
Di mobi dalam perjalanan
"Aku mau menikah dengan Amanda, " ujar nya pada Amira.
"Haa, apa kau yakin Kan ?" bagaimana jika dokter Dyah kembali ?" tanya Amira.
"Aku rasa Dyah tak kan kembali dalam waktu yang dekat ini, aku masih menunggu nya, tapi aku juga kasihan melihat Amanda, setidaknya dengan menikahinya, aku bisa mewujud kan keinginan terakhirnya," Arkan.
"Dan masalah aku dan Dyah, aku masih mencintainya dan menunggunya, aku yakin suatu saat dia akan kembali pada ku, jika memang dia adalah jodoh ku," sambung Arkan lagi.
Amira memperhatikan raut wajah Arkan, "Apa kau yakin? apa kau sanggup menerimanya? dan apa keluarga kita mau menerima Amanda sebagai menantu mereka?" tanya Amira lagi.
"Aku yakin, aku bisa menerima dia, aku juga tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dari nya, jika saja dia tak bisa melayaniku sebagai istri, aku juga ngak masalah, tapi aku akan tetap berusaha menjadi suami yang melindunginya dan menjaganya, dan untuk masalah keluarga kita, aku laki-laki Amira, aku boleh menikahi wanita manapun, dari suku apa pun, ku rasa tak ada masalah, lagi pula besok Mama dan Papa sudah tiba Indonesia, setelah mengunjungi Oma ku, mereka akan langsung menuju ke mari."
"Kan, aku tahu kau orang yang bijaksana, jika memang kau sudah memutuskan nya, aku bisa apa, semoga saja semua perbuatan baik mu akan di ganjar pahala oleh Tuhan yang maha esa." Amira
"Amin," Arkan
"Jadi kapan kau akan mengutarakan maksud mu?" tanya Amira.
"Secepatnya," Arkan
"Kalau begitu, ayo putar balik, kita tanya kan sekarang pada Amanda dan Bu Nita, karna besok, kita sudah tidak punya banyak waktu lagi," Amira.
"Haaa, sekarang Mira,? aku belum siap dan aku tak tahu harus berkata apa pada mereka," ucap Arkan gugup.
Aku yakin kau siap Kan, bicarakan saja apa adanya, ya sudah kita putar balik, aku juga sudah tak sabar melihat kau menikah Kan, kau orang yang baik, aku bangga memiliki saudara seperti mu," ucap nya sambil merangkul Arkan.
Mereka pun kembali menuju rumah Amanda, dan setibanya di sana, suasana rumah terasa sepi.
"Assalam mualakum," sapa keduanya.
"Waalakum salam," sambut Bu Nita, ia pun langsung menyapu air mata di pipinya.
"Nak Amira, Nak Arkan, ada apa ? mari masuk dulu " tanya Bu Nita karna ternyata mereka balik lagi.
Amira melihat wajah Bu Nita yang sembab seperti habis menangis.
__ADS_1
"Kenapa ibu menangis,?" tanya Amira.
Bu Nita tertunduk lesu, berat bagi nya untuk jujur, karna biar bagaimana pun, Nino adalah anak nya juga.
"Ibu, ibu cerita saja semuanya, ngak usah sungkan," ujarnya sambil meyakin kan Bu Nita.
" Amanda, tadi mendapat perlakuan kasar dari kakanya, hingga ia kembali mimisan dan sempat tak sadarkan diri," jawab Bu Nita, ia pun meneteskan air mata, terlihat raut kesedihan di wajahnya.
"Ha, perlakuan kasar? apa dia tidak tahu jika Amanda itu sakit Bu ?" tanya Arkan.
"Nino itu sudah berubah sejak ia memakai obat-obatan terlarang, dia sudah tak mengenal rasa iba sedikit pun, bahkan dengan ibu dan Amanda," tuturnya sedih.
Mendengar pernjelasan dari Bu Nita, Amira dan Arkan saling menatap, Arkan pun semakin yakin akan menikahi Amanda, dengan demikian ia bisa melindungi Amanda.
"Sekarang bagaimana keadaan Amanda Bu?" tanya Amira lagi.
"Dia sudah siuman, dan sedang istirahat di kamarnya?"
Tak lama Amanda pun keluar dari kamarnya, ia pun duduk di samping Bu Nita.
"Mbak Amira, Mas Arkan, saya belum mengucapkan terima kasih kepada kalian, maaf saya sudah sangat merepotkan kalian semua, terima kasih atas semuanya, semoga Allah membalas semua kebaikan Mbak Amira dan Mas Arkan," tutur Amanda, ia pun menitikan air matanya.
Amanda dan Bu Nita heran mereka saling memandang, "Maksud nya apa Nak Amira?" tanya Bu Nita.
"Kedatangan kami kemari untuk melamar Amanda bu," Amira.
"Melamar ?" tanya Bu Nita kaget.
"Iya bu, Amanda kau mau kan menerima Arkan sebagai suami mu?" tanya Amira.
Amanda sangat kaget, ia dan Bu Nita saling memandang.
"Apa kalian serius ?" tanya Bu Nita.
"Tapi kalian lihat sendiri keadaan Amanda seperti ini, ibu takut Amanda hanya akan merepotkan saja," sahut Bu Nita lagi.
"Kami sudah tahu Bu, keadaan Amanda, dan saya sudah siap menerima apa pun keadaanya nanti," ucap Arkan tegas.
__ADS_1
Mereka saling memandang, Bu Nita menatap Amanda, begitu pun sebaliknya, mungkin masih ada keraguan diantara mereka berdua.
Melihat kedua nya masih ragu, Arkan mendekati Amanda, ia pun duduk di samping Amanda.
Dengan perlahan Arkan menarik lembut tanggan Amanda, "Amanda kau mau kan menikah dengan ku?", tanyanya, sambil menggenggam tangan Amanda dan menatap matanya.
Amanda pun menatap mata Arkan, di sana ia melihat sebuah ketulusan dan keseriusan, sejenak ia berfikir dan kembali melihat wajah Arkan, Amanda pun menggangguk pertanda ia setuju, dan seketika Arkan langsung memeluknya.
Seluruh orang yang ada di sana ikut haru, bahkan Arkan sendiri, ia pun meneteskan air matanya dalam pelukan Amanda.
Bu Nita dan Amira ikut terharu, mereka pun berpelukan,
"Ya, Allah, terima kasih ya Allah, akhirnya kau berikan jodoh yang baik untuk putri ku," tangis nya ia pun bersujud.
Amanda tak henti-henti nya menangis, karna di saat penghujung waktunya akhirnya ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang istri, sesuatu yang tak mungkin baginya sebelum ini, ia memeluk Arkan haru, mendadak semua larut dalam haru. Amira pun menghampiri Arkan dan Amanda, ia merentangkan tangan untuk memeluk kedua nya, sejenak mereka kembali menangis.
Arkan melepaskan pelukanya, dan melihat pipi Amanda yang telah basah, ia pun menghapus air mata yang membanjiri pipi Amanda.
"Jangan bersedih lagi Amanda, aku berjanji akan melindungimu," ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Bu Nita mendekati Arkan," Ya Allah, Nak Arkan dan Mbak Amira, kalian sungguh berhati mulia, ibu tidak tahu harus berkata apa lagi, terima kasih, terima kasih" ucapnya ia pun kembali bersujud.
"Baik lah bu, setelah kedua orang tua saya sampai, saya akan membawa mereka kemari untuk melamar Amanda," tutur Arkan.
"Iya Nak, itu terserah pada mu, ibu tak meminta banyak, melihat Amanda bahagia, ibu sudah merasa cukup," tuturnya.
Nino yang tadi nya pergi, kini ia kembali ke rumah itu, karna tak ada tempat lagi bagi nya untuk pergi.
Melihat mereka kembali, Nino menjadi heran ia pun masuk kedalam, dan mencuri dengar pembicaraan mereka.
Bagus, tadinya aku ingin merebut sertifikat rumah ini dan mengusir mereka dari sini, tapi tidak, ku urung kan saja Niat ku, karna sebentar lagi, aku akan punya saudara ipar yang kaya, dan ku rasa aku bisa memanfaatkanya," katanya pada diri sendiri, Nino pun tersenyum licik.
Please
🍎like
🍎komen
__ADS_1
🍎dan vote
hadiah juga boleh.