
Pagi hari ini Amanda sudah bersiap untuk pergi bersama Arkan, mereka berencana akan pergi ke Mall, untuk berbelanja, sekaligus cuci mata.
Arkan sebenarnya berencana menghabiskan bulan madu nya keliling Eropa, namun karna kondisi Amanda, ia pun mengurungkan niat nya.
Mereka melihat-lihat pakaian di sebuah butik ternama, Arkan berniat membelikan Amanda dan ibunya baju baru yang akan di gunakan untuk acara makan malam keluarga besarnya.
Tak hanya itu, mereka juga membeli beberapa peralatan rumah tangga, Amanda terus mengandeng mersa suami nya, setiap langkahnya selalu terukir dengan senyum bahagia.
Setelah puas belanja, mereka pun makan di restoran ternama.
"Bu, ibu pesan makanan apa saja yang ibu mau, pesan yang banyak, ibu sehat, " Arkan.
"Kamu juga sayang, pesan makanan yang banyak, biar kamu sehat dan ngak lemas lagi," katanya pada Amanda, ia pun menggenggam tangan Amanda.
Setelah beberapa saat memesan makanan, makanan pun tersaji.
Mereka memesan seafood, ayam goreng dan sebagainya, meja tersebut hampir penuh.
Amanda heran melihat Arkan yang memesan makanan sebanyak itu.
"Mas, kita cuma bertiga, kamu pesannya banyak banget." Amanda heran.
"Ngak apa, aku ingin membahagiakan kalian berdua, Ayo Bu makan, Arkan pesan ini semua ini untuk ibu, loh," Arkan.
Mendengar kata-kata Arkan, Bu Nita terharu sekaligus sedih.
Bagaimana aku bisa aku makan, se-enak dan sebanyak ini, sementara aku tak tahu apa anak ku Nino dan istrinya sudah makan, batinya.
Melihat Bu Nita yang melamun, Arkan pun menegurnya.
"Bu, ibu ngak makan?" tanya Arkan.
"Apa ibu ngak suka makanannya, kalau ibu ngak suka, ibu boleh pesan lagi yang lainya," ucapnya dengan sopan.
Bu Nita menatap Arkan dengan berkaca-kaca.
"Bukan begitu Nak, ibu hanya terpikir Nino dan istrinya, ibu tak meninggalkan mereka uang, sedangkan Nino dan Mirna juga tak bekerja, mereka mau makan apa, ibu makan enak di sini, tapi ibu tak tahu nasib Nino di sana," tuturnya sedih.
"Oh ibu jangan khawatir, nanti kita bungkus, kita hantar ke tempat mereka, ibu juga ngak perlu pusing mikirin mereka, Arkan punya rencana untuk membuka usaha baru dan mempercayakan Nino untuk menjaganya, biar mereka mandiri bu, kalau kita terus memberinya uang, mereka akan berketergantungan dengan kita, jadi Arkan akan beri mereka modal untuk buka usaha, setelah lancar, mereka boleh mengembalikan modalnya dengan cara mencicil," papar Arkan.
Bu Nita semakin terharu mendengar kata-kata Arkan, ia pun jadi bersemangat untuk makan.
Amanda juga ikut terharu, dalam hatinya ia bersyukur, karna Tuhan telah menganugrahkan nya jodoh yang luar biasa, bahkan meski Nino dan Mirna pernah berbuat jahat padanya, tak sedikit pun ia menaruh dendam.
***
Amira dan Dion baru sampai di kantor, karna Arkan masih cuti, maka Dion yang menemani Amira.
Ia juga yang mendampingi Amira dalam beberapa pertemuan dengan klien.
Dengan sabar Dion menunggu Amira hingga jam kerja berakhir, Dion yang sudah bekerja lembur semalaman, ia pun tertidur pulas di sofa yang ada di ruangan Amira, dan terbangun ketika suara kumandan azan di salah satu aplikasi ponselnya.
"Bu, sholat yuk," ajak Dion.
"Ibu di sini saja Yah, di dalam ada ruangan khusus ibu sholat," Amira.
"Kalau gitu Ayah ke masjid setelah selesai sholat, Ayah beli makan siang untuk kita, ingat bu, jangan kemana-mana sebelum Ayah kembali," Dion.
"Iya Ayaaah, bawel," sahut Amira bercanda, sambil melirik ke arah Dion.
Dion yang tadinya menjauh kembali mendekatinya.
"Ibu bilang apa bu?" tanya Dion yang kini berada di samping Amira.
"Ngak bilang apa-apa," sangkalnya.
"Ehm, tadi Ibu bilang Ayah bawelkan?" tanya Dion lagi, Ayah gigit nanti bibirnya
"Ngak Yah, ngak sengaja, " Amira mengelak, karna Dion ingin menggigit dagunya.
Di saat mereka sedang bersenda gurau, tiba-tiba mereka kedatangan tamu.
Dion pun melepaskan pelukanya.
"Dokter Dyah," sebut mereka berdua serempak, ketika melihat seorang tamu wanita cantik.
"Assalammua'alaikum," Dyah.
"Wa'alaikum salam," ke duanya menjawab.
Amira dan Dion pun mendekati Dyah, dan saat berbadapan, Dyah langsung memeluk Amira.
"Dyah, kamu kemana saja ?" tanya Amira sambil memeluk Dyah.
__ADS_1
"Maaf Mbak, Dyah memutuskan pertunangan dengan Mas Arkan secara sepihak, hingga pernikahan kami pun berantakan," tuturnya dengan terisak.
Amira melepaskan pelukannya, dan menuntun Dyah untuk duduk di Sofa.
Karna melihat keduanya akan membicarakan hal yang seriuas, Dion pun memutuskan untuk meninggalkan mereka.
"Bu, Ayah keluar dulu," Dion.
"Iya Yah, jangan lama-lama," balasnya.
Dion pun keluar dari ruangan Amira.
"Kamu kenapa pergi begitu saja, Arkan mencari kamu sampai ke Jakarta selama dua hari dua malam, harus nya kamu ngak buru-buru mengambil keputusan," papar Amira.
"Dyah kecewa sama Mas Arkan, tapi belakangan Dyah baru tahu jika semua itu fitnah," paparnya.
"Dyah, Mbak tahu kamu marah dan keceawa, Mbak juga pernah mengalami nya, tapi kali ini Arkan memang tidak melakukan perbuatan yang sudah di tuduhkan terhadapnya, harus nya kamu ngak terburu-buru memutuskan sesuatu yang belum jelas, nanti kamu menyesal."
"Iya Mbak, Dyah ngaku salah, sekarang di mana Mas Arkan, Mbak, Dyah ingin bicara langsung dengannya, semoga rencana pernikahan kami bisa di selamatkan," tuturnya dengan terisak.
Amira binggung, melihat Dyah yang begitu sedih, Amira menjadi tak tega untuk mengatakan bahwa Arkan telah menikah.
"Ya nanti saja kamu bicara empat mata bersama Arkan, Mbak ngak bisa bantu, kalian selesaikan sendiri masalah kalian." Amira.
"Iya Mbak Dyah ngerti, Dyah juga akan minta maaf kepada keluarga Mas Arkan, termasuk kedua orang tuanya, semoga saja Mas Arkan masih mau menerima Dyah kembali, karna Dyah sangat mencintai Mas Arkan," Dyah pun menghapus air matanya.
Amira kaget dengan penuturan Dyah, ia semakin binggung bagaimana harus mengatakan pada Dyah jika Arkan sudah menikah dengan Amanda.
Setelah puas mencurahkan isi hatinya, Dyah pun bermaksud Pamit.
"Kalau begitu Dyah pulang dulu Mbak, Dyah akan hubungi Mas Arkan lewat telpon saja." Dyah.
"Iya Dyah, maaf Mbak ngak bisa bantu apa pun,"
"Ngak apa Mbak, dengan mencurahkan perasaan Dyah, Dyah juga sudah merasa lega," Dyah.
Dion masuk ke ruangan Amira, dan di lihatnya Dyah sudah tak berada di sana.
"Bu kemana dokter Dyah?" tanya Dion.
"Sudah pulang Yah," jawabnya lesu.
"Ya padahal Ayah sudah beli tiga porsi makanan untuk kita."
"Ya sudah ngak usah di pikirin, kawinin saja dua-duanya beres," canda Dion.
"Ihs, gampang banget ngomong nya." Amira menjewer kuping Dion.
"Kita makan dulu Bu, ngak usah di pikirin setiap masalah pasti ada jalan menyelesaikanya." Dion.
Mereka pun menikmati santapan makan siang.
***
Malam harinya, Amanda sudah bersiap untuk menghadiri acara makan malam di rumah Oma.
Amanda menutupi wajahnya yang pucat dengan make-up, meski begitu tetap saja wajah nya terlihat lelah.
Meski merasa lelah, namun Amanda paksa kan, karna ini pertama kalinya ia berkumpul dengan keluarga Arkan.
Mereka pun tiba di rumah mewah milik keluarga Arkan dan Amira, selain kedua orang tua Arkan, Amira Dion dan anak-anaknya, di sana juga ada Raihan.
Raihan langsung menyambut kedatangan Arkan dengan memeluk nya, tak hanya datang sendiri, Raihan juga membawa Alice bersamanya.
"Hei pengantin baru, wajahmu seger banget," kata Raihan pada Arkan.
"Iya dong, nama juga penganten baru, kamu sendiri kapan nikah?" tanya Arkan.
"Bulan depan, ini sekalian mau mengundang kalian semua, " Raihan.
Raihan heran melihat wanita yang di gandeng Arkan, ternyata bukan dokter Dyah.
Sementara Alice ngobrol bersama Dion dan Amira.
Acara makan malam bersama pun di mulai, mereka semua terlihat senang dan bahagia, apalagi Amira dan Dion, ini pertama kalinya, Amira membawa suaminya ke rumah ini, dan makan malam bersama keluarganya.
Gea dan Geo terlihat senang karna mereka bertemu dengan kakek dan Nenek nya yang berada di Jerman.
"Arkan, Amanda, Mama ingin segera punya cucu dari kalian, Mama sudah ngak sabar untuk menggendong cucu, bahkan Amira saja sudah hamil lagi," papar Ratna.
Sontak kata-kata tersebut mengagetkan kan Amanda.
Karna kaget Amanda pun tersedak dan lari menuju kamar mandi, di sana ia tak hanya tersedak, tapi kali ini ia muntah dan mengeluarkan darah, tak hanya itu Amanda juga merasa ada yang mengalir melalui hidungnya.
__ADS_1
Ia pun mencuci darah tersebut dengan air, namun seketika tubuhnya menggigil karna merasa dingin.
Arkan curiga karena setelah beberapa saat lamanya, Amanda juga tak kembali, mereka semua pun telah selesai menikmati santapan makan malam.
Arkan menyusul Amanda kekamar mandi
Arkan kaget, ketika melihat Amanda meringkuk kedinginan, "Amanda kamu kenapa ?''ia pun langsung menarik tangan Amanda, agar dia bisa berdiri.
Amanda berdiri dengan tubuh yang lemah, ia pun langsung memeluk Arkan.
Amanda menggigil, Arkan pun membawanya keluar dari kamar mandi, Arkan menuntun Amanda menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamar,Amanda merebahkan tubuhnya di atas kasur, kemudian Arkan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.
"Amanda kamu kenapa ?" tanya Arkan kaget.
Amanda tak menjawab, ia terus saja mengigil, seperti orang kedinginan, karna panik Arkan pun memanggil Dion.
Arkan menghampiri Dion yang sedang berbincang dengan kedua orang tuanya.
"Dion, bisa bantu periksa Amanda sebentar," pinta Arkan pada Dion.
Mendengar itu Ratna pun angkat bicara, "Memangnya istri kamu kenapa Arkan?" tanya nya curiga.
"Amanda mengigil Ma," sahutnya.
Dion dan Amira pun langsung menuju kamar Amanda, setelah meraba tubuh Amanda, Dion keluar dan mengambil, steteskop yang ada di mobilnya.
Dion memeriksa beberapa bagian tubuh Amanda.
Dan terlihat ada bintik merah di bawah kulitnya, pertanda Amanda mengalami pendarah kembali.
Dion menarik nafas panjang, namun ia juga tak berani menarik kesimpulan.
"Bagaimana Dion?" tanya Arkan khawatir.
"Jika besok keadaanya belum membaik, bawa saja ke rumah sakit, di sana akan di lakukan pengambilan sample darah dan pengujian laboratorium."
"Untuk saat ini biarkan saja dia beristirahat, mungkin karna dia terlalu lelah." Dion
Mereka pun meninggalkan Amanda di dalam kamarnya sendiri.
"Arkan, mama ingin bicara sama kamu," bu Ratna.
"Ada apa Ma?" tanya Arkan.
"Arkan, apa sebelum menikah, kalian sudah melakukan hubungan suami istri?" bu Ratna.
"Ngak Ma, emang kenapa?" tanya Arkan heran.
"Mama curiga, istri kamu sudah hamil sebelum kalian menikah,"
"Ma, jangan berfikiran negatif terhadap Amanda, dia gadis suci Ma," sanggah Arkan.
"Lalu kenapa istri kamu seperti orang ngidam, dari pertama mama lihat, mama sudah curiga, tapi mama pikir kamu yang menghamilinya," Ratna.
"Amanda ngak hamil Ma," jawab Arkan.
"Lalu, kenapa dia bisa seperti itu?" Ratna.
Arkan berat untuk berterus terang, tapi jika tidak berterus terang pada ibunya, ibunya akan berfikir macam-macam terhadap Amanda, setelah beberapa saat bungkam, Arkan pun menjelaskan.
"Amanda menderita leukimia Ma," ujarnya sambil menarik nafas panjang.
Mata Ratna seketika terbelalak karna kaget "Apa Arkan, leukimia?" tanya Ratna.
Arkan hanya mengangguk.
"Kenapa kamu ngak bilang sama mama dari awal Arkan, jika kamu bilang dari awal, mama ngak akan merestui pernikahan kalian."
"Tapi kenapa Ma?" tanya Arkan.
"Arkan, Amanda ngak akan bisa memberi mama keturunan, jadi mau tidak mau kamu harus menikah lagi," ucapnya dengan tegas.
"Tapi Ma..., " kata-kata Arkan terhenti, karna melihat Mamanya pergi dengan wajah yang kesal.
Sementara Arkan binggung, harus bagaimana, ia sudah berjanji untuk membahagiakan Amanda, sedangkan mamanya meminta Arkan untuk menikah lagi.
jangan lupa
like dan komenya,
hadiah juga boleh.
__ADS_1
i love you all .