
"Mau kah kau menikahi Amanda Dion?, dia sangat mencintai mu, bahkan cintanya lebih besar, dari cinta ku terhadap mu, tolong dia mewujutkan impianya selama ini," tuturnya dengan terbata-bata.
Dion menarik nafas panjang, ia tak sanggup untuk bersuara, mendengar permintaan Amira terhadap Dion, Arkan pun menyahut.
"Amira, apa kau sudah gila, kau meminta suami mu untuk menikahi Amanda, sama saja itu menoreh luka dalam pada diri mu sendiri, bagaimana kau bisa melihat, suami mu bermesraan dengan Amanda, sedang kan mereka tak melakukan apa pun, kau bisa cemburu," sahut Arkan dengan geram.
"Ia Arkan aku cemburu, aku curiga, tapi sebelum ini, setelah aku membaca diary itu, aku yakin bahwa Dion, hanya mencintai ku," papar Amira.
"Bagaimana menurut mu Dion, Amanda tidak punya banyak waktu Dion, berilah ia kesempatan untuk merasakan menjadi istri mu Dion," paparnya dengan yakin.
Dion menatap tajam kearah Amira," Apa kau memintaku menikahinya, hanya karna kau kasihan terhadapnya?" tanya Dion.
Amira menunduduk, dan menggangguk.
"Kau kasihan pada nya, tapi apa kau tak mengasihani ku, Cahaya?" tanya Dion.
"Tapi Dion, ini hanya untuk sementara waktu, aku kasihan padanya, dan aku sangat yakin dan semakin yakin Dion, jika cinta mu pada ku tak kan berubah sedikit pun jika kau menikahinya," tutur nya sambil menatap mata Dion yang memerah.
"Cahaya, kau boleh minta apa pun kepada ku, tapi tidak untuk menikahi wanita lain, apa kau tahu, pernikahan tak sesederhana itu, sebagai suami yang mempunyai lebih dari satu istri, aku harus bersikaf seadil-adilnya, dan aku tak mampu, aku tak kan pernah bisa berbuat adil terhadapnya, karna aku tak bisa membagi hatiku, kepada selain diri mu, aku tak sanggup Cahaya," tutur nya.
"Tapi Dion, aku rela kau bagi cinta ku padanya, karna hanya untuk sesaat saja, aku yakin kau bisa Dion, bukan kah membahagiakan orang itu adalah suatu kebaikan?" tanya Amira.
"Aku tidak mau, dan tolong jangan paksa aku, aku tak ingin ada orang lain dalam rumah tangga kita, meski hanya sebentar, aku tak ingin melukai mu, dan aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, lagi pula, aku tak punya perasaan apa-apa pada Amanda, itu hanya akan menyakitinya, menyakiti mu, dan menyakiti diri ku sendiri, aku tak mau, kau boleh meminta apa saja, asal jangan hal itu," tutur Dion.
"Dion apa jika aku memohon pada mu berkali-kali, apa kau akan memenuhi permintaan ku Dion?" tanya Amira, ia sudah meneteskan air matanya.
"Iya Cahaya, meski kau bersujud dan berlutut di kaki ku. aku tak kan melakukanya, aku tak ingin merusak rumah tangga ku sendiri, hampir enam tahun aku menunggu mu, dan hanya karna kehadiran seseorang di masa lalu ku, aku tak kan pernah merubah keputusan ku," jawab Dion tegas.
"Benarkah Dion, apa kau tak kasihan pada nya ?" tanya Amira lagi.
__ADS_1
"Tentu saja Cahaya," jawab Dion dengan membentak.
"Apa yang kau pikirkan, Cahaya, aku tahu kau sedang labil, jangan minta yang aneh-aneh pada ku," ucapnya tegas, dan kali ini Dion sedikit marah dan membentak Amira, Amira kaget, karna sebelum nya ia tak pernah berlaku kasar.
Dion berdiri, ia begitu emosi, tanpa sengaja ia membentak istrinya, dan di lihatnya Amira menangis, Dion pun mendekatinya.
"Maaf sayang, aku telah bersikaf kasar pada mu, tapi sekali lagi aku katakan pada mu, maaf kali ini aku tak bisa menuruti ke inginan mu," tutur Dion sambil menyapu lembut pipi Amira.
Air mata Amira tak bisa di bendung lagi, ia pun kembali memeluk Dion dengan erat.
"Sekarang aku yakin Dion, dan semakin yakin, jika kau hanya mencintai ku, maaf Dion aku lakukan sandiwara ini, karna aku hanya ingin membuktikan, seberapa besar cinta mu terhadap ku, kau tak kan menikahi wanita lain kan Dion, karna aku juga tak rela berbagi cinta untuk siapa pun, aku hanya ingin kau menjadi milik ku, hanya milikku," tutur Cahaya menangis di pelukan Dion.
Dion dan Arkan kaget, mereka tak menyangka jika itu hanya sandiwara Amira.
"Kenapa kau lakukan ini Cahaya, apa semua yang ku lakukan selama ini belum cukup untuk membuktikan nya, aku tak punya perasaan apapun terhadapnya, aku hanya kasihan padanya, tapi bukan bearti aku mau menikahinya."
"Ah..., rupanya hanya sandiwara, jangan kan Dion, aku saja emosi mendengarnya," tutur Arkan, ia memaling kan wajahnya.
"Tentu saja Arkan, mana ada wanita di dunia ini yang rela berbagi suami dengan wanita lain, apalagi suami ku ganteng seperti ini," ujarnya sambil mencolek dagu Dion.
"Alaaah, bisa-bisa seorang Amira bersandiwara seperti itu, dari mana kau belajar akting? tapi aku kasihan juga sih dengan gadis itu, setelah melihat keadaanya dan membaca buku harian nya, aku jadi terharu, apa lagi kemungkinan ia tak kan hidup lama di dunia ini, dan keinginan nya untuk menikah, tak kan pernah terwujud, sungguh miris," tutur Arkan.
"Kalau kau kasihan pada nya, kenapa tidak kau saja yang menikahinya, bukan kah penikahan mu dan Diah juga sudah batal, dan kau juga sedang binggung bukan, bagaimana cara memberitahu orang tua mu bahwa pernikahan mu batal," sahut Dion.
Amira dan Arkan, tercengang mendengar penuturan Dion.
"Yah, tapi kenapa harus Arkan ?" tanya Amira heran, ia juga kurang setuju jika Arkan menikahi Amanda.
"Ya, itu juga kalau Arkan mau dan Amanda nya mau, ayah cuma memberi saran, lagi pula, mereka itu sama-sama single, ngak ada salah nya juga, jika masalah cinta, semua bisa berubah jika mereka sudah menikah dan menjalani kehidupan sebagai suami - istri, bagai mana menurut mu Kan?" tanya Dion.
__ADS_1
Arkan hanya diam, sambil menatap mara Dion.
"Nikah itu enak loh kan, iya kan bu?" tanya nya sambil melirik kearah Amira.
"Bukan masalah enak ngak enak nya Yah, tapi dengan menikahi Amanda, Arkan punya tanggung jawab lebih, apa dia siap menerima Amanda yang sedang menderita kanker," Amira.
"Ya, cari pahalanya, jika kita bisa membahagia kan orang lain, maka kita juga akan merasa bahagia, " tambah Dion.
Arkan hanya diam," Ya sudah, kau pikir duhulu, ngak ada yang memaksa mu kok, tapi pikirnya di rumah mu saja, karna kau harus segera pulang sekarang, karna aku ingin berdua saja dengan istri ku, saat ini," kata Dion dengan nada bercanda.
"Hu, habis manis sepah di buang, awas saja kalian berdua ya," ujar nya, ia pun berdiri dan pergi dari tempat itu.
"Aku pulang, Assalamualaikum," ucapnya,
"Wa'alaikum sallam," balas mereka.
Arkan memang pergi dari tempat itu, tapi bukan karna ia tersinggung kepada Dion, ia coba memikirkan usul Dion tersebut, ia pun masuk dalam mobil dan masih mempertimbakan saran dari Dion.
Di satu sisi, ia tak ingin mengecewakan Mama nya yang ingin segera melihat ia menikah, tapi satu sisi, ia berfikir, apa iya harus dengan Amanda, ia menikah, batinya.
Di tunggu
🍎like
🍎komen
🍎vote
dan hadiah nya.
__ADS_1