
Amira pulang kerumahnya dengan hati gelisah, ia sendiri tak tahu bagaimana nanti, jika mereka kembali menanyakan keberadaan Ayah mereka.
Saat Amira pulang, sudah ada Arkan di rumahnya, melihat wajah Amira yang lesu ia pun menghampiri Amira.
Baru saja ingin mendekati Amira, si kembar malah berlari memeluk Arkan.
"Om gendong dong, Om Geo dan Gea, pinggin duduk di pundak Om, kayak film yang kemaren Geo dan Gea tonton Om," pinta Gea dengan manja.
"Ok girl." Arkan mengangkat tubuh Gea dan Geo secara bergantian, tawa pecah terdengar memecahkan suasana tenang di rumah itu, tak henti hentinya si kembar tertawa, ia merasa senang bisa di gendong secara bersama, keduanya kini berada di sisi kiri dan sisi kanan Arkan.
Arkan seperti sosok pengganti Ayah bagi mereka, si kembar jarang bersosialisasi, karna mereka tak punya keluarga di sana, terkecuali Arkan dan kedua orang tuanya, Jadi komunikasi mereka hanya melalui handphone dan nonton video di youtube.
Geo dan Gea juga tak fasih bahasa inggris, karna sehari-hari mereka hanya bicara pada Bi Atun, sementara Amira juga sibuk kuliah dan mengajar.
Hanya Arkan yang sering mengunjungi keduanya, Mereka sangat dekat dengan Arkan.
Setelah lelah bermain dengan si kembar, Arkan pun menghampiri Amira.
"Kau kenapa Amira ? kok kayak nya seperti ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Arkan.
Amira melihat kearah Arkan sejenak, kemudian pandangan matanya menerawang jauh kedepan.
"Geo dan Gea menanyakan Ayah mereka Kan, Aku ngak tahu harus bagaimana menjawabnya,"
"Terkadang aku merasa kasihan dengan anak-anak ku Kan, mereka seperti terkurung di tempat ini, tak punya siapa-siapa selain aku dan Bi Atun, Apalagi, Aku selalu sibuk kuliah dan bekerja, hingga tak punya banyak waktu untuk mereka, dan sekarang mereka mulai mencari keberadaan Ayah mereka Kan," tutur Amira sedih.
"Amira, setangguh apa pun wanita, ia pasti butuh seorang lelaki di sisinya, aku tahu kau wanita kuat, wanita yang mandiri, tapi kau juga tak bisa jadi ibu dan ayah dari anakku mu sekaligus, ia pasti akan mencari sosok sang Ayah," papar Arkan.
"Lalu aku harus bagaimana, apa aku harus menyerahkan anakku kepada ayah nya, ngak Kan, setelah berjalan sejauh ini, aku tak kan memberi mereka padanya, aku berjuang sendiri, saat hamil, hingga melahirkan, dan sampai di usia mereka sekarang, aku tetap berjuang sendiri, Aku akan pulang mungkin setelah mereka dewasa, untuk saat ini aku akan tetap tinggal di sini."
"Bulan depan aku akan daftarkan mereka di Kindergarten di tempat ku mengajar, dengan demikian, aku mudah untuk mengawasi mereka."
__ADS_1
"Bukan begitu maksud ku Amira, apa kau tak ingin menikah lagi? " tanya Arkan.
Amira menatap mata Arkan, "Lukanya saja belum hilang, masih terasa pedih ku rasakan, aku menjadi trauma untuk memulai hubungan dengan seorang pria," jawab Amira.
"Amira tak semua laki-laki seperti itu, kau harus membuka hati mu, kau masih muda dan kau pantas bahagia." Arkan meraih tangan Amira dan menggenggamnya, gerakan Arkan sontak membuatnya kaget.
"Amira, apa kau tak percaya pada ku, aku tak kan menyakitimu," katanya pada Amira sambil mencium tangan Amira.
Amira menarik tangannya," Apa maksud mu?" tanya Amira ia pun menatap tajam pada Arkan.
"Marry me, I promise to make you happy," ucap nya.
"Ngak mungkin Kan, kita bersaudara, aku juga tak mencintaimu, lagi pula aku dan Dion belum berpisah secara resmi, Aku yang meninggalkannya, Saat itu aku tak mendengar kata talaq darinya, dan ia pun mengijinkan ku pergi, dan berjanji akan menunggu ku kembali, aku sendiri tak tahu apa aku dan dia masih terikat pernikahan."
"Jika aku ingin menikah, aku harus menemuinya terlebih dahulu, dan aku belum siap untuk itu."
"Tapi Amira, sampai kapan kau akan seperti ini, sampai kapan juga aku harus menunggu mu?" tanya Arkan, lagi tapi kali ini dengan nada santai dan bercanda.
"Ngak usah ngarap kamu Kan, ngak akan ada merestui hubungan kita," jawab Amira bencanda.
Amira menggangkat telpon tersebut,
"Assalammualaikum Bu," ucapnya.
"Waalakum salam Amira," Amira kamu harus pulang Nak, Bapak mu terkena serangan jantung," ujar ibu nya dengan panik dan sambil memangis.
Mendengar kabar buruk itu, Amira langsung terbungkam, sejenak ia terperangah, harus kah ia pulang?tanya nya, kemudian langsung mendapat jawban, ya aku harus pulang, aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan Bapak ku," batinnya.
Melihat Amira yang sepertinya syok, Arkan pun bertanya padanya.
"Ada apa Amira ?" tanyanya heran.
__ADS_1
"Bapak ku, terkena serangan jantung Kan, dan Aku harus pulang sekarang.
"Sekarang, kau tolong aku pesankan tiket, Kan, biar aku bersiap, kami semua harus pulang termasuk Bi Atun," paparnya, ia pun panik.
Arkan pun menelpon pihak travel langganannya dan menanyakan penerbangan ke indonesia, tak ada penerbangan menuju indonesia langsung saat itu, mereka harus transit di singapura atau di Malaysia, setelah memesan tiket, mereka harus cek in sekitar dua jam lagi.
Suasana sibuk di ruang UGD, Ada beberapa pasien kecelakaan yang harus di tanggani, sebagai dokter jaga, hari itu Dion pun sibuk, hanya ia dokter yg berjaga di ruangan itu.
Semua tenaga medis saat itu sibuk, tak terkecuali Dion, apa lagi kini ada seorang pasien laki-laki yang mengalami serangan jantung.
Dion sangat mengenal laki-laki yang menjadi pasienya kini, ia adalah Ayah mertuanya, dengan sigaf ia melakukan tugasnya.
Mulai dari memasang selang infus hingga memasang selang oksigen, serta memasang alat-alat yang melekat pada dada Ayah mertuanya, semua di lakukannya sendiri, karna saat itu pasien memang sangat ramai dan para perawat sedang sibuk.
Setelah melakukan pertolongan pertamanya, beberapa saat kemudian Bapak Amira langsung di bawa ruang perawatan.
Bahkan Ibu Amira tak mengenali Dion yang menggunakan masker.
Dua orang suster membawa Ayah Amira ke ruangan perawatan VIP.
Melihat Ayah mertua nya di rawat di rumah sakit ini, Dion seperti mendapat peluang untuk bertemu Amira kembali.
Ia pun terus memantau Ayah mertuanya, berharap Amira akan pulang dan membesuk Ayahnya.
Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, semoga dengan ini Dion bisa bertemu dengan cinta sejati yang selama ini di nantinya.
Perjalanan melelahkan hampir dua puluh ham waktu yang mereka habis kan untuk sampai di tanah air.
Terlihat sekali mereka kelelahan, apalagi Gea dan Geo, mereka baru pertama menginjakan kaki di bumi pertiwi, tanah para leluhurnya.
Please like, komentar dan vote nya ya raider jangan pelit-pelit tekan like ngak susah kok, komentar juga, siapa tahu komentar anda bisa jadi ide buat author.
__ADS_1
Mampir juga di novel author yg lain dengan kisah yg lebih seru dengan judul:
Ketika takdir menyatukan aku dan mereka