
Alice berlari di suatu tempat yang sangat luas, ia pun tak tahu harus kemana, Alice melihat sekeliling yang terasa asing, tempat apa ini? kenapa aku ada di sini?
Alice mencoba untuk berlari, dan mencari jalan keluar, lagi- lagi ia kembali ke tempat nya berdiri, tempat apa ini? pikirnya.
Ia pun berlari kearah yang berlaianan, namun, tetap sama, ia kembali di tempatnya kembali.
Alice merasa putus asa, ia ingin pulang, tapi tak bisa pulang, ia ingin kembali, tapi tak menemui jalan kembali.
Alice terdiam, ia menangis, ia ingin pergi dari tempat itu, Alice mencoba berteriak, menghilangkan rasa takut, tapi suara nya tak keluar, berkali-kali ia mencoba tapi tetap saja sama, Alice pun putus asa, kini ia terjebak di tempat yang entah apa namanya, tempat itu, serupa padang yang sangat luas, tak ada tumbuhan, dan tak ada binatang.
Rasa lelah pun menghampirinya, rasa takut dan resah, membuatnya meringkuk sendiri, perlahan ia pun memejamkan mata.
Alice membuka matanya, ketika mendengar suara seseorang yang memanggilnya.
"Alice, Alice, bangun Alice," suara tersebut semakin jelas terdengar.
"Dion, " panggil Alice,
"Itu suara Dion, aku harus mengikutinya," Alice pun mengikuti suara yang semakin jelas itu, dengan perlahan ia pun membuka matanya.
"Dion" sapa Alice, ketika dia sadar.
Dion dan kedua orang tua Alice terlihat senang, mereka pun mendekati Alice.
"Mama, Papa," ucapnya ketika menoleh ke sisi kanan, ia pun menangis haru.
Kemudian ia menoleh ke sisi kiri," Dion" ucapnya lirih, ia pun menunjukan rasa kekecewaanya, Alice pun kembali menangis.
Melihat Alice, Dion bermaksud menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Alice, aku tahu kamu marah, aku hanya ingin menjelaskan semuanya, agar kamu tak salah paham.
"Lice, aku tak pernah bermaksud mempermainkan perasaan kamu lice, Aku terpaksa menikahi Tyas."
Dion coba menjelaskan, meski Alice tak mau mendengarkanya.
"Ilham dan Tyas, akan menjalani prosesi akad nikah, namun, sebelum akad nikah, Ilham sudah terciduk polisi, sementara Tyas sedang mengandung anak Ilham, Aku dan sepupu ku datang menemui keluarga Tyas, bermaksud untuk memberitahu mareka tentang Ilham, Tyas sangat syok mendengar berita yang ku bawa, ia pun nekat bunuh diri, aku berusaha mencegahnya, aku membuang pisau di tanganya, dan memeluknya, agar ia tak melakukanya lagi."
"Saat itu, Ibu Tyas juga syok mendengar berita itu, ibu nya hampir pingsan, sedangkan para tamu dan penghulu sudah menunggu, Tyas dan Ibunya merasa malu, mereka tak sanggup menanggung aib, selain Tyas sudah hamil, ia pun batal di nikahi, ibu Tyas yang memohon pada ku, untuk menikahi Tyas, agar tak menjadi aib keluarganya, dan Tyas, saat itu aku melihat ia begitu putus asa, aku takut ia nekat dan melakukan percobaan bunuh diri lagi, keadaan semakin kalut, apa lagi penghulu dan tamu mendesak meminta kepastian, dan ibu Tyas memohon pada ku, agar aku mau menikahi Tyas, hanya untuk menutupi aibnya, aku sebenarnya tidak mau, karna terdesak, tanpa pikir panjang aku pun menyetujuinya," papar Dion.
Setelah menjelaskan kepada Alice, Dion melihat reaksi Alice.
Tapi Alice hanya diam, sedikit pun ia tak menoleh kearah Dion.
" Alice, aku tahu kamu masih marah pada ku, aku akan pergi dari sini," ucap Dion, ia pun beranjak dari kursinya, dan hendak pergi.
"Dion jangan pergi," suara Alice begitu lirih.
"Dion," aku masih ingin kamu di sini, tuturnya lagi.
__ADS_1
"Tapi aku ngak bisa lama-lama di sini lice, aku harus pulang, besok aku akan menemui kamu di sini." Dion beranjak, ia pun menyapu lembut rambut Alice.
Alice hanya menitikan air matanya, melihat kepergian Dion," Dion memang tak pernah peduli perasaan ku," batin Alice.
Dion berjalan menuju lorong rumah sakit, ia memang tak ingin terlalu lama berada di sana, ia takut hal yang sama akan terulang kembali, karna perasaan iba, ia mau saja mengambil ke putusan bodoh.
Sesampai nya di kos, Dion pun melaksanakan shalat magrib, Dalam sujut nya Dion memohon agar di beri jalan keluar, dari setiap masalahnya, kini hanya pada Allah ia mengadu, sebaik-baiknya tempat mengadu.
***
Tyas sudah memasak masakan kesukaan Dion, Opor ayam, dan sambal goreng kentang, tapi setelah menunggu dari siang, hingga hampir magrib, Dion belum juga pulang.
Tyas kecewa, tapi ia tak putus asa, ia pun menghubungi Dion, tapi tak ada jawaban dari dion.
Setelah shalat Magrib Tyas kembali menghubungi Dion.
Ponsel Dion bergetar, ada panggilan masuk dari Tyas.
"Assalamua'laikum, Dion," sapa Tyas.
"Wa'alakum sallam," jawab Dion.
"Dion kamu kok ngak pulang kesini? aku sudah masak spesial untuk kamu Dion," suara Tyas terdengar kecewa.
"Maaf Tyas, aku ngak bisa pulang, aku ada di kos-an ku," jawab Dion.
"Ya sudah Dion, kalau kamu ngak bisa datang, biar aku yang kesana," Tyas menenutup telponnya.
Dion duduk menghempaskan tubuhnya, masalah seolah selalu datang menghampirinya, ia juga tak tahu apa yang akan di lakukanya terhadap Tyas, menceraikanya saat ini juga, atau bertahan hingga Tyas, melahirkan, tapi melihat Tyas yang agresif, rasa nya sulit mengendalikan dirinya, ia tak ingin mengulangi kesalahan jika harus berhubungan denganya, karna Tyas bukan haknya, dan yang terpenting, ia tak ingin mengkhianati istrinya.
Semua terasa sulit, ia tak bisa bercerita atau meminta saran kepada siapa pun, termasuk kedua orang tuanya.
Suara petir terdengar menggema memecah kesunyiam malam, kilat pun saling sambar menyambar.
Dion memperhatikan keadaan sekeliling, Mungkin sebentar lagi hujan lebat, ia pun menutup pintu dan jendela dengan rapat
Sudah sejak pagi Dion belum makan, karna merasa lapar, Dion bermaksud memasak mie instan.
Tiba-tiba saja terdengar hujan turun, Dion pun berlari mengangkat jemuran nya, ia sampai lupa menggangkat jemuran, meski hari sudah malam.
Setelah itu, ia kembali kedapur, untuk memasak mie instan di dapur.
Tok,...Tok....
Terdengar suara ketukan pintu,
Dion membuka pintu, dan kaget karna sudah ada Tyas dengan baju yang basah kuyup.
"Tyas kenapa hujan -hujan kamu ke sini? ini sudah malam, dan sangat berbahaya pergi di saat hujan deras seperti ini," tutur Dion kesal, ia masuk kedalam mengambil handuk.
__ADS_1
Dion kembali dengan membawa handuk dan memberinya kepada Tyas.
"Aku bawa makanan ini untuk kamu Dion," Tyas menyerahkan rantang ke Dion, dalam keadaan menggigil.
Dion pun meraih rantang yang di bawa Tyas.
Dion hanya menggelengkan kepalanya, melihat kebodohan Tyas.
"Kamu ganti baju di kamar, kamu pakai baju aku saja, kamu pilih sendiri mana yang cocok, aku akan siap kan makan malam untuk kita," tutur Dion, ia pun ke dapur untuk mengambil piring.
Karna di tempat kos itu sempit, kamar dan dapur hanya di sekat, tak ada pintu untuk menutup kamar.
Dion menyiapkan piring dan membawanya ke ruang tengah, tapi tanpa sengaja ia melihat tubuh Tyas bugil tanpa busana.
Dion hanya menggelengkan kepalanya, ia yakin, Tyas sengaja melakukanya, untuk menggodanya.
Dion menundukan kepala, seraya berjalan keluar, seolah ia tak melihatnya.
Beberapa lama Dion menunggu, Tyas pun keluar dengan menggunakan celana pendek dan kaos singlet, pakaian itu selain ketat, juga memperlihatkan bentuk payudarahnya, yang terlihat montok.
"Tyas kenapa kamu pakai pakaian seperti itu, ngak sopan," ucap Dion ketus.
"Ngak apalah Dion, di sini cuma ada kita berdua kok, dan kamu bebas kok melihat tubuh aku luar dan luar, mengeksplornya juga boleh," Tyas tersenyum berusaha menggoda Dion.
Setelah makan, Tyas membereskan rantang dan piring yang mereka gunakan.
Hujan semakin lebat, angin kencang masuk kedalam rumah, menambah dingin nya suasana.
Suara petir saling sambar-menyambar, hujan masih turun dengan deras, rasanya ia tak mungkin menyuruh Tyas untuk pulang, tapi jika Tyas di sini, Dion takut tak sanggup menolak rayuan Tyas.
Lamunan Dion terhenti, ketika sesosok tubuh memeluk nya dari belakang, pelukan Tyas seketika membuat tubuh nya hangat, bulu kuduknya pun berdiri, seiring ada yang berdiri di balik celananya.
Dion coba menahan rasa syahwatnya, apa lagi Tyas, sengaja merapatkan payudarah nya di tubuh Dion, Tyas semakin erat memeluknya.
Dion menguatkan diri, ia pun melepaskan rangkulan tanggan Tyas.
"Tyas, tolong mengertilah, kita tak boleh melakukanya lagi," ucap Dion, ia pun menunduk, tak berani melihat Tyas.
"Tapi Dion, kita melakukanya karna cinta, dan aku ini istri mu Dion, kau boleh melakukan apa saja padaku, aku juga ingin melayani mu Dion," Tyas kembali memeluk Dion.
Suasana yang dingin, sejenak ia ikut terbawa suasana, Dion serasa tak bisa menolaknya, apalagi kini tangan Tyas meraba bagian alat vitalnya, nafas Dion memburu, mereka pun beradu, Tyas ******* ganas bibir Dion, tanganya merayap perlahan, masuk ke dalam celana Dion, dan menyentuh benda yang kini menegang.
Tyas semakin agresif, sedikit pun ia tak memberi kesempatan Dion untuk menolak, kali ini Dion kembali dalam genggaman Tyas, ia perlahan merebah kan tubuhnya agar Dion, bebas mengeksplor tubuhnya tanpa ampun.
Tyas sudah membuka seluruh pakaian menutupnya, ia pun sedang berusaha melepaskan celana yang Dion kenakan.
Suasana semakin panas, tinggal selangkah lagi dan semua akan terjadi lagi.
Namun gerakan mereka tertahan oleh suara deringan telpon.
__ADS_1
Dion langsung meraih telpon, dan seketika air matanya tumpah, melihat siapa yang melalukan panggilan kepadanya saat itu.