
Area Dewasa, di harapkan bijak memilih bacaan, jika ada perilaku menyimpang setelah membaca part ini, dosa tanggung masing-masing ya😆
Malam semakin larut, satu persatu tamu meninggalkan rumah Dyah.
Hanya ada beberapa keluarga yang masih ngobrol bersama mereka berdua.
"Mas, aku ke kamar dulu?" lirih Dyah di telinga Arkan.
"Sudah lelah sayang?" tanya Arkan dengan tatapan mata yang penuh isyarat.
Dyah hanya mengganggukan kepalanya, wajahnya memerah karna tatapan yang memabukan dari suaminya itu.
Setelah berpamitan kepada semua orang, Dyah menuju kamar pengantin yang sudah di siap kan dengan indah.
Matanya membulat sempurna ketika melihat kamar pengantin yang bernuansa serba putih, seolah melambangkan kesucian cinta mereka.
"Apa yang harus ku lakukan? aku sama sekali tidak berpengalaman dalam bercinta, bagaimana jika nanti Mas Arkan kecewa dengan ku ? sedangkan dia sudah berpengalaman, di banding dengan ku."
Dyah mondar mandir di sisi ranjangnya karena gelisah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dyah membuka lemari pakaiannya, ia mencari kain yang berwarna merah menyala yang baru di belinya seminggu yang lalu, Dyah tak menyangka jika lingger yang di belinya minggu lalu, akan di gunakanya pada malam ini.
Dyah tergelak sendiri ketika menatap bayangan nya di cermin yang ada di meja rias.
"Kenapa aku jadi malu sendiri ya?" guman Dyah pada dirinya sendiri.
Dyah duduk di depan meja rias untuk menyiapkan dirinya, ia mulai menuang lotion untuk di oleskan di sekujur tubuhnya, tak lupa menyemprotkan farfum yang beraroma sensual, untuk melengkapi dirinya, sebelum bertempur di medan tempur.
Deg, jantung Dyah seakan berhenti berdetak ketika mendengar handle pintu yang terbuka dari luar.
Jantungnya kini memacu lebih cepat ketika melihat Arkan memantung di depan pintu, dengan kedua tangan yang masuk ke saku celananya.
Arkan tertegun ketika melihat tubuh indah yang terbalut lingeri berwarna merah, ia menelan salivanya ketika Dyah berdiri dari tempat duduk nya, apalagi ketika melihat Dyah bersandar di meja riasnya.
"Aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Arkan dengan senyum manis menggoda.
Dyah hanya diam sambil menyungging kan senyum penuh Arti.
Arkan masih di kamar mandi.
Dyah duduk di samping tempat tidur nya dengan gelisah.
Apa yang akan terjadi selanjut nya, batin Dyah.
__ADS_1
Serr, deg,
Jantung Dyah ber akselerasi cepat, saat tangan kekar Arkan melingkar di bagian perut langsing miliknya.
"Ayo kita mulai sayang," bisik Arkan pada Dyah.
"Kau cantik sekali malam ini," ucapnya lagi sambil mengecup pipi Dyah.
Dyan hanya bisa pasrah saat Arkan mencium lehernya, kecupan Arkan begitu kuat hingga meninggalkan tato berwarna merah ke biruan pada bagian lehernya.
Tak cukup sampai di situ,
Arkan menarik Dyah ke tempat tidur, dan dengan buasnya menciumi istrinya.
"Mas, pelan pelan kenapa sih?" ucap Dyah di sela'sela desahanya.
"Udah ngak sabar sayang," Arkan kembali menciumi Dyah sambil memplorotin pakaianya.
Iya pun mulai mencumbu bagian lehar dan sekitarnya.
Dyah hampir tak bernafas, karna tubuh Arkan yang kekar itu menindih tubuh munggilnya.
Apalagi ketika Dyah merasa sesuatu yang menegang mendekati daerah intim nya.
Dengan lembut Arkan melepas lingeri yang menutupi tubuh indah sang istri, ia begitu menikmati tubuh polos yang tanpa sehelai benang pun.
Kini kepala Arkan berada diantara kedua bukit kembar yang kenyal dan menggemaskan itu.
Arkan memainkan lidahnya pada salah satu bukit kenbar itu, sedang yang satunya lagi ia remas dengan lembut.
Suara desahan Dyah, semakin membuat hasratnya bergelora, ia pun menarik tubuhnya dan melucuti semua pakaianya saat itu.
Arkan mengulangi gerakanya, menciumi ke dua ke dua bukit kembar itu secara bergantian, mengulumnya nya dan menggigitnya pelan, ia pun mengeser tubuhnyanya dan menciumi setiap inci bagian tubuh Dyah.
Hingga sampai pada bagian perut bawah.
Arkan menegakkan tubuhnya, dan bersiap untuk bertempur, Dyah melihat untuk pertama kalinya meriam sakti milik Arkan.
"Wah besar," guman Dyah antara takut dan penasaran, ia pun memejamkan matanya saat tongkat sakti tersebut, menggesek-gesek secara pelan kearah intimnya.
Dyah mendesah, jantung nya berdetak kencang, ketika tongkat sakti tersebut bergesekan lembut pada daerah basahnya.
Tanpa basa basi Arkan memasukan tongkat sakiti nya ke celah sempit milik istrinya, dengan gerakan lembut dan perlahan ia coba melumasi permukaan lembah tandus yang hanya di tumbuhi beberapa lembar rumput hitam.
__ADS_1
"Akhh, Akhhh, sakit Mas," ucapnya ketika Arkan menghentak-hentakan seranganya mencoba menembus benteng pertahanan lawanya.
Dyah menggigit bibirnya, sambil menggenggem erat sperai, hentakan demi hentakan, serangan demi serangan menjajal kearah banteng pertahanya.
Sekali ini Arkan gagal, tubuhnya sudah penuh dengan keringat, tapi semua itu tak membuatnya menyerah, justru membuatnya semakin semangat. kali ini dengan serangan brutalnya Arkan coba menembus selaput darah milik istrinya.
Dyah sudah menggerang kesakitan, ia pun merintih, dan menangis, Arkan pun kembali menghentak dengan satu serang mematikan.
Dyah menjerit tertahan, seketika tubuhnya lemas, selaput darah miliknya kita berhasil di bobol Arkan, Dyah mencoba mengatur nafasnya, ia coba menikmati gerakan suaminya kembali, meski masih merasakan pedih, tapi perlahan rasa itu mulai terasa nikmat.
Arkan masih mengayunkan gerakanya semakin cepat, semakin lama sensasi itu terasa memabukan,tubuh Dyah menggelepar saat merasakan ada yang bedenyut-denyut pada bagian bawah tubuhnya.
"Arkkk,"desah nya dan sekali hentakan terakhir, mereka pun sama-sama mencapai klimax nya.
Arkan mencoba mengatur nafasnya, ia pun terkulai lemas di samping tubuh sang istri, perang tersebut benar-benar menguras tenanga, namun hasilnya sungguh memuaskan.
Arkan pun memiringkan tubunya dan melihat sang istri dalam keadaan sedikit berantakan.
"Terima kasih sayang," ucap Arkan sambil menghapus air mata yang perlahan menetes di pipi Dyah.
Dyah tersenyum puas, ia pun menyapu lembut kening suaminya yang sudah bersimbah keringat.
Arkan bangkit dan menuju kamar mandi, ia pun membersihkan dirinya.
Dyah masing mengatur nafasnya, tubuhnya terasa pegal-pegal karna berusaha menahan serangan dari tubuh kekar sang suami.
Dyah bangkit dengan senyum kepuasan, akhir nya lelaki yang selama ini ia impikan kini menjadi miliknya yang utuh.
Dyah menyusul Arkan kekamar mandi, mereka pun membersih kan diri, sebelum pertempuran kedua di mulai.
"Sayang, aku lapar, aku ingin mengisi tenaga ku dengan penuh sebelum pertempuran kedua kita malam ini," ucap Arkan lirih.
"Aku juga lapar mas, aku kehabisan tenaga, aku harus mengisi tenaga ku sampai penuh, sebelum bertarung kembali melawanmu," balasnya.
"Em, benarkah?" tanya Arkan.
Dyah pun tersenyum dan menggangguk.
Mereka pun mempersiapkan pertempuran mereka kembali.
please
like
__ADS_1
komen
vote hadiah juga boleh