
Arkan Satria Prawito
Aku dan Amira di besarkan dalam satu rumah, Ayah ku dan Ayahnya bersaudara.
Sejak kecil, aku memang sudah menyukainya, hanya saja aku tak tahu perasaan itu, namun setelah SMP, aku menyadari bahwa aku menyukai Amira.
Aku sering menyelinap ke kamarnya saat Amira tidur, aku pun mencium kening nya Amira yang kala itu masih Anak ingusan.
Hampir sepuluh tahun berpisah dengan Amira, karna mengikuti Ayah ku pindah ke German, Aku pun melanjutkan sekolah dan kuliah ku di sana.
Lima tahun lalu, Aku kembali bertemu dengan Amira, aku sudah mendengar banyak hal yang terjadi pada nya, aku pun semakin iba, melihat penderitaanya rasa cinta itu tumbuh kembali, namun lagi-lagi rasa itu tak pernah berbalas, karna di hatinya hanya ada satu cinta, dan hanya untuk Dion, lelaki yang membuatnya kecewa, meski di bibir selalu berkata benci, tapi aku tahu ia sangat mencintai Dion.
Amira gadis yang kuat, yang mandiri, ia tak suka bergantung dengan orang lain, itulah salah satu alasan ku menyukainya.
Meski beberapa kali di jodohkan aku sekalu menolak perjodohan itu, aku ingin memilih sendiri pasangan hidup ku.
__ADS_1
Setelah lama tak merasakan indahnya jatuh cinta, sosok wanita membuat ku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Saat melihatnya, jantungku berdetak, senyum selalu terkembang di bibir ku, meski saat itu kami sedang berduka.
Dokter Diah, hanya itu yang ku tahu dari nya, aku meminta sendiri nomor handphonenya, dan dari sinilah kisah cinta ini di mulai.
Diah Angreini,
Sudah lama aku menyukai seorang dokter muda dan tampan, Dokter Reziq, meski sikafnya sekalu dingin dan acuh, tapi aku tahu dia orang yang baik, apalagi terhadap pasienya.
Bagiku dokter Reziq sebuah misteri, karna ia sangat jarang bicara, jarang tersenyum, tak ada orang yang terlalu dekat dengannya, baik pria maupun wanita.
Tak ada apapun terkecuali fotonya dengan hastag Masih menunggu, hampir di setiap postinganya.
Angin apa yang membuatnya mengajak ku ke sebuah undangan pagi itu, dengan perasaan sejuta bahagia aku pun menerima nya.
__ADS_1
Lagi -lagi aku memberanikan diri untuk mengundangan makan malam, dan tak kusangka ia pun setuju.
Bunga-bunga indah bermekaran di hati ku kala itu, apalagi sepertinya ia mulai membuka diri, dengan menyatakan statusnya seorang dudu.
Aku sangat bahagia dan berharap bisa jadi pengisi hatinya.
Malam minggu ini kami janjian untuk makan malam, namun ia mendapat berita buruk Ayah dari mantan istrinya meninggal.
Dari pada makan malam ku gagal, aku pun berinisiatif mengikutinya tahlilan, sekalian aku ingin melihat mantan istri dari sang dokter yang banyak di idolakan itu.
Tapi Di sana aku malah merasa tersinggung atas ucapan gadis munggil yang menyebutku pelakor, ya gadis itu adalah anak dari dokter Reziq, ia sepertinya tak ingin ada orang lain yang masuk dalam kehidupan orang tuanya, aku pun mengerti perasaan gadis itu, aku juga sama sepertinya, saat orang tua ku berpisah.
Aku pun mundur dengan perlahan, tak ingin lagi berharap pada dokter Rezia, apalagi aku merasa dokter Rezia masih mencintai istrinya.
Malam itu juga aku berkenalan dengan Arkan, Pria itu langsung menelpon ku tak lama setelah aku meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
Aku tak menyangka, saat itu juga ia menyatakan cintanya.
Arkan, pria yang ganteng, dengan postur tubuh yang ideal, kini aku coba mengalih kan perasaanku terhadapnya, karna kini aku juga menyukainya, patah hati dan jatuh cinta terjadi pada satu malam ini.