
Raihan menjemput Amira di kantornya untuk pergi bersamanya, dalam forum yang ia adakan bersama aktifis lainya.
Arkan dan Amira kebetulan akan keluar dari kantor, rencananya Arkan akan menjemput dokter Diah terlebih dahulu.
Saat akan keluar dari ruanganya, mereka berpapasan dengan Raihan.
"Hai kalian mau kemana?" tanya Raihan.
"Ya mau ke undangan mu lah," jawab Arkan.
"Kalau gitu, Amira pergi sama aku saja," Raihan menawarkan diri.
"Ia bawa saja. aku juga mau jemput pacar ku dulu," jawab Arkan, ia pun berlalu meninggalkan mereka.
"Ayo sayang," ajak Raihan kepada Amira.
Mendengar kata sayang dari Raihan, telinganya terasa panas, kata-kata itu dulu sering mengisi hari-hari nya, Raihan adalah sosok yang baik, sabar dan perhatian, sosok yang sempurna di mata Amira, dari dulu hingga sekarang.
Dulu ia begitu mencintai Raihan, hingga ia merasa tak akan bisa hidup tanpanya, tapi semua nya berubah sejak hadirnya Dion di hidupnya.
Dion lah yang merubah perasaan cinta Amira pada Raihan lenyap seketika.
Tak seperti perasaan nya pada Dion yang tak pernah berubah dari waktu ke waktu, ia justru tak tertarik pada Raihan sedikit pun, meski kini Raihan adalah calon suami pilihan keluarga nya.
Amira berjalan beriringan bersama Raihan, wajahnya terlihat datar, nyaris tanpa ekspresi.
Setibanya di mobil, Raihan membuka pintu untuk Amira, tapi tak sedikit pun ia bicara.
Di dalam mobil, Raihan mencoba mengajaknya untuk bicara.
"Amira, apa kau masih sakit?" tanya Raihan karna di lihatnya wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Iya Mas, sejak kecelakaan itu, aku sering merasa pusing dengan tiba-tiba, otak ku sepertinya tak bisa berfikir untuk hal yang berat, aku bahkan tak bisa konsentrasi terhadap suatu masalah," paparnya.
"Kalau gitu kita periksa lagi saja, kau sudah dua kali operasi pada bagian kepala mu Amira, efek samping nya tentu saja tak kan langsung terasa, bisa jadi sakit kepala yang kau alami akan permanen," papar Raihan.
"Em menurut ku juga seperti itu, aku tak bisa lelah, apalagi kalau harus berfikir, aku seperti orang yang strees, setiap kali ada masalah, aku rasanya ingin teriak, karna kepala ku sudah tak mampu untuk berfikir jernih," balasnya.
"Begitu kah, mungkin kau butuh liburan Amira, biar kau tak tambah strees."
Amira hanya diam saja, ia menyandarkan kepalanya ke belakang.
"Sayang, setelah dari sini kita fitting baju untuk pernikahan kita ya," ajak Raihan.
Tapi Amira tak mendengar, Raihan pun mengulangi lagi perkataanya.
"Sayang setelah selesai rapat nanti, kita fitting baju ya, untuk pernikahan kita," ulang nya.
"Fitting baju Mas?" nanti saja Mas, setelah ini aku mau langsung pulang, aku merasa lelah." Amira menolak secara halus, karna ia sendiri tak ingin menikah dengan Raihan.
Amira masih memikirkan rencana Arkan yang akan membawa nya ke Jerman dan menikah dengan Dion di sana.
Tentunya sangat berisiko, jika ia mengikuti rencana Arkan dan Dion, Amira takut terjadi sesuatu pada Oma nantinya, jika ia menikah dengan Dion di Jerman.
Apalagi Oma mengidap penyakit jantung seperti Ayahnya, cukup sudah ia kehilangan Ayahnya, ia tak ingin kehilangan Omanya,
Mereka pun sampai, cukup banyak orang yang hadir, mereka pun langsung masuk kedalam ruangan.
Dion baru tiba, ia pergi bersama Arkan dan dokter Diah, hanya saja mereka beda mobil, Dion sengaja membawa mobil sendiri, agar tak mengganggu pasangan yang baru jadian itu.
__ADS_1
Dion menunggu di halaman parkir, ia kemudian di kejutkan dengan seseorang yang memanggil nya.
"Dion!!!, " seru seorang wanita yang memanggilnya.
Dion memperhatikan wanita yang kini mendekatinya perlahan.
"Alice," Dion kaget bisa bertemu dengan Alice di sini.
"Alice, kamu kok bisa ada di sini?" tanya Dion heran.
"Aku kesini ngambil jurusan spesialis Dion," jawabnya, mereka pun berjalan beriringan.
"Spesialis? Spesialis apa ?" tanyanya lagi.
"Spesialis mengejar cinta lama Dion," jawabnya bercanda.
Dion hanya tersenyum," Bisa aja,"
"Kamu kok ada di sini Dion, katanya kamu mau lanjutim kuliah di Jerman nyusul istri kamu."
"Ngak jadi, istri ku sudah pulang kok, harus nya aku yang bertanya kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Aku baru beberapa bulan bekerja di rumah sakit swasta di kota ini, nah aku mewakili tenaga kesehatan yang di undang di forum ini, eh ternyata malah ketemu kamu di sini, mungkin sudah jodoh kali ya," candanya.
"Ngak berubah kamu lis," ujar Dion.
"Yuk Yon kita masuk, ngapain juga kita berdiri di sini, ajak Alice," mereka pun masuk kedalam aula.
Dion melihat Amira dan Raihan sedang ngobrol berdua, karna acara belum di mulai, ia pun menghampiri mereka.
Amira kaget ketika Dion menghampirinya bersama dengan wanita cantik, lagi-lagi rasa cemburu itu timbul jika melihat Dion bersama wanita lain.
"Mas Raihan, perkenalkan ini temanku Alice." Dion memperkenalkan Alice, karna ia tak mau Raihan hanya berduan sama Amira.
Dion melihat kearah Amira, "Sayang kenalin, ini teman kuliah ku dulu," ucap Dion dengan santai.
Tak hanya Alice yang syok, bahkan Raihan dan Amira juga syok mendengar panggilan sayang Dion kepada Amira.
*Sayang, apa Dion tidak tahu, jika Amira adalah calon istriku, batin Raihan.
Ah Sial ternyata Dion sudah punya kekasih lagi, batin Alice.
Apa-apaan sih Dion manggil sayang di depan Raihan, tapi ngak apa juga sih, itu tandanya ia berani mengutarakan perasaanya terhadap ku, meski ia tahu Raihan adalah calon suami ku, batin Amira.
Maaf Mas Raihan, kali ini aku menyalib lagi, cahaya hanya boleh menjadi milikku, batin Dion*.
Tak lama dokter Diah dan Arkan tiba, acara pun segera di mulai.
mereka duduk di kursi yang sudah di siapkan panitia, masing-masing menempati kursi yang sudah diatur sedemikian rupa, hingga, mereka yang seprofesi duduk berdampingan.
Arkan, Amira ,Raihan duduk bersebelahan bersama pengusaha lainya, sedangkan Dion ia diapit dua dokter cantik di samping nya.
Dokter Diah dan Dokter Alice mereka ikut berdiskusi, sementara Dion ia hanya diam saja sambil terus menatap Amira, ia melihat ada yang tak beres dari Amira, wajahnya terlihat pucat dan lelah.
Selesai Acara, Dion langsung menghampiri Amira, padahal saat itu Raihan akan mengantarnya pulang.
"Sayang kamu pulang sama aku." Dion menarik lembut tangan Amira.
Amira hanya mengikuti, sementara Raihan dan Alice terlihat kecewa, apalagi Alice, meski Dion tahu Alice datang menggunakan taxi, tapi tak sedikit pun Dion menawarkan diri untuk mengantarnya.
__ADS_1
Sementara Raihan, ia agak kesal dengan sikaf Dion, tapi ia tak bisa marah, nyatanya Amira juga mau menurutinya.
Raihan semakin yakin, jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Dengan perasaan kecewa Raihan pulang sendiri.
Saat keluar dari halaman parkir, Raihan melihat Alice, ia pun menghampiri Alice dan menawarkannya tumpangan.
"Hai Alice, lagi nunggu siapa?" tanya Raihan.
"Nunggu Taxi Mas," jawab Alice.
Raihan pun turun dari mobil, ia menghampiri Alice.
"Ayo aku antar saja." Raihan membuka pintu untuk Alice.
Tanpa ragu Alice pun masuk ke dalam mobil Raihan.
Raihan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Lis kamu sudah lama kenal Dion?" tanyanya.
"Sejak kuliah Mas, "jawab Alice lesu.
"Kamu kenapa Lis kok kayaknya lesu banget, jangan-jangan kamu salah satu fansnya Dion ya?" tanya Raihan yakin.
"Atau kamu cemburu melihat Dion bersama wanita itu tadi?" tembak Raihan.
"Kok tahu Mas, cenayang ya?" canda Alice.
"Kamu tahu ngak lis perempuan itu siapa?" tanyanya lagi.
"Ya enggaklah, aku mana kenal sama dia," jawab Alice.
"Wanita itu mantan istri Dion dan calon istri aku," paparnya.
"Hah, kok bisa gitu Mas, kalau dia calon istrimu, kenapa Dion bersikaf seperti itu, lagi pula aku baru tahu, ternyata wanita itu adalah perempuan yang telah membekukan hati Dion," ujar Alice.
"Membekukan? maksud kamu?" Raihan penasaran.
"Dion itu idola kampus, meski banyak yang menginginkannya, tapi tak ada yang berani mendekatinya, Dion seperti singa yang siap menerkam mangsanya, ia tak punya teman dekat, ia pun bicara seperlunya saja, dan aku sendiri, sudah berkali-kali menyatakan perasaanku padanya, tapi tak pernah di gubrisnya," papar Alice.
"Apa seperti itu lis, jika memang seperti itu, bearti nasib kita sama lis, bertahun-tahun nunggu Amira menjanda, nyatanya meski pernikahan kami sudah di tentukan, tapi Amira, ia sepertinya tak menginginkan pernikahan dengan ku, ia masih mencintai mantan suami nya," Papar Raihan dengan bada tang sedih.
"Ya sudah Mas, lepaskan saja calon kamu itu, ntar kalau kamu paksa, kamu juga pasti ngak akan bahagia," sahut Alice.
"kamu bener Lis, sebaiknya aku melepaskan Amira, dari pada menyesal nantinya, apalagi kini aku ada gebetan baru, " ujar Raihan sambil bercanda.
"Hah Gebetan baru? Siapa Mas?" tanya Alice.
"Ya kamu lah, kita kan senasib, siapa tahu bisa saling mengerti dan berjodoh," tutur Raihan.
Alice tersipu malu mendengar ucapan Raihan.
"Kamu bisa aja Mas, kita tuh baru kenal, cetusnya," sambil tersenyum melirik ke arah Raihan.
"Ya ini ini kita sudah kenalan, biar lebih kenal lagi, gimana kalau nanti malam kita makan malam," ajak Raihan.
"Boleh juga, siapa tahu bisa move on," balasnya.
__ADS_1
Mereka pun sama-sama tersipu.
Melihat kedekatan Dion dan Amira, Raihan berusaha mengalah, Alice memang benar cinta tak bisa di paksakan, mereka memang saling mencinta, biarlah mereka bersama kembali. dan untuk kedua kalinya aku kembali mengalah untuk kamu Dion, batin Raihan.