
Sesampainya di di bandara, ia pun langsung menuju Kos-an nya, dengan menggunakan taxi airport.
Dion beberapa kali mendapat panggilan dari Tyas, namun coba ia abaikan, setelah beberapa kali telpon nya tak di angkat, ia pun mendapat pesan singkat dari Tyas, dengan malas Dion membuka pesan tersebut, dari sebuah aplikasi handphonenya.
Dion, Tyas sedang berada di rumah sakit, xyz,
Meski binggung, Dion segera mengubah arahnya, menuju rumah sakit xyz.
Masalah apalagi ini, padahal aku belum siap untuk berhadapan denga Tyas, aku masih sangat lelah, batin Dion.
Setelah sampai, ia pun menghubungi nomor Tyas, dan ternyata yang mengangkat Ibunya Tyas.
Dion menanyakan ruangan di mana Tyas berada, Dion merasa sangat letih pada tubuh dan batinya, dan sekarang ia harus menghadapi Tyas kembali.
"Ya Tuhan, Cobaan apa ini? Aku bahkan belum siap untuk bertemu dengan nya, kini mau tidak mau, suka tak suka, aku harus berhadapan denganya lagi." gerutu Dion
Dion masuk keruangan di mana Tyas di rawat. Di sana ia melihat Tyas sedang di rawat, wajah nya terlihat pucat, Dion pun mendekati Ibunya Tyas, dan menanyakan apa yang terjadi pada Tyas.
"Apa yang terjadi pada Tyas, Bu ?" tanya Dion, terlihat ibunya sangat sedih.
"Tyas mengalami pendarahan, setelah menggugurkan kandunganya sendiri," jawab Ibunya, ia pun menangis.
"Maksud Ibu, Tyas sengaja menggugurkan kandungannya?" tanya Dion kaget.
Ibunya Tyas hanya bisa menggangguk, ia tak mampu berkata-kata.
"Tapi kenapa dan bagaimana ini bisa terjadi?" Dion penasaran.
"Ibu sendiri juga ngak tahu, saat ibu pulang kerumah, Ibu melihat Tyas, sudah tak sadar, dan dari jalan lahirnya, darah mengalir dengan deras," tutur Ibunya dengan berlinang air mata.
Dion hanya diam, ia kembali meneteskan air matanya, rasanya masalahnya kini semakin berat saja, ia merasa lelah, rasanya ia tak ingin berpikir, ia tak ingin hadir di sini, ia merasa akan terjebak kembali.
"Sejak Nak Dion pergi, Tyas seperti kehilangan gairah hidupnya, ia sering menangis, mengunci diri di kamar, dan kadang kala, ia tak mau makan meski di paksa, Ibu ngak tahu harus berbuat apa lagi," tutur Ibunya sedih.
Dion pun ikut menangis, mendengar kan penuturan Ibunya Tyas.
__ADS_1
Ia sendiri masih belum bisa bangkit karna di tinggalkan istrinya, ia masih merasa sedih dan kecewa, masalah itu masih belum mampu membuat Dion berdiri tegak, dan sekarang Tyas, ia malah menambah beban pikiran Dion.
Dion menyandar kan dirinya, rasa lelah menghinggapi di sekujur tubuhnya kini, mungkin istirahat dan tidur, bisa membuat tubuhnya pulih kembali, namun ia tak bisa memejamkan mata, pikiranya bercabang, ia masih memikirkan seseorang yang ia cintai di sana, dan memikirkan yang di sini seseorang yang mencintainya.
***
Sementara Amira, di sana, ia masih saja bersedih, masih menangis dan menyesali rumah tangga nya, yang baru saja berlabuh, namun kini sudah karam, tenggelam di lautan yang paling dalam, lebih menyedihkan lagi, semua terjadi karna pengkhianatan.
Tak mudah memang menata hati setelah hancur berkeping-keping, ia harus memulai semua nya dari awal kembali, semua memang tak mudah, tapi bukan bearti semua tak mungkin, kini Dion adalah masa lalu nya, dan di masa depanya ada di kembar yang kini bergerak aktif di dalam rahimnya.
Memperjuangkan cinta dengan susah payah, tapi hanya mampu bertahan beberapa bulan saja, sungguh bayaran yang mahal untuk sebuah kekecewaan.
Amira terus saja menangisi tentang nasib percintaanya, ia masih merasa sedih, masih merasa kecewa dan patah hati, ya semua memang butuh waktu, biar saja ia menangis, biar saja ia bersedih, nyatanya air mata cukup ampuh membasuh lukanya.
Butuh keberanian dan kekuatan untuk melewati semua ini, dan ia merasa ia cukup kuat, untuk kembali tegak berdiri, meski kini ia harus berjalan tertatih.
Amira mencoba menutup mata lelahnya, mata yang sudah lelah menangis, hanya satu harapan yang ia sematkan, semoga hari esok tak ada lagi air mata, inilah hari terakhir ia menangis.
Amira menutup matanya, semoga sebuah mimpi, mampu memberinya kekuatan baginya kembali.
Dion benar-benar lelah, sudah berapa hari ia tak tidur, terus terpikir dengan masalah rumah tangganya, kali ini ia sudah tak sangup lagi terjaga, ia pun terlelap meski waktu masih menunjukan pukul 16.00 sore hari.
Tyas menarik tangganya dan membelai lembut kepala Dion, seseorang yang selalu ia rindukan, kini ada di sampingnya kembali.
Dion begitu lelap, hingga tak sadar dengan gerakan yang di lakukan Tyas.
Tyas memiringkan tubuhnya, mencoba untuk memeluk tubuh Dion.
Ia menikmati setiap helaan nafas Dion, dan hempasanya, dan dengkuran halus yang menyiratkanu betapa lelahnya jiwa dan raga Dion saat itui
Dalam keadaan lemah, Tyas pun kembali tertidur.
Suara Azan Magrib yang terpasang di aplikasi handphone Dion, Membangun kan Dion, hampir dua jam ia terlelap.
Dion bangkit seraya meregangkan tubuhnya, di lihatnya Tyas masih tertidur pulas.
__ADS_1
Ia pun pergi ke masjid terdekat untuk menunaikan sholat Magrib, dan mencari sesuatu untuk ia makan, setelah beberapa hari yang lalu, ia tak pernah merasa lapar sedikit pun.
Dion kembali setelah sholat is'ya dan disana Tyas dan Ibunya seperti sedang mengobrol, Dion pun mendekati mereka.
Tyas melempar senyum kearah Dion, sebaliknya, wajah Dion terlihat datar, karna kehadiran Dion, IbuTyas beranjak dari duduknya, dan meninggalkan mereka berdua.
Dengan perasaan bercampur baur, Dion membuka percakapan mereka dengan pertanyaan.
"Apa sebenarnya yang terjadi pada mu Tyas?" tanya Dion dengan nada kesal.
Tyas hanya diam, ia hanya menitikan air matanya.
"Apa benar kau sengaja menggugurkan janin mu Tyas?" tanya Dion dengan sedikit emosi.
Kali ini Tyas langsung bereaksi.
"Aku tak menginginkan anak haram itu, Dion," jawab Tyas spontan.
"Tapi kenapa kau menyalahkanya Tyas?" tanya Dion dengan mencoba menahan sedikit emosinya.
"Lalu aku harus menyalahkan siapa Dion?" Aku tak pernah menginginkanya, anak itu hasil dari perkosaan yang aku alami, kini aku sendiri yang harus menanggung nya, itu semua bukan mau ku Dion, ia hadir di atas penderitaan ku Dion, dan satu lagi, anak itu hanya akan menjadi penghalang antara kau dan aku, Dion," tuturnya tegas.
Dion menggelengkan kepala, dan menarik nafas panjang, ia mencoba menahan emosinya, jika saja keadaan Tyas tak seperti ini, mungkin ia akan marah besar padanya.
"Aku tak menyangka, aku pikir kau gadis baik-baik, ternyata kau berdarah dingin," ucap Dion ketus.
"Ia Dion, aku sengaja membuangnya, agar aku bisa hamil dari mu," ucap Tyas spontan sepertinya Tyas sudah tak punya hati.
"Kau sudah gila Tyas, kau pikir dengan semua itu, aku akan terpengaruh pada mu," ucap Dion ketus.
"Ya Dion, kau memang tak pernah peduli, bahkan sampai ku korbankan semua ini untuk mu, kau masih tak perduli, kau tak peduli perasaan ku, juga cinta ku,iya kan Dion?" Tyas mulai emosi.
"Apa kata mu Tyas, pengorbanan untuk ku? kau lakukan ini, karna obsesi dan ambisi mu saja Tyas, bukan untuk aku, atau untuk membuktikan cinta mu, kau sebenarnya tak tahu arti cinta Tyas, kau hanya menuruti hawa nafsu mu, sekarang aku menyesal ada di sini, harus nya aku tak pernah peduli pada mu," Dion beranjak meninggalkan Tyas.
Tapi Tyas menangis dan memohon padanya agar Dion tak meninggalkan nya sendiri.
__ADS_1
"Dion tunggu Dion, jangan pergi Dion !" seru Tyas, tapi Dion terus saja berlalu tanpa memperdulikanya, ia semakin muak melihat tingkah Tyas.