
Dion dan Amira sudah tiba, dan di sambut dengan riang oleh Gea dan Geo.
Amira langsung menghampiri Amanda.
"Amanda, kata suami aku, kamu sakit ya?" tanyanya pada Amanda yang duduk di ruang tamu.
"Iya Mbak, cuma drop aja, karna lupa minum obat, " jawabnya.
"Ya sudah, aku sudah beli makanan di restoran tadi, aku bungkus untuk kalian makan, Ayo kita makan sama-sama," Ajaknya, mereka pun langsung menuju meja makan.
Sementara Dion sudah bersiap untuk praktek di apotik miliknya.
Mereka sudah selesai makan, Dion pun keluar dari kamar dan mendekati Amira untuk pamit.
"Sayang Ayah pergi ya, " katanya sambil mencium kening, bibir, kedua pipi dan perutnya Amira, Dion bukan sengaja melakukan itu di hadapan Amanda, tapi memang sudah menjadi kebiasaanya setiap pergi selalu seperti itu.
Sementara Amanda, ia merasa cemburu, ia hanya mampu meremas bajunya, melihat adegan tersebut.
Setelah itu Dion pun mencium pipi Gea, tapi Gea protes.
"Yah, kok Gea cuma di cium di pipi, ngak kayak ibu, Ayah ciumnya banyak-banyak," protesnya dengan muka yang cemberut.
Mereka nyengir melihat kelakuan Gea, yang cemburu pada ibunya sendiri.
"Oh Gea, mau juga di cium kayak ibu?" tanya Dion, ia pun mencium Gea sama seperti mencium Amira.
Gea pun menunjuk perutnya, rupanya ia juga minta di cium di perutnya sama seperti ibunya.
Dion tertawa kecil melihat kepolosan Gea.
"Gea, Ayah cium di perut ibu karna ada dedeknya, emang di perut Gea ada dedeknya?" tanya Dion sambil tertawa.
"Ngak ada Yah,"
"Nanti Ayah gigit ya perutnya," Dion pun mengelitik perut Gea, seketika tawa gadis itu pecah.
"Yah ngak makan dulu?" tanya Amira.
"Ngak Bu, nanti Ayah terlambat, Ayah sekalian mau ngantar Amanda pulang kerumahnya, biar dia istirahat." tutur Dion.
"Kalau gitu sini Yah, ibu suap sedikit," Amira pun menyuapkan Dion makanan yang ada di piringnya.
Lagi-lagi Amanda merasa cemburu, ia semakin erat menggenggam bajunya, ia meremasnya, sekuat tenaganya.
Setelah beberapa suap, Dion pun berhenti.
"Ayo, Manda aku antar kau pulang, "
Amanda pun merasa senang, karna ia pertama kalinya, ia berdua bersama Dion di mobil.
Dion langsung menuju rumah Amanda, sementara Amanda berdebar tak karuan, sesekali ia mencuri pandanganya kepada Dion.
"Manda kamu bicara apa sama istriku?" tanya Dion.
"Bicara apa? Aku ngak bicara apa-apa Dion pada mbak Amira." jawabnya.
"Kamu cerita sama istri aku, bahwa kamu masih menunggu cinta pertama kamu, yaitu teman mu semasa SMA, apa maksud kamu sebenarnya Amanda?" tanya Dion dengan tegas.
Sementara Amanda hanya diam tertunduk.
__ADS_1
"Atau kamu mau bilang pada istri ku, jika sebenarnya, akulah orang yang kau tunggu itukan?" tanya Dion lebih tegas.
Amanda hanya menangis, ia masih tertunduk.
Melihat Amanda menangis, Dion sedikit melunak.
"Maaf Manda, aku tak bermaksud bersikaf kasar terhadapmu, aku hanya tak ingin ada memamfaatkan kebaikan istriku," tuturnya.
"Apa kau menuduh ku Dion?" tanya Amanda.
"Aku bukan nya menuduh, tapi hanya curiga, dan aku tak kan membiarkan orang lain menyakiti perasaan istriku, aku tak ingin setetes air mata pun menetes di pipinya, tak kan ku biarkan siapa pun memamfaatkan kelembutan hatinya," tutur Dion dengan tegas.
Amanda terdiam mendengar penuturan Dion, kata-kata tersebut semakin mempropokasi rasa cemburunya.
"Tapi apa salah ku Dion, aku tak pernah memberi tahu istrimu jika kita sudah kenal sebelumnya, apalagi sampai menyatakan perasaan ku terhadap mu kepada Mbak Amanda, aku menyimpan rahasia ini rapat-rapat" jawab Amanda.
"Amanda, aku hanya ingin kau perlahan-lahan menjauhi istriku, aku tak ingin terjadi masalah dalam rumah tangga ku," tuturnya melembut.
Amanda kaget mendengar penuturan Dion.
"Maksud mu kau tak suka aku bekerja dengan istri mu?" tanya Amanda.
"Apa kau pikir aku sejahat itu Dion, ingin merusak rumah tangga mu, lalu apa yang kudapat jika merusak rumah tangga mu, aku tak kan mendapatkan apapun, karna sebentar lagi aku juga akan mati, tapi setidaknya sebelum aku mati, aku ingin melunasi hutang ibu ku, karna mengobati ku, hanya itu Dion," tuturnya.
"Manda, aku tahu kau dalam kesulitan aku dan istri ku berniat membantu mu, kau tak perlu bekerja, karna sebenarnya kau butuh istirahat total, penyakit kanker bukan penyakit biasa, kau tak perlu bekerja biar aku yang akan menebus obat mu setiap bulan"
"Aku memang hidup serba ke susahan, tapi aku tak mau mengemis, aku tak mau hanya menadahkan tangan, jika kau tidak suka pada ku, aku tak masalah, aku juga tak ingin menerima bantuan mu, aku akan berhenti dari pekerjaan ku dan mencari pekerjaan lain," tuturnya dengan meneteskan air mata.
"Jangan tersinggung Manda, apa yang aku lakukan untuk kebaikan mu juga, untuk sementara kau boleh bekerja di rumah ku, aku juga akan mencari orang lain untuk menjaga anak ku, aku hanya ingin kau istirahat, ngak terbebani dengan masalah mu, jika kau stres, immun tubuhmu akan lemah, dan berbagai penyakit akan mudah menyerang, dan bisa mengakibatkan konplikasi," papar Dion, dan Amanda hanya diam.
Mereka pun sampai.
Amanda melihat seperti ada yang tidak beres di rumahnya, ia melihat ibunya menangis di luar ,dan rumah seperti di acak-acak.
"Ada apa ini Ma ?" tanya Amanda sambil menangis.
"Nino, Nino datang kemari dan ingin merebut sertifikat rumah kita Nak, Nino melarikan diri dari penjara, ia sedang mencari mu, karna di kiranya kau membawa lari sertifikat itu," papar bu Nita sambil menangis.
Amanda pun menangis memeluk Mamanya.
"Manda, sebaiknya kau pergi dari sini dulu, Mama takut, tiba-tiba ia datang dan menyakitimu Nak, kakak mu sudah berubah, entah setan apa yang telah merasukinya, ia bahkan mengancam akan membunuh mu jika kau tak menyerahkan sertifikat rumah itu," paparnya masih menangis.
Dion mendengar sendiri penuturan Bu Nita.
"Tapi Manda harus ke mana Ma?" tanya Manda, ia pun binggung harus tinggal di mana, sementara ia tak punya uang sepeserpun untuk kabur dan sembunyi.
Bu Nita melihat Dion, ia pun mendekati Dion.
"Nak Dion apa boleh ibu titip Amanda untuk sementara waktu, karna jika Amanda di sini, ia berada dalam keadaan bahaya, takutnya Nino tiba-tiba datang dan menyakiti Amanda?" tanya ibunya.
Dion ngak bisa menolak lagi, ia juga kasihan dengan keluarga Amanda, tapi ia juga merisaukan keberadaan Amanda yang semakin dekat dengan istrinya, suatu dilema bagi Dion.
"Ya Bu, kalau begitu, kenapa ibu ngak sekalian ikut kami dan tinggal di rumah saya untuk sementara waktu?"
"Kalau ibu ikut kalian, Nino bisa curiga, ibu bilang jika Amanda tinggal di rumah pamanya, makanya ia mencari Amanda di sana," papar Bu Nita.
"Ibu hanya minta tolong, ibu titip Amanda, ibu tak ingin terjadi sesuatu padanya, hanya dia yang ibu punya sekarang," tuturnya sambil menangis.
"Insya Allah Bu," ucap Dion dan mereka pun pulang.
__ADS_1
Dion semakin gelisah, ada ke khawatiran dalam dirinya, ia takut Nino akan ikut menyakiti keluarganya seandainya ia tahu Amanda tinggal bersama mereka.
Sesampainya di rumah, mereka di sambut heran oleh Amira.
"Loh Yah kok balik lagi?" tanya Amira.
Sementara Amira melihat Amanda yang menangis, ia pun langsung merangkulnya masuk.
Amanda menceritakan semuanya kepada Amira, Amira pun mengusap punggung Amanda, ia memeluk Amanda untuk menenangkanya.
"Kamu tinggal di sini saja, nanti aku sewa orang untuk menjaga kalian di rumah ini, dengan begitu, kakak mu tak kan menyakitimu lagi" Amira.
"Sekarang kamu istirahat di kamar ya,"Ia pun menuntun Amanda ke kamarnya.
Amira melihat Dion yang terlihat gelisah.
"Yah Ayah ngak praktek?"
"Ngak jadi, tadi Ayah minta tolong sama dokter Diah, gantiin Ayah praktek"
"Loh kok gitu Yah?" tanya Amira heran, ia pun mendekati Dion dan duduk di sampingnya.
"Ayah mengkhawatirkan kalian Bu, Ayah tak ingin sesuatu terjadi pada keluarga kita," tuturnya.
"Ibu tahu Yah, tapi kita ngak bisa cuma menutup mata melihat kesulitan orang lain Yah," ucapnya sambil memeluk Dion.
"Ayah tahu Bu, Ayah hanya tak ingin ibu terluka sedikit pun, apalagi ibu setiap hari di luar tanpa pengawasan Ayah, Ayah tak ingin ibu dalam keadaan bahaya, jika kakaknya nya bisa nekat menyakiti Amanda, bukan tidak mungkin ia akan menyakiti Ibu, karna kita melindunginya disini, jujur saja Bu, Ayah sangat mengkhawatirkan Ibu, Ayah tak ingin terjadi sesuatu pada Ibu," tuturnya ia memcium pipi Amira dengan penuh kasih sayang.
Amira merangkul suaminya, betapa ia terharu dengan sikaf Dion yang sungguh menyayanginya dan keluarganya.
Amira duduk di pangkuan Dion, ia mencium lembut bibir suaminya, "Yah karna Ayah ngak jadi praktek, boleh dong Ibu minta vitaminnya," tuturnya dengan manja untuk menghilangkan ke gundahan hati Dion.
Dion tersenyum," Tentu saja Bu, "Dion menggangkat tubuh Amira dan mbawanya kekamar.
"Yah, dulu ingat ngak? waktu kita di pantai, Ayah ngak mampu mengangkat tubuh ibu, kok sekarang dengan gampang sekali Ayah melakukanya?" tanya nya yang masih di tanggan Dion.
"Dulu kan Ayah masih remaja Bu, tubuh kita saja hampir sama besar, sekarang beda dong, Ayah lebih kuat sekarang," paparnya.
"Masak sih, kuat Ayah yang dulu lah, bisa beronde-ronde," canda Amira, ia ingin mengalihkan pikiran Dion agar tak terus mengkhawatirkanya.
"Nantangin rupanya," cibir Dion.
"Ibu mau berapa ronde, mau pakai gaya apa?" tanyanya, sambil meletakan tubuh Amira dengan hati-hati.
"Ibu mau satu ronde aja Yah, dengan gaya slow motion Ya," jawabnya dengan bercanda.
"Slow motion gimana ceritanya, lama dong selesainya," ujarnya mereka pun tertawa.
Amira menyapu keringat suaminya yang telah lelap di sampingnya, Meski pun Dion lebih muda darinya, namun Dion sangat bijaksana, Amira selalu mendapatkan perlakuan baik darinya, bahkan saat tubuh mereka bersatu, Dion selalu hati-hati, ia tak ingin sedikit pun Amira tersakiti.
Amira sadar betul, karna wajah tampan Dion, banyak wanita yang mengidolakan suaminya, dan itu merupakan salah satu ujian rumah tangga mereka.
Meski Dion pernah mengecewakan nya, tapi ia percaya bahwa Dion sangat mencintainya, Amira haru merasakan bahagia, dalam hati kecilnya, ia tak kan membiarkan wanita mana pun merebut Dion darinya, ia tak kan pernah rela jika harus berbagi hati, karna hanya bersama Dion lah ia merasa bahagia.
Amira membelai rambut suaminya yang sudah terlelap, dan mengecup kening nya, ia pun merebahkan tubuhnya di samping Dion, dan berharap tak kan ada yang akan memisahkan ia dan suami nya lagi.
Please
🍎Like
__ADS_1
🍎komen
🍎Vote