
Bu Nita langsung menangis saat melihat keadaan Amanda, kali ini Amira juga masuk ke kedalam kamar.
"Amanda, kamu kenapa Nak?" tanya Bu Nita, dengan lirih, ia berusaha menahan air matanya.
"Amanda ngak apa-apa Bu, Amanda ingin pulang, Amanda ngak mau di rawat lagi," tuturnya sedih.
Tak lama dokter datang memeriksa keadaan Amanda.
"Bagaimana keadaanya dok?" tanya Dion kepada rekan sejawatnya.
"Menurut hasil lab, sel kanker kembali tumbuh, dan kali ini semakin ganas, bahkan kini sudah terjadi pembekakan kelenjar getah bening," papar dokter.
"Lalu tindakan apa yang terbaik untuknya ?" tanya Dion, untuk sementara kita ambil tindakan kemoterapi kembali, mengingat kanker ini sudah semakin ganas, maka harus segera di tindak lanjuti," paparnya.
"Oke terima kasih, penjelasanya dok, nanti kami kompromi dengan pihak keluarganya," tutur Dion.
Amanda menangis mendengar pemaparan dokter, begitu pun ibunya, mereka binggung dapat uang dari mana.
"Manda ngak mau bu, Manda mau pulang, Manda sudah siap jika kapan saja Tuhan mengambil nyawa Manda," tuturnya lirih.
"Ngak usah bicara seperti itu Nak, ibu akan usahakan apa saja, bahkan jika harus menjual rumah, satu-satu nya peninggalan papamu, untuk kesembuhan kamu," tutur Ibunya.
Dion melihat kearah Amira, ia heran sepertinya Amira habis menangis.
Ia pun mendekati istrinya, dan merangkul nya, tapi tangganya di tepis oleh Amira.
Dion heran dengan perlakuan istrinya.
"Amira mendekati Bu Nita, sudahlah Bu, untuk biaya biar saya yang menanggungya, ibu fokus saja dengan pengobatan Amanda, masalah biaya ibu selama di sini, nanti semuanya saya yang tanggung, ibu tak perlu kemana-mana, ibu jaga Amanda saja," tuturnya.
Amira melihat kearah Amanda, ia merasa iba, tapi entah kenapa ia juga merasa kecewa terhadapnya.
Ia pun berlalu dari ruangan itu, tanpa sepatah kata pun kepada Amanda.
Melihat tingkah tak biasa dari istrinya, Dion pun memutuskan kan untuk meninggalkan tempat itu.
"Bu, saya dan istri saya pamit dulu," ucapnya pada bu Nita, ia pun berjalan menghampiri istrinya.
"Bu, ibu kenapa ?" tanya Dion pada Amira, ia coba merangkul Amira tapi di tepis Amira kembali.
"Bu, ibu kenapa sih?" ayah salah apa Bu?"
Amira tetap diam seribu bahasa.
__ADS_1
Dion menarik tangan Amira, "Tunggu Cahaya, jelaskan dulu ada apa sebenarnya?" tanyanya sambil menahan tubuh Amira agar berhenti berjalan.
"Harus nya aku yang bertanya pada mu Dion, ada apa semua ini, ada hubungan apa sebenarnya antara kau dan Amanda?" tanyanya sambil melepaskan genggaman tangan Dion dengan kasar.
"Tak ada hubungan apa pun antara aku dan Amanda, Cahaya, aku hanya merasa iba terhadapnya, ia seperti orang yang sudah putus asa," papar Dion menjelaskan.
"Oh, kau kasihan terhadapnya, lalu apa yang akan kau lakukan Dion ? apa kau akan menikahinya Dion.?" tanya Amira pada Dion dengan tatapan mata tajam.
"Cahaya, kenapa kau sampai berpikir seperti itu, itu tak akan munggkin sayang," ujarnya dengan nada merendah, dan dengan kedua tanggan yang menahan bahu Amira agar ia tak pergi.
"Tak mungkin !!, itu sudah pernah terjadi, kenapa kau bisa bilang tak munggkin,"
perlahan air mata Amira menetes.
Dion semakin menahan Amira, ia semakin mencengram bahu Amira, "Dengar sayang, aku pastikan, apapun yang terjadi, aku tak kan mengulangi kesalahan itu lagi, aku hanya iba, dan kasihan padanya, aku memeluknya, aku hanya replek saja, tanpa bermaksud apa pun," tuturnya lagi.
"Tidak Dion, aku melihat ada yang aneh dari tatapan matanya terhadap mu, di depan ku, kalian seperti saling menghindar, seperti canggung, tapi di belakang ku kalian bisa berpelukan mesra seperti itu, kalian seperti sudah saling mengenal, tanpa rasa canggung sedikit pun, kau bilang padanya jika kau sayang padanya kan Dion?" tanya Amira sambil memukul-mukul dada Dion, ia pun menangis.
"Tidak sayang, percayalah Cahaya, hanya kamu yang aku cintai di dunia ini," ucapnya sambil memeluk Cahaya.
"Hanya kau yang mampu merubah semua sifat ku buruk ku, sikaf acu ku, sifat angkuh ku. sejak mengenal mu, aku seperti menjadi sosok baru, aku yang kaku, dan tak pernah peduli pada orang lain kini, bahkan dengan mudahnya menangis saat melihat wanita menangis, hanya kamu yang membuat ku nyaman, dan aku tak ingin yang lain lagi," ucapnya sambil
"Munafik !," ucapnya secara gamblang, iya pun memicingkan matanya.
"Kau dan Amanda, kalian sama-sama munafik," tegas nya, ia pun berlalu dari Dion sementara Dion tak tahu harus bagaimana lagi.
Amira tak bicara sedikit pun di dalam mobil, Dion juga tak berani memulai pembicaraan denganya, ia tahu kini temperamen istrinya tidak stabil, Cahaya bahkan sering memarahinya, tapi selama ini ia selalu mengalah, karna ia tahu, Amira mudah strees, dan tekanan darahnya cukup tinggi dan sangat berbahaya bagi ibu yang sedang mengandung.
Di kantor Amira dan Arkan, mereka sama-sama diam, sangat jarang terdengar pembicaraan keduanya, Amira memikirkan masalahnya, dan Arkan, ia masih tak habis fikir, bagaimana ia bisa meniduri seorang gadis yang ia tolong, perasaan bersalah menghantuinya, ia tak fokus, dan presentasi mereka undur, karna keduanya sedang badmood, Amira tak tahu masalah Arkan, begitu pun Arkan, tak mengetahui masalah yang menimpa Amira.
***
Setelah sholar isya, Dion pun berbaring di samping Amira, tapi Amira bangkit dan menarik bantalnya, ia pun keluar dari kamar itu.
"Cahaya? kau mau kemana?" tanya Dion panik saat melihat istrinya terkesan menghindarinya.
"Aku mau tidur di kamar Gea dan Geo," jawabnya santai.
Dion menarik tanggan Amira," Tunggu Cahaya, kau tak bisa lakukan ini," ucapnya.
"Dion, untuk sementara kita pisah ranjang, sebelum aku tahu kebenaran dari semua ini" tegasnya.
"Tapi kebenaran apa maksud mu?" tanya Dion.
__ADS_1
Amira menarik nafas panjang," Dion selama ini, aku selalu meninggalkan mu berdua saja dengan Amanda, aku tak tahu apa yang kalian lakukan selama aku tidak berada di rumah," ucapnya dengan emosi, ia pun berlalu dari Dion.
Dion tak bisa berkata apa-apa lagi, ia tak ingin memaksa Cahaya, semoga semua akan terungkap kebenaranya, jika aku dan Amanda memang tak ada hubungan apa pun.
Keesokan paginya,
Amira menyempatkan diri untuk membawa beberapa potong pakaian Amanda, dan akan membawanya ke rumah sakir, ia pun masuk ke kamar Amanda dan beberapa potong pakaian Amanda pun ia masukan ke dalam tas.
Saat menarik sehelai baju, tiba-tiba, Amira melihat buku harian milik Amanda.
Buku itu terjatuh, Amira meraihnya dan menggembalikanya ke tempat semula, ia pun menutup pintu lemari.
Dan saat melangkah ia menemukan selembar foto yang tercecer di buku harian, awalnya ia biasa saja, dan Amira langsung syok, karna ia melihat foto seseorang yang sangat ia kenali.
"Dion, ucapnya lirih, saking syoknya Amira pun bersandar pada dinding.
Di lihatnya sekali lagi ternyata benar, foto itu adalah foto Dion yang memakai seragam SMA.
Amira terpaku, berkali-kali ia menelan salivanya, mencoba menenang dirinya.
Apa yang sebenarnya terjadi, siapa sebenarnya Amanda, apa hubunganya ia dan Dion, kenapa Amanda bisa menyimpan foto masa lalu Dion.
Amira sudah menggeram, ia sudah tak mampu lagi membendung emosi nya, ia pun keluar dari kamar itu dengan wajah yang merah padam.
Dengan perasaan bercampur baur, ia pun menghampiri Dion.
"Apa semua ini Dion ?" tanya nya dengan penuh emosi, ia pun menunjukan selembar foto itu kepada Dion, saat melihat foto itu, mata Dion terbelalak karna kaget.
Please reader yang baik,
Like
komen dan
vote dong.
bunga juga boleh
Thanks.
Mampir juga dong di novel author yg lainya di jamin ngak nyesal deh, dengan judul ketika takdir menyatukan aku dan mereka.
__ADS_1