
Kedua orang tua Amira sudah tiba, Amira pun sudah mempersiap kan dirinya untuk pergi dari rumah itu.
Amira menghampir Ummi, "Ummi maafkan Amira, Amira tak bisa lagi tiggal di sini, dan terima kasih atas semua kasih sayang, dan perhatian yang Ummi berikan selama Amira di sini," tutur nya.
"Ia sayang, Ummi berharap kamu akan kembali lagi Amira, kamu juga harus memikirkan anak yang ada di dalam rahim mu, sebentar lagi kamu melahirkan, Ummi sangat berharap kamu akan kembali ke sini lagi," papar Ummi.
Amira hanya diam mendengar penuturan Ummi, Ia pun mendekati Abi, "Abi, maafkan Amira ya, karna selama ini Amira selalu merepotkan Abi," tutur nya Amira pun menangis memeluk Abi.
"Ia Nak, itu semua karna Abi sayang sama kamu, seperti anak Abi sendiri, "tutur Abi, yang ikut bersedih.
"Ummi, Abi, Amira pamit ya," ucapnya.
Dan tak sekali pun Amira menyebut nama Dion, padahal Dion selalu ada di samping nya dan mengikuti gerakanya.
"Cahaya, jangan pergi, Cahaya," cegah Dion, ia pun menggenggam erat tangan Amira, tapi Amira tetap berlalu meninggalkanya.
Kedua orang tua Amira sudah siap membawanya, Dion pun kembali memohon ke pada Bapak dan Ibu Amira, agar tidak membawa Amira.
"Pak, saya mohon jangan bawa pergi istri saya." Dion memohon sambil berlutut kepada Bapak Amira.
"Tidak bisa Dion, Amira tetap akan kami bawa, kami sudah memberi mu kesempatan sekali, tapi nyatanya kau tak bisa membahagiakan putri kami," ucap Bapak Amira dengan dingin.
"Tapi Cahaya istri saya, Pak, kalian tak punya hak untuk membawanya."Dion masih bersikeras.
"Kalau begitu, jatuh kan saja talaq mu pada nya," balas Bapak Amira, masih dengan nada yang ketus.
Sementara Amira hanya diam, tak sedikit pun ia merespon, Amira terlihat lebih tegar.
"Sampai kapan pun saya ngak akan mentalaq Cahaya, selamanya ia akan menjadi istri saya Pak," tutur Dion dengan tegas.
"Terserah Dion, tapi setelah dari sini, kami akan kembali mencarikan jodoh yang terbaik untuk putri kami, Kau dan Amira hanya menikah secara sirih, kau juga tak bisa menuntut Amira dan Anak yang ada dalam kandunganya sekarang," papar Bapak Amira.
Mendengar semua itu, Dion kembali menangis dan memohon.
"Tolong Pak, jangan pisah kan saya dari anak dan istri saya Pak, saya janji tak akan mengulangi kesalahan yang sama, ampun kan saya sekali ini Pak." Dion langsung memeluk kaki Ayah mertuanya, berharap ada rasa belas kasihan untuk nya.
Melihat anak nya seperti itu, Abi langsung menggangkat tubuh Dion.
"Dion, sudah Dion, kamu ngak boleh seperti itu. manusia tak boleh menyembah nanusia lainya," Abi melarang Dion, karna Dion hampir saja bersujud di kaki kedua orang tua Amira.
__ADS_1
Kedua orang tua Amira langsung membawa Amira pergi, tapi lagi-lagi di halangi Dion.
"Baik Cahaya, aku ijin kan kau pergi, mungkin saat ini, kau masih marah, kau kecewa, tapi saat semua itu mereda, kembali lah pada ku, Cahaya, aku akan selalu setia menunggu mu, seberapa lama pun, waktu yang kau butuh kan untuk menghukum ku, aku akan tetap menunggu mu Cahaya, bagi ku kau akan menjadi istriku sekarang, dan selamanya, dan saat kau kembali, akan ku pasti kan, aku masih sendiri, pulang lah pada ku Cahaya, sejauh apa pun kau melangkah," tutur nya, ia pun memeluk Amira.
"Pulang lah sayang, aku pasti menunggu mu, pulang lah padaku saat kau tak marah lagi pada ku, maaf kan aku, dengan semua kesalahanku, aku berjanji saat kau kembali aku masih sendiri, masih setia menunggu mu," bisiknya di telinga Amira. Dion begitu terluka, karna tak sedikit pun Amira membalas pelukanya, Amira terus saja diam seribu bahasa.
Dion pun melepas kepergian istri nya, dengan hati yang hancur, ia sangat tak rela di tinggal kan istrinya, bagaimana pun juga, Dion masih punya hak yang penuh terhadap Amira.
***Sumpah tak kan lagi ada kesempatan ku tuk bersamamu, kini ku temukan cara tuk trus bersamamu.
Bawalahlah pergi cintaku, pada siapa pun yang kau mau, jadikan temanmu, temanmu yang paling kau cinta.
Disini ku pun begitu, tuk trus cintaimu di hidup, di dalam hati ku, sampai nanti waktu yang pertemukan, kita nanti.***
Amira terus berlalu, dan kini, mereka telah masuk mobil, Dion masih terpaku dengan kepergian Amira, semudah itu semua berubah, baru saja kemaren ia melepaskan hasrat dan kerinduanya pada istri tercinta, dunia seolah terbalik, kini Cahayanya pergi, dan tak sedikit pun memberinya kesempatan.
Dion bersimpuh di atas lantai, kaki nya seolah tak mampu lagi menahan berat tubuhnya, air mata nya meluncur dengan deras, dan hanya meninggalkkan penyesalan yang begitu mendalam, Dion seperti kehilangan keseimbanganya, ia seperti berada di kegelapan, di saat Cahayanya kini pergi dari sisi nya.
Waktu serasa berhenti menahan kaki Dion, beberapa lamanya, ia hanya terpaku seperti benda mati, hanya saja, air mata terus saja menetes membasahi pipinya.
Ummi dan Abi merangkul Dion, memeluknya dengan penuh kasih sayang, setidaknya itu lah yang di butuh kan Dion saat ini.
"Ummi, apa kesalahan yang Dion lakukan begitu fatal, hingga tak sedikit pun Cahaya memberi Dion kesempatan," sesalnya.
"Mengapa hati Cahaya begitu keras Ummi, kenapa ia tak memberi kan kesempatan kepada Dion, semua orang pasti pernah berbuat salah kan Ummi?, dan semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri, lalu kenapa Cahaya tak sedikit pun memberi maaf pada Dion Ummi, Dion sudah mengakui kesalahan dan ke khilafan Dion Ummi, dan Dion juga bersumpah untuk tak lagi mengulanginya, tapi kenapa Ummi? kenapa? kenapa Cahaya lebih memilih pergi dari pada memberi kesempatan Dion untuk memperbaiki semua ini," tutur nya dengan terisak, tangis nya pecah seketika.
Ummi juga tak bisa berkata apa-apa, hatinya juga terluka di tinggal pergi oleh Amira, Dion benar, Amira adalah cahaya yang membuat terang rumah ini, tanpa kehadiranya, semua terasa suram.
Melihat keduanya masih bersedih, Abi pun memeluk keduanya," Sabarlah Dion, Allah tak kan menguji seseorang melampaui batas kemampuanya, belajar lah untuk iklas dan tawakal kepadanya, pasti akan ada hikmah dari peristiwa ini Dion," tutur Abi, ia pun memeluk putra nya.
Sementara Amira sudah sampai di rumah, Amira terlihat tegar, tak satu pun titik air mata jatuh dan menetes di pipinya.
Ibunya lah yang paling mengerti tentang Amira, Amira tak kan menangis, jika luka hati nya terlalu dalam, sebaliknya ia hanya akan diam, meski di batinya berkecambuk.
Sepanjang perjalanan Amira hanya duduk terpaku, tatapan matanya kosong, kedua orang tuanya juga tak berani untuk bersuara, mereka hanya membiarkan Amira sendiri termenung, sambil mencerna perasaanya kini.
Sesampainya di rumah, Amira langsung di sambut, oleh Oma.
Melihat kedatangan cucu kesayanganya yang kembali kerumah, Oma sangat antusias, ia sudah menunggu di teras rumah mereka, melihat mobil mereka sampai, kaki tua Oma bergerak maju, seolah tak sabar menanti cucu yang dirindukanya.
__ADS_1
Amira turun dari mobil dan langsung di sambut Oma.
"Sayang akhirnya kamu pulang," tutur sang Oma, ia pun memeluk Amira.
Amira hanya tersenyum tipis, tanpa bersuara sedikit pun.
"Ayo sayang kita masuk," Oma merangkul Amira dan membawanya keruang tamu.
Tapi Amira tak mau duduk, "Oma Amira mau ke galeri Amira, Amira rindu untuk melukis," tuturnya.
"Tentu sayang, ini rumah mu, di sini kau bebas," balas Oma.
Amira menuju galeri yang ada di rumahnya, di sana, biasanya ia dan keluarganya melukis.
Amira mendekati kanfas yang sudah siap terpasang, tanpa ragu lagi, ia mencampur warna, yang ia sendiri tak tahu warna apa yang tercampur itu.
Ia pun memulai menggoreskan lukisanya dengan tangan nya sendiri, ia kini seoperti bebas berekspresi.
Amira melukis dengan emosi yang menguasainya kini, melukis kan semeraut perasaan nya saat itu, perasan benci, kecewa, marah dan putus asa, tak hanya itu, ia kembali menarik garis yang menggambarkan perasaanya yang sebaliknya, rasa cinta yang masih tersisa dan perasaan rindu yang masih menggebu, rasa sakit dari penghianatan dan rasa cinta dan harapan yang tak kunjung padam, Amira semakin gesit dengan coretanya di atas kanfas, emosinya semakin memuncah, ada hasrat yang menutup rasa egoisnya, baru beberapa saat berpisah, kini ia merasakan rindu yang semakin mendalam.
Amira semakin gelisah, ia semakin resah, semua rasa itu berbaur dan bercampur jadi satu dalam dada nya, seketika emosi nya meledak, air mata tumpah begitu saja, mengucur deras laksa bintang jatuh yang membakar lapisan ozon di bumi, tak kuat menahan kepedihanya, Amira berteriak sekencang kencang nya, setinggi tinggi nada suaranya, sebesar-besar rasa kecewanya, tak hanya sekali, ia terus saja berteriak hingga mengguncang seisi rumah, tak ada yang berani mendekati nya, mereka semua tahu sifat Amira, saat seperti itu, ia tak mau di ganggu.
Amira terus saja berteriak, menjerit, seolah ingin melepaskan, rasa yang kini menyiksanya, rasa yang ia pendam semalaman, setelah puas dengan semua itu, Amira menutup lukisan di atas kanfas itu itu dengan kain putih, lukisan itu di beri judul goresan hati.
Amira menutup lukisanya, seiring menutup kisah cinta nya bersama Dion, setelah tenang, ia pun kembali ke pada kedua orang tuanya, Amira sudah puas menangis, tapi rasa itu belum berhenti juga menyiksanya, kini Amira harus merasakan dinginya kesendirian di dalam kamar, ia kembali melarut kan rasanya dan kembali meratapi rasa kekecewaanya, Ibu Amira hanya bisa menangis, melihat Amira yang terlihat tenang di hadapan mereka semua, lagi-lagi ia harus menyaksikan penderitaan putrinya.
Terima kasih telah membaca karya ini, please tinggalkan jejak:
🍓Like,
🍓Komentar dan saran
🍓Vote dan jadi kan favorite,
Mampir juga yuk di karya author yg lain dengan judul:
Ketika takdir menyatukan aku dan mereka,
,
__ADS_1