
Arkan mencium Amanda untuk terakhir kalinya, sebelum ia mangangkat tubuh Amanda.
"Selamat jalan sayang," bisiknya di telinga Amanda.
Wajah Amanda telihat pucat dan kaku namun, senyuman masih terlukis di raga tanpa nyawa itu.
Amanda pergi dalam keadaan bahagia.
Arkan masih menangis terisak, ia hampir tak percaya jika Amanda telah tiada untuk selama-lamanya.
"Sayang, bangun sayang," Arkan mengguncangkan tubuh Amanda, masih ada sisa tetesan air mata di sudut mata Amanda, dengan lembut Arkan menyapunya, ia pun kembali memeluk Amanda dan menangis dalam haru dan kesedihan yang begitu dalam.
Tubuh Arkan sempoyongan saat membawa mayat Amanda kedalam mobil, di pantai ini, saat matahari tergelincir, Amanda menghembuskan nafas terakhirnya.
***
Arkan menghubungi Bu Nita, untuk mengabari berita kepergian Amanda.
"Hallo, Arkan" Bu Nita.
"Hallo, Ma," suara Arkan terputus-putus.
Bu Nita sepertinya sudah tahu, ia pun mengangis sebelum Arkan memberitahunya.
Arkan hanya bisa menangis, tanpa sepatah kata pun ia menutup telponya.
Keadaan Arkan begitu kacau hingga ia tak bisa mengendalikan emosinya, beberapa kali ia hampir menabrak pengguna jalan lain.
Setelah memberi tahu Bu Nita, Arkan menelpon Amira, dan hal yang sama, Arkan tetap tak bisa mengatakan jika Amanda sudah pergi untuk selama-lamanya.
Meski di telpon Arkan hanya menangis, namun Amira tahu apa yang telah terjadi.
"Hallo Mira," Suara tangis.
"Hallo Arkan, kamu kenapa?" tanya Amira curiga.
"Amanda, dia...," kata-kata Arkan terhenti, ia tak sanggup melanjutkan nya kembali.
Hanya terdengar suara tangis kesedihan yg memilukan hati.
"Inalliahi wmWa inallilahi Rajiun" Ucap Amira.
__ADS_1
Amira menutup telponya dan memberitahu kepada Dion.
Perlahan air matanya menetes.
Amira menghampiri Dion yang baru pulang menunaikan sholat magrib.
"Yah, Amanda sudah meninggal yah," ucapnya sedih.
"Innalillahi Wa Innaliahi Rojiun."
"Kita kerumah duka Bu, Ayah siap-siap dulu."
"Iya yah,"
Amira tersandar, ia tak percaya jika Amanda akan pergi secepat ini.
Dion dan Amira pun pergi ke rumah duka, meski tak menangis seperti Amira, mata Dion juga memerah pertanda dia juga merasa sedih atas ke pergian Amanda.
Amira menangis memeluk Dion.
"Yah, Ibu belum sempat menjenguk dan minta maaf pada Amanda, Yah" Ucapnya dengan sedih.
Sesampainya Arkan di rumahnya, rumah sudah di penuhi oleh pelayat.
Dion, Amira, Raihan dan Alice, serta Dyah dan Mamanya juga telah hadir di sana, Amira yang memberitahu mereka semua.
Arkan mengangkat tubuh Amanda yang terbujur kaku itu sendirian, dan mengangkatnya ke tempat pembarianganya untuk terakhir kalinya.
Mayat Amanda di letakan di atas kasur busa, dan di sana sudah banyak pelayat yang hadir.
Setelah mengangkat tubuh sang istri, Arkan mengahampiri Amira yang berada di sampingnya, ia pun memeluk Amira dan menangis di sana.
Melihat Arkan yang begitu bersedih, Amira juga semakin sedih, mereka hanya saling memeluk dan menangis.
Bu Nita terlihat begitu tegar, ia menghampiri tubuh yang telah terbujur kaku itu, dan mencium kening putrinya.
"Selamat jalan anak ku sayang, semoga kau bahagia di sana," ia pun menangis sejadi-jadinya.
Nino dan Mirna yang juga hadir ikut menangis, melihat tubuh Amanda yang terbujur kaku, dan tak sedikit pun daging yang tersisa di tubuhnya, tubuhnya hanya seperti tengkorak yang terbungkus kulit.
Nino menangis sejadi jadinya, ia menyesal, bahkan saat Amanda masih hidup, tak sekali pun ia ingat untuk menjenguk adiknya.
__ADS_1
"Amanda, maaf kan kakak mu ini Amanda, kakak selalu menyusahkan kamu dan ibu saja." Nino menangis dan meratap, ia begitu sedih melihat keadaa adik satu-satunya yang tak bernyawa lagi, bahkan tubuhnya pun sangat mengenaskan, membuat semua orang menitikan air mata, melihat tubuh Amanda yang tinggal tulang terbungkus kulit.
Nino terus menyesalinya, ia pun menangis terisak-isak memeluk ibunya, Bu Nita hampir ke hilangan keseimbanganya.
Semua yang hadir ikut merasakan haru dan kesedihan begitu pun Dyah, ia mendekati Arkan, dan mengucapkan bela sungkawanya.
"Mas, turut berduka cita atas meninggalnya istrimu," ucap Dyah, sambil menanggis tersedu-sedu, ia pun memeluk Arkan dan menangis di pelukanya.
"Terima kasih Dyah," ucap Arkan, mereka pun melepaskan pelukanya.
Setelah Dyah, giliran Dion dan Raihan, mereka mengucapkan belasungkawanya pada Arkan, dan memeluknya.
Turut berduka cita Arkan, semua memang terasa berat saat, orang yang kita sayangi pergi dari kita untuk selamanya, tapi kau juga sudah memberikan yang terbaik untuk nya, dia pasti bahagia, karna mempunyai suami seperti mu," tutur Dion yang ikut menangis memeluk Arkan.
Dion tak bisa membayang kan apa yang terjadi pada nya, jika ia berada di posisi Arkan, iya pun menangis karna tak sanggup membayangkan jika Amira yang pergi darinya untuk selamanya.
Setelah melepas pelukanya teradap Arkan Dion menghampiri Amira, ia pun memeluk dan mencium istrinya, Dion menjadi parno, ia tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, apalagi belakangan ini, Amira sering mengeluhkan sakit kepala, keadaanya yang sedang hamil dan menderita darah tinggi, itu membuat Dion tak bisa jauh dari istrinya.
Arkan tampak begitu sedih, mata nya memerah dan terus menangis, satu persatu pelayat mengucapkan belasungkawanya, berbagai karang bunga duka cita terus berdatangan memenuhi halaman rumahnya.
Hari sudah semakin larut, para pelayat pun sudah pulang, hanya tinggal keluarga dan sahabatnya, seperti Raihan dan Dion, Dyah dan Amira sudah tidur di kamar, Dion meminta Dyah menemani istrinya tidur, sedangkan ia dan Raihan menemani Arkan berjaga semalaman sambil membaca Yassin.
Arkan mengahapiri Bu Nita yang duduk bersandar di sisi kanan nya sambil membaca Yassin.
"Ma Maaf kan Arkan, Arkan belum sempat membahagiakan putri Mama, Amanda sudah di panggil terlebih dahulu," ucapnya sambil menangis memeluk Bu Nita.
"Tidak Nak, Kau sudah memberi yang terbaik untuknya selama ini, dia sangat bahagia hidup bersamamu, meski ia menderita, tapi rasa bahagianya terlalu besar hingga mengalahkan rasa sakit yang dirasakanya, terima kasih Arkan, mama ngak tahu bagaimana harus membayar kebaikan mu selama ini, mama hanya bisa mendoakan kau bahagia, dan mendapat istri yang terbaik untuk mu," ucap Bu Nita sambil mencium pipi Arkan dan memeluknya.
Arkan pun menangis memeluk mertuanya, "Ngak perlu berterima kasih Ma, apa yang Arkan lakukan adalah kewajiban Arkan, dan kewajiban Arkan juga berbakti pada Mama, meski Amanda sudah tiada, Mama mau kan tetap tinggal bersama Arkan, biar Arkan yang meneruskan bakti Amanda terhadap mama, karna kata-kata terakhirnya, ia menyesali karna belum sempat berbakti pada Mama," ucapnya haru.
"Ya Allah Arkan kamu baik sekali Nak, tapi Mama ngak mau ngerepotin kamu, Mama bisa jaga diri mama sendiri, Nak," tolaknya halus.
"Benar Arkan, biar aku yang merawat Mama, itu adalah tanggung jawab ku sebagai anak laki-kaki, dan modal yang kau pinjamkan pada ku, akan ku kembalikan secara mencicil, dan Mama ijinkan aku untuk merawat dan berbakti padanya," sahut Nino.
"Tak perlu kau kembalikan, aku sudah merasa senang jika kau sudah berubah dan mau berbakti pada mama, "balasnya.
"Terima kasih Arkan, aku sudah sadar dan berjanji akan menjaga ibu ku dengan baik, karna hanya dia, satu-satunya orang tua yang ku miliki," ucap Nino, memeluk Arkan.
Di tunggu dukunganya ya, like, komen, vote dan hadiah juga boleh.
kujungi Ig author, @lucyv146, disana tempatnya para author kece Noveltoon bikin video singkat mereka, mau lihat dong gimana novel mereka di buat videonya, siapa tahu novel favorite kamu sudah ada videonya di sana, dan insya Allah, novel Mencintaimu dalam gelap juga akan ada di sana loh, ikuti Ig nya biar ngak ketinggalan video terbarunya , dan untuk para author, gabung di sana yuk, novel kamu juga bisa di buatkan videonya loh, mau ikutan DM aja di instagram @lucyv 146, kerenkan, bersama kita bisa promosi dan saling mendukung, ayo buruan jangan kelamaan nanti antrianya panjang loh,
__ADS_1