Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Rumah sakit


__ADS_3

Dion berada di sisi Amira yang tidur di airbed nya, dengan lembut dan penuh kasih sayang ia membelai rambut Amira hingga ia terlelap.


Dion tetap berada di sisi istrinya sambil sesekali memperhatikan keadaan Amanda, ia berusaha agar tetap terjaga semalaman.


Hari sudah sangat larut, waktu hampir menunjukan tengah malam, ia pun mendekati Amanda sambil meraba keningnya yang terasa panas dan mengeluarkan keringat dingin.


Dion kembali di kejutkan dengan wajah Amanda yang terlihat pucat, Amanda pun menggigil seperti orang yang sedang meriang.


Dion mengambil selimut tebal dan menutupi tubuh Amanda, tapi Amanda masih mengigil.


"Amanda, sadar Amanda" Dion menggoyangkan-goyangkan tubuh Amanda.


Amanda masih menggigil, ia pun membangunkan Amira.


"Bu, bangun Bu," dengan sedikit mengguncang tubuh Amira.


Amira terjaga dengan mata yang menejab-nejab, ia pun bangkit.


"Maaf Bu, karna membangunkan ibu, ibu tidur bersama anak-anak ya, Ayah akan membawa Amanda ke rumah sakit," tuturnya.


Amira pun bangkit ketika mendengar suara orang yang menggigil.


"Amanda kenapa Yah?" tanya Amira khawatir.


"Ayah akan bawa Amanda kerumah sakit, ibu tidur bersama anak-anak ya," ia pun mengecup kening istrinya dan mengelus rambut Amira.


"Ia yah, yang terpenting selamatkan Amanda," ujar nya.


Dion mengambil jaket tebal dan kaos kaki miliknya dan memakaikanya ke Amanda, namun Amanda masih menggigil.


Ia pun menuju pintu keluar dan membuka pintu mobil, setelah itu ia masuk kembali dan menggangkat tubuh Amanda.


"Bu, ayah pergi ya, ibu jaga diri baik-baikya, jika ada apa-apa telpon Ayah ya bu, ujar nya sambil mengecup bibir istrinya," ia pun menggangkat tubuh Amanda.


"Tutup pintunya Bu," masih sempat ia mengingatkan Amira.


"Iya Yah, hati-hati ya, kabari ibu ya Yah" Amira pun langsung menutup pintu tak kala Dion keluar dari rumah itu.


Dion menghawatirkan Amanda, tapi ia juga menghawatirkan istrinya, berat bagi Dion meninggalkan istrinya, apalagi Amira sering merasa pusing, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya, karna setelah di cek tekanan darah Amira cukup tinggi.


Tapi keadaan Amanda lebih darurat.


Setelah di dalam mobil


"Manda kamu masih sadarkan?" tanya Dion sambil menggenggam erat tanggan Amanda.


"Iya Dion aku merasa dingin," ucapnya lemah.

__ADS_1


"Kalau begitu mendekat lah." Dion menarik tubuh Amanda dan merebahkan kepala Amanda di bahu nya, ia pun memeluk Amanda dan menggenggam tangganya, agar Amanda merasa sedikit hangat dan tak kehilangan kesadaranya.


Amanda melingkarkanya tangganya di bagian perut Dion, ia pun memeluk Dion, meski merasa hangat, tapi tetap saja ia menggigil.


Keadaan itu terjadi sepanjang perjalanan mereka ke rumah sakit, Dion tak bermaksud apa pun terhadap Amanda, ia hanya tak ingin Amanda kedinginan sebab itu ia memeluknya.


Amanda juga tak bermaksud apa pun tangganya hanya reflek memeluk tubuh Dion, untuk merasakan hangat, karna pada saat itu Amanda dalam keadaan setengah sadar.


30 menit waktu tempuh menuju rumah sakit," Amanda, kamu harus tetap sadar," ucap Dion sambil meremas tanggan Amanda, untuk menciptakan sensasi kejut.


"Aku ngantuk Dion," ucapnya lirih, matanya terasa semakin berat.


"Lawan dulu, kamu harus tetap sadar sampai kita di rumah sakit," ia pun kembali memeluknya.


"Aku ngak sanggup lagi Dion," ucapnya, dan tanggan Amanda yang melingkar di bagian perut Dion terlepas perlahan.


"Amanda, sadar Amanda, aku yakin kamu kuat," ucapnya sambil mengguncang tubuh Amanda.


Dengan guncangan Dion, Amanda kembali membuka matanya meski berat, tapi sepertinya ia tak bisa tahan, Amanda pun pingsang.


Dion panik, ia tak tahu harus berbuat apa jika seperti ini, "Amanda bangun Amanda," panggilnya lagi, tapi Amanda tak menjawab, Dion pun semakin erat memeluknya, agar tubuh Amanda tak jatuh terkulai.


Setibanya di rumah sakit, Dion langsung menuju ruang UGD, melihat mobil yang langsung menuju pintu depan UGD, petugas langsung sedia menerima pasien.


Dan saat membuka pintu mobil, mereka kaget, karna mengenal siapa orang tersebut, dokter Reziq salah satu dokter di rumah sakit itu.


"Assisten istri ku," jawabnya sambil menganggkat tubuh Amanda di tempat tidur.


Karna ini bukan jam kerjanya, Dion membiarkan para perawat untuk menangani Amanda, sesuai prosedur, sementara ia mengurus administrasinya.


Setelah di tanggani, keadaan Amanda pun stabil, pukul 4 subuh Amanda di pindahkan ke ruangan kelas 1.


Dan disana hanya ada Dion yang menjaganya, hari sudah pukul empat pagi, rasa lelah dan ngantuk mulai mendera di sekujur tubuhnya, setelah sholat subuh ia pun menelpon Amira dan memastikan keadaan keluarganya baik-baik saja.


Setelah mengetahui keadaan istrinya baik-baik saja, Dion merasa sedikit lega.


Meski lelah namun Dion tak bisa terlelap, meski sudah ada satpam penjaga rumahnya, namun ia juga mengkhawatirkan istrinya yang sedang hamil muda, apalagi Amira sering mengeluh sakit kepala, sementara dirinya juga harus menjaga Amanda.


Dion menarik nafas panjang sambil bersandar di dinding, ia kembali mendekati Amanda yang sedang meracau, tak tahu apa yang di bicarakanya saat itu, yang jelas terdengar hanya suara Amanda memanggil namanya dengan lirih.


Meski sudah mendapatkan transfusi darah, Amanda belum juga sadar, tapi keadaan nya sudah lebih baik.


Dion meletakan termometer untuk mengukur suhu tubuh Amanda, Amanda masih demam suhu tubuhnya masih di atas 38 derajat.


Dion merebahkan kepalanya di atas tempat tidur Amanda, tanganya menggenggam erat tanggan Amanda, hal itu ia lakukan agar saat ia terlelap, ia bisa sadar jika ada pergerakan yang tiba-tiba dari Amanda.


Dion terlelap hingga pagi, ia tersadar saat Amanda menggenggam tangannya, meski genggaman itu lemah, tapi Dion bisa merasakanya.

__ADS_1


Amanda sadar, dan dilihatnya hanya ada Dion yang menjaganya.


Dion bangkit dan melihat kearah Amanda.


"Kamu sudah sadar Amanda?" tanya Dion.


Amanda menggangguk, tapi ada bulir air mata menetes di pipinya.


"Aku ingin pulang Dion," ucapnya lirih.


"Amanda, kau belum boleh pulang, sebentar lagi dokter akan memeriksa keadaan mu," ujarnya sambil menggenggam erat tangan Amanda.


"Aku ingin pulang Dion, aku tak ingin merepotkan siapa pun, kau, mbak Amira dan ibuku" ujarnya lagi sambil menangis.


"Amanda, kau tak merepotkan ku, kau harus tetap berada di sini, kau akan di tanggani hingga penyakit mu sembuh," tutur Dion.


"Aku tak mungkin sembuh Dion, percuma saja, aku ingin pulang," ucapnya lagi, kali ini air matanya semakin deras mengalir.


Dion merasa iba pada Amanda, ia pun mendekatinya dan memeluknya, "Percayalah Amanda, semua penyakit itu ada obatnya, dan kami akan berusaha semaksimal mungkin agar kau sembuh," ucapnya sambil memeluk Amanda.


"Tapi untuk apa kau bersusah payah mengobati ku, aku bukan siapa-siapa Dion, dan aku tak ingin menyusahkan mu dan istrimu, biar saja aku begini, aku sudah pasrah dengan nasib yang menimpa ku," tuturnya haru.


"Kau memang bukan siapa-siapa Amanda, tapi aku juga sayang padamu, aku dan istriku, dan kami akan lakukan pengobatan terbaik untuk mu," tutur Dion sambil menghapus air mata Amanda, ia pun kembali memeluknya.


Semua dialog itu, murni tanpa rekayasa terjadi antara mereka, dan Amira yang baru tiba mendengar dan melihat semua dialog dan adegen tersebut di depan matanya, meski keduanya tak menyadari.


Amira menarik diri menjauh dari tempat itu, ia menangis, entah apa yang membuatnya menangis, penuturan Dion atau Amanda, atau ia terharu melihat keduanya.


Tapi mereka tak seperti biasanya, mereka terlihat akrab, tak seperti terjadi di rumahnya, Dion dan Amanda, mereka sama-sama seperti menghindar saat bersama di rumah.


Rahasia apa sebenarnya yang terjadi, apa ada rasa cinta yang tumbuh di antara mereka, pikir Amira.


Ia pun menangis di sudut ruangan, begitu banyak pertanyaan yang ada di kepalanya, ia tak ingin kejadian masa lalu terulang kembali.


please


Like


komen


dan vote,


Bunga juga boleh,


Mampir di novel author yang lain dengan judul Ketika takdir menyatukan aku dan mereka.


__ADS_1


__ADS_2