Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
I miss you but I hate you


__ADS_3

Dion mengejar Amira, "Tunggu Cahaya, kau istri ku, aku akan membawa mu dan anak-anak kita untuk tinggal bersama ku," Dion sambil menarik tanggan Amira.


"Dengar Dion, sampai kapan pun aku tak bisa memaafkan pengkhianatan mu, percuma saja kita bersama, luka itu kembali berdarah saat aku mengingat semua yang kau lakukan pada ku, jalan satu-satu nya adalah perpisahan Dion."


"Tapi Cahaya, jika kau terus mengingat kesalahan itu, maka jiwa mu tak akan tenang, cobalah melupakannya Cahaya, biar kita bangun rumah tangga kita dari awal Cahaya, demi anak-anak kita, lupakan lah perasaan dendam mu Cahaya, kau boleh menghukum ku, tapi jangan hukum Gea dan Geo, kita besar kan mereka bersama Cahaya," tutur Dion dengan sungguh-sungguh.


"Ngak Dion, sekali tidak, selamanya tidak, jika kau menceraikan ku Dion, akan ku beri waktu kau dua hari dalam seminggu untuk bersama Gea dan Geo, tapi jika tidak akan ku bawa mereka jauh dari sini, dan selamanya, kau tak kan bisa melihatnya."


Dion kaget, Cahaya tak memberinya kesempatan sedikit pun.


"Jangan paksa aku untuk menceraikan mu Cahaya, ingat lah aku sudah menunggu mu selama hampir enam tahun, dan itu bukan waktu yang singkat, semua itu untuk membuktikan penyesalan ku terhadap kesalahan ku di masa lalu, coba mengerti , pahami aku sedikit saja, aku tak pernah berniat menduakan mu, apalagi sampai menikah lagi, saat itu aku berada di bawah tekanan, di satu sisi orang tua tyas memohon sambil berlutut agar aku menutupi aib anaknya dengan menikahinya, satu sisi lagi, saat itu Tyas sedang mengandung dan aku takut terjadi sesuatu padanya, ia pun ingin melakukan percobaan bunuh diri, percayalah Cahaya, aku hanya mencintaimu, Angap lah semua kesalahan ku itu sebuah kekhilafan karna saat itu umurku baru depan belas tahun, dan aku belum mampu mengambil keputusan secara bijak dalam berbagai tekanan yang menghimpit ku," papar Dion.


"Sudah lah Dion, kau memang benar, kita lupa kan saja masa lalu, kita mulai dengan hidup yang baru, hidup berpisah dengan mu, tolong lah Dion, aku juga ingin bahagia, tapi bukan bersama mu lagi, sejak malam itu, aku sudah mengunci hati ku, untuk mu," ungkap Amira dengan suara yang sedikit pelan dan lirih.


"Jadi menurut mu, aku tak pantas mendapat maaf dari mu Cahaya?"


"Bukan tak pantas Dion, tapi aku tak bisa menerima mu, sudalah kita akhiri saja semua ini Dion, aku sudah lelah lari dari semua ini. aku ingin hadapi semua, meski terasa menyakitkan, mungkin jodoh kita hanya sampai disini." Amira


Dion menarik nafas panjang," Apa kau yakin dengan semua keputusan ini?" tanyanya dengan lirih, air mata sudah tak mampu ia bendung.


"Sangat yakin Dion," Amira menatap mata Dion.

__ADS_1


"Aku..., Aku..., "Dion menghentikan kata-katanya sejenak, ia pun tak sanggup bicara, ia menangis, ia tak menyangka penantianya selama ini, berbuah sia-sia, tapi apa mau dikata, jika orang sudah tak sudi, maka tak ada yang bisa memaksa, dan memang seharus nya tak di paksa kan.


"Aku tak menyangka Cahaya, ternyata aku memang tak mengenalmu, hati mu lebih keras dari batu, kau begitu angkuh, hingga sedikit pun kau tak melihat penyesalan ku, dan penantian ku selama ini, jika memang menurut mu, aku tak bisa membahagiakan mu, maka aku...," kata-katanya terhenti ia seolah tak sanggup untuk mengucapkan nya, air matanya semakin deras mengalir, dadanya semakin bergemuruh, nafasnya pun begitu berat, Dion coba untuk mengatur nafas, sejenak ia menenangkan diri, agar bibirnya tidak gemetar lagi, berkali kali ia mengucap istifar, Astafirullahal Azim, Ya Allah semoga keputusan ini tidak membuat ku menyesal di kemudian hari, Ya Allah berilah aku ketabahan dan keiklasan dalam menerima takdir mu, jika memang ia bukan jodoh ku, fasih kan lidah ku untuk mengucapkan nya, setelah menimbang beberapa saat Dion mengucapkan Basmalah secara zahar.


"Bismillah, Aku talaq kau saat ini Cahaya, dengan ini, terputus sudah hubungan suami -istri antara kau dan aku Cahaya, pilih lah kebahagian mu sendiri, karna kau sudah bebas sekarang, aku pun sekarang bebas memilih jalan hidup sendiri," ucap Dion dengan jelas, meski dadanya semakin bergemuruh, air matanya pun berhenti menetes.


Amira kaget mendengar ucapan Dion, entah apa yang dirasakanya, hatinya bagai tertusuk sembilu yang paling tajam, menikam nikam tepat di jantung nya berkali kali, perasaan itu tak bisa lagi di sembunyikan, semua terasa menyakitkan, kali ini giliran Amira yang seperti tak sanggup menerima kenyataan, kini ia dan Dion benar-benar telah berpisah, Amira pun menangis menumpahkan emosinya.


Dion hanya Diam sambil melihat Amira yang kini menangis di hadapanya, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa, semua sudah terjadi, dan kini tinggal menjalani sebuah takdir tuhan, bahwa mereka memang tak berjodoh.


Amira menangis tanpa suara, rasa itu masih bisa ia tutupi, Dion hanya melihatnya dari kejauhan, dan tak lama seseorang datang menjemput Amira.


Arkan turun dari mobil, ia melihat Amira sendiri, dan di sudut yang agak jauh ada dokter Reziq, terlihat sekali mereka seperti habis bertengkar, karna ia melihat, baik Amira atau pun dokter sama-sama terlihat sedang menangis.


Saat menoleh, dan melihat Arkan, Amira langsung memeluk dan menangis dalam dekapan Arkan.


Arkan tak bicara, ia hanya menyapu lembut bagian belakang Amira agar ia tenang.


Amira masih menangis, tubuhnya berguncang tanpa suara, nafasnya menderu tak beraturan.


"Kita pulang Amira," ajaknya,

__ADS_1


Amira pun melepaskan pelukanya dan menggangguk, Arkan coba merangkul tubuh Amira agar ia kuat melangkah, menapaki setiap jalan yang mereka telusuri, hingga sampai di mobil, Arkan membukakan pintu bagi Amira, dan di dalam mobil Amira kembali menangis tanpa suara, ia merebahkan tubuhnya di pundak Arkan, sepanjang jalan hanya terdengar suara terisak-isak menahan tangis nya.


Melihat Cahaya sudah pergi, Dion pun beranjak dari tempat itu, ia pun pergi.


Tak ada yang perlu di sesali Dion, karna kau sudah bukti kan pada nya, bahwa kau tak menginggkari janji mu terhadapnya, untuk tetap menantinya hingga ia kembali, kau sudah pertahankan apa yang harus nya kau perrahan kan, tapi jika semua sudah tak bisa di pertahankan, jalan satu-satu nya adalah merelakan, batin Dion


Dion kembali menangis dalam kesendirianya, penantian yang panjang kini sudah usai, jangan lagi ada air mata Dion, jalanmu masih panjang, tak ada yang abadi di dunia ini, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, dan kau tak kan sanggup melawan takdir mu sendiri, malam tak selama nya kelam, biar lah waktu yang membawa purnama kembali, membiaskan cahaya, tuk terangimu dalam kegelapan.


Beberapa hari berlalu


"Aku merasa benci tapi aku begitu rindu, berhari-hari setelah perpisahan itu, aku terasa berjalan di atas duri, semua yang ku sentuh, terasa menyakitkan, semua berawal dari kesakitan dan berakhir dengan rasa yang lebih sakit, aku hanya ragu, bisa kah aku melewati waktu tanpa mu, setelah untuk kedua kalinya aku jatuh cinta pada mu," Amira masih menangis di balik tirai kamarnya, kini ia resmi menyandang status janda.


Ia masih tak mengerti tentang rasa sakit ini, bukan kah perpisahan adalah yang ia inginkan, kenapa kisah cintanya tak berakhir bahagia, Amira menutup tirai kamarnya ia pun merebahkan tubuhnya, berharap mimpi dapat memutar waktu, agar ia bisa kembali ke masa yang paling indah dalam hidupnya, di masa saat ia berada dalam pelukan sesorang yang ia cintai.


Amira menutup matanya, bulir bening mengalir di sudut matanya, adakah penyesalan selalu datang terlambat, dapatkah mimpi memutar waktu agar bisa mengulang kembali, semua kenangan indah yang tak mungkin terlupakan, tak mungkin pula terulang.


Amira kembali menangis lirih, meratapi rasa sakit patah hati yang ia ciptakan sendiri.


****


Please like, komen, dan vote,

__ADS_1


Semoga berkah, mampir di novel author yg lain dengan judul : Ketika takdir menyatukan aku dan mereka.


__ADS_2