
Arkan keluar dari kamarnya, karna ingin mengambil segelas air untuk Amanda minum obat.
Namun saat ia keluar dari kamar, Arkan berpapasan dengan Mirna.
Mirna kaget melihat Arkan, ia pun tertangkap basah, dan masuk segera ke dalam kamar, tapi di cegah oleh Arkan.
"Hei kamu, kenapa kamu berada di sini?" tanya Arkan dengan emosi, suara Arkan memenuhi seisi ruangan.
Mirna merasa gugup, ia tak bisa mengelak, Nino pun keluar mendengar keributan di luar kamarnya.
"Ada apa ini?" tanya Nino yang juga emosi.
"Oh, ternyata dia istrimu." Arkan menujuk Mirna di hadapan Nino.
"Kalau iya kenapa?" tanya Nino menantang.
"Kalau begitu, kau dan dia yang bersekongkol untuk memfitnah dan memeras ku?" tanya Arkan.
Nino hanya diam, tapi kemudian ia kembali menantang Arkan.
"Kau siapa marah-marah, kau hanya menantu di rumah ini, tapi berani-berani nya kau membentak ku," Nino kesal.
"Aku tahu ini rumah mu, dan jika saja kau bukan kakak ipar ku, kau akan ku jebloskan ke penjara." bentak Arkan.
Nino semakin geram, ia hanya bisa mengepal tangan nya.
"Aku bisa memaaf kan kalian berdua, dan mencabut tuntutanku, tapi jika kalian berani mengganggu istri dan ibu mertua ku, kalian akan ku hancurkan sehancur-hamcur nya, akan ku jebloskan kalian atas kasus pemerasan, pencemaran nama baik dan penganiyayaan" ancam Arkan.
Bu Nita yang terbangun langsung menghampiri suara ribut-ribut yang berasal dari arah dapur.
Begitupun Amanda, ia langsung menghampiri Arkan, ia takut jika Nino menyakiti suami nya.
"Ada apa ini Nak Arkan?" tanya bu Nita khawatir.
"Dia Ini bu, perempuan yang telah mengaku saya hamili dan memfitnah saya," tunjuk Arkan dengan geram ke arah Mirna.
Sementara Mirna hanya menunduk.
Bu Nita kaget, mendengar penuturan Arkan, "Apa benar Nino? dasar anak kurang ajar, apa kamu ngak bisa berhenti untuk mengganggu hidup orang lain, Mama malu punya anak seperti kamu Nino, "Bu Nita menangis kembali.
Karna merasa terpojokan Nino semakin Emosi, tapi ia juga takut berbuat kekerasan tergadap Arkan.
"Eh kamu tuh cuma numpang di sini, jadi jangan macam-macam kamu," Nino geram dengan Arkan.
"Emangnya kenapa, aku juga tak akan tinggal lama disini, besok aku akan membawa istri dan ibu mertua ku keluar dari rumah ini, aku juga ngak sudi, istri dan ibu mertua ku tinggal satu rumah dengan kalian," balasnya iya pun masuk kekamar.
"Bagus kalau begitu, lo bawa perempuan tua dan adikku yang penyakitan itu dari rumah ini," sahut Nino.
Bu Nita semakin sedih mendengar penuturan Nino, ia tak percaya jika darah daging nya sendiri yang mengusirnya dari rumah itu.
"Sudah Nino, Mama tahu kamu ngak suka sama ibu dan adik kamu, tapi ingat suatu saat nanti kamu pasti mencari ibu," tutur ibunya dengan sedih.
Amanda juga sedih, ia pun memeluk ibunya dan mengantar ibunya kekamar, Arkan juga mengikuti sampai ke kamar bu Nita.
"Bu, besok ibu ikut saya dan Amanda, kita pindah dari sini, ibu siap-siap saja, kemaskan barang-barang ibu," tutur Arkan.
"Terima kasih Nak, " bu Nita memeluk Arkan.
__ADS_1
Amanda juga terharu mendengar penuturan Arkan, ia pun memeluk Arkan dari belakang, sedangkan saat itu Arkan sedang memeluk Bu Nita.
Keesokan paginya,
Amanda bangun pagi dan berhias, sebelumnya ia tak pernah berhias seperti ini, Amanda terilihat sangat cantik, polesan make up mampu menutupi wajah pucatnya, meski matanya terlihat sayu.
Amanda menyiapkan secangkir minuman untuk Arkan di dapur, saat itu Mirna juga merasa lapar, dan saat di lihatnya Amanda ada di dapur, ia pun mengurungkan niatnya, Mirna masuk lagi kekamarnya.
Setelah Amanda selesai, barulah ia kedapur, tapi saat itu, tak ada sesuatu yang bisa di makan, karna kecewa ia kembali masuk ke kamarnya dan membangunkan Nino.
"Nino, bangun Nino, aku mau makan," katanya sambil mengoyang-goyangkan tubuh Nino.
"Apaan sih, mau makan saja repot, tinggal pergi ke dapur juga," cetusnya sambil menarik selimutnya kembali.
Melihat Nino yang bersikaf acu, Mirna kembali membangunkannya," Nino, ngak ada sesuatu apa pun untuk dimakan di dapur, ibu kamu belum masak, tapi aku sudah sangat lapar Nino," ia pun menarik selimut Nino.
"Apa sih Mirna," bentaknya.
"Sekarang kamu bangun Nino, buat diri kamu berguna sebagai laki-laki, sekarang aku lapar, kita tak punya uang, selama ini kita numpang makan dari ibu kamu, dan kalau ibu kamu pergi dari rumah ini, kita mau makan sama siapa," Mirna.
Nino bangkit dan sejenak ia menyesali keputusan nya yang telah mengusir ibunya sendiri.
"Benar juga, kalau ibu ngak ada kita mau makan apa?" tanya nya pada diri sendiri.
"Kamu kerja dong Nino, sahut Mirna kesal.
"Aku mau kerja apa ? aku baru saja keluar dari penjara," Nino pun binggung, sambil memikirkan cara agar mereka bisa menyambung hidup.
Arkan sedang berada di sisi tempat tidur dan sedang mengkutak-katik handphone nya.
"Terima kasih sayang, " kata Arkan yang mencium bibir Amanda yang duduk di sampingnya.
Amanda merasa senang, karna sikaf romantis yang Arkan tunjukan.
"Kamu sudah bereskan barang-barang kamu yang akan di bawa?" tanya Arkan.
"Sudah Mas, semua sudah siap," jawabnya.
Ok kalau begitu sebentar lagi, kita akan pergi dari sini, kamu suruh ibu siap-siap, karna sebentar lagi ada sopir yang akan menjemput kita.
Amanda pun pergi menemui ibunya dan menyuruh nya agar bersiap sedia.
Setelah semua siap, mereka pun langsung pergi dari rumah itu meninggalkan Nino dan Mirna.
Mereka sampai di sebuah rumah mewah milik Papanya, rumah itu warisan dari Opa Arkan.
Karna sudah lama tak di tempati, beberapa hari sebelumnya Arkan sudah menyuruh orang membersihkan rumah itu.
Kamar mereka berada di lantai atas, saat itu Amanda menatap langit yang penuh bintang di atas balkon.
Arkan menghapiri dan memeluknya dari belakang.
"Kamu lagi lihat apa?" tanyanya.
"Lagi melihat langit malam yang indah," Amanda.
"Tahu ngak apa yang lebih indah?" bisik Arkan.
__ADS_1
"Apa Mas?" Amanda membalikan tubuhnya hingga wajahnya berhadapan dengan wajah Arkan.
"Kamu" Arkan, kemudian ia memcium bibir Amanda.
Mereka pun beradu di bawah langit malam yang bertahtah bintang.
Arkan menarik tubuh Amanda ke atas tempat tidur, ia mencium lembut bibir Amanda, dan memasukan lidahnya ke dalam mulut Amanda, sambil melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuh istrinya dan tubuhnya sendiri.
Mereka sudah bugil, Arkan kembali memulai aksinya, Amanda memejam kan matanya, menikmati sentuhan Arkan, tangan Arkan merayap lembut dan menyapu setiap inci dari tubuhnya.
Arkan masih bergerak di atas tubuh Amanda, Amanda menggigit lembut bibirnya seraya merasakan sensasi yang luar biasa, Amanda tak mampu menahan saat lidah Arkan menari menyentuh salah satu buah dadanya dan tangan yang satu menyetuh bagian yang lain.
Tak bisa menahan sensasi nikmat yang luar biasa, Amanda meremas rambut Arkan mengeram dan mendesah lirih menikmati setiap getaran yang terasa hingga ke ubun-ubunya, mendengar rintihan pasanganya, membuatnya semakin bergairah, Arkan kini menaikan frekuensi kecepatan gerakanya, dan beberapa detik saja, kegiatan tersebut terhenti saat Amanda merasakan sesutu yang membasahi rahimnya.
Arkan terkulai lemas dalam pelukan Amanda, begitu Amanda, ia memeluk erat suaminya, ia begitu bahagia karna ini lah pertama kalinya ia begitu menikmati hubungan suami istri.
Arkan sudah pulas di samping Amanda, namun Amanda tak bisa pulas, ia merasa sangat lelah dan seluruh tubuhnya merasakan sakit.
Amanda berdehem, karna merasa sesuatu, mengganjal di tenggorokan nya, ia pun berlari kekamar mandi, dan ketika itu nafas nya terasa sesak, ia pun batuk, dan merasa ada yang keluar dari mulutnya.
Amanda menutup mulutnya dengan tissu, setelah batuk nya reda, ia pun melihat darah segar yang bercampur dahag.
Amanda terpuruk kala ini, ini adalah pertanda jika penyakitnya semakin parah, ia meringkuk, sambil berdoa, "Ya tuhan ku, jika boleh aku meminta sesuatu yang luar biasa, berilah aku kehidupan seribu tahun lagi, untuk bisa lebih lama bersamanya," Amanda meneteskan air matanya, rasanya ia tak ingin pergi secepat ini, baru saja ia merasakan bahagia hidup bersama suaminya.
Setelah membersih kan tubuhnya, Amanda kembali, ia mendekati tubuh Arkan, mencium pipinya, dan kembali memeluknya," Andai saja aku bisa menghentikan waktu, aku tak ingin detik-detik bersama mu berlalu begitu cepat, aku ingin hidup seribu tahun lagi bersama mu Mas," ucapnya lirih, sambil menyapu keringat yang membasahi wajaah sang suami.
Pria ini telah menundukan hati ku, baru sehari bersamanya, aku sudah sangat bahagia.
"Ada yang bilang, bintang yang paling terang adalah bintang yang paling cepat meredupnya, kebahagian yang kurasakan terlalu sempurna, hingga aku tak ingin terlalu cepat meninggalkanya."
Amanda pun menangis meringkuk, karna ia merasa tak lama lagi ia akan pergi, meninggalkan semua rasa bahagia, dan meninggalkan seorang suami yang mulai ia cintai.
Amanda mendekati Arkan dan berbisik di telinganya.
"I love you mas," ucapnya lirih.
"I love you too, sayang," balas Arkan.
Amanda kaget, karna Arkan terbangun dan membalas pernyataanya.
"Mas sejak kapan kamu bagun?" tanya Amanda gugup.
Arkan tersenyum, sejak kamu bisikan " I love you di telinga ku, "jawabnya.
Amanda menggigit bibirnya, dan Arkan kembali mendekatinya dan menyapu air matanya.
"Kenapa kamu menangis sayang?" tanya Arkan sambil menyapu air mata Amanda.
Amanda menyentuh tangan Arkan, meraihnya dan menciumnya.
"Aku menangis karna aku merasa sangat bahagia, menjadi istri kamu," Amanda.
"Aku juga bahagia menjadi suami kamu," balas Arkan, mereka pun saling memeluk haru, hingga mereka terlelap dalam keadaan bahagia.
Jangan lupa dukunganya ya,
Meski keadaan author lagi down akibat anemia, author sedikit paksakan untuk up nih, aurhor ngak mau mengecewakan para reader yang selalu menunggu cerita dari author, semoga part ini ngak mengecewakan kalian ya guys, Salam sayang selalu I love u All
__ADS_1