion bukankah pria boleh memiliki dua istri," ungkap Tyas.
"Kau benar Tyas, pria memang boleh memiliki istri lebih dari satu, tapi jika ia sanggup bersikaf adil, sedangkan aku, aku tak kan sanggup, aku tak kan sanggup mendua kan istri ku, kau juga wanita, harus nya kau lebih tahu, rasaanya di khianati, istri ku, ia rela meninggalkan keluarganya dan memilihku Tyas, dia juga kini tengah mengandung, sama sepertimu Tyas, apa kau tak berfikir, bagaimana perasaanya, jika kau menjadi dia, meninggalkan keluarga, hanya untuk menikah dengan orang yang di cintai, tapi malah mendapat pengkhianatan, istri ku hampi mati, demi mempertahankan cinta kami, ia berani menentang keluarga nya, hanya untuk membuktikan kesetiannya pada ku, Tyas, tapi aku.... "Dion menghenti kan kata-katanya.
Ia pun berlutut mengingat perjuangan ia dan Amira sampai mereka menikah, setelah menikah, Dion malah tak mampu mengaja amanah, padahal Amira begitu mempercayainya, Amira bahkan rela jauh darinya dalam keadaan hamil, semua demi cita-cita yang ingin Dion raih.
"Aku tak sanggup melanjutkan semua ini, ayo, aku antar kau pulang, sekalian aku pamit pada orang tua mu," ucap Dion terbata-bata.
Tyas kembali menangis," Lalu bagaimana dengan nasib ku Dion, jika seperti ini lebih baik aku mati saja Dion," ia kembali memeluk Dion.
"Aku tak tahu Tyas, yang jelas aku harus pulang, dan menceritakaan semua pada orang tuaku, semoga mereka memberi ku solusi," jawab Dion seraya melepaskan pelukan Tyas.
"Ayo kita pulang," ajak Dion dan Tyas pun mengikuti.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Tyas, mereka langsung di sambut kedua orang tua Tyas, mereka terlihat bahagia melihat kedatangan Tyas bersama Dion.
Setelah bersalaman Dion mengutarakan maksudnya.
"Pak, Ibu, Dion mau pamit, Dion akan pulang," tutur Dion dengan sopan.
Bapak dan Ibu Tyas, saling berpandangan,
"Apa ada keperluan mendesak Nak, hingga dengan tiba-tiba kamu pulang?" tanya Bapaknya.
"Sebenarnya salah satu alasan Dion pulang, karna ingin mencari solusi dari permasalahan Dion saat ini, Dion tak ingin gegabah dan kembali melakukan kesalahan lagi," tutur nya.
"Pak, Bu, saya ngak bisa melanjutkan pernikahan ini, makanya dari itu saya pulang, mungkin Ummi dan Abi bisa memberi solusi, selain itu, istri saya juga sudah menunggu, dia juga sedang hamil sekarang," papar Dion.
"Ia Nak, kamu beritahu saja orang tua mu, kami siap menerima keputusan yang kalian ambil, memang tak seharusnya kami menyuruh mu bertanggung jawab, atas perbuatan yang tak kau lakukan," ungkap Bapak.
Setelah perbincangan itu Dion pun pamir.
"Saya pamit Pak, Bu," Dion pun menjabat tangan keduanya dengan hormat.
"Tyas, aku pamit," ucap Dion, ia pun beranjak pergi, namun Tyas kembali memeluk Dion.
"Dion, jangan pergi," ucapnya menahan Dion, Tyas pun kembali menangis, ia seperti tak rela Dion pulang menemui istrinya.
Melihat itu, ibu Tyas menghampirinya dan menarik Tyas.
"Sudahlah Nak, jika memang jodoh, kamu pasti akan bersamanya kembali," ia pun memeluk Tyas, yang menangis terisak.
Dion menguatkan langkahnya, pergi dari sana, meski tangisan Tyas terdengar lirih mengiringi langkahnya.
Sebelum pulang, satu masalah lagi yang harus di hadapi Dion, dan kembali lagi, emosi nya kembali akan di permainkan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih sudah membaca karya ini.
please tinggalkan jejek
🌷like
🌷komen
🌷vote
Biar author tetap semangat,
Mampir juga di karya author yg lainya, dengan kisah yg lebih seru, ada audio booknya juga dengan judul:
__ADS_1
🌹Ketika takdir menyatukan aku dan mereka🌹