
Setelah dari bandara, Amira langsung menuju rumah sakit tempat Ayah nya di rawat.
Sementara Arkan, Bi Atun serta Geo dan Gea langsung pulang ke rumah.
Sepanjang perjalan Amira memandangi sekelilingnya, melalui kaca mobil dari taxi yang mengantarnya.
Setelah hampir enam tahun kepergianya, tak banyak perubahan yang terjadi di kota kelahiranya itu.
Seperti hatinya, yang selalu merasakan rindu, pada seseorang, yang ia sendiri tak tahu pada siapa iya rindukan.
Atmosfir terasa berbeda di rasakan Amira, tapi bukan karna perbedaan iklim dan cuaca, tapi ia masih menyimpan luka lama yang membuatnya kecewa, andai saja tak terjadi sesuatu pada Ayahnya, Amira mungkin enggan pulang, karna ia tahu seperti apa rasanya. ada kekuatan luar biasa, seperti magnet yang terus menariknya dalam suatu medan, rasa penasaran pada sosok seseorang yang pernah merebut hati nya, sekaligus memupuskan harapanya.
Sosok seorang yang belum pernah di lihatnya, tapi dengan mudah ia percayakan cintanya, air mata menetes di pipi Amira, hingga kini, perasaan itu masih begitu sakit, Amira coba menarik nafas panjang dan memejamkan matanya, agar perasaan itu tak lagi menghantui dirinya.
Sesampai nya dirumah sakit, Amira langsung menuju ruang perawatan Ayahnya.
Rasa lelah menghampiri Dion, raganya begitu lelah, setelah berjaga semalaman di ruang UGD, namun yang lebih lelah adalah hatinya, setelah hampir enam tahun menanti, kini ada seberkas harapan.
Dion duduk di kursi tunggu pasien di depan ruangan perawatan Ayah Amira, ia berharap Amira akan datang menjenguk Ayahnya.
Sudah empat jam Dion menunggu, tapi apalah arti dari waktu 4 jam tersebut, di banding dengan penantianya selama ini.
Seorang dokter menghampiri Dion, karna melihat Dion menunggu di depan kamar perawatan seorang pasien VIP.
"Dokter, apa yang Dokter lakukan disini?" tanya Dokter Diah, salah satu Dokter muda nan cantik, yang menyimpan hati pada Dion.
Dion melihat kearah orang yang menyapanya, "Sedang menunggu seseorang yang istimewa," jawab Dion. ia pun melempar senyum termanisnya, karna selama ini, ia sangat jarang tersenyum.
Dokter Diah duduk di sebelah Dion, "Siapa Dokter?" tanya heran.
"Istri ku," jawab Dion singkat.
Dokter Diah kaget, ternyata Dion sudah punya istri, biasanya Dokter muda sepertinya belum mempunyai istri, atau belum sempat menikah, mengingat jam kuliah jurusan kedokteran sangat padat, di tambah lagi pendidikan profesi yang membuat waktu nya akan habis di klinik dan di rumah sakit.
Selain itu, Ada gosip yang mengatakan bahwa Dion adalah seorang guy, mengingat sikaf nya yang dingin dan cuek sama wanita.
Semua jawaban Dion cukup untuk menjelaskan alasan dari sikaf Dion selama ini.
Ada pepatah mengatakan don't judge a book by its the cover, kita tak bisa menilai sesorang dari sikafnya, ternyata sikaf dingin dan cueknya, adalah upaya Dion untuk menjaga kesetianya.
Dokter Diah berlalu, kali ini ia juga mengubur harapan nya untuk mendekati Dion.
Setelah empat jam menunggu, penantian Dion tak sia-sia, di ujung jalan ia melihat seorang wanita berjalan dengan anggunya, dengan wajah yang lebih dewasa, Amira lebih terlihat modis dengan menggunakan busana kekinianu one piece dress berwana coklat tua.
Pandangan mata Dion tak henti-hentinya menatap kearah wanita yang dengan perlahan menghampirinya.
__ADS_1
Senyum langsung terkembang, seiring irama denyut jantung nya yang semakin kencang, karna menahan gejolak kerinduan terhadapnya.
Amira berjalan dengan anggunya , ia tak sadar, jika sepasang mata menatapnya tanpa berkedip, saat mendekati Dion, tiba-tiba jantung nya berdetak hebat, Amira yang merasa tak nyaman, kemudian mengalihkan pandanganya ke samping, dan saat itu, ia melihat seorang pria menatapnya nya, dan melempar kan senyum kepadanya, secara reflek tanpa di sadari, Amira pun membalas senyumanya, kemudian ia pun masuk ke dalam ruangan, tempat di mana ayahnya di rawat.
Detik-detik yang sangat berharga di hidup Dion, kini hampir emam tahun penantianya, ia kini bisa melihat senyum indah yang hadir dan slalu mengusik mimpinya.
Meski hanya beberapa detik, namun mampu memberikan gairah baru dari dirinya, meski raganya semalaman tlah lelah dengan bekerja, jiwanya tlah terisi kembali, sekuncup harapan, kini telah mengembang bermekaran di hatinya, rasa lelah dari penantianya, terbayar sudah, dengan hanya melihat wajah sang kekasih, meski hanya sekejap, meski Amira tak mengenalinya.
Dion masih saja menanti di luar, ia berharap, bisa berkesempatan mendekati Amira.
Setelah dua jam, Amira berada di kamar perawatan Ayahnya, ia pun keluar untuk mengangkat telpon dari Arkan.
"Hallo Arkan, ada apa?" tanya Amira pada seseorang di sebrang telpon, dan Dion masih menunggu di sana, berharap ada kesempatan untuk mendekati Amira.
"Amira, Kamu bisa pulang sekarang ngak, Geo dan Gea, tiba-tiba saja tubuh mereka panas," tutur Arkan.
"Apa Kan? maksud kamu Geo dan Gea demam? " tanya Amira mempertegas.
"Ia, mereka rewel banget nih, keduanya menangis, suhu tubuh mereka meningkat nih," jawab Arkan.
"Ia kan, kamu cari di dalam tas aku ada sirup penurun panas, kamu kasi mereka dulu ya, sebentar lagi aku akan pulang" Amira pun mematikan hand phone nya.
Amira masuk ke ruangan Ayahnya di rawat, setelah nemberi tahu keadaan Geo dan Gea kepada Ibunya, Amira pun langsung memutus kan untuk pulang.
Amira keluar dari ruang perawatam Ayahnya, ia berjalan menuju pintu keluar rumah sakit, dan di ikuti Dion dari belakang.
Ia pun berjalan menuju pintu keluar rumah sakit, ia ingin memastikan kemana Cahaya akan pergi, rindu sudah merasuk di dadanya, ia sudah tak sabar untuk memeluk Cahaya, yang hampir enam tahun meninggalkanya, namun semua harus kembali di tahanya, Dion tak ingin tergesa-gesa, hingga membuat Cahaya akan kembali meninggalkanya.
Amira sudah berada di pintu keluar rumah sakit, ia coba untuk mencari kendaran yang akan membawanya pulang.
Amira binggung, ia tak terbisa menggunakan taksi, ia juga tak tahu harus bagaimana mencari taksi, karna selama di Jerman ia hanya menunggu di halte, dan dengan sendirinya bis, yang akan menghampirinya.
Dion keluar dari rumah sakit dengan menggunakan mobil, melihat Amira yang kebingungan, Dion pun mencoba bertanya padanya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dion pada Amira.
Amira melihat Dion, dan ia ingat pria ini, adalah pria yang di temuinya di depan kamar perawatan ayahnya.
"Ngak ada, terima kasih," ucap Amira, ia pun memaling kan wajahnya.
Dion turun dari mobilnya, ia pun menghampiri Amira kembali.
"Apa kau mau pergi ke suatu tempat, biar kua antar," tutur Dion dengan tenang, padahal dalam hatinya sudah berkecambuk, hasratnya sudah memuncak, ingin sekali memeluk wanita yang ada di hadapanya kini, tapi Dion coba menahanya, ia tak ingin gegabah, hingga membuat cahaya kembali menjauhinya.
Biarlah ia menjadi sosok baru bagi Cahaya, ia ingin membuat Cahaya melupakan Dion, dan menerima dirinya yang sekarang ini.
__ADS_1
Amira ragu, ia harus cepat sampai di rumah, tapi ia juga tak boleh percaya pada orang asing yang tak di kenalnya.
"Aku dokter Reziq putra, salah satu dokter di rumah sakit ini, aku tak berniat jahat hanya ingin membantu," Dion pun mengulurkan tanganya, tapi Amira tak mau menjabat tanganya.
"Apa kau butuh tumpangan," tanya Dion lagi.
Setelah melihat penampilan Dion, ia pun yakin, bahwa lelaki muda di hadapanya, adalah seorang dokter, dan Amira pun mengganguk.
"Ayo aku antar kau," ucap Dion, ia pun membuka kan Amira pintu dengan penuh semangat.
Yes, dalam hatinya, senyum terus mengembang di wajahnya.
Setelah masuk mobil, Dion memulai pembicaraanya.
"Kamu dari mana?" tanya Dion basa-basi ia sebenarnya ia rindu mendengar suara Amira.
"Aku baru tiba dari Jerman dan menjenguk Bapaku, tapi anak-anak ku mendadak sakit, dan aku harus pulang," jawab Amira tak ada sedikit pun kecurigaan di hatinya, walau jantungnya berdetak dengan kencang saat melihat wajah tampan dari pria di samping nya.
Dion terus saja mencuri pandangan kearah Amira, dan Amira pun begitu, seorang yang terlihat asing, namun terasa dekat di hatinya.
Di dalam mobil mereka bergantian saling memandang, hinga suatu ketika, tanpa sengaja mata mereka saling bertentangan, karna grogi, Amira pun menundukan pandanganya, kemudian tersipu malu.
Pria tampan di samping nya memang punya kharisma dan daya pikat yang kuat terhadap lawan jenisnya, seketika Amira pun menjadi nervous, bahkan kini secara diam-diam Amira mengagumi sosoknya.
Untuk mencairkan suasana, Dion memutar lagu di audio mobilnya yang tersambung melalui bluetoot di handphonenya, lagu Melly goeslow featuring Ari Lasso, dengan judul jika, seolah ingin ia ungkapkan perasaan nya kini, lewat sebuah lagu.
Jika teringat tentang dikau, jauh di mata dekat di hati, sempat terpikir tuk kembali, walau beda akan ku jalani, tak ada niat untuk selamanya pergi.
Jika teringat tentang dikau, jauh dimata dekat di hati, apa kah sama yang ku rasa, ingin jumpa walau ada segan, tak ada niat untuk berpisah dengan mu,
Jika memang, masih bisa mulut ku berbicara, santun kata yang ingin ter ucap, kan ku dengar caci, dan puji dirimu pada ku, kita masih muda dalam mengambil keputusan, maaf kan daku ingin kembali seumpama ada jalan tuk kembali.
Lagu itu di nyanyikan Dion dengan pelan, namun pandangan matanya selalu tertuju pada Amira, Amira semakin malu, ketika tahu, Dion selalu melirik kearahnya, tapi Amira tak sedikit pun curiga dengan makna lagu yang di nyanyikan Dion.
Dion terus melaju kan mobilnya, tanpa bertanya kemana arah Amira akan pergi, karna ia sendiri, tahu persis kemana arah rumah Amira, tapi itu membuat Amira heran.
"Dokter, kok dokter seperti nya tahu arah rumah saya?" tanya nya heran.
"Oh Maaf aku lupa menanyakan di mana alamat rumah mu, " jawab Dion ngeless.
"Melihat wanita secantik kamu, membuatku ingin langsung membawamu pulang kerumah, dan ingin langsung ku jadikan istri," rayu Dion, kemudian ia pun tersenyum.
"Ih Dokter gombal, baru saja kenal, udah mau bawa aku pulang kerumah aja, langsung di jadikan istri pula," sahut Amira, ia pun tersipu malu, Amira seolah terbuai dengan ucapan lelaki di sampingnya.
Karna sama-sama gerogi, keduanya kemudian hanya saling melemparkan senyum, isyarat cinta itu masih terasa di hati Amira, mata bisa saja tak mengenali, tapi hati, tak kan mungkin menggingkari.
__ADS_1
jangan lupa, Like, komen dan votenya ya, biar author semangat.