
Raihan dan Alice tengah menikmati makan malam, tak banyak kata yang di ucapkan oleh keduanya, karna mereka baru beberapa kali bertemu.
"Alice kau suka makanan nya?" tanya Raihan, ia coba mengatur kata-katanya sebelum ia menyatakan maksudnya.
"Makanan nya enak, kau sepertinya tahu selera ku," ujarnya.
"Aku harus tahu karna..., "Raihan sengaja menghentikan kata-katanya.
"Karna apa ?" tanya Alice penasaran.
"Karna...,aku ingin melamar mu," ia pun berlutut.
"Will you marry me ?" Raihan sedikit berlutut seraya menyodorkan sebuah cincin dengan inisial nama mereka RA yang bertahtah batu permata.
Alice syok baru kali ini ia dilamar, selain itu ia dan Raihan baru saling mengenal, namun karna Alice juga menyukai Raihan, ia pun menggangguk, Alice sudah tidak bisa berkata-kata lagi, saat Raihan menyematkan cincin di jari manisnya kemudian mencium tanggan nya.
Alice sungguh terharu selama ini ia tak pernah mendapatkan perlakuan istimewa dari seorang pria, Alice juga tak pernah membuka hatinya, beberpa kali ia menyatakan cintanya pada Dion, tapi hanya penolakan yang ia dapat, meski penolakan itu secara halus, namun sejak itu Alice seperti trauma, ia tak pernah membuka hatinya, meski banyak pria yang menyatakan cinta padanya.
Setelah menyematkan cincin di jari manis Alice, Raihan pun memeluknya.
"Alice kau mau kan jadi pendamping hidup ku selamanya?" tanya Raihan kembali, karna ia tak mendapat jawaban langsung dari mulutnya.
"Iya Raihan, aku mau," jawabnya lirih dalam dekapan Raihan.
"Tapi Alice kita berbeda keyakinan, bagaimana..., "kata-kata Raihan terhenti.
"Aku sudah jadi mua'laf beberapa tahun yang lalu Raihan," sambarnya.
"Sungguh? kalau begitu tak ada lagi yang jadi penghalang hubungan kita," tambahnya.
"Ia Raihan, " mereka pun memeluk kembali.
"Malam ini juga aku kenalkan kau pada orang tua ku."
"Secepat ini Raihan, aku saja masih syok" Alice mengurut dadanya.
"Apa kau belum yakin Alice ?" tanya Raihan.
"Aku yakin tapi...,"
"Sudalah, ayo kita kerumah ku, kan ku perkenal kan kau pada orang tuaku," ia pun menarik lembut tangan Alice.
Setelah Alice berdiri, tanpa sungkan ia pun menggandeng tangan Raihan menuju mobil.
Sepanjang perjalanan tak banyak kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mungkin belum ada rasa cinta antara ke duanya, tapi mereka berani untuk membuka hati, toh nyatanya cinta bisa datang setelah menikah.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, karna mereka masih canggung, hanya bahasa tubuh yang mengisyarat kan kedekatan mereka.
Sepanjang perjalanan Raihan menggenggam mesra tangan Alice, dan sesekali ia menciumnya, Alice sungguh terharu, setelah lama menanti cinta, cinta itu hadir juga, meski dengan orang yang tak pernah ia sangka-sangka.
***
Pagi hari nya, seperti biasa setelah sholat subuh Dion langsung membereskan rumahnya, ia tak mau terlalu mengandalkan Amanda, karna Dion sendiri tahu Amanda mengidap penyakit kanker.
Rasa iba selalu ada di hati Dion, meski sikaf nya yang terlihat acu dan dingin, namun dalam hatinya ia tak tega jika Amanda harus menjadi asisten rumah tangganya.
Tapi apa daya, Dion juga tak ingin terlalu ikut campur dalam kehidupan pribadi Amanda, ia hanya bisa membantu meringan kan pekerjaan rumah yang seharusnya di kerjakan Amanda.
Meski merasa iba, tapi Dion tak mau terlalu dekat, apalagi menunjukan rasa pedulinya pada Amanda, apalagi ia tahu jika Amanda masih menyimpan perasaan terhadapnya, dan ibunya sendiri yang mengungkapkan nya pada Dion, baginya pengalaman masa lalu terhadap wanita, membuatnya kini lebih mawas diri, ia tak ingin rumah tangganya kembali hancur dan berantakan.
Seperti biasa, saat Dion sibuk di dapur, sang istri juga sibuk mengkutak katik hand phonenya, Amira memang tak terbiasa dengan pekerjaan rumah, dari kecil sampai sekarang ia selalu di layani, tak terkuali saat tinggal di panti.
Amira keluar dengan pakaian rapi, ia pun berjalan mendekati meja makan.
Melihat penampilan istrinya, Dion pun buka suara.
"Mau kemana Bu, mau kerja, kan ibu belum pulih nanti sakit kepala lagi" Dion.
"Iya Yah, Ibu harus ke kantor hari ini, Ibu kasihan sama Arkan, ia harus bolak-balik mengantarkan dokumen yang ibu harus tanda tanggani dan ibu pelajari, ia juga mulai sibuk mengurus persiapan pernikahanya," papar Amira.
"Ngak akan terjadi apa-apa yah, Ibu yakin kok,"
"Pokoknya ngak boleh Bu, Ayah ngak ijinin ibu keluar, apalagi kekantor untuk sementara waktu," tegasnya
"Kok gitu sih Yah, ibu harus kekantor ngak bisa terus-terusan di rumah," Amira sedikit emosi, wajahnya pun berubah.
"Pokoknya ngak boleh," ucap nya lagi.
Amira menatap tajam kearah Dion, karna kesal, ia pun kembali ke kamarnya.
Dion mengikutinya," Ibu, kenapa harus marah sih, Ayah melarang, karna ayah sayang sama kamu, sama calon anak kita, mengertilah Bu, Ayah hanya takut terjadi sesuatu sama kamu,"
"Cahaya, kamu tuh segalanya buatku, aku melakukan ini semua, karna aku terlalu sayang sama kamu, mengertilah Cahaya," Dion pun memeluk Amira.
"Iya Dion, aku tahu, kamu begitu menyayangiku, maafkan aku ya, jika aku terlalu besar kepala, selama ini cuma kamu yang menuruti permintaan ku, dan kali ini biar aku yang menuruti perintah mu, aku ngak akan ke kantor sebelum dapat ijin dari Pak dokterku tersayang," ia pun mengecup bibir Dion.
"Ok kalau gitu kita sarapan lagi," mereka pun keluar kamar bergandengan.
Dan saat keluar mereka heran melihat Amanda yang sudah ada membereskan sarapan si kembar.
Tanpa sengaja Amanda melihat kemestraan mereka.
__ADS_1
"Loh kamu sudah datang?" tanya Dion.
"Ibu yang menyuruhnya datang pagi Yah, tadi nya ibu mau kekantor, tapi berhubung di larang sama Ayah, ngak jadi deh."
"Ayo Manda kamu ikut kita sarapan," Amira menarik kursi yang berhadapan langsung dengan ia dan Dion.
Amanda pun duduk, ia hanya menunduk.
"Ibu sama Ayah ngak jadi berantemnya?" tanya Gea asal saja bicaranya.
"Berantem, Itu namanya bukan berantem, ayah sama ibu cuma beda pendapat," papar Amira.
"Ayo Amanda kamu pasti belum sarapan, sarapan dulu, ngak usah malu-malu angap saja seperti rumah sendiri," Amira.
"Iya Mbak ngak malu kok, "jawabnya pelan namun terdengar jelas.
Sejenak mereka hening, Amanda dan Dion sama-sama tertunduk tak berani memandang.
Dion yang dari tadi hanya diam dan menunduk, tiba-tiba ia tersedak dan langsung menyambar air yang di samping nya.
"Ehk..., "Dion langsung minum tanpa melihat air apa yang di minumnya.
"Yah, kok minum susu ibu sih, ntar ayah hamil loh," tukas Amira yang melihat Dion yang tak sengaja minum susunya.
"Ah pantas saja rasanya aneh," ketusnya.
Mereka pun tertawa.
"Makanya Yah, pakai mata dong, ngak usah main sambar saja," tutur Amira masih tertawa.
"Udah ah, Ayah mau mandi dulu, ibu siapkan kemeja Ayah," ia pun beranjak menuju kamar.
"Aduh gawat kemejanya lupa ku setrika," ia pun buru-buru kekamar mengambil kemeja Dion.
"Amanda kamu sudah selesai sarapan kan, bisa tolong saya setrika baju suami saya," biar ini saya yang bereskan, katanya pada Amanda.
"Bisa Mbak ."Amanda bangkit dengan bergegas, ia pun menuju kamar nya untuk menyetrika kemeja Dion.
Amanda mencium baju Dion, ia pun mendekapkan kemeja itu dalam pelukanya, serasa ia sedang memeluk pemilik kemeja itu, sesaat kemudian air mata Amanda menetes.
Mungkin sudah takdir ini, hanya bisa mengagumi tanpa bisa memiliki mu, aku pun sadar siapa diriku, yang semakin tak pantas bersanding dengan mu, biar saja rasa ini kutahan hingga di penghujun usia ku, dan rasa cinta ini biarlah menjadi rahasia antara kau dan aku, tanpa perlu ku ungkap pada siapa pun, batin Amanda.
Amanda kembali ia mencium kemeja itu, titik air mata jatuh menetes lamban di pipinya, semakin sering ia melihat Dion, semakin ia mencintainya.
Setitik asa menyelit di lubuk hati kecilnya, akan kah suatu saat Tuhan mengijinkan ku, memeluk tubuhmu dan bersandar di bahumu, saat mata ku terpejam untuk terakhir kalinya
__ADS_1