Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Malam pertama


__ADS_3

Dion kaget mendengar permintaan ibunya Tyas, bagaimana mungkin ia bisa menikahi Tyas, sementara ia sendiri sudah menikah.


"Tapi bu, saya sudah menikah, tidak mungkin saya mengkhianati istri saya," tolak Dion halus.


"Tapi, jika Tyas tak dinikahi, maka Tyas akan menanggung aib yang besar ini, Tak hanya itu, anaknya juga akan di anggap anak haram, tolonglah kami nak Dion, selamatkan nama baik keluarga kami, kasihan Tyas, dia juga korban dari Ilham," Ibunda Tyas memelas, ia sampai berlutut di hadapan Dion.


"Jangan seperti ini Bu," Dion menggangkat tubuh Ibunda Tyas.


"Baik Bu, tapi setelah Tyas melahirkan, saya harus mengakhiri rumah tangga kami, dan saya tak akan menyentuh Tyas," Dion mengajukan syarat nya.


"Ia nak Dion, yang terpenting selamatkan kami dari aib ini," pinta ibu


Keadaan di luar sudah ricuh, para undangan sudah membuat persepsi yang macam-macam, Pak Penghulu juga sudah ingin pulang, salah satu pihak keluarga, masuk kedalam meminta kejelasan pernikahan Tyas.


"Bagaimana Bu Dhe, penghulu sudah lama menunggu, jika memang pernikahanya di batalkan, kita harus memberi kepastian kepada mereka, karna sudah ada keresahan diantara mereka." salah seorang datang memberi tahu mereka.


Ibunda Tyas menatap Dion, berharap Dion memberi jawaban nya segera.


"Baik, Bu." ucap Dion tegas, sementara hatinya gelisah, apa yang harus di katakanya pada Cahaya dan keluarganya, tapi Dion tak ada pilihan lain, melihat kondisi Tyas yang labil, ia bisa nekat dan bunuh diri lagi.


"Terima kasih Nak Dion, kami sejeluarga berhutang budi pada mu, " ucap Ibunda Tyas.


"Ayo kita bergegas, para tamu dan penghulu sudah lama menunggu," dengan langkah gonta,i Dion pun menuju, pelaminan, di sana ia akan menikahi Tyas, secara sirih.


Ijab kabul sudah selesai di ucapkan, para saksi mengucapkan sah, pertanda mereka sudah resmi menjadi suami istri.


Tyas menangis haru, ia tak menyangka Dion yang ia idolakan dan di cintainya, kini resmi menjadi suaminya, meski hanya pernikahan sirih, dan Tyas pun rela bila harus menjadi yang kedua.


Senja kini berganti malam, alunan merdu suara Azan magrib bergema di angkasa, Dion pun menyiapkan dirinya untuk sholat magrib.


Dion keluar dari kamarnya, setelah pernikahanya dengan Tyas, Dion hanya duduk termangu di atas tempat tidur, tempat tidur yang indah, berhias dengan bunga beraneka rupa, sang pengantin harus nya merasa bahagia, tapi berbeda dengan Dion, ia terus di hantui perasaan bersalahnya terhadap istri dan orang tuanya.


"Dion mau kemana?" tanya ayah mertuanya.


"Mau kemasjid Pak," jawabnya.

__ADS_1


"Kamu ngak ganti baju dulu?" tanya ayah mertunya lagi.


"Saya ngak bawa baju ganti Pak." jawab Dion.


"Kamu pakai baju koko bapak saja Dion, sudah seharian kamu pakai baju itu, "saran bapak mertuanya.


Dion pun mengikuti saran dari Ayah mertuanya, ia pun mengganti pakaianya.


Dari magrib sampai lepas sholat isya, Dion tetap berada di masjid, ia terus mengucap isthiffar, ia merasa bersalah karna telah mengkhianati istrinya, apa yang akan terjadi jika Amira yang sedang mengandung anaknya, mengetahui jika di sini Dion menikah lagi, padahal ia sudah bersumpah pada Amira, untuk tidak mengkhianatinya.


Air mata Dion terus mengalir membanjiri pipinya, kalau saja ia tak datang bersama Yuni, mungkin keadaan ini tak kan pernah terjadi, sesalnya.


Lagi-lagi Dion meneteskan air matamya, kini hanya tinggal ia yang berada di dalam Masjid itu.


Selesai sholat Isya, Dion pulang, di lihatnya banyak orang yang sibuk mempersiapkan pesta esok hari.


Dion masuk kekamar Tyas, karna hanya tempat itu yang ia tahu, sementara keluarga Tyas mengira, mereka sedang menikmati malam pertama pernikahan mereka.


"Duh pengantin baru, dari siang ngak keluar-keluar,"tutur salah seorang keluarga Tyas, yang sedang berkumpul makan malam.


Dan mereka pun tertawa, mereka adalah para gadis, sepupu Tyas.


"Jangan kan kau, aku juga mau jadi istrinya," jawab salah seorang lagi, dan mereka kembali tertawa.


Selesai makan, mereka pun melanjutkan gibhanya di ruangan lain, rumah keluarga Tyas semakin penuh, karna para keluarga yang datang dari jauh akan menginap di rumah itu, mengingat besok merupakan resepsinya.


Dion duduk termanggu di sudut tempat tidur, sudah sejak siang ia didalam kamar bersama Tyas, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya.


Melihat Dion yang hanya diam Tyas pun membuka suaranya.


"Dion kau sudah makan?" tanya Tyas, ia mendekati Dion.


"Aku tidak lapar," jawab Dion datar.


"Tapi dari pagi kau belum makan Dion, nanti kau sakit, biar aku yang membawa makanan untuk mu," ujar Tyas, ia pun keluar dan tak berapa lama, Tyas kembali dengan membawa sepiring nasi, Tyas menyerahkan piring tersebut kepada Dion.

__ADS_1


Dion menyambut nya, "Terima kasih Tyas, harusnya kau tak perlu repot, aku nisa ambil sendiri," ujar Dion.


"Aku tahu Dion, kau pasti belum terbiasa dengan rumah ini," ujar Tyas.


"Terima kasih Dion, kau mau menikahi ku, meski aku tahu, kau sama sekali tak mencintai ku," paparnya


"Ia Tyas, tapi meski aku menikahi mu, aku tak boleh menyentuh mu, hingga kau selesai melahirkan." ujar Dion.


"Ia Dion, aku paham," tutur Tyas kecewa.


Selesai makan, Dion pun mengganti pakaianya, ia membuka baju koko milik ayah mertuanya, dan hanya memakai kaos singlet.


Tyas terpana melihat tubuh Dion yang putih dan bersih, ia pun semakin mengagumi sosok Dion.


Tyas berdiri, kali ini gantian dia melepaskan pakaianya, dengan santai Tyas melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuhnya, melihat hal itu Dion kaget.


"Tyas kamu ngapain," Dion mengalihkan pandangannya.


"Ya ganti baju lah Dion," ujar Tyas senang ia berharap Dion bisa terpancing.


"Tapi ganti bajunya kok di depan aku," Dion sedikit gugup.


"Ya ngak apalah, ngak dosa juga kamu melihatnya," jawab Tyas santai.


Dan terakhir, tanpa rasa canggung Tyas melepas kan under wearnya, dan kini Tyas benar-benar dalam keadaan bugil, ia sengaja, Tyas benar-benar menginginkan Dion saat itu.


Tyas kemudian hanya menggunakan handuk, ia mendekati Dion.


Jantung Dion berdetak kencang, saat Tyas mendekati nya, sekuat-kuatnya iman lelaki, pasti akan runtuh jika di goda seperti itu, apalagi Dion sudah pernah merasakan hikmatnya hubungan seperti itu.


Tyas mendekati Dion, ia meraba wajah Dion, kemudian ia mencium bibir Dion perlahan, awalnya Dion tak membalas, tapi karna keagresifan Tyas, Dion pun membalas dan setelah memanas, Tyas melepas handuknya dan menarik tubuh Dion, diatas tubuhnya.


Tyas begitu menikmati setiap sentuhan Dion, matanya merem melek menikmatinya, sesuatu yang sangat ia impikan bersama Dion, karna Tyas memang mencintai Dion.


Dion merebahkan tubuhnya di samping Tyas, ada rasa sesal di hatinya, tlah melakukan perbuataan itu, tapi rasanya ia juga tak bisa menahan syawatnya, apalagi Tyas yang menggodanya duluan.

__ADS_1


Tyas tersenyum bahagia, dengan tubuh yang masih tanpa busana, ia memeluk mesra Dion, sambil tersenyum puas.


__ADS_2