
Karna kondisinya membaik Amira pun memutuskan untuk bekerja.
Amanda menginap di rumah itu, karna Dion mendapat piket malam.
Amira dan anak-anaknya sudah siap menunggu kedatangan Dion.
Mereka pun sarapan bersama.
"Manda nanti siang kamu masak makan siang untuk anak-anak dan suami ku, kamu juga tolong jaga Gea dan Geo, semalaman lembur dan tidak tidur, pasti Dion capek banget, jadi biar saja dia istirahat."
"Iya Mbak," jawabnya.
Selesai sarapan Dion pun tiba untuk mengantar Amira dan anak-anaknya.
"Yah sarapan dulu Yah," Amira menyodorkan segelas susu dan roti kepada Dion.
Dion pun duduk bersama mereka.
"Yah, kayaknya cape banget ?" tanya Amira karna melihat mata Dion sayu.
"Ngak cape Bu, cuma karna kurang istirahat jadi lemes saja," jawabnya sambil meneguk susu yang sudah di siapkan oleh Amira.
"Yah kalau kerjaan Ayah cape, berhenti saja Yah, Ayah fokus praktek mandiri saja," Amira memberi saran.
"Jadi dokter itu emang seperti itu selalu sedia, apalagi di bagian UGD, tapi di situlah Ayah merasa ilmu yang Ayah pelajari bisa bermanfaat bagi orang lain, jadi dokter bukan karna ingin mengejar penghasilan atau kekayaan, tapi ingin mewujudkan cita-cita saat kita baru menikah, bukanya ibu yang memaksa Ayah jadi dokter, katanya biar bisa membantu orang lain, sekarang justru ibu yang nyuruh Ayah berhenti."
"Ayah ngak pingin ngambil spesialis lagi Yah?" tanya Amira.
"Kalau ngambil spesialis harus kuliah kurang lebih dua tahun lagi Bu, ayah ngak mau kita berpisah lagi, hanya gara-gara ngejar kuliah."
"Berada di garda terdepan saat pertolongan pertama itu lebih keren loh Bu," tambahnya lagi.
"Iya Yah Ibu jadi makin bangga sama Ayah," ujarnya.
Amanda hanya mendengar obrolan santai suami istri itu.
"Yok yah, kita berangkat, setelah mengantar Ibu dan anak-anak, ayah langsung pulang istirahat."
"Ngak bisa istirahat, kalau Ayah ketiduran siapa yang menjemput Gea dan Geo."
"Iya juga sih, setelah jemput Gea dan Geo, Ayah istirahat saja, biar mereka Amanda yang urus, jadi Ayah bisa langsung istirahat, kan sorenya Ayah praktek lagi," saran Amira.
***
Pukul sepuluh Gea dan Geo sudah sampai dirumah.
Dion langsung mengganti pakaian mereka, kemudian ia memasak makanan untuk Gea dan Geo.
Mendengar Dion yang sibuk di dapur Amanda pun keluar, sebenarnya ia merasa pusing, tapi karna ia merasa harus bertanggung jawab pada pekerjaanya, ia pun memberani kan diri mendekati Dion.
"Biar aku saja yang memasak untuk mereka, Mbak Amira sudah mengamahkan Gea dan Geo pada ku, katanya kamu di suruh istirahat saja," ujar Amanda.
Dion kaget, karna Amanda tiba-tiba di belakangnya.
__ADS_1
"Ngak apa-apa biar aku saja, " Dion melanjutkan masak telur dadar dan oseng-oseng untuk Gea dan Geo.
Tapi Amanda tak bergerak dari tempat itu.
Dion pun menoleh ke arah Amanda lagi, di lihatnya wajah Amanda yang sedikit pucat.
"Amanda kamu ngak apa-apa kan?" tanya Dion.
"Ngak apa Dion, biar aku saja yang menyelesaikannya," ia pun menyambar spantula yang ada di tangan Dion, tapi tiba-tiba kepalanya terasa pusing, pandanganya pun menjadi gelap, tanpa sadar Amanda pun kehilangan keseimbanganya, untung Dion langsung menyambar tubuh Amanda hingga tak jatuh di lantai.
"Amanda kamu ngak apa-apa kan?" tanya Dion, ia panik, apalagi di rumah itu hanya ada ia dan Amanda serta Gea dan Geo.
Tanpa menunggu lagi, Dion langsung mengangkat tubuh Amanda dan membaringkanya ke ruang tamu, Dion sengaja tak membawanya dalam kamar, ia tak ingin terjadi fitnah.
Dion langsung memeriksa tekanan darah Amanda.
"Ah rendah sekali tekanan darahnya,"
guman Dion.
"Amanda Aku antar kamu pulang ya?" tanya Dion.
"Ngak usah, rumah ku pasti sudah di kunci sama ibu, karna ia tahu aku menginap di sini, jadi jika aku pulang juga percuma, ngak bisa masuk juga," paparnya lirih.
"Kalau kamu bisa bangun, kamu istirahat di kamar saja, obat kamu sudah kamu minum?" tanya Dion.
Hari ini Amanda memang tak meminum obatnya, karna obatnya sudah habis, ia dan ibunya sudah tak mampu menebus obat yang sangat mahal menurutnya.
"Aku lupa bawa obat ku," ujarnya.
Amanda pun menyebut jenis obat yang biasanya ia komsumsi, Dion mencatatat nya, sebagai dokter tentu saja ia tahu obat-obat yang di sebutkan Amanda, obat tersebut sangat mahal, bahkan untuk dokter umum sepertinya, untungya Dion punya beberapa apotik, dan beberapa rekanya juga praktek di apotiknya, dari sanalah penghasilan terbesarnya.
Dion langsung menebus obat yang di sebutkan Amanda.
Tak lama kemudian ia sudah kembali, dengan di temani Gea dan Geo, Dion masuk ke kamar Amanda.
Dilihatnya Amanda seperti menggigil, seperti orang yang kedinginan, padahal hari sangat panas ketika itu, dan tak ada pendingin ruangan di kamar itu.
"Manda kamu kenapa?" tanyanya.
"Ngak apa-apa, hanya saja saya merasa kedinginan, " jawabnya.
"Ini obat kamu, karna semua ini obat keras, kamu harus makan terlebih dahulu," ia pun keluar dari kamar Amanda beberapa lama berselang, Dion kembali membawa sepiring nasi dan oseng-oseng yang ia masak tadi.
Amanda mencoba bangun, tapi pandanganya menjadi gelap, ia pun kembali merebahkan tubuhnya.
"Kamu ngak mampu bangun ya?" tanya Dion, dan hanya di jawab anggukan oleh Amanda.
Dengan terpaksa Dion menyuapkan nasi ke mulut Amanda, sendok demi sendok, tak terasa apa-apa nasi tersebut di lidahnya, bahkan semua terasa pahit, hanya yang membuatnya semangat untuk menikmati semua itu, adalah Dion.
Meski ia tahu tak pantas ia mengharapkan nya, tapi cinta itu sulit untuk di tebak, semua di luar kendalinya, bahkan saat Dion menyuapinya, matanya menatap Dion penuh cinta dan harap.
Ya Allah maafkan lah hamba mu, karna mencintai pria yang sudah beristri, bahkan mata ku tak sangup beranjak untuk tidak menatapnya, rasanya tak sanggup menahan perasaan ini, karna aku tak pernah sedekat ini sebelumnya, batin Amanda
__ADS_1
Selesai menyuapi Amanda, Dion mengambil obat yang baru di tebusnya, "Gea, tolong Ayah pegang gelas ini," tuturnya kepada Gea, Gea pun memegang gelas tersebut, sementara ia membuka obat untuk Amanda.
Dion memberi obatnya kepada Amanda, Amanda pun meminum obatnya.
"Setelah minum obat kamu istirahat Amanda,"
"Gea, Geo, kalian belajarnya di kamar tante, ya. kalau terjadi apa-apa sama tante, panggil Ayah segera, saat ini Ayah ingin istirahat, sebentar lagi Ayah mau jemput ibu," ujar Dion sambil mengelus kepala anak-anaknya.
"Iya Ayah, biar Gea dan Geo yang jaga tante, Ayah istirahat saja," tutur Gea.
"Terima kasih sayang, Ayah yakin anak-anak Ayah bisa di percaya," ia pun mencium Gea dan Geo, kemudian keluar dari kamar itu.
Setelah Dion berlalu, Gea pun menghampiri Amanda.
"Tante, Tante sakit apa ?" tanya Gea, ia pun duduk samping kepala Amanda dan mengelus rambut Amanda.
Tangan kecil Gea. menghasilkan sentuhan yang nyaman dan membuat Amanda tenang.
"Tante ngak apa-apa kok sayang," jawabnya.
"Oh.. kalau gitu Tante cepat sembuh ya, biar Tante bisa temani Gea main lagi," ucapnya masih mengusap kening hingga ubun-ubun Amanda, Gea seperti orang dewasa, yang perhatian dan penuh kasih sayang.
"Kalau ada Gea yang merawat Tante, Tante pasti cepat sembuh," ucapnya Lirih.
"Sekarang Tante tidur saja, biar Gea yang jaga," tambahnya lagi.
"Terima kasih sayang, Tante sayang sekali sama Gea, seperti anak tante sendiri," ucapnya terharu, melihat Gea yang perhatian terhadapnya.
"Gea juga sayang sama Tante, "ia pun mencium pipi Amanda.
Amanda semakin haru, ia pun meneteskan air matanya.
"Tante ingin sekali punya anak seperti kamu Gea, Tuturnya sambil mencium tangan mungil gadis tersebut," ia pun menangis haru.
Amanda meraih buku harianya dan menuliskan sesuatu di dalamnya.
...**Ya Tuhan ingin sekali aku memiliki keluarga seperti mereka, keluarga kecil yang bahagia, penuh cinta dan kedamaian, Ya Tuhan bukan nya diri ini tak terima kenyataan, tapi aku hanya ingin merasakan kebahagian seperti Mbak Amira, aku ingin memiliki suaminya, anak anaknya dan semua tentang mereka, yang terlihat indah di mataku....
...Ya tuhan surat kecil ini , ku tuliskan di hati ku, ku kafazkan di dalam doa ku, dan ku berharap semua akan menjadi nyata, meski hanya sekejab saja, sungguh aku ingin merasakan itu.**...
**Goresan pena Amanda di buku harianya.
Jangan lupa,
🍎Like
🍎komen
🍎dan vote,
Biar author semangat.
Mampir juga di novel author yang lain
__ADS_1