
Amira membuka matanya dan di perhatikan di sekelilingnya, ternyata ia berada di rumah sakit.
Seorang wanita yang hampir berusia paruh baya, tersenyum kearahnya, wanita itu terlihat asing baginya.
Wanita menggukan pakaisn syar'i itu langsung menyapu lembut bagian ubun-ubunnya.
"Ahlamdullilah, Amira kamu sudah sadar sayang," ucapnya dengan sangat lembut.
"Ummi," ucap Amira seraya meneteskan air matanya.
"Iya sayang ini Ummi," sahutnya ia pun tersenyum kearah Amira.
Amira terharu, karna selama ini ia bertemu dengan Ummi dan Abi, sosok lembut dan sabar yang selalu menyayanginya.
"Ummi, Amira senang akhirnya Amira bisa melihat wajah Ummi," ucapnya penuh haru, ia pun meraih tanggan Ummi, mendekatkan ke wajahnya, kemudian menciumnya.
Ummi pun langsung mencium kening Amira, keduanya terharu, karna hampir enam tahun mereka tak bertemu, apalagi baru kali ini ia melihat wajah Ummi, Amira pun menangis bahagia.
"Allahamdulilah, segala puji bagi Allah sayang kita bisa berkumpul lagi, Ummi sangat bahagia Nak, kamu dan Dion bisa bersama kembali, dan yang lebih membuat Ummi bahagia, kini kamu kembali mengandung, sungguh Ummi bersyukur sayang, Ummi sangat bahagia," tutur Ummi.
Amira pun haru mendengar penuturan Ummi.
"Tapi Ummi, Amira dan Dion...," kata-katanya terhenti seketika langsung di sambar Ummi.
"Ummi, paham sayang, Dion sudah menceritakan semuanya tentang Amanda.
Amira pun menangis, air matanya meleleh begitu saja.
"Amira, Amanda dan Dion itu teman semasa SMA, dan Amanda sendiri keponakan dari Alm bapak Hussein, sahabat Abi dan tetangga Ummi, meski tidak begitu akrab, tapi Ummi kenal dengan ibunya Amanda."
"Dion itu putra Ummi satu satunya, dan Ummi selalu mengawasi Dion, dari perkembangan belajarnya, hingga pergaulanya."
"Dion itu sosok yang selalu terbuka pada Ummi, meski bandel, tapi Dion ngak suka berbohong, dan jika dia coba berbohong Ummi pasti tahu."
"Sejak SMA, banyak sekali gadis-gadis yang menyukai Dion, Ummi tahu itu, karna Ummi selalu memeriksa telpon dan pesan singkatnya."
"Dan Dion belum pernah punya pacar sama sekali, karna sejak dulu, Ummi sudah memperingatkanya untuk tidak pacaran, dan Dion mematuhinya, meski banyak cewek-cewek yang menyukainya, tapi Dion tak pernah tanggapi, ia hanya sibuk dengan dunianya sendiri, latihan basket, les privat, dan banyak lagi kegiatanya yang memang Ummi sengaja membuatnya sibuk."
"Tapi sejak Dion mengenal kamu, Dion berubah, bahkan Dion berani membawa kamu menemui Ummi, Dia juga sempat merengek agar Ummi melamar kamu sebagai istrinya, padahal saat itu, ia baru saja tamat SMA."
"Begitupun saat kamu pergi meninggkalkanya selama beberapa tahun, beberapa ustad menawarkan ta'arufan kepada Abi, mereka ingin menjodohkan Dion dengan putri mereka."
"Putri-putri para ustadz itu, mungkin adalah wanita-wanita soleha, wanita-wanita terbaik, kesucian dan iman mereka sangat terjaga, dan tak pernah bersentuhan dengan yang bukan mahramnya, tapi Dion selalu menolak, ia hanya ingin menunggu kamu kembali, Dion sendiri yang bilang sama Ummi, jika sekali menikah, maka ia akan pertahankan hingga maut saja yang bisa memisahkan kalian, sebegitu cintanya dan sayangnya Dion pada kamu, dia tetap rela menanti kamu, meski entah berapa lama kamu akan kembali, bagi Dion, kamu adalah Cahaya hidupnya, kamu adalah semangatnya dan juga tujuan hidupnya, jadi Ummi rasa, ngak benar jika Dion hanya mempermainkan perasaan mu, sayang."
__ADS_1
"Semua orang punya masalalu, begitu pun kamu kan? sebelum kamu menikah dengan Dion, kamu bahkan sudah punya tunangan, dan hampir menikah, mungkin saja Amanda cinta pertamanya, tapi bukan bearti Dion tak bisa melupakan perasaanya terhadap Amanda."
Amira tertegun mendengar penuturan Ummi, ia masih mencerna setiap kata demi kata yang di ucapkan oleh Ummi.
"Amira, dalam rumah tangga akan banyak sekali cobaan, yang akan mendera kalian, termasuk juga rumah tangga Ummi dan Abi, meski Ummi dan Abi, sama-sama tahu hukum fikih dan hukum agama yang lainya, nyatanya pertengkaran juga tak bisa terelakan, kadang-kadang masalah sepele, kami bisa berdebat panjang, dan saling adu argumen."
"Tak terkecuali rumah tangga kalian sayang, kalian masih muda, masih sama-sama cantik dan ganteng, kali juga sama sama sibuk, dengan profesi yang berbeda pula, akan banyak masalah yang datang, jika kalian tidak saling percaya dan mengerti."
"Sebagai sesama wanita, Ummi tahu perasaan Amira, dan perasaan perempuan lainya, tak kan ada istri yang sudi untuk di madu, begitu pun kamu, harusnya kamu sendiri tak membiarkan orang asing masuk dalam rumah mu, apalagi dekat dengan anak dan suamimu, Amira sebagai wanita, kita harus menjaga suami kita, apalagi Dion, wajahnya tampan, seorang dokter pula, mungkin saja banyak wanita yang menginginkanya, dan kamu juga Amira, kamu cantik, muda, seorang pengusaha, banyak pria yang mengidamkan wanita seperti kamu, dari itu Ummi sarankan, jangan mudah terpancing dengan sesuatu yang belum jelas kebenaranya, jika banyak orang yang menyukai kita, maka kebih banyak lagi orang yang akan iri melihat kebahagian kita."
"Lihat lah sayang, lihat keluargamu, kamu punya suami yang muda, ganteng, pengertian dan anak-anak yang pintar dan menggemaskan, hidup kalian juga serba kecukupan, begitu banyak kenikmatan yang kalian dapati, kalian bahagia hidup bersama, lalu mengapa dengan mudah ingin melepaskanya," tutur Ummi masih menasehati Amira.
Amira masih meneteskan air matanya, sedikit demi sedikit ia paham maksud Ummi.
"Amira, kalian sudah melewati rintangan dan cobaan yang berat yang menguji cinta kalian, tapi hanya sampai disitu, karna mempertahankanya akan lebih sulit lagi, Ummi harap kamu mau mendengar penjelasan Dion, sekiranya Dion salah, kamu marahi atau lebih baik kamu menasehati, masalah yang datang untuk di hadapi, bukan untuk di hindari," tambah Ummi.
"Sekarang, kalian selesaikan masalah kalian, kamu dengarkan semua penjelasanya, setelah itu kamu baru ambil kesimpulan, Ummi panggil Dion ya Nak, selesaikan masalah kalian secara baik-baik, insya Allah kamu akan merasakan ke bahagian mu kembali," tutur Ummi, ia pun keluar memanggil Dion.
Dion memang menyuruh Ummi untuk membujuk istrinya, karna jika ia yang membujuk, maka Amira semakin besar marahnya dan ngambeknya.
Dion pun masuk kedalam kamar Amira, ia langsung memeluk Amira yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya.
"Maaf sayang, aku tak bicara jujur pada mu, bukankah sejak awal aku sudah keberatan dengan kehadiran Amanda, tapi kau tak pernah mendengar omongan ku, Cahaya, sekali lagi aku katakan, aku dan Amanda tak pernah ada hubungan apa pun, sejak dulu hingga saat ini, meski aku tahu Amanda masih mencintaiku, tapi tak pernah sekalipun ia mencoba merayu ku, dia sangat sadar jika aku hanya mencintaimu, mungkin dia juga ngak berharap bisa memiliki ku," tutur Dion sambil meluk dan mencium bagian kepala Amira.
"Jadi, kau adalah cinta pertama yang selalu di tunggunya selama ini Dion, itu bearti, dia masih menginginkan mu Dion," ucapnya lirih.
"Mungkin saja sayang, tapi itu terserah padanya, karna sampai kapan pun aku hanya akan mencintai kamu, aku tak perduli perasaan orang lain terhadapku, dan salah satu yang membuat ku untuk tidak berkata jujur, aku tak ingin kau terluka, aku tak ingin ada masalah dalam rumah tangga kita, aku tahu perasaan mu begitu halus, kau terlalu lemah, aku takut kebaikan mu di manfaat kan orang, jangan menjadi seperti ku, karna iba, rumah tangga kita jadi hancur berantakan, biarkan saja ia dan perasaanya, dan kita tetap jaga keutuhan rumah tangga kita, aku tak mau semua terulang kembali, kita sudah bahagia selama ini, jadi ku mohon jangan ada lagi perselisihan diantara kita," ia pun mencium pucuk kepala istrinya.
"Kau benar Dion, aku terlalu cemburu, itu karna aku terlalu mencintai mu Dion, aku tak ingin kau membagi hati mu untuk orang lain," ucap Amira, ia pun membalas pelukan Dion.
"Ia sayang, kalau kita memang saling mencintai, untuk apa kita saling menyakiti, kau harus percaya pada ku, sama seperti aku percaya pada mu, jangan ada lagi yang tersembunyi diantara kita."
"Maafkan aku Dion karna selama ini, aku selalu menuduhmu tanpa bukti, aku iuga sering marah-marah pada mu," ucap Amira.
"Sama-sama sayang aku juga minta maaf, aku janji tak akan menyembunyikan apa pun pada mu, aku mengerti jika kau marah-marah, karna aku tahu hormon mu sedang tak stabil, apalagi di tambah dengan pekerjaan yang membuat mu strees, aku coba mengerti dan akan selalu mengerti mu," ucapnya ia pun mencium jemari istrinya, dan Amira pun membalas dengan melakukan hal yang sama, mereka kembali berpelukan bahagia, satu lagi cobaan bisa mereka atasi.
Seminggu telah berlalu.
Amanda pun sudah menjalani kemoterapi, seperti sebelumnya efeknya kembali terasa, rambutnya perlahan rontok dan kulinya pun mengering dan bersisik, Amanda menangisi semua, selain menyakitkan, efek sampingnya pun membuat ia kembali kehilangan kepercayaan dirinya.
Amira dan Dion menjenguk Amanda, dan Amira sangat kaget dengan perubahan yang terjadi pada Amanda.
Melihat Amanda yang seperti itu, timbul rasa iba dalam hatinya.
__ADS_1
Amira mendekati Amanda, ia menyentuh telapak tanggan Amanda, seketika Amanda pun sadar.
"Mbak Amira," sapanya lirih, seolah menyiratkan deritanya.
Amira tak bisa berkata apa-apa ia hanya menangis, sambil memeluk Amanda yang terbaring, sementara Dion, ia menepuk pundak sang istri dengan lembut, agar Amira kuat melihat penderitaan Amanda.
"Amanda, kamu harus kuat ya, Mbak yakin kamu akan sembuh," tuturnya.
"Terima kasih Mbak, Mbak Amira terlalu baik, jika saya tidak bisa membalas kebaikan Mbak, saya yakin Allah pasti akan membalasnya," tuturnya sangat haru.
"Ia Amanda, mbak iklas kok, yang terpenting kamu sembuh saja, kamu harus semangat demi ibu kamu, dan masa depan kamu," ucapnya.
"Terima kasih Mbak," tambahnya lagi.
"Mbak permisi ya, kapan-kapan mbak akan kesini lagi,' tuturnya, ia pun berlalu.
Keluar dari kamar Amanda, Amira pun menangis sedih, melihat keadaan Amanda, dengan penuh kasih sayang Dion merangkul istrinya dan memeluknya.
"Sudahlah sayang, kita doa kan saja dia cepat sembuh," tutur Dion.
"Tapi Dion, aku benar-benar tak tega melihatnya, aku tak menyangka, efek dari kemoterapi seperti itu, aku sedih membayangkanya Dion, " tuturnya sambil menangis.
"Iya, aku mengerti, tapi kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhanya," sahut Dion.
"Sudahlah jangan pikir kan lagi." Dion pun menuntun Amira untuk melanjutkan langkah mereka menuju jalan keluar dari tempat itu.
***
Pagi ini Mirna tersadar dan menujukan waktu pukul lima pagi, ia pun bangkit dan berlari ke kamar mandi, seketika ia muntah dan tubuhnya merasa lemas.
Mirna berjalan gontai, sambil merasakan pusing.
"Kenapa aku seperti ini, apa aku hamil ?" tanyanya pada diri sendiri.
"Yah, lebih bagus jika aku hamil, maka akan ada alasan untuk ku meminta pertanggung jawaban mu Arkan." katanya pada diri sendiri, senyum licik langsung tersungging di bibirnya.
Please
🌷Like
🌷komen
🌷vote
__ADS_1
🌷dan hadiahnya