
Amira tersadar dari pingsan nya, seketika itu ia memeluk Ummi, Amira begitu kecewa terhadap Dion, perasaan cinta itu seketika menjadi benci, tak kan ada lagi kesempatan untuk Dion.
"Ummi, Amira mau pulang ke rumah orang tua Amira, Ummi," tangisnya terisak.
Sementara Dion, mendengar itu Dion pun mencium lutut Amira agar Amira tak meninggalkanya.
"Sayang, aku tahu kamu marah pada ku, aku tahu kamu kecewa, kamu boleh menghukumku apa saja, asal jangan pergi meninggalkan ku," ucap Dion sambil memeluk kaki Amira.
Tapi Amira mencoba melepaskan kakinya dari sentuhan Dion.
"Diam kau, jangan pernah menyentuhku," ucap Amira, sambil menendang-nendang kaki nya.
"Tapi sayang, berilah aku kesempatan sekali lagi, akan ku perbaiki semua ini," ucap Dion, ia pun menanggis.
Amira meronta-ronta, menghindari sentuhan tangan Dion.
"Ummi, Ummi, bilang padanya jangan menyentuh Amira Ummi," ucap Amira sambil menangis, Amira pun kini enggan menyebut nama Dion.
Tapi Dion tak perduli, ia terus memeluk kaki Amira, seraya meminta maaf.
"Maafkan aku cahaya, aku menyesal" mohonya, tapi lagi-lagi Amira menolaknya.
Ummi sudah tak bisa berbuat apa-apa, sementara Amira ia tetap memeluknya dengan erat.
"Dion kamu tenang Dion, ingat Dion, istri kamu sedang hamil, kamu turuti saja apa katanya terlebih dahulu Dion, kasihan Amira Dion," seru Ummi, ia tetap memeluk Amira yang masih menangis tersedu-sedu.
"Ngak Ummi, Dion ngak akan berbenti sampai Cahaya memberi maaf pada Dion, Ummi" balas Dion.
Amira masih bersikukuh tak mau di sentuh oleh Dion, begitu pun Dion, semakin Amira menolaknya, ia semakin berusaha mendapat maaf dari Amira.
Malam hari yang gaduh, di mana semua orang di rumah itu menangis, Abi yang baru tiba, langsung menghampiri suara keributan yang ada di kamar Amira.
"Astafiruullah hal Azim," ucapnya.
Abi melihat Amira menangis meronta, sedangkan Dion masih memeluk kaki Amira dan menciumnya.
"Dion apa yang kau lakukan, kau tak boleh mencium kaki istrimu, Dion." Abi menarik tubuh Dion, tapi Dion berusaha melepaskanya.
__ADS_1
"Biar saja Abi, kesalahan Dion memang fatal, Dion pantas melakukanya, apa pun Dion lakukan demi mendapat maaf dari Cahaya," tutur Dion, sambil terisak menangis.
Sementara Amira terus meronta-ronta sambil menangis, ia tak mau kakinya di sentuh oleh Dion.
"Abi, bawa Dion menjauh Abi, kasihan Amira Bi, Amira masih syok," papar Ummi, Ummi pun ikut menangis.
"Ayo Dion, ikut Abi, kita cari solusinya, kamu harus tenang dulu, biar Amira juga tenang." Abi menarik tangan Dion dan membawa nya menjauh.
Setelah Dion menjauh, Amira pun sedikit tenang, walau kini tubuhnya gemetar, Amira pun seperti orang yang mengigil.
Ummi tetap memeluk Amira, "Sabar ya sayang, kamu tenang dulu, kita selesaikan masalah ini bersama," bujuk Ummi.
"Amira mau pulang ke rumah orang tua Amira saja Ummi," pintanya sambil menangis tersedu-sedu.
"Amira dalam rumah tangga selalu ada masalah, seperti hidup yang akan selalu ada ujian yang datang, begitulah rumah tangga kalian saat ini, kalian masih terlalu muda, untuk memutuskan sesuatu, takutnya itu hanya emosi, dan perasaan sesaat saja, yang akan membuat kamu menyesal nantinya." Ummi
Amira hanya diam mendengar penuturan Ummi.
"Amira pikirkan, saat ini kamu sedang hamil, jangan terbawa emosi, Ummi tahu kesalahan Dion sangat fatal, tapi Ummi lihat ia sungguh-sungguh meminta maaf, Ummi juga melihat Dion sangat mencintai kamu," Ummi berusaha membujuk Amira.
"Cinta Ummi? jika Dion cinta Amira, dia ngak akan berbuat seperti itu, bahkan dia juga berhubungan suami istri dengan wanita lain, hati Amira hancur Ummi, Amira kecewa, tak ada lagi yang bisa di pertahankan Ummi, Amira ingin mengakhiri semua ini, Amira ingin pulang, Amira ingin sendiri," papar nya sambil menangis.
"Karna kamu lebih dewasa dari Dion, Ummi harap kamu pertimbangkan dengan matang, kamu juga fikirkan nasib anak kalian jika kalian berpisah, tutur Ummi.
"Amira sudah buat keputusan, Amira akan pergi dari sini, maaf Ummi, Amira tak bisa menerima Dion kembali, hati Amira sudah terlalu sakit, besok Amira minta tolong telpon kan orang tua Amira, Amira ingin pulang," pinta Amira.
"Ia sayang, memang lebih baik berfikir dulu, mungkin dengan menjauh dari Dion, untuk sementara waktu, aku akan menyadari perasaan kamu, tapi sayang,Ummi berharap, kamu kembali lagi, Ummi juga sayang sama kamu Amira, kamu sudah seperti anak Ummi," tutur Ummi dengan sedih, ia pun menangis.
Sementara Dion, ia duduk meringkut seraya terus menyesali perbuatanya.
Abi berusaha menenangkan Dion, saat itu Dion sangat kacau sekali, ia hanya diam, menangis, sambil menjambak rambutnya, Dion seperti orang yang kehilangan kesadaranya.
Meski penasaran apa yang sebenarnya terjadi, Abi tak mau menanyakan langsung pada Dion, karna di lihatnya Dion seperti orang yang strees, depresi dan frustasi.
Setelah Amira tenang, Ummi pun meninggalkan nya, saat itu Amira terlelap sendiri, mungkin karna telah letih menangis.
Ummi langsung menghampiri Dion.
__ADS_1
"Dion kamu sabar ya Nak, kamu harus tenang, jika kalian sama-sama emosi, masalah ini ngak akan selesai." Ummi langsung memeluk Dion.
"Ada apa sebenarnya Ummi, kenapa semua ini terjadi?" tanya Abi heran.
Ummi pun menceritakan semua yang terjadi, dari awal hingga Amira sampai pingsan.
Melihat keadaan Dion, Abi berusaha menahan amarah nya, Dion saat ini sedang terpuruk, jika terus di salah kan Abi takut akan mempengaruhi kondisi kejiwaan nya.
Sepanjang malam, mereka berjaga, Ummi menjaga Amira, Abi menjaga Dion, Dion sendiri tak tidur semalaman, ia terus saja menangis.
Azan subuh berkumandang, Abi mengajak Dion, untuk menunaikan sholat subuh.
"Dion, sholat subuh dulu nak," ajak Abi.
Dion seperti orang yang kehilangan gairahnya.
"Dion, jika manusia tak mampu menyelesaikan masalahnya, maka serahkan saja kepada Allah, dengan demikian kamu akan merasa tenang," nasehat Abi.
"Dion, minta lah pertolongan Allah Dion, kamu yang sudah berbuat salah, harusnya kamu bertobat Nak, mohon perlindungan dari nya Dion, curah kan keluh kesah kamu pada nya Nak, minta jalan yang terbaik untuk kalian," papar Abi.
Mendengar penuturan Abi, Dion pun bangkit, mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Dion pun menangis di setiap sujud, ia berdoa dengan hati yang lirih, agar semua masalah yang menimpanya kini segera berakhir.
Pagi hari, seperti yang di janjikan Ummi pada Amira, Ummi pun menelpon kedua orang tua Amira.
Amira masih mengunci diri di kamar, Dion mengetuk pintu kamarnya.
"Cahaya, buka pintu nya Cahaya, berikan aku kesempatan untuk bicara pada mu Cahaya, sebentar saja," ucap Dion.
Namun tak sedikit pun Amira menjawab, ia hanya diam.
Tapi Dion tak menyerah ia masih di depan pintu.
"Cahaya, maafkan aku Cahaya, aku janji, aku tak kan mengulangi nya lagi, aku tetap akan bersama mu Cahaya, aku tak kan pergi lagi," ucapnya lagi, Dion pun bersimpuh di lantai, tepat di depan kamarnya.
"Cahaya, tolong dengar kan aku sekali lagi," ujarnya lirih, Dion hampir putus asa, sudah berjam-jam ia memohon pada Amira, tapi sedikit pun Amira tak mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
Amira memang wanita yang bertutur kata lembut, baik hati dan punya jiwa sosial yang tinggi, tapi sebalik itu semua, ia adalah sosok yang tegas, punya pendirian yang kuat, dan ia seorang yang keras kepala, hingga seperti apa pun Dion memohon, tak sedikit pun mengubah pendirianya, hingga kedua orang tua Amira datang, tak sedikit pun ia memberi Dion kesempatan.