Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Pesan terakhir


__ADS_3

"Assalammualaimu," sapa Raihan, ketika memasuki ruangan rumah sakit tempat Ayah Amira di rawat.


"Wa'alaikum sallam," jawab Ayah dan ibu Amira serempak.


"Raihan," sapa Bu lastri.


"Maaf Bu, Raihan baru tiba dari luar kota, setelah mengantar undangan, mendengar berita Bapak masuk rumah sakit, jadi Raihan langsung mampir, " tutur Raihan.


"Terima kasih Raihan, sudah mampir ke sini." balas Bu Lastri.


"Ia sama-sama Bu, Bapak kenapa Bu, sampai di rawat kembali?"


"Bapak mendengar berita Amira kecelakaan, karna syok jadi bapak mengalami serangan jantung kembali."


"Kecelakaan?" tanya Raihan.


"Ia Amira di tabrak mobil, dan sekarang masih di rumah sakit, keadaan nya pun sudah membaik," tutur ibu Lastri.


"Nak Raihan, panggil Pak Willy dengan suara lirih, sepertinya ia mendengar kehadiran Raihan.


"Ia Pak," Raihan mendekati Pak willy.


"Raihan bapak sekarang sudah tua, sakit-sakitan, rasanya Bapak tak mampu lagi untuk menjaga Amira."


"Nak Raihan mau kah kau menikahi Amira Raihan? agar saat Bapak pergi nanti, Bapak bisa pergi dengan tenang," tuturnya dengan lirih.


Raihan binggung, untuk menjawab, jika ia meng-ia kan itu berarti dia mengambil amanah, bukanya Raihan tak suka atau tak mencintai Amira, tapi Raihan tahu, bahwa Amira hanya mencintai Dion.


"Bapak percaya sama kamu Raihan, tolong jaga Amira, Amira putri bapak satu-satunya, bapak yakin kamu adalah pria yang baik, dan mampu menjaganya," tutur nya sambil mengambil nafas berat.


"Iiinnsya Allah Pak," jawab Raihan gugup.


"Bu," Panggil Pak willy kepada Istrinya.


"Ia Pak, " jawab Lastri.


"Bu bapak ngak kuat lagi, sepertinya Bapak akan pergi Bu," tutur nya semakin lirih.


Bu Lastri sudah menangis, melihat suami nya yang seperti nya sedang sakratul maut.


"Ia Pak, ibu Iklas jika memang sudah waktunya, bapak boleh pergi," ucapnya dengan haru.


"Bu, jaga Amira Bu, Bapak ingin Amira menikah dengan Raihan," tuturnya.


"Ia Pak, bapak banyakin ngucap saja Pak, Banyak istifar Pak," Lastri semakin jadi menangis.


Setelah mengucap dua kalimat sahadat, Pak willy pun mentup matanya, Bu Lastri hanya menangis mengiringi kepergian sang suami.


"Selamat jalan Pak, semoga tenang Bapak di sana, ucapnya," Raihan pun ikut haru, ia langsung memeluk Bu Lastri.

__ADS_1


Kini Pak willy pergi untuk selamanya.


Sementara di tempat Amira di rawat, Amira merasakan sesuatu yang tak enak di hatinya, saat itu ia tengah minum obat, tiba-tiba tanganya gemetaran dan gelas yang di pegangnya pun terlepas dari tangan nya.


Prank, suara tersebut mengagetkan Arkan.


"Kenapa kamu Amira?" tanya Arkan.


"Ngak tahu Kan, dari tadi malam perasaan aku ngak enak, aku jadi gemetaran."


"Ya sudah. biar aku bersihkan terlebih dahulu," ia pun mengambil sapu dan membersihkannya.


Setelah membersihkan lantai dengan sapu, Arkan mendapat telpon dari Raihan.


"Hallo, Asalammua'laikum," sapa Arkan.


"Wa'alakum sallam," jawab Raihan.


"Kan, ada berita buruk Kan, Ayah Amira meninggal dunia Kan."


"Inalillahi wa innalilahi rojiun."


"Ok, sebisa mungkin aku akan bawa Amira pulang," ia pun menutup telpon nya.


Arkan masuk kembali keruangan perawatan Amira, untuk memberi kabar itu kepadanya.


Arkan menghampiri Amira, ia pun langsung memeluknya, Amira heran kenapa tiba-tiba Arkan memeluknya.


"Sabar kenapa Kan?" tanya Amira.


"Bapak mu sudah tidak ada Amira, ucap Arkan," mereka pun menangis bersama.


"Bapak!!!!!", Amira menangis segeggukan,


Tangisnya pecah, mereka pun saling memeluk haru.


Amira pun terpaksa pulang, meski luka jahitannya belum mengering, dan perban di kepalanya juga belum di buka.


***


Dengan bersandar pada Arkan, Amira merebahkan tubuhnya yang lemas saat melihat jasad sang Ayah terbujur kaku, hanya air mata yang mengalir dengan deras, beserta penyesalanya yang dalam, karna ketika sang Ayah menutup mata untuk terakhir kalinya, ia tak berada di sisinya.


Suasana haru di rumah itu, hingga malam tahlilan tak ada satu pun yang ingat untuk memberi tahu Dion.


Amira baru ingat ketika ia masuk kamar setelah tahlilan, anak-anaknya tak berada di kamar itu, mereka belum tahu jika kakek mereka sudah tiada.


Amira menghubungi Dion.


"Assalamua'laikum," sapa Dion.

__ADS_1


"Wa'alaikum sallam Dion," suara Amira serak serak parau seperti menangis.


"Cahaya kamu kenapa?" tanya Dion.


"Bapak ku sudah meninggal Dion, aku terlalu larut dalam sedih hingga aku lupa memberi tahu mu, bahkan aku juga lupa jika si kembar saat ini ada bersama mu," tutur Amira sambil menahan sedih nya.


"Innalilahi Wa'innalilahi Rojiun," ucap Dion.


"Cahaya, kamu yang sabar ya,"


"Ia Dion, terima kasih, besok kamu bisakan antar Gea dan Geo pulang kemari?" tanya Cahaya masih dengan vibra kesedihan.


"Iya Cahaya, besok aku antar mereka," sekarang mereka sudah tidur.


"Ya sudah kalau begitu Dion, Assalammualakum," ucapnya.


"Wa'alaikum sallam," balas Dion.


Keesokan paginya,


Dion membawa serta anak-anaknya untuk pulang kerumah ibu mereka.


Gea dan Geo menangis ketika mendengar kabar bahwa Opa nya telah meninggal, tak henti-hentinya mereka menangis, hingga Dion tak tahu dengan cara apa untuk membujuk kedua nya.


Amira masih terlihat sedih di sisi tempat tidurnya, ia masih menyesali diri, karna ia tak sempat melihat sang Ayah untuk terakhir kalinya.


Lastri menghampiri putrinya, ia pun duduk di samping Amira.


"Sudahlah Nak, mungkin sudah waktu ya bapak mu pergi, kita tak perlu terlalu larut dalam kesedihan ini, apa lagi kau masih sakit, Ibu tak ingin terjadi sesuatu pada mu Amira," tutur Ibu nya sedih melihat Amira.


"Bu, Amira hanya menyesal, kenapa saat bapak pergi, Amira tak ada di sana untuk mendengar permintaan terakhirnya pada Amira Bu," tuturnya sambil menyapu air mata kesedihan.


"Ada pesan terakhir bapakmu, untuk mu Nak."


"Apa pesan terakhir bapak bu?" tanya Amira.


"Bapak mu berpesan agar kau dan Raihan menikah Amira, ia ingin agar ada yang menjaga mu. ia ingin agar di sana ia bisa melihat kau bahagia," papa ibunya.


"Apa Bu? menikah dengan Raihan?" tanya Amira, ia begitu syok.


"Ia Amira, hanya itu pesan terakhirnya," jawab Bu Lastri.


Amira syok bukan main, kenapa Ayahnya meminta ia untuk menikah dengan Raihan padahal, ia tak mencintai Raihan sedikit pun.


Kenapa saat iya mulai berdamai tentang perasaan cintanya terhadap Dion, masalah baru muncuk kembali, takdir seolah tak merestui ia kembali pada Dion.


Amira menjadi dilema, bertahun-tahun ia mencoba mengubur rasa cintanya terhadap Dion, tapi tak sedikit pun rasa itu mati, meski ribuan kali bibirnya mengingkari, Dion atau pun dokter Reziq, nyatanya sama saja, hati nya tak pernah menerima cinta lain, dan sekarang ia harus menikah dengan Raihan.


Amira kembali bimbang, jika memang ia dan Dion tak berjodoh, kenapa takdir bisa mempertemukan mereka kembali.

__ADS_1


Harus kah Amira kembali mengingkari perasaanya, demi menunaikan pesan terakhir Ayahnya, sungguh suatu dilema besar baginya saat ini.


__ADS_2