Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Setitik asa si kecil Gea


__ADS_3

Setelah melakukan kemoterapi, keadaan Amanda bukan makin membaik, malah semakin memburuk.


Selain muntah-muntah, ia pun merasakan sakit pada sekujur tubuh nya, kulitnya tubuhnya nya mengering, ia pun mengalami kerontokan pada rambut nya.


Melihat wajah nya di cermin, Amanda menangis sejadi-jadinya, wajah cantiknya yang dulu, kini berubah seperti monster menurutnya, karna ada lingkaran hitam yang terlihat tegas bawah matanya, sementara wajahnya terlihat pucat.


Amanda terbaring di atas tempat tidurnya, penyakitnya kini semakin lama semakin terasa menyiksa nya.


Amanda kembali kehilangan semangat nya, melihat apa yang terjadi pada dirinya kini, ia semakin ingin mempercepat kematiannya.


***


Amira duduk di atas tempat tidur di rumah sakit, entah apa yang ia rasakan saat ini, hingga matanya sulit untuk terpejam, meski hari telah larut malam, ada perasaan rindu di hatinya untuk bertemu dengan Dion.


Amanda pun meraih ponselnya, ia pun membuka foto-foto kemestraan mereka saat liburan, betapa mereka merasa bahagia, saat berkumpul bersama dalam satu keluarga.


Arkan memang benar, semakin di ingkari, perasaan ini semakin menyiksanya saja, jika memang ia tak mencintai Dion, kenapa sampai saat ini hatinya belum juga terisi, jika memang ia tak mencintai Dion, kenapa ia begitu cemburu, saat Dion bersama dengan wanita lain.


Amira meneteskan air matanya, melihat betapa bahagianya ia dan anak-anak mereka, saat bersama dengan Dion.


Kini hatinya begitu rindu untuk mengulang kenangan manis itu.


Tanpa sadar Amira menyentuh nomor kontak Dion, dan ia kini sedang melakukan panggilan.


"Hallo, Assalammualaikum," sapa Dion.


Tapi tak ada jawaban dari seberang, karna Amira tak menyadari telpon nya kini sudah tersambung.


"Hallo Cahaya ada apa?" tanya Dion.


Amira pun baru sadar, ternyata ia kini berada dalam sambungan telpon.


Amira pun merasa grogi karna ia sendiri tak tahu harus berkata apa.


"Cahaya apa kau di sana?" tanya Dion.


"Eh, aku hanya salah sambung Dion," ucapnya dengan gugup.


"Ya sudah aku tutup saja."


"Eh tunggu Dion, besok aku minta tolong kau untuk menjemput Gea dan Geo dari sekolah, dan kau boleh membawanya menginap di rumah di rumah mu, selama aku di rumah sakit."


"Ia baiklah," jawab Dion singkat.


"Assalamua'lakum," Dion menutup sambungan telpon nya.


"Wa'alakum sallam" jawabnya.

__ADS_1


Amira sedikit kecewa, karna tak ada sedikit pun Dion menanyakan keadaanya.


Tapi Amira sudah merasa tenang, meski sebentar bicara padanya, rindu pun sedikit terobati.


Sekarang rasanya ia bisa tidur dengan tenang.


Pagi harinya,


"Pagi dokter Razieq," sapa dokter Diah.


"Pagi juga dokter, "jawab Dion.


"Oh ya dokter, aku mendapat undangan dari forum peduli dan tanggap bencana, dua minggu lagi, bisa kah dokter juga hadir bersama ku di sana, untuk mewakili tenaga kesehantan."


"Undangan, boleh juga dokter, apa lagi kalau undangan makan malam romantis, pastinya aku mau banget", tutur nya dengan nada bercanda.


"ehm, " Dion berpikir sejenak.


"Boleh juga tuh, makan malam bersama, tapi ngak yang romantis ya, soalnya aku bukan orang yang romantis," jawab Dion.


"Ngak masalah, yang penting malam minggu ini aku ngak melewatinya seorang diri lagi dokter," dokter Diah sedikit tersipu, malu malu kucing.


"Kalau malam minggu, biasanya pasien di tempat praktek mandiri ku, ramai dokter, asal mau sabar saja menunggu sampai aku selesai pratek boleh saja, tapi jika ngak, minggu malam saja." Dion.


"Minggu malam aku piket di sini dokter, ngak apa deh makan malamnya menunggu dokter selesai praktek saja, aku orangnya sabar kok dok, sekalian saja aku bantu periksa pasienya, biar cepat selesai," dokter Diah.


"Ok kalau gitu deal, malam minggu nanti aku jemput dokter ya." dokter Diah.


Dion hanya mengancungkan jempol.


"Eh, dokter sudah mau pulang kok buru-buru?" tanya dokter Diah, ketika melihat Dion mengemasi barangnya.


"Aku mau jemput anak ku sekolah, takut terlambat."


" Ah " dokter Diah kaget," Dokter sudah punya anak, bearti sudah punya istri? Dan sekarang anak dokter sudah sekolah, kapan kawinya?" tanyanya binggung.


Dokter Diah tak menyangka ternyata Dion, benar-benar sudah menikah, ia pikir dokter tersebut hanya bercanda saat ia bilang padanya menunggu istrinya, dokter Diah pikir maksud istri yang dibilang dokter Rezia kemaren, hanya sebatas pacar atau tunanganya saja.


Dion tersenyum mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari dokter Diah.


"Punya anak ngak mesti punya istri kan dokter, kalau aku punya istri, ya ngak mungkin lah aku mau di ajak makan malam bersama dokter," paparnya.


"Jadi udah duda nih? " tanya nya lagi.


Dion hanya menggangguk dan berlalu.


"Yes. akhirnya aku punya kesempantan untuk mendekati dokter Reziq, dokter Rezieq i am coming," katanya pada diri sendiri, dokter Diah pun merasa bahagia karna punya kesempatan untuk mendekati dokter ganteng yang selalu jadi buah bibir penghuni rumah sakit itu.

__ADS_1


Dion langsung menuju sekolah Gea dan Geo, kedatangan nya langsung di sambut bahagia oleh kedua anaknya.


"Ayah!!!! "panggil mereka ketika melihat Dion.


Dion begitu kaget ketika mendengar kedua anaknya tersebut, memanggilnya dengan sebutan Ayah.


Ia pun langsung merentang kan tanggan saat keduanya menghampirinya, kemudian Dion memeluk dan mencium kedua buah hati nya, Dion senang karna mereka sudah tahu bahwa Dion adalah Ayah kandung nya.


"Ayah kok Ayah baru jemput sekarang, Gea kan kangen sama Ayah," tutur Gea dengan manja di pelukan Dion.


"Ia Geo juga," tambah Geo.


"Ayah kok ayah ngak bilang kalau om dokter itu ayah Gea, " tanya Gea.


"Ayah juga baru tahu kalau Gea dan Geo anak Ayah," jawab nya ngeles.


"Emang siapa yang beri tahu Gea sama Geo, tentang hal itu?"


"Ibu, " jawab mereka serempak.


Mendengar jawaban dari anak-anaknya Dion merasa senang, meski mereka berpisah, Dion sangat berharap ia dan Cahaya bisa jadi patner yang baik bagi kedua anak-anak mereka.


"Ya sudah kita pulang ya, Oma pasti sudah menunggu kalian," ia pun menggendong Gea dan memimpin tanggan Geo.


Meski Gea yang lahir terlebih dahulu dari Geo, tapi Gea lebih manja dan Geo malah lebih cuek.


"Ayah, nanti kita jenguk ibu di rumah sakit ya, " pinta Gea.


Mendengar permintaan Gea, Dion baru ingat, sudah tiga hari Cahaya di rumah sakit, tapi tak pernah sekali pun ia menjenguknya, bukan nya Dion sudah tak cinta lagi, justru rasa cinta itu masih ada dan tak pudar sedikit pun, makanya ia ngak mau terlalu dekat dengan Cahaya, meski sulit, tapi Dion berusaha melupakanya pelan-pelan, dan untuk sementara waktu, ia menghindari kontak langsung dengan Cahaya.


"Ia sayang, nanti Ayah antar Gea dan Geo ya."


"Ayah, ayah udah putus ya sama ibu? katanya Ayah mau nikahin ibu, kok sekarang ibu mau nikah dengan orang lain sih Yah ?" tanya Gea dengan polos.


"Apa Ibu mau nikah dengan orang lain?" tanya Dion kaget.


"Ia kata oma begitu, Yah."


"Katanya kalau Ibu nikah sama om itu, Oma ngak bolehin Gea dan Geo ikut Ibu, atau pun ikut Ayah, Gea dan Geo harus ikut Oma, biar Oma ada temanya," tambah Gea kembali.


"Gea ngak mau Yah, Gea cuma mau Ibu nikahnya sama Ayah, jadi Gea dan Geo bisa ikut Ibu dan Ayah," ucapnya lirih, terdengar vibrasi kesedihan pada penuturan Gea.


Dion sampai meneteskan air matanya, harapan seorang anak hanya ingin mempunyai keluarga yang utuh, tanpa ia harus memilih, antara ikut Ayah atau pun Ibu nya, semua itu tak kan terjadi jika seandainya mereka bersatu dalam satu keluarga, anak-anaknya tak perlu memilih untuk ikut ayah atau ibu mereka, karna keluarga baru yang masing-masing mereka bangun nantinya, belum tentu memberi dampak kebahagian bagi mereka, malahan anak-anak yang berasal dari keluarga broken home, mereka lebih sensitif karna terjadi ketimpangan kasih sayang, mereka tak mendapat kasih sayang secara utuh. Jauh di lubuk hati mereka, mereka juga pasti akan terluka, Di balik semua itu, Dion pun menyadari kebahagian anaknya adalah prioritas utama, jauh di bawah gengsi dan sikaf egoisnya, selama cahaya belum menikah, masih ada kesempatan baginya untuk membina rumah tangga kembali bersama Cahaya, demi anak-anak mereka.


Please like komen dan vote ya reader, kalau bukan reader siapa lagi yang bikin author semangat nulisnya, sampai harus bergadang mikir dan nulis sekaligus, mengingat kesibukan author di dunia nyata ( he he curhat jadinya)


Mampir juga di di novel author yang lainya dengan judul: Ketika takdir menyatukan aku dan mereka.

__ADS_1



__ADS_2