
Hempasan nafas Dion terasa hangat menyapu di wajah Amira, hangat dan harum, semua terasa nikmat saat tubuh Dion melakukan gerakan di atas tubuhnya, yang sudah tercipta sejak anak adam terlahir di dunia.
Ini adalah ronde kedua mereka melakukanya, masih dengan semangat yang sama, seperti pertama kalinya mereka bersatu dalam ikatan yang halal, cinta membuatnya semakin terasa nikmat, mengecap setiap sapuan dan sentuhaan lembut yang menjalar kesetiap sudut tubuhnya.
Mencium mu, memelukmu, meski setiap hari tak kan pernah membuat ku jemu, menikmati setiap tetes keringat yang jatuh menyentuh kulit ku, dan saat senyum puas terlukis di akhir penyatuan kita, itu adalah sesuatu yang membuat ku bahagia, bagaimana aku bisa membagi ini semua, tak kan ku lepaskan kau, karna kau hanya milik ku, dan hanya untuk ku.
Amira merangkul tubuh Dion yang telah basah oleh keringat, semakin hari, ia merasakan cinta yang semakin besar dan sempurna, sesempurna keindahan purnama saat bertengger menerangi malam gelap yang gulita.
Dion adalah cahaya ku, cinta ku, dan segala yang aku punya, adalah milik nya, tak sedetik pun, waktu ku tanpa memikirkan dia, dia adalah cintaku, nafas ku, aku tak kan sanggup membagi cintanya pada siapapun, akan ku perjuangkan cinta ku, hanya maut yang mampu memisahkan aku dan dia, aku tak kan sanggup hidup tanpanya.
Bulir air mata menetes di sudut netranya, cinta ini membuatnya sedikit gila, Amira menjadi lebih posesif, gampang terpancing cemburu, ia bahkan tak kan mengijinkan Dion untuk bertemu dengan Amanda.
Amira masih menggelayut manja di samping tubuh suaminya, ia masih betah mencium aroma tubuh Dion, meski tlah basah oleh keringat.
Dion menarik diri untuk membersihkan tubuhnya, tapi Amira selalu manahannya, Dion pun harus bersabar hingga Amira terlelap di pelukanya.
Setelah memastikan istrinya tertidur pulas, dengan perlahan ia melepaskan tanggan sang istri yang berada di pinggangnya.
Dion tersenyum melihat perubahan pada istrinya, terkadang sang istri suka bermanja-manja denganya, terkadang Amira juga suka marah-marah terhadapnya, tapi Dion coba mengerti dan mengalah, karna mengalah dari sang istri, bukan berarti menjatuhkan harga diri nya sebagai seorang suami, tapi sebagai bukti cinta dan kasih sayang yang coba ia buktikan.
Meski usianya lebih muda dari Amira, tapi ia harus lebih bijaksana, karna ia adalah kepala rumah tangga, menjadi dewasa bukan lah pilihan, tapi sebuah keharusan ketika ijab qabul sudah kau ucapkan.
"Ah akhirnya tidur juga setelah mencium bau ketek ku " katanya, Dion pun bangkit setelah menyelimuti tubuh istri nya yang masih bugil.
Setelah mandi dan membersihkan tubuh ia membanggunkan Amira.
"Bu, sebentar lagi mau Magrib, ayo bangun," ucap sambil mengecup lekat kening sang istri.
Seketika Amira tersadar dan menyambar bibir Dion dan mengecupnya, sambil tersenyum ia pun melingkarkan tangganya ke leher Dion, agar Dion mengangkat tubuhnya dan meminta Dion untuk membawa ke kamar mandi.
"Makin manja saja kamu Bu, mau kamar mandi saja minta di gendong," ujarnya sambil menggendong tubuh istrinya menuju kamar mandi.
"Mumpung perut ibu belum buncit Yah, nanti kalau perut ibu sudah besar, Ayah ngak akan bisa gendong lagi," jawabnya.
Dion pun menurukan Amira, ia pun masuk dalam bathtub, yang sudah penuh berisi air hangat, semua sudah di persiapkan Dion untuk nya.
Selepas Magrib, mereka pun bersiap untuk kerumah Ummi, malam ini Dion mendapat piket malam.
Di dalam mobil, Amira menyandarkan tubuhnya ke bahu Dion, dengan lembut Dion menyapu bagian rambut nya.
"Ibu capek ya?" tanya Dion sambil membelai rambut panjang Amira.
"Capek Yah, tapi seneng yah, hari ini puas banget meluk kamu, cium kamu Yah, karna nanti malam ibu harus tidur sendiri," tutur nya.
Mendengar itu Dion meraih tanggan istrinya.
Cup..cup ia mencium tangan sang istri.
"Yah, kenapa ngak berhenti saja Yah kerja di rumah sakit, Ayah buka praktek saja Yah, jadi ibu ngak selalu di tinggal saat malam,"
"Suatu saat Ayah akan berhenti, meski gaji Ayah di sana ngak seberapa, tapi Ayah bahagia, menjadi dokter bukan hanya profesi bu, tapi tanggung jawab, karna ilmu yang ayah pelajari akan di minta pertanggung jawabannya kelak di akhirat Bu."
"Setiap sesuatu akan ada batasan nya, suatu saat ayah juga akan pensiun, dan kita akan nikmati masa tua bersama, satu per satu kita akan menikahkan anak kita, melihat kelahiran cucu-cucu kita, dan di saat raga ini mulai rapuh, kita akan saling menopang melewati masa senja, hingga terbenam nya sang surya, pertanda telah habis waktu bagi kita untuk hidup di dunia, semoga saja kita akan kembali di persatukan di akhirat kelak, kau adalah pilihan ku di dunia dan di akhirat kelak."tuturnya
"Cih, Ayah so sweet banget, ibu jadi makin cinta sama Ayah." Amira
"Tapi yah, jika ibu sudah tua, apa cinta ayah ngak berubah, saat kulit ibu sudah keriput dan ngak kencang lagi, saat itu, ibu pasti jelek Yah, biasanya kan laki-laki jika istrinya sudah tua, mulai mencari yang lebih muda dan lebih cantik," tutur Amira.
"Emangnya kalau ibu tua, Ayah ngak akan tua apa? kalau ibu sudah keriput ya, tinggal nikmatin aja keriputnya, keripik kulit ayam yang keriput aja tuh, laku, enak lagi bu," sahut Dion.
"Ih Ayah, masak ibu di sama in dengan kulit ayam sih," ia pun mencubit perut Dion.
"Semoga saja kelak ibu yang meninggal duluan Yah, biar ibu ngak sedih saat Ayah pergi," ucapnya.
"Kalau Ayah sih, mau nya kita meninggal nya bersama saja bu, biar ngak akan ada yang yang akan bersedih di antara kita nantinya bu."
"Semoga saja Yah, hanya liang lahat yang akan memisah kan tubuh kita nanti," tuturnya haru, ia pun kembali memeluk tubuh Dion, Dion pun membalas dengan mencium puncak kepala Amira.
Sesampainya di rumah Ummi.
Mereka sudah di sambut oleh kedua anaknya, Ummi juga sudah siap dengan hidangan makan malamnya.
"Assalamualaikum Ummi, lagi masak apa ?" tanya Amira.
__ADS_1
"Eh, Amira, ini Ummi lagi masak sop iga sapi kesukaan kamu," jawab Ummi sambil menunjuk sop iga yang ada di panci.
"Kalau begitu, boleh Amira bantu Ummi?"
"Ngak usah, sudah beres, kamu duduk saja, mana Dion?" Ummi.
"Masih di luar ngobrol sama Abi," jawabnya, sambil menata piring di atas meja makan.
"Kalau begitu panggil mereka, kita makan bersama," Ummi.
Tak lama kemudian mereka masuk dan masing-masing Ayah dan anak itu mengendong Gea dan Geo, di pundaknya.
Gea di gendong Abi, sedangkan Geo di gendong Dion, malam itu rumah yang biasanya sepi itu mendadak rame, karna terdengar tawa dari Gea dan Geo.
Setelah puas bercanda mereka pun menuju meja makan, dan untuk pertama kalinya, mereka semua berkumpul satu keluarga.
"Amira, ini sop iga sapi, Ummi khusus masak untuk kamu," ujarnya sambil menyendok sop itu kedalam mangkok Amira.
"Terima kasih Ummi," ucapnya tersenyum bahagia.
Aku bahagia sekali, punya keluarga seperti mereka, hangat dan penuh kasih sayang, apalagi Ummi dan Abi begitu menyayangiku, dari dulu hingga kini, meski aku pernah membuat mereka kecewa, batin Amira.
Setelah makan, Dion menunjukan kamar yang dulu mereka gunakan kepada Amira.
"Sayang kamu ingat kamar ini ? ini kamar aku, yang kita tempati bersama," tutur Dion membuka pintu kamar nya, mereka pun masuk.
"Iya Dion, aku seperti tidak asing dengan kamar ini, aku ingin kembali tidur bersama mu, di kamar ini Dion, di kamar ini pertama kali nya kita memadu cinta, dan saat itu aku sangat bahagia, karna tlah resmi menjadi istrimu, banyak suka dan duka terjadi di kamar ini," tutur Amira lirih, ia pun meneteskan air matanya.
"Iya sayang, di kamar ini lah aku menanti waktu, berharap kamu kembali pada ku, saat berada di kamar ini, aku selalu menangis saat aku merindukan mu berada disisiku, semoga saja semua kisah sedih tak kan pernah terulang, dan selamanya kita tak kan berpisah lagi," tutur Dion memeluk Amira dari belakang.
Sejenak mereka larut dalam nostalgia, mengenang suka duka, kisah asmara mereka di kamar itu.
Amira merebah kan tubuhnya di atas kasur, semua memang terasa sama, kamar ini mengingatkanya tentang romansa cintanya bersama Dion, Amira hanya mengingat kenangan indahnya di kamar itu, ia sudah melupakan kisah sedihnya, karna tak akan ada gunanya mengingat sesuatu yang akan membuatmu sedih, ingatlah sesuatu akan selalu membuat mu bahagia, agar kau selalu bahagia.
***
"Jadi prediksinya, pasien hanya bisa bertahan antara tiga sampai enam bulan kedepan," papar sang dokter.
"Bu, tenang bu, " Amira memeluk bu Nita, seketika tubuhnya ambruk di pelukan Amira.
Arkan mengangkat tubuh bu Nita yang sudah ambruk itu di atas tempat tidur.
"Bu sadar Bu," Amira menepuk-nepuk pipi bu Nita agar ia sadar, dan saat sadar, ia kembali menangis.
Setelah menenangakan bu Nita yang syok, mereka pun kembali ke kamar Amanda.
Saat itu Amanda sudah siap, ia sudah bertekat untuk tetap pulang ke rumahnya.
Bu Nita memeluk haru Amanda, ia berkali-kali mencium pipi putrinya yang tercinta, kemudian ia kembali menangis.
Sepertinya Amanda sudah tahu, bahwa umurnya sudah tidak lama lagi, ia pun menghapus air mata sang bunda.
"Jangan menangis Ma," Amanda sudah siap kok," tuturnya datar, ia pun kembali memeluk ibu nya.
Mereka pun ke luar dari rumah sakit, Amira dan Arkan mengantar mereka pulang, Amira sengaja meminta Arkan yang menemani nya, untuk menghindari pertemuan Amanda dan Dion.
Di dalam mobil, mereka hanya diam, Amanda berada dalam rangkulan ibundanya.
Bu Nita masih meneteskan air matanya, sementara Amanda terlihat sangat tegar, tak setitik pun air mata jatuh menetes di pipinya, hanya saja tatapan matamya kosong.
Sesampainya nya di rumah,
Melihat kedatangan ibu dan adiknya, Nino bukanya menyambut mereka bahagia, ia malah tidak senang, akan kembalinya keduanya.
Saat itu Mirna juga ada di sana, dan saat melihat Arkan yang mengantar Amanda, ia pun panik dan berusaha sembunyi.
"Kenapa Mirna? sepertinya kau ketakutan?" tanya Nino.
"Apa kau tidak lihat lelaki yang bersama ibu dan juga adik mu?" tanya Mirna.
Nino tak mengerti, "Memang dia siapa ?" tanya Nino.
"Aduh Nino, dia itu Pak Arkan, bos ku, pria yang kita jebak kemarin, nanti saja aku jelaskan pada mu, sekarang aku harus menghindar dari nya," jawab Mirna panik.
__ADS_1
"Kau kabur lewat pintu belakang saja, atau kau bersembunyi dulu di kamar ku, " Nino.
Mereka pun keluar dari mobil dan langsung menuju rumah.
"Apa hubungan Amanda dengan Pria itu? tanya Nino heran, ketika melihat Arkan menuntun Amanda berjalan.
Dengan sabar ia mengandeng tubuh Amanda yang terlihat lemah.
" Apa mungkin lelaki itu pacar Amanda ?" tanyanya pada diri sendiri.
Nino tersenyum licik, "Akan ku cari tahu, siapa tahu, aku bisa memamfaatkanya kembali."
Nino berpura-pura menyambut baik keduanya di hadapan Amira dan Arkan..
"Eh, Amanda, Mama, kalian sudah pulang, baru saja aku ingin menjemput kalian," ucapnya basa-basi.
Tapi Bu Nita hanya menatapnya dengan sinis, tanpa bersuara sedikit pun.
Karna merasa sudah mengantar Amanda, dan tugas mereka pun sudah selesai, Amira dan Arkan memutuskan untuk pulang.
"Bu, kami permisi dulu ya," tutur Amira.
"Iya terima kasih banyak Mbak Amira, Mas Arkan, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, " ucap bu Nita haru, ia pun memeluk Amira.
"Sama-sama Bu," balasnya.
Setelah itu mereka pun pamit.
Setelah melihat keduanya pergi dari rumah tersebut, Nino pun kembali menujukan sifat aslinya.
"Eh Manda, lelaki itu pacar kamu ya?" tanya Nino.
Tapi Amanda hanya diam, ia menatap mata Nino dengan tajam, kemudian masuk kedalam kamarnya, tapi karna geram, tanpa sengaja ia menarik rambut Amanda.
"Eh Manda, kamu berani ya sama aku?" sambil menjambak rambut Amanda, melihat Amanda yang di perlakukan seperti itu, Bu Nita pun berteriak.
"Nino apa yang kamu lakukan terhadap adik kamu," dengan penuh emosi, bu Nita menampar wajah Nino.
Amanda menahan rasa sakit akibat jambakan rambut dari Nino, saat itu darah segar kembali menetes di hidung nya.
Seketika Amanda kembali pingsan.
Karna panik, Nino pun melarikan diri bersama dengan Mirna.
Bu Nita kembali histeris melihat Amanda kembali mimisan
Dengan air mata yang masih menetes, bu Nita coba membersihkan darah yang mengalir di hidung Amanda.
Ia menengadah kan kepala Amanda, agar darah tak masuk kembali ke kerongkongannya.
Dengan tenaga yang masih tersisa, ia coba menarik tubuh putrinya di atas kasur, dengan penuh kasih sayang ia memeluk Amanda, sambil terus menangis.
Sekarang hanya tinggal ia dan putrinya, bu Nita juga tak tahu harus bagaimana.
Ia hanya bisa menangisi putrinya, sambil menunggu Amanda sadar kembali.
Sementara Nino dan Mirna panik.
"Nino kita kenapa harus pergi dari rumah itu, kita mau tinggal di mana?" tanya Mirna emosi.
"Aku tak tahu Mirna, kenapa kita tak kembali ke rumah kontrakan mu itu ?" tanya Nino.
"Aduh mana bisa, Pak Arkan sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan ku, jika aku kembali ke sana, ia pasti menangkap ku dan menjebloskan kita ke penjara," papa Mirna.
"Ahhh sial, semuanya kacau," umpat Nino dan ia dan Mirna juga tak tahu harus ke mana, mereka pun coba mengatur strategi kembali.
Please
🍎like
🍎komen
🍓dan vote nya
__ADS_1