Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Kamulah jodoh ku


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah Amira, Amira pun membuka pintu mobil dan bergegas hendak turun, tapi di cegah oleh Dion.


"Tunggu tadi kamu bilang anak kamu demam ya? boleh aku periksa?". Dion menawarkan diri, karna ia sangat ingin melihat si kembar buah hatinya.


"Jika tidak merepotkan, boleh saja," jawab Amira.


"Seorang dokter memang tugasnya memeriksa pasienkan, masalah sembuh atau ngaknya, tergantung dari keputusan yang diatas," jawab Dion


Mereka pun turun dari mobil, tak lupa Dion menggunakan masker, untuk menyamarkan identitasnya.


Jantung Dion berdetak tak karuan, karna sebentar lagi ia akan bertemu buah hati yang selalu ia rindukan.


Setelah masuk kedalam rumah, mereka langsung menuju kamar Gea dan Geo, dan Dion begitu terharu saat melihat kedua anak kembarnya, yang sangat lucu dan menggemaskan, pipi mereka merah seperti buah tomat, Dion berusaha mengendalikan dirinya, agar penyamaran nya tak di ketahui oleh Amira.


"Ibu" keduanya memanggil secara berrsamaan, Amira pun mendekat dan memeluk mereka, melihat semua itu, Dion sampai menetes air matanya, lalu dengan cepat ia menghapusnya.


Dion mendekati mereka, dan membuka masker yang menutup hidung dan mulutnya.


"Ibu siapa Om itu?" tanya Gea.


"Itu Om dokter yang akan memeriksa kalian berdua," jawab Amira.


Dion kemudian mendekati mereka.


"Hai nama nya siapa?" tanya Dion.


"Gea, aku Geo," ucapnya berbarengan.


"Om siapa namanya?" tanya Gea.


"Panggil saja Om dokter, mari Om periksa ya." Dion pun mengeluar kan stetoskopnya dan memeriksa bagian dada Gea dan Geo.


"Ngak apa apa Kok, mungkin Gea dan Geo hanya kelelahan, lagi pula cuaca di indonesia kan panas, berbeda dengan di Jerman."


"Oh begitu ya Om," balasnya


"Om dokter, om dokter ganteng deh kayak artis korea , kalau Gea sudah besar, Om dokter mau ngak jadi pacar Gea, seperti film yang di tonton Bi atun, mereka pacaran, trus nikah dan punya anak,"ungkapnya dengan polos.


Dion semakin gemes dengan kata-kata yang keluar dari mulut munggil Gea.


"Wah kalau Gea sudah besar, Om dokter sudah tua, pantesnya Om dokter jadi Ayah Gea saja ya." tuturnya sambil tersenyum kearah Amira.


"Bener Om dokter mau jadi Ayah Gea dan Geo?" tanya Gea, semangat.

__ADS_1


"Ya itu tergantung sama Ibu," Dion kembali melirik Amira, yang tersipu malu mendengar ucapan Dion.


"Om dokter kasi obat perunun panas ya, obatnya di minum, dan istirahat yang banyak, kalian pasti lelah," ia pun memberi obat penurun panas.


"Periksa udah, obatnya juga sudah Om dokter berikan, sekarang boleh dong Om dokter minta bayaranya," canda Dion.


Gea kemudian mengeluarkan beberapa lembar mata uang German dari dalam tas Amira, kemudian Gea memberikannya pada Dion.


"Segini cukup ngak Om?" tanyanya polos.


Dion tertawa renyah melihat tinggkah polos anaknya, "Tapi Om dokter ngak mau di bayar pakai uang, Om dokter mau nya di bayar pakai ini." Dion menunjukan pipinya minta di cium sama Gea dan Geo.


Gea pun mencium pipi kanan Dion, dan Geo mencium pipi kirinya, dan di balas Dion dengan mencium kedua kening putra-putrinya itu.


Dion begitu terharu, perlahan air mata mulai menetes di pipinya, namun segera ia hapus.


"Sekarang kalian istirahat ya, Om dokter harus segera pulang," ucapnya.


Dion segera ingin mempercepat kepulangannya, karna semakin lama berada di sana, ia rasanya tak sanggup membendung perasaanya.


Ia pun pamit dan undur diri dari Amira," Aku permisi ya," ucapnya lirih karna menahan air matanya.


"Terima kasih ya pak dokter", balasnya, dan Dion pun hanya tersenyum ke arah Amira.


Sepanjang perjalan pulang, Dion pun menitikan air matanya, ia begitu menyesali, karna banyak momen berharga yang ia lewatkan selama beberapa tahun belakangan ini, dari kelahiran anaknya, hingga hari-hari yang mereka lalui tanpa kasih sayang seorang ayah, Dion bahkan tak pernah melihat bagai mana pertama kalinya mereka belajar berjalan, bagaimana pertama kalinya mereka belajar bicara, tentu saja momen seperti itu tak kan pernah terulang kembali, sejenak Dion larut dalam kesedihanya.


Setelah bertemu kedua anaknya, Dion merasa hidupnya bergairah kembali, senyum selalu terlukis di wajahnya kini, tak ada lagi wajah yang sendu dan murung. begitu pun Amira, menggingat pria yang baru di kenalnya, ia pun sering melamun dan terkadang senyum-senyum sendiri.


Keesokan harinya, Amira kembali membesuk Bapaknya di rumah sakit, saat ia berjalan menuju pintu masuk bangsal, tiba-tiba ia di kagetkan oleh seorang pria yang memberi nya sekuntum mawar, dan secarik kertas bertuliskan i miss you, dan dengan beberapa digit nomor.


Pria tersebut langsung menghadang Amira, kemudian memberi nya sekuntum mawar.


Dengam perasaan yang bercampur baur, antara senang, malu dan binggung, Amira pun meraih sekuntum mawar itu.


"Dokter," sapa Amira, ia pun menerima mawar tersebut dengan senyum bahagianya.


"Aku tunggu makan siang ya, tentukan saja di mana tempatnya, dan kirim di nomor yang tertera di kertas itu," ucap Dion, ia pun berlalu, ternyata nomor tersebut adalah nomor hand phonenya.


Mendapat setangkai mawar merah di pagi hari, hati Amira begitu bahagia," Hm, dokter itu pria yang romantis," katanya pada diri sendiri, ia pun berlalu.


Amira sudah menentukan tempat di mana mereka akan makan siang, ia sudah menunggu di kantin rumah sakit, Amira jugu tak tahu kenapa ia tertarik pada sosok dokter muda yang baru saja ia temui, bahkan ia tak tahu siapa nama panjang dokter itu, Amira pun tersenyum sendiri, kini ia seperti remaja yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.


Tak berapa lama, Dion pun tiba masih dengan kemeja biru muda dan Jas putih, Gea memang benar, Dokter itu memang tampan, seperti artis korea yang sering di toton bi atun.

__ADS_1


Dokter muda dengan sejuta pesonanya, kini membuat Amira berani untuk membuka diri.


Dion sudah tiba di tempat yang di janjikan, Amira sudah memesan nasi uduk dan Ayam bakar, sudah lama sekali ia tak mencicipi makanan itu, sejak ia tinggal di Jerman.


Dion masih mengenakan jas putih dan name tag bertuliskan dr. Reziq D Putra, ia pun duduk di hadapan Amira.


Amira membaca tanda pengenal itu, ada sesuatu yang ingin ia tanyakan saat membaca name tag teresebut.


"Dokter, Singkatan hurup D, pada nama dokter itu apa sih?" tanya nya iseng.


"Hurup D? hurup D itu singkangkatan dari Di hati, di hati aku, ke hati kamu," jawab nya asal,ia pun tersenyum geli


Setelah sekian lama membungkam mulutnya, ternyata dengan sendirinya Dion bisa bucin, terhadap orang yang di cintainya, itu lah mengapa sosoknya, sangat berbeda dengan Dion yang dulu.


"Ah dokter bisa aja," Amira kembali tersipu malu dengan jawaban spontanitas dari Dion.


Sambil menunggu hidangan, mereka pun ngobrol santai, setelah dua hari bertemu dan berdekatan, tak pernah sekali pun dokter itu menanyakan nama ku, tanya nya dalam hati, akhirnya karna tak tahu harus bicara apa lagi, ia pun bertanya tentang hal itu kepada orang yang ada di hadapanya.


"Dokter, kok dokter ngak pernah nanyak sih tentang namaku?" tanya iseng nya.


"Ngak lah, kalau kita menyukai seseorang, kita tak mesti tahu siapa nama nya," jawab nya santai.


"Trus dokter mau panggil aku apa kalau ngak tahu namaku?" tanya Amira lagi.


"Mulai dari detik ini, sampai selamanya aku akan panggil kamu sayang," jawab Dion spontan tapi terdengar tulus dari hatinya.


Lagi - lagi Amira tak bisa memnyembunyi kan perasaanya, ia kembali tersipu malu, senyum yang ia sembunyikan dengan menunduk, mendengar kata-kata bucin dari sang dokter.


Dion juga tak mengerti kenapa ia spontanitas seperti itu, padahal ia bukan type seorang yang suka merayu atau bersikaf bucin.


"Dokter dulu kuliah belajar apa sih? apa ada mata kualiah cara nenjadi dokter bucin," tanya Amira bercanda.


"Ngak ada, semuanya mengalir begitu saja, mungkin karna kamu lah jodoh ku," jawabnya santai, namun ia sendiri tak percaya, kata-kata itu bisa keluar begitu saja dari mulutnya.


Kembali lagi Amira di buat tersanjung oleh kata-kata Dion.


"Sudah ah ngobrolnya, kita makan dulu, kelamaan ngobrol, nanti aku ngak bisa makan" ucap Amira.


"Kenapa memangnya ?" tanya Dion.


"Sebab kelamaan ngobrol sama dokter, aku bisa keduluan terbang," jawabnya.


Mereka pun kembali tertawa bersama, suasana yang tak pernah di rasakan keduanya setelah perpisahan mereka.

__ADS_1


Selama perpisahan terjadi, baik Dion atau pun Amira tak pernah tertawa selepas itu, dan mereka tak pernah merasa sebahagia seperti saat ini, karna Amira tak tahu, jika Seseorang yang di hadapanya adalah orang yang menorehkan luka yang paling dalam di hatinya.


Selesai makan siang, mereka pun jalan beriringan, senyum tak pernah lepas di wajah keduanya, pandangan mata Dion, hanya tertuju pada Amira, meski sesekali ia memandang kearah depan, rasa bahagia itu begitu kentara, hingga mampu mengubah keadaan sekelilingnya, berapa banyak pasang mata yang heran melihat perubahan sikaf Dion, dari seseorang yang terlihat sombong dan dingin, menjadi sosok yang ramah dan hangat, beberapa di antara mereka juga patah hati karna cemburu melihat kedekatan keduanya, mereka terus berjalan, seolah dunia hanya milik berdua, Dion pun mengantar Amira menuju ruang perawatan Ayahnya, kemudian ia kembali menjalani tugas nya sebagai dokter di ruangan UGD.


__ADS_2