Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Menemukan mu


__ADS_3

...***Separuh langkah ku saat ini, berjalan tanpa terhenti, hidupku bagaikan kering nya dunia, tandus tak ada cinta....


...Hati ku mencari sampai kini, hingga ku temukan yang sejati, meski tlah lelah ku kan mencarinya, seorang yang ku cinta....


...Kini ku menemukan mu, di ujung waktu ku patah hati, lelah hati menunggu, cinta yang selamat kan hidup ku***...


Amanda masih berjalan dengan tatapan mata kosong, ia tak melihat jika seorang pria menatapnya aneh, pria itu adalah Arkan.


Arkan menoleh ke belakang, kemana gadis itu akan pergi.


Kenana gadis itu akan pergi? batin Arkan, ia penasaran, karna di lihatnya gadis itu seperti sedang putus asa, sama hal nya dengan dirinya saat ini.


Arkan ingin mengikutinya, karna ia khawatir terhadap gadis itu, tapi langkahnya seperti terhenti "Sudah lah aku juga tak tahu siapa dia" ia pun kembali kekamar 202, tempat di mana Amira berada.


Arkan kaget, ketika melihat Amira menangis memeluk seorang wanita yang juga menangis.


"Ada apa ini Mira?" tanya Arkan heran.


"Amanda, Kan, ia pergi entah kemana, ia melepaskan infusnya sendiri, aku takut terjadi sesuatu padanya, " papar Amira, sambil menangis.


"Tapi kenapa ia pergi, bukan kah itu sangat berbahaya baginya?" tanya Arkan lagi.


"Amanda putus asa Kan, saat dokter memvonis penyakitnya tak akan sembuh," papar Amira.


"Sekarang aku minta tolong pada mu, tolong cari Amanda, aku takut terjadi sesuatu padanya," tambah Amira lagi.


Arkan terdiam," Apa gadis yang ku temui di lantai bawah itu Amanda?"


"Ia Mira, aku tahu di mana ia berada."


Amira menoleh kearah Arkan.


"Dari mana kau tahu Kan?" tanya Amira lagi.


"Tadi saat aku menuju ke sini, aku melihat seorang gadis dengan tatapan mata yang kosong, gadis itu terus berjalan menuju suatu tempat, aku ingin mengikutinya, tapi aku takut ia salah paham." papar Arkan.


"Kalau begitu, cepat cari dia Kan," titah Amira.


Tanpa menunggu banyak waktu lagi, Arkan langsung menuju tempat terakhir ia bertemu dengan Amanda.


Sementara Amira masih menenangkan Bu Nita yang menangis karna syok.

__ADS_1


"Sudah Bu, pasti tak kan terjadi apa-apa pada Amanda," Amira pun mengambil botol air mineral dan memberinya kepada Bu Nita.


Bu Nita pun meminumnya.


"Ibu tenangya, ibu harus sabar, karna hanya ibu yang bisa menguatkan Amanda, jika ibu rapuh, maka pada siapa lagi Amanda akan bersandar," tutur Amira.


"Terima kasih Nak, ibu berhutang budi pada mu, dan hanya Tuhan yang mampu membalas nya," tutur nya kepada Amira.


Arkan berjalan cepat menuju sebuah lorong yang ada di rumah sakit itu, sepertinya di gadis itu berada di ujung lorong ini.


Tempat ini begitu sunyi dan sepi, tempat yang teduh, dan nyaman, namun juga terasa dinggin bagi Amanda.


Melihat ada sesosok gadis di ujung jalan, Arkan bisa memastikan bahwa dia adalah Amanda, gadis yang ia cari.


Arkan semakin mendekat dan melihat gadis itu berdiri sambil melepaskan sesuatu dari genggamanya yang ternyata adalah pasir.


Pasir tersebut seketika di terbangkan angin, saat tangan nya menumpahkan apa yang ada di genggamanya.


Arkan heran melihat apa yang di lakukan gadis itu, sepertinya gadis itu menangis, karna tubuhnya sedikit terguncang, suara tarikan nafasnya juga berat.


Arkan kini berdiri tepat di belakangnya, jarak mereka hanya beberapa inci, namun sepertinya gadis itu, tak menyadari kehadiranya, mungkin ia terlalu larut dalam rasa kecewa dan putus asa.


"Amanda," sapa Arkan, dari belakang.


Amanda kaget dan takut, ia pun mundur sedikit kearah belakang.


"Siiiaapa Kamu, kenapa kamu tahu aku berada di sini, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya bertubi-tubi, sambil menetralisir perasaan takut dan gugupnya saat itu.


"Tenanglah." Arkan sedikit mendekat.


"Aku saudaranya Amira, mereka mencari mu, kenapa kau tak berada di ruangan mu?" tanya Arkan.


Meski tak mengenal Arkan sebelum nya, tapi Amanda merasa bahwa lelaki yang ada di hadapanya itu berkata jujur.


Amanda diam, mereka pun sama-sama diam.


Arkan menatap lekat wajah gadis yang kini berada di hadapanya, kesan pertama yang ia dapat adalah, gadis itu cantik, meski wajah dan bibirnya terlihat pucat, tak ada lapisan lipstik sedikit pun di bibir indahnya, tak ada rona pada wajahnya, dan tak ada riasan apa pun pada wajah polosnya, tapi meski begitu, ia masih terlihat cantik, dengan alis yang terlukis sempurna, dan hidung yang tak terlalu mancung sangat simetris di wajahnya yang tak begitu tyrus, juga tak begitu bulat, wajah yang sempurna bagi seorang wanita, meski tanpa hiasan sedikit pun dan tanpa rona di wajahnya, ia masih terlihat jelita.


Sejenak mereka saling memperhatikan, angin yang berhembus kencang, meyapu lembut tubuh mereka, seketika Amanda merasa dingin.


Ia pun menakup kedua tanganya hingga telapak tangganya menyentuh leher, dengan seperti itu Amanda berharap ia akan merasa hangat, karna saat itu tak ada jaket atau pun sweter yang bisa membalutnya dengan hangat, bibirnya pun gemetar, serasa sekujur tubunya di sapu hawa dingin yang menembus tulang.

__ADS_1


Melihat keadaan Amanda, Arkan pun melepaskan jaket kulit yang ia kenakan dan memakaikanya ke tubuh Amanda.


Amanda hanya diam, ketika tanggan kekar Arkan, menyentuh kedua lenganya.


"Ayo Amanda kita pergi dari sini, sebentar lagi hujan akan menguyur tempat ini."


Mereka pun berjalan beriringan dengan lengan Arkan merentang di bagian pundak Amanda.


Amanda memperhatikan tanggan Arkan yang tetap berada di pundaknya, mereka berjalan beriringan, sehingga tak ada jarak antara mereka meski hanya beberapa inci.


Mereka pun menuju lift dan masuk ke dalam lift, setelah menekan angka 3 pada lift pada floor bottons.


Dan hanya ada mereka berdua di dalam lift itu, setelah panel menujukan lantai yang mereka tuju, pintu itu pun terbuka, dan dengan perlahan mereka melangkah kan kaki keluar dari tempat itu.


Baru beberapa saat berjalan, Amanda menghentikan langkahnya, nafasnya terasa sesak, dan saat itu ia pun batuk, Amanda menutup mulut nya dengan sapu tanggan, saat ia batuk sampai ia berhenti.


Terasa ada cairan keluar bersama dahagnya, ia pun melihat cairan apa yang terasa membasaihi sapu tanganya.


Amanda menyapu bersih semua yang keluar dari mulutnya, dan ia begitu kaget karna dahag yang ia sangka, adalah darah segar.


Tanggan Amanda gemetar dan seketika tubuhnya tumbang tak berdaya, kejadian itu begitu cepat, namun Arkan bisa merekam dengan jelas apa yang terjadi dengan Amanda.


Dengan sigap ia menyambar tubuh Amanda yang sudah lemas di pelukanya.


Amanda masih sadar saat tangan kekar Arkan menganggkat tubuh lemasnya, ia masih melihat rasa kekhawatiran Arkan, terhadapnya.


"Amanda apa kau masih sadar?" tanyanya sambil melihat ke wajah Amanda, kedua netra tersebut saling beradu, tanpa sadar kini mereka saling bertatap mata.


Mata sayu Amanda berada di manik mata Arkan, dan sebaliknya pula.


Sejenak mereka hanya diam, mungkin mencerna perasaan yang kini timbul secara perlahan.


Kemudian Arkan mengarahkan pandanganya kedepan, menatap jalan, dengan masih mengangkat tubuh Amanda menuju kamar nya.


*** Seventeen, menemukan mu.


please


🍇like


🍇komen

__ADS_1


🍇vote


hadiah juga boleh, salam sayang selalu dari author


__ADS_2