
Sudah beberapa hari ini Amira tak bisa bangun karna merasa pusing, ia selalu merasa ingin muntah karna lagi ngidam.
Tubuhnya terlihat kurus karna tak nafsu makan, Dion sampai harus mengambil cuti, karna tak ada yang menjaga Amira.
"Sayang, kamu mau makan apa?" nanti aku buatkan, atau aku beli yang penting kamu mau makan," tanyanya.
"Aku pingin makan bubur ayam Dion," jawabnya dengan mata terpejam.
"Kalau begitu aku belikan saja, kamu tunggu saja, sebentar kok," ia pun bersemangat membeli bubur ayam, karna beberapa hari ini Amira tak nafsu makan sama sekali, hingga ia harus di infus di rumah.
Dion langsung menuju warung Mpok siti, bubur ayam langgananya.
"Eh, Pak dokter lama ngak kelihatan, kirain udah move on dari bubur ayam Mpok" sapa Mpok siti ketika melihat kedatangan pelanggan yang sudah di kenalnya itu.
"Pesan bubur mpok, ayam, kecap ama cabenya di pisahin saja"
"Kok di pisahin sih pak dokter, kasihan dong, ntar kesepian kayak pak dokter," canda mpok siti.
"Eh siapa bilang saya kesepian mpok, ini saya beli bubur untuk istri saya yang lagi ngidam," tuturnya.
"Istri? udah pulang istrinya pak dokter?" tanya mpok.
"Udah mpok, sudah saya hamilin pula," canda Dion dengan mpok.
"Mpok ada kenal seseorang yang bisa jaga istri saya mpok, soalnya, saya sampai harus ambil cuti karna ngak ada yang merawat istri saya," papar Dion.
"Kenapa ngak cari di internet ajak pak dokter, kan gampang," cetusnya.
"Kalau cari di internet gampang mpok, tapi kan kita ngak kenal, kalau mpok ada kenalan orang yang bisa menjaga istri saya selama saya bekerja, saya sedikit tenang."
"Ihs Pak dokter sayang banget sama istrinya, segitunya menjaga istrinya, coba aja saya masih muda, sudah saya gaet duluan pak dokter. " candanya.
"Bisa aja mpok, nanti di dengar mang Amin bisa berabe, loh."
"Mau janda apa perawan pak dokter?" tanya si mpok.
"Hah... apanya janda atau perawan mpok, saya mau cari orang untuk jagain istri saya, bukan cari istri," cetusnya karna kaget mendengar pertanyaan mpok Siti.
"Maksud saya pak dokter maunya yang janda atau perawan yang mengurusi istrinya."
"Oh bilang dong mpok, habisnya pertanyaanya kayak orang mau carikan saya jodoh saja," keluh Dion.
"Siapa saja boleh, tapi jangan terlalu muda, kalau bisa janda atau ibu-ibu yang bisa nginap di rumah, kalau ngak ada, yang masih gadis juga ngak apa-apa, asal bisa di percaya, sama kerjanya benar saja."
"Kalau anak gadis ada pak dokter, di dekat rumah saya, ia memang lagi butuh kerjaan katanya untuk melunasi hutang ibunya yang minjam sama renternir, tadinya mau kerja di sini, tapi karyawan saya sudah cukup, ya terpaksa saya tolak," papar Mpok Siti.
"Boleh Mpok yang penting kerjanya benar, dan orangnya ngak neko-neko," papar Dion.
__ADS_1
"Saya jamin pak dokter, anaknya baik, sopan, dan ngak macam-macam, wong saya kenal dia dari masih orok," tutur Mpok Siti.
"Ya sudah ini catat nomor telpon dan alamat rumah saya saja, saya lupa bawa kartu nama," Mpok siti pun mencatat nomor dan alat rumah yang di sebutkan Dion.
"Sudah mpok, trima kasih ya, "ucap Dion, sambil membawa rantang yang berisi bubur.
Sesampainya di rumah ternyata sudah ada mobil Arkan yang terparkir, ia pun sudah duduk di ruang tamu.
"Assalammu'alaikum," salam Dion.
"Wa'alakum salam," jawab Arkan.
"Eh Arkan, sudah lama?" tanya Dion.
"Baru saja Yon, tadi Amira yang membuka pintu, tapi karna masih pusing jadi dia rebahan lagi." jelas Arkan.
"Iya, namanya juga orang ngidam," cetus Dion.
"Yon, aku kesini selain mau ngantar berkas yang harus di tanda tangai Amira, aku juga mau kasi kabar baik," tuturnya.
"Kabar baik apa Kan?" Tanya Dion.
"Aku mau melamar dokter Diah Yon, dan dua atau tiga bulan lagi rencananya kami akan menikah."
"Aku hanya menyarankan Yon, jika kamu mau meresmi kan pernikahan kamu dan Amira di KUA, kita barengan saja mendaftarnya, jadi nanti kita nikahnya pada hari yang sama, biar Ayah ku yang menjadi wali nikah kalian Yon," Arkan.
"Boleh juga, Kan, aku kasihan melihat istriku, semoga saja jika pernikahan kami sah di mata hukum negara, keluarganya akan menerima ku dan anakku yang akan lahir nantinya,"
"Ya niatnya juga gitu,Kan"
"Ya sudah aku pamit," Arkan pun berdiri sambil membawa berkas yang sudah di tanda tangani Amira.
"Eh Kan, bagaimana keadaan Oma?" tanya Dion.
"Oma sudah sehat, tapi sepertinya ia masih marah pada Amira, dan Raihan sendiri sekarang sudah move on, katanya ia lagi Pe-de-ka-te sama teman dokter kamu tuh siapa namanya lupa aku?"
"Alice," sambar Dion.
"Ya Alice," balas Arkan, ia pun berlalu.
Setelah ke pulangan Arkan, Dion langsung menyajikan bubur untuk Amira.
"Sayang kamu makan dulu ya," ia pun menyuap bubur dengan hati-hati ke mulut Amira.
Meski hanya beberapa suapan, namun lumayan dari pada hari sebelumnya, Amira tak makan sama sekali.
"Sayang aku sudah mencari orang untuk menjaga kamu sementara waktu jika aku bekerja," ungkapnya pada Amira.
__ADS_1
"Boleh juga Dion, aku juga kasihan dengan kamu jika harus mengurusi pekerjaan rumah tangga dan bekerja, sementara aku ngak bisa ngapa-ngapain."
"Ya sudah kamu istirahat, jangan banyak mikir, aku mau jemput Gea dan Geo, pintu depan aku kunci dari luar, pintu belakang aku kunci dari dalam, jadi jika kamu ingin keluar lewat pintu belakang saja."
"Iya Dion jangan lama-lama perginya."
"Tentu sayang," Dion pun meninggalkan Amira.
Ting.. tong..., bell berbunyi.
Amira pun keluar lewat pintu samping
"Ada apa mbak?" tanya Amira menemui seorang wanita muda.
"Mbak, saya kenalan mpok Siti, katanya Pak dokter butuh seseorang untuk merawat istrinya, apa benar begitu mbak?" tanya wanita itu.
"Ia, seperti yang anda lihat," tanganya masih di infus, dan tangan sebelah nya memegang tongkat infus.
"Saya mau mbak kerja di sini, saya lagi butuh kerjaan," ungkapnya .
"Jadi kamu yang mau kerja?" tanya Amira kurang yakin, ia pun memperhatikan wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Apa ngak salah, wanita muda dan secantik dia, mau jadi pembantu, batin Amira.
"Tapi Mbak, saya cari orang, tak hanya untuk mengurusi saya, tapi juga bisa memasak dan sebagainya," Papar Amira.
"Saya bisa kok Mbak, kerja apa saja, karna saya sangat butuh pekerjaan Mbak, saya harus bisa melunasi hutang ibu saya," tutur wanita itu, dengan wajah yang lesu, terlihat sekali sangat berharap.
Karna merasa kasihan Amira pun menerimanya, meski hatinya terasa berat.
"Baik lah mulai besok kamu bekerja, jangan terlambat," ujarnya.
"Terima kasih Mbak," jawab wanita itu, ia pun terlihat senang.
Setelah Dion tiba dari menjemput anaknya, Amira langsung memberi tahu tentang kedatangan gadis yang di temuinya tadi siang.
"Yah, tadi ada wanita yang datang nawarin diri untuk bekerja, katanya ia di informasikan oleh Mpok Siti," Amira menceritakan pertemuanya dengan Amanda.
"Oh iya, tadi Ayah suruh mpok Siti yang mencarikanya, ternyata cepat juga."
"Trus orangnya bagaimana Bu?" tanya Dion.
"Orangnya masih muda, cantik lagi, awalnya Ibu ngak mau terima, tapi mendengar alasanya, Ibu jadi kasihan, jadi di terima saja," katanya dengan santai.
"Ayah sih seterah Ibu, yang penting ibu nyaman saja, jadi Ayah bisa kerja dengan tenang."
"Terima kasih ya Yah," ungkap Amira.
__ADS_1
"Iya sayang, apa saja akan ku lakukan untuk membuatmu nyaman sayang, agar kau bisa rikex dan menikmati kebahagian kita seutuhnya," balas Dion seraya megecup bibir istrinya.
,