Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Dilema


__ADS_3

Aku mencintai mu dalam gelap.


"Tanpa melihat mu, aku sudah bisa merasakan cinta itu, tetaplah bercahaya, karna cinta mu, adalah semua alasan untuk ku tetap tegar, berada di kesendirian ini." Amira


*Aku tak mampu menyakitimu, aku tak sanggup menduakan mu,


Ku tak mungkin mencintaimu, karena hati ku tlah di miliki dia, kau tak mungkin mememiliki ku sepenuh hati, aku hanya ingin setia.


Aku hargai ketulusanmu, untuk cinta mu, tapi ku pilih dia,


***Aku hanya ingin setia.


Dion kembali meneteskan air mata, rasa sesal kembali menghampirinya, tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur, hanya ada sebuah kata untuknya, sudah Terlanjur.


Dion tak bisa tidur lagi, ia terus terbayang wajah Amira, Dion sadar banyak wanita yang terpikat, karna ketampananya, dan ia sudah terbiasa dengan semua itu, semua wanita mencintainya, hanya karna fisiknya yang sempurna, tapi Amira, ia tak pernah melihat Dion, tapi ia mencintai Dion, sebuah ketulusan cinta seorang wanita, karna cinta sejati, lahir dari hati, itu lah yang membedakan Amira dengan gadis lainya.


Azan subuh berkumandang, Dion membangunkan Tyas.


"Tyas, bangun Tyas, sholat subuh dulu Tyas. " Dion mengoyangkan tubuh Tyas.


Tyas tersadar dan ketika ia membuka mata nya, seseorang yang ia cintai, kini ada di hadapanya, seperti mimpi yang menjadi kenyataan.


Sosok imam, kini ada di hadapan, Dion semakin tanpan dengan baju koko, sarung dan pecinya.


Tyas pun bangkit dengan perasaan paling bahagia.


"Dion kamu mau kemana?" tanya Tyas.


"Kamu ngak lihat apa Tyas, ya mau ke masjid lah."


"Tapi Dion, aku mau sholat bersama kamu," pinta Tyas dengan manja, ia pun bangkit dan ingin memeluk Dion, tapi Dion menghindar.


"Jangan Tyas, aku sudah wudhu, Ya sudah lah aku tunggu," kata Dion ia pun merentangkan sajadahnya.


Selesai shalat subuh, Tyas langsung keluar kamar, ia harus bersiap, karna sebentar lagi banyak tamu yang akan hadir, karna nanti siang, resepsi pernikahan mereka.


Tyas kedapur membuat teh hangat, segelas susu coklat, dan secangkir kopi, semua ia bawa masuk kedalam kamarnya, semua itu untuk sang suami tercinta, karna Tyas tak tahu minuman favorite Dion.

__ADS_1


Setelah selesai zikir, Dion pun melipat sajadahnya, dan menaruhnya ketempat semula.


"Dion aku bawa minuman untuk mu?" kau suka yang mana?" tanya Tyas, ia pun tersenyum dengan ramah.


" Kau bawa semua ini untuk ku Tyas?" tanya Dion heran.


"Ia, aku tak tahu, kau suka yang mana, jadi aku buat kan semua untuk mu," ujar Tyas.


"Aku suka semuanya, tapi rasanya untuk meminum semua ini, aku ngak sanggup," ujar Dion.


"Kalau begitu kau pilih yang paling kau sukai, sisanya biar aku yang meminumnya,"Tyas memberi pilihan.


"Aku pilih kopi saja, wanita hamil tidak baik mengkomsumsi caffein, kau minum susu saja Tyas."


"Kau perhatian sekali Dion, hingga kau tahu wanita hamil tak boleh mengkomsumsi caffein," ujar Tyas terharu.


"Aku tahu, karna sekarang istriku juga sedang hamil Tyas, dia sendiri di sana, tengah mengandung buah cinta kami," tutur Dion lirih, matanya pun memerah dan perlahan mulai berkaca-kaca.


"Maaf Dion, karna aku telah membawamu dalam situasi sulit ini, tapi aku memang mencintaimu Dion, aku bahkan rela bila harus jadi yang kedua, "Tyas merebahkan kepalanya di lengan Dion.


"Percalah Dion dengan ketulusan ku, aku akan terima kau apa adanya," ia pun meraih tangan Dion dan menciumnya dengan segenap perasaanya, tangan Dion pun basah karna tetesan air mata Tyas.


Aku hargai ketulusan mu, rasa cinta mu tapi kupilih dia.


**Ku tak mungkin mencintai mu, karna hati ku tlah dimiliki dia, kau tak mungkin memiliki ku, sepenuh hati, aku hanya ingim setia.


"Tapi maaf Tyas, aku tak bisa mencintai mu, Apalagi harus mengkhianati istriku, setelah resepsi, aku akan tinggal di kos-kosan ku kembali Tyas, aku akan berusaha bekerja untuk menafkahi mu, meski sambil kuliah, tapi aku tak bisa tinggal di sini," tutur Dion.


Tyas menangis, "Tapi Dion, berikanlah aku kesempatan untuk menjadi istri yang baik untuk mu, aku mohon Dion, kali ini jangan kecewakan aku lagi Dion."


Tyas menangis tersedu-sedu, ia semakin erat menggenggam tangan Dion, seolah tak ingin Dion pergi.


"Aku sudah menggantungkan semua harapan ku pada mu Dion, jangan tinggalkan aku Dion," kata-kata Tyas lirih, tangisannya meyayat hati Dion.


Dion yang terharu mendengar kata-kata Tyas, tanpa sadar, Dion menarik tubuh Tyas, dan merangkulnya dalam dekapanya.


Ia pun kini tak tega meninggalkan Tyas.

__ADS_1


***Tak tahu di manakah awalnya, rasa ini tumbuh dengan tulus, dan apakah semua ini akan berakhir, semuanya di luar kuasa ku.


Dion tak mampu lagi menahan air matanya, keadaan ini semakin membinggungkan.


Setelah sholat subuh, Ummi langsung menelpon Dion, Amira sangat antusias sekali, hampir semalaman ia menunggu kabar dari Dion, hingga ia pun tak bisa terlelap, semalaman Amira berjaga, menahan keresahan dan ke gunadahan hati yang tengah hebat melandanya.


Telpon tersambung dan berdering di hp Dion, Dion melepaskan pelukaknya terhadap Tyas.


Kini hati Dion yang terasa tersayat, pangilan itu dari Ummi nya, Dion beranjak agak menjauhi Tyas.


"Assalamualaikum, Ummi," ucap Dion.


"Wa'alakum salam Dion," balas Amira.


Dan seketika air mata tumpah pada keduanya, Amira yang begitu merindukan Dion, seolah mendapat oasis di padang pasir yang tandus, Amira terlalu dahaga, ingin sekali ia mendekap Dion, melepaskan hasrat dan kerinduanya pada Dion, hingga saat ini, ia tak mampu berkata-kata, kini yang terdengar di telinga Dion, hanya suara tangisan lirih Amira.


Hal yang sama terhadi pada Dion, air mata tumpah begitu saja mendengar belahan jiwanya menangis, menahan kerinduan terhadap dirinya, sejenak tanpa kata, keduanya larut dalam emosi, haru sekaligus bahagia.


"Aku rindu kamu Dion, sangat rindu," tutur Amira dengan terbata-bata karna lelah menahan tangisanya, dan hanya itu yang mampu ia ungkapkan, karna hanya itu yang ia rasakan.


"Aku juga rindu sama kamu cahaya, sangat rindu." suara Dion, tak kalah lirih, ia seperti tertatih tatih menahan perasaanya, antara rindu dan rasa bersalah yang kini menghantuinya.


Tyas pun tak kalah haru, ia juga ikut sedih dan berusaha menahan air matanya, selain haru mendengar nyanyian kerinduan dua insan itu, Tyas juga haru karna kini, ia menjadi yang ke dua diantara mereka.


Bagi Amira mendengar suara Dion, cukuplah menjadi obat pelipur laranya.


"Dion kamu kemana saja, kenapa kamu tak menghubungi Aku Dion, semalaman aku berjaga, hati aku tak tenang Dion, hanya menunggu kabar dari kamu Dion." ucap Amira.


"Maaf Sayang, aku sibuk, aku lupa menelpon kamu?" jawab Dion, sambil menahan rasa sesak di dadanya, inilah pertama kalinya Dion berbohong pada Amira.


"Jangan lakukan itu lagi ya Dion, kamu tahu sendiri Dion, aku tak bisa hidup tanpa kamu Dion, aku bisa mati jika aku kehilangan kamu Dion." Amira semakin lirih.


Kata-kata Amira seperti sengatan listrik tegangan tinggi bagi Dion, Dion kini menangis tanpa suara, menahan sesak yang semakin menyiksanya.


"Ia Sayang, aku juga tak bisa hidup tanpa kamu," ucap Dion, kali ini ia menjauhkan telpon dari wajahnya, agar tak terdengar suara tangisan penyesalanya.


Sementara Tyas juga terharu dengan semua yang di lihatnya, tapi apa daya, ia juga mencintai Dion, dan ingin memilikinya.

__ADS_1


Amira yang begitu mempercayainya, Amira yang tanpa melihat Dion, ia tulus


__ADS_2