
Arkan pulang kerumahnya karna mendapat telpon dari Bu Nita.
Sesampainya dirumah ia langsung menuju Kamarnya, saat itu Amanda terbaring semakin lemah.
"Apa yang terjadi Ma ?" tanya Arkan.
"Amanda tadi muntah darah lagi Nak," jawab Bu Nita.
"Ayo Ma kita bawa ke rumah sakit," ucapnya pada sang mertua.
"Amanda kita kerumah sakit sekarang ya?"
"Ngak mau Mas, aku mau tetap di sini, aku mati di sini saja," tuturnya lemah.
"Amanda hidup dan mati seseorang sudah di tentukan, hanya saja kita perlu ihktiar, dan Mas Arkan mau kamu menjalani kemoterapi agar keadaan kamu tidak sampai memburuk, "
"Manda ngak mau Mas, Manda hanya mau Mas disini temani saat-saat terakhir Amanda."
"Sayang, Mas akan selalu berada di sisi kamu meski kita di rumah sakit, Mas tetap akan tidur bersama kamu, sama seperti kita di rumah, dan jika perlu, Mas juga akan minum obat yang kamu minum, biar kita merasakannya sama-sama, ucap Arkan meyakinkan Amanda.
Amanda menangis, semakin mengenal suami nya, semakin besar rasa cinta dan sayang nya pada Arkan, semakin besar pula ke inginan nya untuk sembuh.
"Kamu mau ya sayang?" tanya nya lagi.
"Ayolah Amanda, jangan biarkan Mas jadi pecundang, Mas Arkan ingin memberikan pengobatan terbaik untuk kamu, kalau perlu kita keluar negri dan cari pengobatan terbaik, agar jika suatu saat terjadi sesuatu pada kamu, Mas Arkan tidak menyesal, karna Mas Arkan sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu, masalah hasilnya, kita serahkan pada sang pemilik kehidupan," tuturnya sambil menangis.
Sebenarnya Arkan sudah lelah, selain belum tidur semalaman, banyak beban yang harus ia pikirkan, apalagi tak ada yang mau mengerti dirinya.
Melihat suaminya bersedih, Amanda pun menghapus air mata Arkan.
"Iya Mas, Amanda mau, apa saja yang Nas lakukan, Amanda sangat yakin, jika Mas Arkan ingin yang terbaik untuk Manda," tuturnya haru.
Arkan tersenyum, setidak nya satu beban bisa terurai, ia pun nembawa Amanda menuju rumah sakit.
Dyah mengambil handphonenya dan menekan timbol Dial pada kontak Ratna.
"Hallo sayang," sapa Ratna.
"Hallo Ma, Ma kenapa Mama ngak bilang Ma, kalau Mas Arkan sudah menikah?" ucapnya dengan vibra kesedihan.
Ratna sedikit kaget.
"Iiya sayang tapi Mama kasihan melihat Arkan, kerjaan nya hanya mengurusi istrinya yang sakit-sakitan itu, kapan Arkan bisa bahagia kalau begitu," tuturnya.
"Tapi Ma, sekarang pernikahan Dyah terancam batal lagi Ma, Dyah malu Ma, Dyah tak sanggup menanggung Aib lagi," ucapnya sambil menangis.
"Siapa yang bilang batal Dyah, pernikahan kamu harus tetap di lanjutkan, dan kamu ngak boleh menyerah gitu saja, ingat Dyah, bukan kamu yang merebut Arkan dari Amanda, tapi Amanda lah merebut Arkan dari kamu," ucapnya tegas mengompori Dyah.
Dyah tak bisa menjawab omongan Ratna, karna ia dalam keadaan masih syok, ia pun menangis.
"Dyah sayang, jangan sedih lagi, biar Mama yang ngatur semuanya, kamu harus yakin jika mu adalah yang terbaik untuk Arkan."
"Kali ini kamu yang harus perjuangkan cinta kamu Dyah, kamu ngak boleh menyerah dan pergi lagi, nanti kamu menyesal Nak," Ratna semakin menjadi jadi memancing emosi Dyah.
Suara tangis Dyah masih terdengar di sambungan tersebut.
"Dyah kamu sabar ya sayang, Mama akan selalu dukung kamu," tambahnya lagi.
__ADS_1
"Iya Ma," jawab Dyah singkat sambil memutuskan sambungan telponya.
Sore itu juga Amanda menjalani kemoterapi terlihat Arkan selalu bersamanya memegang erat tanganya.
Tak lama ia pun mendapat telpon dari mamanya, Arkan melepas genggaman tangannya ke Amanda dan sedikit menjauh.
"Hallo Ma,"
"Hallo Arkan, kamu dimana? Mama mau kamu pulang ke rumah Oma, karna Ona sudah menyiapkan beberapa ritual untuk pernikahan kamu," ucapnya di telpon.
Mendengar ucapan Mamanya Arkan naik pitam, maklum saja jiwa dan raganya lelah dengan masalah yang tak kunjung usai.
"Ma, mama cuma ngurusin pernikahan Arkan, apa mama tak pernah berpikir untuk menjenguk istri Arkan yang sedang sakit Ma, Mama bisa lihat sendiri keadaanya, saat ini Arkan ngak mungkin menikah lagi Ma, coba Mama selami hati mama sampai nurani yang paling dalam, apa seorang wanita tega menyakiti perasaan wanita lainya, apalagi kini istri Arkan tengah menderita Ma, ia sedang berjuang melawan kanker ganas yang sedang dideritanya, Arkan tak berdaya, tolong jangan buat pilihan ini semakin sulit, jika Mama tak percaya, Mama lihat sendiri keadaan Amanda Ma."
"Arkan kamu sudah berani bicara seperti itu pada Mama mu, sejak kapan kamu jadi anak pembangkang Arkan ?" bentaknya.
Arkan menghembuskan nafas beratnya.
"Terserah Mama saja, atur saja yang mungkin terbaik untuk Mama, jika mama tak mau melihat Amanda, biar Arkan yang membawa Amanda ke hadapan Mama, Arkan ingin lihat, apa Mama tetap akan memaksa Arkan menikah lagi jika melihat keadaan Amanda saat ini."
Arkan pun menutup telpon nya.
"Tunggu Arkan," Ratna ingin melanjutkan pembicaraan, tapi telponya sudah di tutup oleh Arkan.
***
Amanda terlelap tidur, begitu pun Arkan, ia tertidur di samping istrinya, rasa lelah membuat mereka terlelap sepanjang malam.
Keesokan pagi nya, Amanda merasa mual, dan sakit kepala, mungkin obat-obatan tersebut mulai bereaksi.
Amanda menyisir rambutnya dengan jari- jemarinya, dan ibarat daun kering yang berguguran, rambut yang di sentuhnya pun jatuh berguguran.
Amanda mengulanginya lagi, dan semakin banyak rambut yang gugur di atas bantal.
"Tidak !!!" teriaknya menangis.
"Mengapa reaksinya secepat ini?" tanyanya pada diri sendiri sambil menangis.
Arkan keluar dari kamar mandi, karna kaget mendengar teriakan dan tangisan Amanda.
"Amanda kamu kenapa sayang?" tanyanya.
"Mas lihat rambut ku, rontok semua," ucapnya sambil menggenggam rambut yang sudah bertebaran di sekitar tempat tidurnya, dan kepala Amanda hampir botak.
"Sabar sayang, jika reaksi obatnya sudah hilang, rambut kamu bisa tumbuh kagi kok," bujuk Arkan.
Amanda menangis, dan kini ia melihat, kulitnya yang sedikit mengkerut dan keriput, ia pun bertambah nyaring menangisnya.
"Mas ambilkan aku kaca Mas," pintanya.
"Untuk apa sayang?" tanya Arkan lembut.
"Aku mau lihat wajah ku Mas," pintanya sambil menangis.
"Wajah kamu tetap cantik sayang, percayalah sama Mas Arkan."
"Ngak Mas, aku mau lihat wajah ku," tuturnya sambil terisak-isak.
__ADS_1
Karna tak tega, Arkan pun mengambil cermin dan memberi kannya pada Amanda.
Dengan tangan gemetar ia pun meraih cermin tersebut.
Amanda melihat wajahnya di cermin dan seketika tangis nya kembali pecah.
Amanda melempar cermin tersebut, karna melihat wajahnya seperti monster.
Kulitnya menjadi sedikit hitam dan mengering, dengan lingkaran hitam yang sangat tegas, matanya pun cekung ke dalam , bibirnya sangat pucat dan pecah-pecah, dengan kepala yang hampir botak.
Amanda semakin jadi menangis, ia terpukul melihat wajah nya seperti Alien.
Arkan berusaha memeluknya.
" Kamu tenang sayang, reaksinya hanya sementara kok, dan wajah kamu bisa terlihat cantik lagi," ucapnya sambil memeluk Amanda.
"Ngak Mas, aku akan tetap seperti ini" iya pun kembali menangis.
Sementara Ratna membawa Dyah kerumah sakit, dengan maksud membujuk Arkan untuk melakukan ritual pranikah dengan Dyah.
Amanda menangis sejadi-jadi nya, ia bahkan tak mau di sentuh Arkan.
"Sayang, kamu yang sabar ya," bujuk Arkan.
Arkan coba memeluk Amanda, tapi tangan Arkan di tepis oleh Amanda, setelah lelah menangis, akhirnya Amanda pingsan kembali.
Arkan dan Bu Nita semakin sedih melihat keadaan Amanda, apa lagi bu Nita, serasa ia kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"Ma, Mama kenapa ?" tanya Arkan pada Bu Nita.
"Mama ngak sanggup melihat keadaan Amanda seperti itu, "tuturnya sambil menangis terisak.
"Ma, mama harus kuat ya demi Amanda, siapa lagi yang bisa mendukungnya selain kita," ucapnya sambil memeluk Bu Nita.
Ratna dan Dyah sampai ke kamar Amanda, mereka pun melihat Arkan yang tengah memeluk Bu Nita, terlihat mereka begitu sedih.
"Arkan," panggil Ratna.
Arkan menoleh.
"Ma, mama di sini?" tanya Arkan.
"Iya mama mau ijin sama Amanda membawa kamu sebentar,untuk melakukan ritual pra nikah," ucap Ratna santai.
"Oh begitu Ma, silahkan mama ijin sama Amanda, mama lihat sendiri keadaanya," tutur Arkan datar.
Ratna menarik tanggan Dyah untuk mendekati Amanda yang terbaring.
Dan setelah didekati, dan melihat wajah Amanda, tanpa sadar Dyah meneteskan air matanya.
Lalu bagaimana dengan Ratna ?
Apakah pernikahan akan tetap berlangsung.
Ditunggu ya reader komentarnya.
Ilove u all.😚😚😚
__ADS_1