
Arkan membawa Amanda kerumah sakit, setelah melakukan chek up, dokter menyarankan nya untuk melakukan kemoterapi kembali.
Amanda sadar dari pingsan nya, dan melihat dirinya kini terbaring di rumah sakit.
"Manda kamu sudah sadar Nak?" tanya Bu Nita pada Amanda.
"Kenapa Manda ada di sini Ma?" tanyanya binggung.
"Kamu ngak sadarkan diri, selama bebera jam."
"Oh, Mas Arkan mana Ma?"
Arkan lagi menemui dokter.
"Nah tuh dia, " Bu Nita melihat Arkan memasuki ruang perawatan.
Arkan masuk keruangan perawatan Amanda, ia pun langsung menghampiri Amanda.
"Kamu sudah sadar sayang?" tanya Arkan, sambil mengusap rambut Amanda.
"Sudah Mas, Amanda sudah baikan, Amanda ingin pulang sekarang," katanya sambil menatap wajah Arkan.
"Sayang, Mas Arkan sudah bicara sama dokter, dan katanya kamu bisa menjalani kemoterapi untuk melawan sel kanker yang ada di tubuhmu,"
Mendengar hal itu Amanda menggelengkan kepalanya.
"Aku ngak mau Mas, Amanda mau pulang kerumah saja, Manda mau menghabiskan sisa waktu Amanda hanya bersama kamu." sahutnya.
"Iya sayang, kita akan habis kan waktu bersama, tapi setelah kamu menjalani kemoterapi, percayalah Amanda, Mas Arkan ingin kamu kembali sehat seperti sedia kala," tambahnya lagi.
"Ngak Mas, efek dari kemoterapi itu akan membuat kulit Manda kering, dan rambut Manda akan rontok, Manda ngak mau Mas, Manda ngak mau terlihat jelek Mas," jawabnya yakin.
"Amanda, Mas tetap akan menyayangi kamu meski seperti apa pun kamu nantinya," jawabnya sambil mengelus rambut istrinya.
"Manda tetap ngak mau Mas, Manda ingin pulang." Manda pun menangis.
"Manda, yang di bilang suami kamu itu benar Nak, semua ini demi kesehatan kamu," tambah ibunya lagi.
"Ngak Ma, Manda tak ingin menyia-nyiakan waktu Manda yang tinggal sedikit ini, untuk terbaring di rumah sakit. Amanda ingin pulang."
Meski sudah beberapa kali di bujuk oleh suami, dan Mamanya, tapi Amanda tetap kukuh ingin pulang.
Saat Arkan sibuk mengurusi kepulangan Amanda dari rumah sakit, ia mendapat telpon dari Dyah.
"Assalamualaikum Mas Arkan" Dyah.
"Wa'alakuim salam," jawab Arkan.
"Mas Arkan mau jemput Dyah jam berapa sih? tanya Dyah.
"Dyah sudah lama menunggu di rumah nih, sekalian ada Om dan tante Dyah yang mau melihat Mas Arkan, "tutur Dyah tanpa jedah.
Arkan hanya bisa menelan saliva yang terasa pahit di tenggorokan nya.
"Iya Dyah, setelah urusan Mas Arkan selesai, Mas Arkan akan kerumah kamu."
Arkan pun menutup telponnya dan kembali mengurusi administrasi rumah sakit.
Arkan membawa Amanda pulang, ia pun menggandeng tangan Amanda sambil berjalan menuju parkiran mobil.
__ADS_1
Di dalam mobil, Amanda terus menempelkan tubuhnya ke Arkan, seolah ia tak ingin jauh dari suaminya.
Arkan sangat sedih melihat tubuh Amanda yang semakin kurus, ia terlihat begitu menderita, perlahan air mata Arkan menetes melihat Amanda yang begitu terluka.
Setelah mengantar istrinya pulang, Arkan pun memastikan Amanda dalam keadaan terlelap, baru ia berinisiatif untuk menemui Dyah.
***.
Arkan menemui Dyah di salon, ia bermaksud untuk memberitahu kenyataan yang sebenar nya.
Dyah sudah selesai dengan perwatan spa nya, ia pun keluar dari kamar spa, dan melihat Arkan sepertinya telah lama menunggu, karna di lihatnya Arkan terlihat begitu gusar.
Setelah memakai pakaian lengkap, Dyah langsung menemui Arkan.
"Mas, kok lama banget sih datangnya, padahal tadinya Dyah mau Spa sama Mas Arkan."
"Dyah, Mas ngak punya waktu, Mas ingin bicara sesuatu sama kamu," ucapnya sambil menatap kearah Dyah.
Arkan sangat berat mengatakan semua kepada Dyah, apalagi di lihatnya Dyah begitu bahagia.
"Mas Arkan mau bicarakan pernikahan kita ya?" tanyanya dengan senyum yang mengembang.
"Iya," jawab Arkan datar.
Mereka pun beranjak dari tempat itu, Dyah menggandeng mesra tanggan Arkan.
"Enaknya kita ngomong di mana ya Dyah?"
"Kenapa sih Mas, kayaknya berat banget Mas Arkan ngomongnya ?" tanya Dyah curiga.
Ia pun menghentikan langkah kakinya dan menatap Arkan sejenak.
Sementara wajah Dyah cembarut, ia curiga ada sesuatu yang di sembunyikan Arkan.
Arkan membuka pintu mobil untuk Dyah.
Kemudian ia masuk kedalam mobil.
Dengan wajah yang cemberut, Dyah menatap tajam kearah Arkan, Arkan semakin berat mengatakan hal yang sebenarnya pada Dyah.
Tapi ia harus mengatakan semuanya sebelum semuanya terlambat, dan akan banyak hati yang akan tersakiti.
"Ada apa Mas?" tanya Dyah ketus, ia merasa suasana tak nyaman karna melihat wajah Arkan.
"Dyah, Mas berencana untuk memundurkan pernikahan kita," tuturnya lirih.
"Apa , tapi kenapa Mas?" tanya Dyah emosi, terlihat diagfragmanya turun naik.
Arkan meraih tanggan Dyah," Dyah, dengar Mas Arkan baik-baik ya, jangan emosi lebih dahulu, dengarkan penjelasan Mas Arkan sampai selesai."
Dyah semakin mengkerutkan wajahnya, nafasnya mendengus dengan kasar.
"Dyah, Mas Arkan bermaksud untuk menunda pernikahan kita karna...,"
"Karna apa Mas, " sahut Dyah.
Arkan menelan salivanya, ia semakin berat ketika melihat Dyah dalam keadaan emosi.
"Karna Mas Arkan sudah menikah Dyah," tuturnya dengan pelan.
__ADS_1
Arkan pun langsung melihat reaksi Dyah.
Air mata Dyah langsung menetes, "Apa, Mas sudah menikah!!" teriaknya.
Dyah memburu nafas nya, emosinya semakin tinggi, antara kesal, kecewa dan kaget.
"Dyah tenang Dyah, mas Arkan belum selesai bicaranya Dyah."
"Apa lagi Mas, ternyata Mas sama saja dengan lelaki lainya, bajingan," ucap Dyah dengan penuh emosi, seketika itu Dyah pun menangis.
"Mas Arkan tega sekali, kenapa mempermainkan Dyah seperti ini Mas, bagaimana Dyah bisa memberitahu keluarga Dyah jika untuk kedua kalinya pernikahan Dyah batal, apa kata mereka tentang Dyah Mas," tuturnya tanpa jeda, dan ia pun menangis hingga tersedu-sedu.
Dyah begitu kecewa, putus asa, ia juga merasa malu, karna sudah dua kali pernikahannya di batalkan, dan tak hanya dirinya, tapi juga ibunya, Dyah akan di gunjingkan di sekitar tempat tinggalnya.
Arkan semakin binggung ketika melihat Dyah seperti itu.
Dyah menangis tersedu-sedu di hadapan Arkan.
"Bagaimana Dyah bisa menghadapi orang-orang Mas, bagaimana Dyah bisa kembali mengecewakan keluarga Dyah yang sudah mempersiapkan acara akad nikahnya, Apa yang harus Dyah katakan pada mereka Mas," ucapnya masih dengan tangisan yang menyayat hati.
"Jika memang Mas ngak suka sama Dyah, Mas tak perlu mempermainkan Dyah seperti ini, hati Dyah sakit Mas, sakit," tuturnya sabil menangis.
"Dyah, Dyah, dengar Mas Arkan dulu, pernikahan kita tidak batal Dyah, hanya di undur untuk sementara waktu."
"Di undur, Dyah ngak mau menikah dengan lelaki seperti kamu Mas, Mas Arkan bilang jika Mas Arkan hanya mencintai Dyah, tapi baru beberapa lama Dyah pergi, kamu sudah menikahi perempuan lain," ucapnya semakin emosi.
Dyah dengar dulu penjelasan Mas, Mas menikahi Amanda. karna dia menderita leukimia Dyah, Mas Arkan ngak tega melihat ia yang sudah kehilangan harapan untuk sembuh, sedangkan ia menulis di buku harianya jika ia ingin menikah dan mempunyai keluarga."
"Dyah, Amanda sudah lama sekali memendam cintanya pada Dion, dan meski mengetahui jika Dion sudah punya istri tapi cintanya tak berubah sekalipun, bahkan ia ingin punya rumah tangga bersama Dion."
"Mas Arkan dan Amira membaca buku harianya, Amira bergitu terpukul, ia tak ingin Dion sampai menikahi Amanda, tapi ia juga tak tega melihat Amanda yang sudah kehilangan harapanya untuk menikah."
"
Mas Arkan pun memutuskan untuk menikahinya, selain Mas Arkan ingin memenuhi ke ingin terakhir Amanda, Mas Arkan juga ingin membuat Amira menjadi tenang dan tak terbebani, selain itu pernikahan kita juga kamu yang membatalkan secara sepihak Dyah, kamu yang pergi meninggalkan Mas Arkan, Mas Arkan sudah menghubungi kamu dan mencari kamu selama berhari-hari, tapi tak juga menemui kamu."
"Dyah jika kamu memang cinta sama Mas Arkan, kamu harus sabar menunggu sampai Mas Arkan menunaikan tugas Mas Arkan sebagai seorang suami.".
"Pernikahan kita tidak batal Dyah, hanya di undur, percayalah Dyah jika memang kita berjodoh kita akan bersama kembali, Mas Arkan cinta sama kamu Dyah, Mas Arkan harap kamu mengerti, saat ini Amanda sedang menderita leukimia stadium akhir, dan ia membutuhkan perhatian khusus dari Mas Arkan." papar Arkan menjekaskan.
Dyah masih menangis, ia masih belum bisa menerima kenyataan.
"Mas Arkan ingin Dyah mengerti, tapi bagaimana dengan nasib keluarga Dyah Mas, jika kali ini pernikahan kita kembali batal, maka Mas Arkan yang akan melihat mayat Dyah, karna Dyah tak sanggup menanggung malu," ucapnya tegas, ia pun keluar dari mobil Arkan dan berlari menuju mobilnya.
Dyah pun masuk kedalam mobilnya dan menguncinya dengan kasar, Dyah tak memperdulikan Arkan yang memangilnya dan menepak kaca mobilnya.
Dyah berlalu dan begitu saja meninggalkan Arkan, sementara Arkan, ia semakin binggung, ia mengusap wajahnya dengan kasar, dan melayangkan pukulanya ke arah pohon.
"Arrtkkkkk!!!!" Arkan berteriak meluapkan emosinya, sepertinya masalah semakin rumit baginya, apakagi Dyah sudah mengancamnya seperti itu.
Arkan terpuruk sendiri, tanpa sadar air matanya menetes, ia tak pernah menyangka pilihan hidup akan sesulit ini.
Ya, Arkan harus bagaimana yah, authornya aja binggung nih, kemarin kalian sarankan untuk memberi pengertian ke Dyah, ngak nyangka reaksi Dyah seperti itu, author tunggu ya saran dan kritiknya di kolom komentar, tapi kritiknya ngak usah terlalu pedas ya, level 10 boleh lah.
Di tunggu
like,
komen
__ADS_1
vote dan hadiah juga boleh, lop u reader.