
Sudah tiga hari Dion selalu mengintai dari jendela kamarnya, berharap Amira akan pulang, tapi rasa nya ia sudah tak sabar menunggu, Dion pun turun dan keluar membawa mobilnya, menuju rumah Amira.
Di sana Dion langsung menemui Satpam penjaga, ia bermaksud menanyakan keberadaan Amira, ia ingin menjemput istrinya, bagaimana pun Dion merasa Cahaya adalah istrinya, dan ia akan mengambil kembali hak nya terhadap Cahaya.
"Pak, apa ada Amira di rumah?", tanya Dion.
"Anda siapa?" tanya Satpam tersebut.
"Saya Dion, suaminya," jawabnya.
"Oh, Maaf Mas, Mbak Amira dan sekeluarga sudah pindah ke Jerman, di sini hanya tinggal nyonya besar," jawabnya.
"Pindah?" Maksudnya mereka pergi dalam beberapa hari, trus kembali ke sini lagi kan?" tanya Dion memastikan.
"Ngak, Mas, Mbak Amira akan tinggal di sana, setelah melahirkan ia akan melanjutkan kuliahnya di sana, Mbak Amira juga akan melakukan operasi transplantasi kornea matanya di sana," papar Satpam tersebut.
Dion bagai tersambar petir di siang hari, ia merasa Cahaya sengaja lari darinya.
"Pak, Bapak tidak berbohongkan?" tanya nya lagi.
"Sumpah demi Tuhan Mas, saya ngak bohong, baru satu jam yang lalu mereka berangkat."
"Baru satu Jam?" terima kasih Pak,"Dion langsung melaju kan mobilnya menuju bandara.
Sesampai nya di bandara, Dion terus mencari, ke seluruh area bandara, tapi ia pun tak menemukan, ia mencari dan bertanya pada petugas tentang pesawat yang akan menuju Jerman, ternyata tak ada penerbangan yang langsung menuju jerman, mereka harus transit terlebih dahulu, Dion pun binggung harus mencari kemana.
Sudah dua jam ia berada di sana, tapi tak juga menemukan Cahaya, Dion pun putus asa, ia pun kembali kerumah.
Dion merasa sangat kecewa, semudah itu Cahaya meninggalkan nya.
Flasback
Dua hari sebelumnya.
Amira berada di sisi tempat tidur, ia masih merasakan rindunya pada Dion, Amira juga masih mencintainya, dan rasanya ia tak akan bisa melupakan Dion, jika ia tetap berada di sini, Amira harus tetap tegar di atas luka yang tak berdarah, keputusan sudah di ambil, Amira harus tetap bertahan di atas rasa putus asa dan kekecewaan yang kini melandanya.
__ADS_1
Lastri masuk ke kamar Amira, ia menemukan Amira tengah menangis di sisi tempat tidur, Amira sangat menderita, meski ia selalu menutupinya.
"Amira, ibu punya kabar baik untuk mu Nak," ucapnya pada Amira.
Namun Amira tak menoleh sedikit pun tatapan mata nya kosong, hanya ada kristal air di sudut matanya.
Lastri membelai rambut Amira dan menarik tubuh Amira agar jatuh di pelukanya.
"Amira Pak De mu sudah mencarikan dokter spesialis mata terbaik di Jerman, setelah melahirkan, kau akan kami bawa ke sana, untuk operasi pengobatan matamu," papar Ibu Amira.
"Kenapa harus menunggu sampai melahirkan Bu?" tanya Amira lirih.
"Kenapa tidak sekarang saja Bu, Amira tak ingin tinggal di sini, Amira ingin lari dari semua ini, Amira ingin segera melupakan Dion, Bu, dan rasanya akan sulit, jika Amira tetap berada di sini Bu, bawa Amira ke tempat yang jauh Bu, agar saat amarah Amira mereda, Amira tak kan bisa bertemu Dion kembali, Amira takut perasaan yang masih ada ini, bisa membuat Amira kembali mengharap cinta Dion, bawa Amira sejauh mungkin, Bu," katanya dengan suara yang lirih, menahan rasa sakit yang mendera jiwanya.
"Ibu mengerti Nak, Akan Ibu bicarakan sama Bapak mu"Lastri mencium pipi putrinya.
Setelah berkompromi, mereka pun sepakat Amira akan mereka bawa ke Jerman untuk menghindari Dion, selain itu, setelah melahirkan Amira bisa melanjutkan kuliah nya, Amira adalah putri tunggal mereka, dan Amira juga kelak yang akan mewarisi usaha nya.
Pagi itu mereka sudah siap berangkat, meski dengan berat hati, ia harus tetap pergi, rasanya tak ada lagi harapan untuk kembali pada Dion.
***
Dion pulang dengan perasaan kecewa, apa lagi, ia melihat Ummi yang terlihat murung sejak kepergian Amira.
Ummi duduk di atas meja makan, biasanya siang seperti ini, Ummi sudah sibuk menyiapkan makan siang untuk, ia dan Amira.
Dion menghampiri Ummi, melihat Dion, Ummi lansung menanyakan tentang Amira.
"Bagaimana Dion, apa Amira mau kembali ke rumah ini lagi?" tanyanya sambil berharap.
Dion meneteskan air matanya, melihat Ummi yang sangat mengharapkan cahaya kembali lagi ke rumah ini.
"Cahaya tak kan kembali lagi Ummi, ia dan keluarganya sudah pindah ke Jerman, ia akan melahirkan di sana,ia juga akan melanjut kan kuliahnya di sana," suara Dion parau, karna menahan tangisnya.
"Cahaya tak sedikitpun memberi Dion kesempatan, bahkan kini ia membawa pergi calon anak-anak kami."
__ADS_1
"Dion tahu ini kesalahan Dion, tapi Dion janji kesalahan ini akan Dion tebus, Dion akan menunggu Cahaya kembali, dan Dion juga akan tetap melanjutkan kuliah Dion, agar saat Cahaya kembali, Dion sudah mewujudkan cita-cita kami, Dion janji suatu saat nanti, Dion akan kembalikan Cahaya ke rumah ini lagi," tuturnya.
Mendengar semangat Dion, Ummi terharu.
"Kamu benar Nak, tak ada guna menangisi kepergianya, kamu harus jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, agar saat ia kembali, ia yakin kamu sudah menjadi orang yang lebih baik lagi," tutur Ummi.
****
Sudah seminggu sejak kepergian Amira dari rumah itu, Dion pun bersiap kembali untuk melanjutkan kuliahnya.
Dion diantar Ummi dan Abi, tak ada lagi istri yang mengantar kepergianya, semua serasa berbeda, meski begitu, Dion tetap bertekat melanjutkan kuliahnya, ia juga sudah siap menghadapi masalah yang akan ia hadapi.
Dion kini terbang dengan pesawat udara, seperti tubuhnya, pikiranya juga terbang, tak terbayang susah payah membangun rumah tangga, kini harus berpisah saat usia pernikahan mereka, bahkan belum seumur jagung.
Dion memasang earphonenya, ia memutar lagu geisha dengan judul selalu salah.
***Dulu memang kita saling bersama, ku menggira tulus dalam kata.
Tapi kini kamu memang berbeda, ku terkuka untuk selamanya.
Caramu yang mu yang membuat ku jauh, kecewa di dalam hatiku,
Ku tak mengerti cinta, indahnya hanya di awal ku rasa. mengapa dia benar dan aku selalu salah.
Kini kita memang saling berpisah, ku merasa, sesal dalam kata.
Tapi kini kamu memang bersalah, kau berubah untuk selamanya,
Sifat mu yang membuat ku jenuh, mendua di balik mataku...,***
Dion melepas earphonenya, seketika ia tak bisa menahan perasaanya,Ia juga tak bisa membendung air matanya, bagaimana Cahaya bisa jauh darinya, ia dan cinta nya kini terbentang jarak yang panjang, terpisah oleh benua, terpisah oleh samudra, entah kapan saat itu tiba, aku bisa melihatmu lagi, bisa memeluk mu lagi Cahaya, batin Dion, ia pun menangis sepanjang perjalananya.
Sementara Amira, kini ia seperti pelarian, ada rasa penyesalan dalam dirinya, namun ia bertahan di atas rasa sakitnya, mencoba tak berharap pada siapa pun.
Amira membulat kan tekat nya, ia tak kan pernah kembali, sebelum ia benar-benar telah melupakan Dion.
__ADS_1