
***Cinta mu senyaman mentari pagi,
Seperti pelangi, slalu ku nanti,
Cinta mu tak akan pernah terganti,
Selamanya di hati, aku bahagia miliki mu seutuh nya.***
Mereka masih menikmati detik-detik ke bersamaan mereka kembali.
Dengan sapuan lembut Dion pada bagian kepala, serta suara irama jantung dan helaan nafas Dion, membuat Amira merasa relax kembali.
"Cahaya, bisa aku minta KTP mu, "
"Untuk apa Dion?"
"Aku mau daftar ke KUA, secepatnya."
Amira kaget, ia pun menghempas nafas beratnya.
"Entalah Dion aku masih binggung, keluarga ku meminta ku untuk menikah dengan Raihan, untuk memenuhi wasiat bapak ku."papar Amira.
"Aku tahu itu, makanya aku ingin segera mendaftarkan pernikahan kita, biar ngak keduluan sama Raihan," ujarnya dengan santai.
"Menikah? Siapa yang mau menikah dengan mu?" balas Amira dengan bercanda.
"Kau masih juga memungkirinya, di hati mu itu cuma ada satu cinta, meski untuk dua nama." tambah Dion.
Amira menarik tubuhnya agar duduk dengan tegak di samping Dion, "Maksud mu apa, satu cinta dua nama?" tanya Amira tak mengerti.
"Itu artinya cinta mu hanya untuk ku sayang, meski aku menjadi Dion atau dokter Reziq tetap saja kau mencintai orang yang sama, hati tak bisa berbohong Cahaya, meski mata tak mengenali dan bibir terus mengingkari, kau tak bisa lari dariku" tutur nya tersenyum bangga.
"Aku tahu itu Dion, tapi cinta tak harus memiliki kan?"
"Cahaya kita pernah mengalami situasi seperti ini, dan kita bisa melaluinya jika saja kita bersama."
"Cahaya, jika bukan kita yang memperjuangkan cinta kita, siapa lagi Cahaya, ini semua untuk kebahagia kita bersama, kau dan aku, dan anak-anak kita."
"Berjuang? susah payang berjuang hingga aku hampir mati mempertahan keyakinan ku terhadapmu, menentang tradisi keluargaku, di tinggal pergi saat hamil demi mengejar cita-citamu, tapi apa yang ku dapatkan Dion, hanya kekecewaan dan pengkhiatan dari mu," masih dengan vibrasi kecewa.
"Bahkan aku tak mudah bangkit setelah itu, sampai sekarang perasaan itu masih ada, aku masih trauma."
"Dan jangan pernah menyalahkan ku, jika aku memilih Raihan."
"Aku tahu Raihan juga orang yang tulus Dion."
"Kali ini biar aku yang membuktikan nya, aku janji, kau tak perlu berkorban apa pun, apalagi sampai terluka," ujarnya meyakinkan Amira.
"Tapi kenapa kau masih menunggu ku Dion, harusnya kau bisa memilih wanita yang lebih baik dari ku, kau tahu kan jika semua akan menjadi rumit, jika kita masih bertahan, sudalah Dion, biarkan saja semua mengalir apa adanya, tak perlu di paksakan, aku juga sudah lelah, menghadapi semua ini, aku ingin ketenangan, karna sesungguhnya jiwa ku tlah lelah, aku tak ingin berfikir lagi Dion, kalau kau mau memperjuangkannya, lakukan saja, aku tak melarang mu,"papa Amira.
__ADS_1
"Ia Cahaya, kau tak perlu berkorban apa pun, biar aku yang melakukan semua ini, kau hanya duduk manis menunggu ku, biar aku yang berusaha," timpal Dion.
Amira hanya tersenyum menganggukan kepala.
Setelah lelah bermain mereka pun langsung pulang, karna saat itu hari juga sudah sore.
Sesampainya di depan rumah, Amira kaget karna ada beberapa mobil didepan rumahnya.
"Ada apa Cahaya, kok sepertinya ada acara di rumah mu?" tanya Dion.
"Entalah Dion aku juga tak tahu, ya sudah aku turun saja, kau langsung pulang saja, aku tak mau, Oma melihat mu, akan ada keributan lagi di sana."
"Sayang, sini KTP kamu, besok aku langsung daftar ke KUA." pinta Dion.
"Hah kamu serius Dion?" tanyanya Ragu.
"Serius lah, mungkin emang sudah takdirnya kali, aku dan Mas Raihan berebut cinta, dan sudah takdirnya juga, kali ini ia akan kembali kalah," tutur Dion yakin.
"Tau ah, terserah kamu, ni KTP aku, kalau sudah selesai di kembaliin ya, siapa tahu Raihan juga butuh," ujar Amira santai.
"Ayo sayang kita turun," ajak Amira kepada Gea dan Geo.
"Iya Bu, " sahut mereka.
"Eh, sebelum turun, cium Ayah dulu dong."
Cup..cup...keduanya mencium Dion.
"Ngak, ntar saja, kalau sudah halal lagi," balas nya sambil tersenyum ke arah Dion.
Dion pun pergi dari tempat itu.
Amira masuk kedalam rumah, dan di lihatnya ada Raihan dan beberapa orang keluarganya.
"Amira kamu dari mana saja?" tanya Oma.
"Dari Mall Oma, bawa Gea dan Geo jalan-jalan."
"Oma kan sudah pesan sama Arkan, pulang kerja langsung pulang, kamu ngak pulang, Arkan juga belum pulang, kalian bagaimana sih," Oma semakin ngomel.
"Arkan juga belum pulang Oma?" tanya Amira heran.
"Sudah kamu duduk, acara lamarannya segera di mulai."
"Gea dan Geo, kalian masuk kamar, ini urusan orang dewasa, jadi kalian ngak boleh ada di sini," kata Oma kepada Gea dan Geo.
"Atun, kamu urus mereka, jangan sampai mereka keluar kamar sebelum acara selesai," titah Oma kepada Atun.
"Iya nyonya," ia pun membawa Gea dan Geo.
__ADS_1
Oma sengaja menyuruh mereka masuk kekamar, karna bukan tak mungkin, Gea bisa merusak acara lamaran tersebut, jika ia tahu ibunya akan di nikahkan dengan orang lain, karna saat Gea tahu ibunya menerima lamaran Revan, Gea lah yang paling banyak protes, ia sampai mengancam Oma untuk bunuh diri, sungguh Gea itu masih kecil, tapi dia itu bisa berdampak besar, batin sang Oma, meski cicitnya itu bukan berdarah biru seperti ia dan keluarganya, namun Oma sangat menyayangi Gea dan Geo.
...** Resah hati ini tanpanya, memikirkan dia, slalu tentang dia, yang memberikan indah nya cinta, untuk ku miliki menggenggam erat tangannya, sampai waktu yang memisahkan semua....
Hari sudah menunjukan pukul sepuluh malam, tapi Amira belum memejamkan matanya, ia merasa resah, selalu terpikir akan Dion, dan hanya tentang Dion.
Bahkan ia tak memusingkan lamaran yang baru saja terjadi di rumah itu, mereka sudah menentukan hari, mahar dan pesta yang akan di gelar nantinya, tanpa menanyakan sedikit pun pendapat Amira,
Lalu apa gunanya mereka menunggu ku, jika tak sedikit pun mereka meminta persetujuan atau pun pendapatku, batin Amira.
Amira sudah letih, baik jiwa atau raganya, hatinya kini seperti ruang kosong, siapa saja bisa mengisinya, namun ada sebuah ruang di lubuk hatinya dan tak pernah di isi oleh yang lain, karna nama itu tepatri abadi di sana, nama itu adalah Dion, semurni jiwa yang baru terlahir ke dunia, semurni itulah cintanya, nama itu tetap saja ada disana, meski ia telah berlari sejauh apapun.
Amira menghempaskan nafas beratnya, ia coba mengatur kembali irama detak jantungnya, kini ia sendiri takut untuk menghadapi hari esok di kehidupanya.
Lamunanya terhenti ketika ia mendengar, suara ketukan pelan pintu kamarnya, Amira sudah tahu, hanya seseorang yang suka menyelinap di kamarnya malam-malam seperti ini.
Dengan langkah gontai Amira membuka pintu kamarnya dan ternyata benar," "Arkan, kamu baru pulang Ya?" tanya Amira kesal.
Dengan nyengir kuda, ia pun masuk ke kamar tanpa di perintah.
"Ngapain kamu kesini, gangguin aku saja, dari mana pulang kantor sampai jam segini." Amira terus ngomel, tapi Arkan santai, dan dengan santai nya ia duduk di atas tempat tidur Amira.
"Kamu tenang dulu, dengarin penjelasan aku, aku tuh sengaja ngak pulang, saat acara lamaran kamu."
"Trus kenapa?"
"Amira aku hanya menghindar, agar Oma tak meminta nomor Ayah ku," paparnya.
"Loh apa hubunganya dengan acara lamaran itu Arkan?" tanya Amira kesal.
"Amira, setelah Bapakmu meninggal, hanya Ayah ku yang bisa menjadi wali nikah mu," paparnya.
"Tadi aku menemui Dion, aku diskusi sama dia, tetantang pernikahan mu dengan Raihan."
"Trus?"Amira penasaran.
"Aku dan Dion berencana membawa mu ke Jerman, agar kalian bisa menikah di sana, setelah kalian kembali dari Jerman, baru kalian akan menikah resmi di sini," papar Arkan.
"Apa? maksud mu kawin lari?" tanya Amira emosi.
"Mira, hanya itu cara satu-satu nya, agar kau bisa rujuk dengan Dion, kau tahu sendiri dengan Oma, jika kau tak jadi menikah dengan Raihan pun, maka ia tak kan pernah menyetujui hubungan mu dengan Dion."
"Ingat Amira, Oma tetap lah Oma, ia tetap akan keras kepala, apa lagi kini tak ada Bapakmu yang bisa membujuknya, jadi hanya ada dua pilihan untuk mu, menikah dengan Raihan atau kawin lari dengan Dion."
"Ah, bisa ngak sih sekali-kali kasi aku pilihan yang enak, biar kepala ku ngak pusing," tutur Amira yang memegang kepalanya, karna sejak kecelakaan itu, Amira seolah kehilangan kecerdasanya untuk berpikir, ia bahkan tak bisa konsentrasi, karna selalu merasa pusing apabila ia coba berpikir.
Amira merebahkan tubuhnya dan menarik selimut nya, "Arkan jika sudah selesai, kau tutup pintu kamar ku, aku sudah tak mampu berfikir lagi, kau urus saja, yang menurut mu baik," ucapnya ia pun memejamkan mata dan seketika itu terlelap.
"Amira, Amira, aku belum selesai bicaranya."Arkan membangunkan Amira, tapi saat di lihatnya wajah Amira terlihat letih, ia pun pergi dari kamar Amira.
__ADS_1
*** Nyaman, Andmes.
** memikirkan dia, Seventeen.