
Dion sudah sampai di rumah mewahnya Amira, disana ia sudah di tunggu oleh Arkan.
Si kembar Geo dan Gea, langsung berlari memeluk pamanya Arkan, mereka pun menangis tersedu-sedu mencari sang kakek.
Mendengar suara tangisan anak-anaknya, Amira pun keluar dari kamarnya, dan langsung menemui mereka.
Dion pun menghampiri Amira dan Ibundanya.
"Cahaya aku turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya bapak kamu, semoga beliau di terima di sisi Allah S.W.T." ucap Dion.
"Terima kasih Dion," balas Amira.
Dion pun duduk di kursi ruang tamu, dan Amira pun duduk di samping nya, mereka terlihat canggung, setelah perpisahan itu, mereka tak pernah berada sedekat ini lagi.
"Bagaimana keadaan kamu Cahaya?" tanya Dion memulai obrolan.
"Baik Dion, hanya perbannya belum di buka, dan jahitan nya juga belum di buka, harus nya hari ini, tapi berhubung aku lagi berduka, jadi aku tunda saja."
"Cahaya jika perbannya tak di buka segera, bisa timbul infeksi, boleh aku lihat luka mu, biar aku buka jahitanya."
"Ngak usah Dion, nanti aku merepon kan kamu," Amira merasa sungkan.
"Aku dokter, memang tugas aku seperti itu, lagi pula kamu adalah ibu dari anak-anak ku Cahaya, aku tak ingin terjadi sesuatu pada mu," ucapnya.
"Sebentar ya, aku ambil alatnya dahulu," ia pun keluar sebentar, kemudian dalam beberapa saat ia kembali lagi.
Dion membawa satu box kecil peralatanya, ia pun meletakanya keatas meja.
"Ayo Cahaya, aku tapi aku butuh tempat yang tenang untuk melakukan semua ini."
"Kalau gitu kita ke galeri ku saja Dion," ia pun memanggil Arkan.
"Ada apa Amira?" tanya Arkan.
"Kan, bawa aku ke galeri ku," Arkan pun membawa kursi roda yang akan di gunakan Amira.
Karna kakinya masih bengkak, Amira tak bisa berjalan terlalu jauh, ia harus menggunakan kursi roda, Arkan pun membawa Amira dan Dion ke galeri, yang tempatnya agak terpisah dari rumah mereka.
Suasana yang tenang terasa di ruangan itu, pencahayaanya pun sangat baik, jadi Dion tak perlu lagi menggunakan pencahayaan lampu.
__ADS_1
Amira duduk di kursi rodanya, dengan hati-hati Dion membuka plaster yang mereka pada kain kasa yang mengelilingi kepala Amira.
Setelah itu dengan hati-hati ia membuka perban yang menutupi luka di kepala Amira, ini adalah yang kedua kalinya Dion, membuka perban di kepala Amira, yang pertama saat Amira jatuh dari tangga, karna berupaya mempertahankan cintanya, luka itu masih membekas, ia kembali ingat perjuangan Cahaya untuk bisa mendapat restu dari orang tuanya, dan saat itu, Cahaya sudah di nyatakan meninggal, mungkin karna kekuatan cinta mereka, Dion berhasil membuat jantung Amira berdetak kembali, dengan detak jantung nya.
Tanggan Dion gemetar, air matanya menetes, mengenang kisah tragis percintaan mereka, hubungan yang begitu di tentang oleh keluarga Amira, hingga ia berhasil menikahi Amira, walaupun saat itu Amira dalam keadaan koma, Dion yakin dengan seyakin-yakinya bahwa Cahaya adalah cinta terakhirnya, tapi sekarang begitu mudah perpisahan itu terjadi, begitu mudah ia mengucapkan talaqnya pada Cahaya.
Kunci semua itu adalah dirinya, tak seharusnya ia terbawa emosi, tak seharusnya ia mengikuti ke inginan Cahaya untuk berpisah darinya.
Harusnya ia memahami Cahaya, yang paling banyak berkorban untuk hubungan mereka adalah Cahaya, jadi wajar saja jika, Cahaya yang paling menderita, wajar saja jika Cahaya sulit untuk memaafkannya.
Dion pun melanjutkan tugasnya, dengan hati- hati ia menggunting jahitan di kepala Amira.
Saat di gunting, Amira tak merasa sakit, tapi saat akan menarik benang tersebut, Amira merintih.
"Aduh Dion sakit," ucapnya sambil memegang kepalanya yang terasa sakit, dan tanpa sengaja ia menyentuh tangan Dion.
Getaran cinta itu kembali terasa saat kulit mereka saling bersentuh, meski tanpa sengaja.
Dion lebih hati-hati dan berusaha konsentrasi, dengan menarik nafas panjang ia pun mencoba menyelesaikan tugasnya.
Meski merasa sakit, tapi Amira tak bersuara, ia hanya menyeringaikan wajahnya, hingga semua telah selesai.
Dion berlutut di hadapan Amira, di sana hanya ada mereka bertiga, melihat gelagat Dion, Arkan pun pergi menjauh.
Dion meraih tangan Amira, dan memcium punggung tanganya.
"Cahaya mau kah menerima ku kembali Cahaya?" tanyanya.
Amira hanya diam saja, saat itu ia ingin sekali berkata iya, tapi ia masih ragu, karna ada wasiat dari bapaknya yang harus ia tunaikan, sebagai bakti seorang anak kepada orang tua nya.
"Cahaya kembali lah pada ku, demi anak-anak kita Cahaya, kasihan mereka Cahaya, jika kita berpisah mereka pasti kembali terluka, mereka sendiri bilang pada ku mereka yang menginginkan kita bersama kembali, kau tidak tahu betapa rapuh nya mereka, saat mengetahui kau akan menikah dengan orang lain, mereka tak perlu memilih untuk ikut aku atau pun ikut dengan mu, seandainya kita bersama lagi, aku tahu, luka yang ku torehkan pada mu, terlalu dalam membekas, mungkin kau tak bisa melupakaanya, tapi berilah aku kesempatan lagi Cahaya, kali ini aku janji tak akan mengecewakan mu lagi," papar Dion.
Amira hanya menangis, sebenarnya ia juga rindu untuk bersama, bahkan sangat rindu.
"Maaf Dion, sepertinya tak bisa," ucapnya sambil menarik nafas panjang.
"Tapi kenapa Cahaya, apa kau masih terus mempertahankan keegoisan mu itu, sikaf angkuh mu?" tanya Dion.
"Sekarang kita tak hanya berdua Cahaya, kita berempat, kau jangan ingin menang sendiri Cahaya, aku tahu kau hanya mencintaiku kan?" tanya Dion.
__ADS_1
"Ia Dion, aku memang hanya mencintai mu, hanya mencintai dokter Reziq, dan perasaan itu tetap sama, seperti apa pun kau merubah jati diri mu, tapi kali ini aku tak bisa, karna aku harus menunaikan kewajibanku kepada Bapak ku, pesan terakhir darinya, agar aku menikah dengan Raihan," paparnya.
Dion syok mendengar jawaban dari Amira,
"Tapi Amira..., " kata-kata Dion terhenti.
"Sudalah Dion, mungkin kita memang tak berjodoh, " ia pun pergi dari Dion, dengan memutar sendiri kursi rodanya.
Dion hanya memaku melihat Amira berlalu darinya.
"Bagaimana caranya lagi aku bisa meyakinkan mu Cahaya," tutur Dion pada dirinya sendiri.
Setelah mengantar Amira sampai kekamarnya, Arkan kembali menemui Dion.
Arkan menepuk pundak Dion.
"Dion kamu sabar ya, aku yakin Amira masih bersedih atas kepergian Ayahnya, aku janji, sebisa mungkin aku akan bantu kamu membujuk Amira.
Dion hanya diam.
"Dion kamu jangan putus asa, saat ini ujian berat kembali menimpa cinta kalian, ingat lah Dion, bukan kali ini cinta kalian membutuhkan pembuktian."
Kau ingatkan, bagaimana Amira teguhnya memperjuangkan cintanya pada mu, hingga ia harus menentang perjodohanya, hingga ia hampir meninggal karna mengejar cinta mu, seandainya kesabaran mu di uji untuk saat ini, itu belum seberapa dengan pengorbanan yang Amira lakukan untuk mu dan cintanya."
"Yakinlah Dion, jika Amira cinta sejati mu, dia akan tetap kembali pada mu, sejauh apa pun ia melangkah," tutur Arkan.
"Kau benar Arkan, kini saat nya bagi ku untuk membuktikanya pada Amira, aku salah, seharusnya aku belum menyerah dan tak boleh menyerah, nyatanya memang aku yang bersalah, aku harus terus berusaha meyakinkan Cahaya, bahwa aku lah cinta sejatinya," Dion pun memeluk Arkan.
"Good Dion, memang begitulah seorang pria, kita tetap jalan kan rencana kita, aku yakin hanya itu caranya agar Amira yakin bahwa ia hanya mencintai mu," katanya kepada Dion.
"Terima kasih Arkan," ucap Dion.
"Sama-sama Dion," balasnya.
Please ya like dan komen juga vote nya dong, biar author semangat upnya.
Mampir juga di novel author yg lain dengan cerita yang lebih seru dan selalu ada konplik di setiap episodenya, dengan judul
🌷Ketika takdir menyatukan aku dan mereka🌷
__ADS_1