
Sesampainya dirumah, Amira masih merasakan pusing, Dion pun menuntun istrinya untuk rebahan di atas tempat tidur.
Gea dan Geo mengukuti mereka ke kamar, anak-anak cerdas itu tak seperti biasanya banyak bicara, mereka hanya diam tanpa banyak bertanya, mereka pun tahu jika ibu memengang kepalanya, ibu mereka pasti sedang merasakan sakit.
Suasana di rumah menjadi tenang, suara berisik Gea dan Geo saat bercanda dan bermain bersama pun tak terdengar lagi.
Mereka pun kini sedang makan di temani oleh Amanda, sementara Dion berada di sisi Amira.
Dion memijat telapak kaki Amira, untuk melancarkan peredaran darahnya, juga pundaknya untuk menciptakan rasa rilex.
"Bu, ibu pasti lagi strees mikirin kerjaan ya?" tanya Dion.
"Iya yah, kalau kerjaan numpuk pasti begini yah, ibu sakit kepala, jantung berdebar dan kadang suka sesak nafas," jelasnya.
"Ya itu namanya strees, ibu tuh sudah ngak bisa mikirin hal yang berat, jadi ngak usah dipikiran juga," kata Dion sambil memijat lembut tubuh Amira.
"Aduh yah, ngomong tuh gampang banget, udah ah, ibu mau telpon Arkan, udah selesai belum kerjaanya."
Amira pun menelpon Arkan dan ia pun sedikit lega, karna Arkan sudah menyelesaikan tugas yang ia berikan.
"Bu, biar Rilex, kita jalan-jalan naik motor yuk," ajak Dion.
"Naik motor Yah?" naik motor Ayah yang ada di garasi itu?" tanya Amira senang.
"Iya Bu, yuk, Ayah bawa jalan-jalan, hari juga sudah sore, ngak panas lagi kok,"
tutur Dion dengan tersenyum.
"Ok, ibu siap-siap dulu ya, Yah," Amira pun mengganti pakaianya dengan pakaian santai, dengan kaos lengan panjang, dan celana kulot, agar mudah untuk naik di motor itu.
Dion mengeluarkan motor itu dari garasi, motor yang selalu ia rawat dan jaga, meski jarang sekali ia memakainya.
Motor yang menjadi saksi, atas kecelakaan yang mematah kan kakinya, dan melumpuhkan semangat nya.
Motor yang membuatnya harus rela menjalani rehibilitasi di suatu panti penyandang cacat, dan ternyata cinta lah yang membangkitkan semangat hidupnya, karna di panti tersebut, ia bertemu dengan gadis buta yang di kenalnya dengan nama Cahaya putri.
Gadis yang membuat hidupnya kembali bercahaya, setelah terpuruk akibat rasa trauma dan perasaan putus asa.
Sungguh cinta sebuah misteri, datang dari tempat yang tak pernah terduga olehnya, dan Cahaya kini adalah istrinya, seseorang yang sangat ia cintai, dan cintai itu akan ia jaga sampai mati.
Amanda melihat Dion mengeluarkan motornya, Amanda pun teringat saat ia dan Dion berbonceng bersama dengan motor tersebut, saat-saat indah dalam hidupnya, bisa berdekatan dengan Dion sang pujaan hatinya.
Sejak dulu sampai sekarang pun, perasanya selalu sama, begitu pun sikaf Dion terhadapnya, selalu saja seperti itu, tapi sangat berbeda saat Dion bersama istrinya.
Dion selalu bersikaf manis pada Mbak Amira, dan terkadang aku selalu merasa iri.
Amira keluar dari kamar, gaya nya sangat santai, dengan rambut yang di ikat menyerupai ekor kuda, mereka terlihat sangat serasi, apalagi saat itu Dion menggunakan celana pendek dan kaos oblong dan jaket kulit bewarna hitam.
"Ibu, ibu mau kemana ?"tanya Gea dan Geo.
"Ibu mau ke supermarket sebentar ya, nanti ibu beli es krim dan sosis kesukaan kalian, kalian jangan nakal dirumah bersama tante Amanda."
"Iya Bu, hati-hati ya, " Gea dan Geo pun langsung menuju halaman, mereka bermain bola basket di halaman di temani Amanda.
Sejak kejadian kemaren yang menimpa Amanda, mereka pun memperkerjakan satpam untuk menjaga rumah mereka, maklum saja, Dion dan Amira,mereka sama-sama sibuk.
Amira menghampiri Dion yang sedang memanaskan motor nya.
Amira tersenyum tak kala melihat penampilan suaminya yang semakin keren, dengan kaca mata hitamnya.
Amira semakin dekat dengan Dion dan saat berada di hadapanya, ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Dion, dan langsung menyambar bibirnya.
Satu kecupan hangat mendarat di bibir Dion.
"Sudah siap Yah ?" tanya Amira.
"Sudah dong, "jawabnya.
__ADS_1
Amira pun merilik kearah anaknya dan berseru, "Gea, Geo ibu pergi ya," teriaknya.
"Iya ibu, dada, " mereka melambaikan tangan kepada Amira.
Amira memeluk erat perut suaminya,seraya merebahkan kepalanya di pundak Dion.
Dion menarik gasnya dengan perlahan, dan mereka pun bergerak sedikit lambat.
Dengan kecepatan sedang Dion membawa motor dengan kapasitas dua ratus lima puluh cc tersebut keluar dari gerbang rumah mereka, ia sering memaikan kopling nya untuk mengatur laju kendaraanya.
Amanda hanya bisa melihat dari kejauhan keromantisan suami-istri itu.
Mbak Amira beruntung sekali, hidup berkecukupan, punya suami yang mencintai dan di cintai olehnya, aku ingin hidup seperti Mbak Amira selalu merasa bahagia, sementara aku hanya bisa menjadi penonton romansa percintaan mereka, batin Amanda.
Amanda pun kembali bermain bersama Gea dan Geo.
***
Dion sangat hati-hati mengendarai motornya, karna istrinya kini hamil muda.
"Yah, waktu kita ke pantai dulu Ayah bawa ibu pakai motor inikan, yah,?" tanya Amira.
"Iya Bu, pakai motor apalagi?"
"Motor ini hadiah dari Ummi dan Abi, karna selama 9 tahun Ayah selalu juara umum di sekolah, dan ngak pernah dapat hadiah sebelumnya, saat masuk SMA, Ayah di tanya sama Ummi, mau hadiah apa? Yah langsung minta motor ini, kebetulan juga Ummi dapat pembagian warisan dari Engkong," paparnya.
"Oh gitu yah, bearti Ayah pintar dong?" tanyanya sambil meluk Dion semakin erat.
Naik motor saat sore hari,memang membuat Amira merasa rilex, hembusan angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan rambutnya.
"Kita kemana nih bu?" tanya Dion.
"Ke supermarket saja Yah, kita shoping sebentar, ibu mau cari under wear, karna yang lama rasanya sudah sempit, mau beli dengan ukuran baru saja, sekalian mau beli baju hamil untuk ke kantor." papar Amira.
"Asiaap Bu," ujarnya, mereka pun menuju supermarket terdekat.
Amira memilih baju dan under wear yang banyak, tak tanggung-tanggung ia membeli dua lusin sekaligus.
"Satu lusin untuk Ibu, satu lusin untuk Amanda." jawabnya.
"Kirain satu lusinya buat ayah," canda Dion.
"Kalau Ayah mau, ibu beliin ya, yang warna pink semua, satu ukuran sama Ibu, ntar kita tukaran pakainya," balasnya dengan bercanda juga, mereka pun tertawa kecil.
"Sekalian ibu beliin daster untuk Ayah, biar kita bisa tukar pakai juga" tambahnya, nyengir.
"Ayah belum gila Bu, " protesnya.
Setelah memilih pakaian, mereka pun membeli pesanan Gea dan Geo.
Setelah puas berbelanja, mereka pun pulang.
Sesampainya di rumah mereka langsung di sambut dengan riang oleh Gea dan Geo, mereka pun berhenti bermain.
Gea dan Geo berlari mendekati Dion dan Amira, begitu pun Amanda.
Dion meletakan belanjaannya di meja ruang tamu, dan saat itu, ia hendak berdiri, tapi tanpa sengaja kepala Dion menghantam wajah Amanda yang berada tepat di belakangnya.
Seketika Amanda merasa gelap pemandanganya, Dion pun langsung menyambar tubuh Amanda.
Dion dan Amira panik, ketika hidung Amanda mengeluarkan darah yang sangat bayak.
Dion menegadahkan kepala Amanda agar berhenti mimisan, namun darah tersebut mengalir semakin banyak.
Amira yang melihat itu menjadi panik.
"Bu, tolong basahkan lap bersih dan ambil tissu basah, " titahnya pada Amira, sementara ia masih memeluk Amanda dan menegadakan kepala Amanda.
__ADS_1
"Amanda, kamu harus tetap sadar Amanda," ucapnya sambil meniup di pucuk kepala Amanda.
Amanda seperti kesulitan bernafas, karna darah masih mengalir di hidungnya, dan untuk membuat Amanda tetap tersadar, Dion sedikit membuka mulutnya melakukan bantuan pernafasan sebanyak tiga kali.
"Amanda kamu harus tetap sadar, jangan pingsan Amanda, kamu bisa koma." Dion pun mengulangi memberi Amanda bantuan pernafasan, selain dapat mencegah masuknya darah dari hidung ke tengorokan, Dion melakukan itu untuk membuat Amanda tetap terjaga.
Amira melihat sendiri, saat Dion memberi bantuan pernafasaan kepada Amanda, ia melihat sendiri, saat bibir Dion menyentuh bibir Amanda.
Meski merasa risau, tapi ia tepis semua perasaanya, ia lebih menghawatirkan keadaan Amanda.
"Nih Yah, lab basahnya," Amira menujukan kain bersih yang sengaja di basahkan oleh nya.
Dion mengambil kain itu dengan tangan kanan nya dan membersihkan darah di hidung Amanda.
"Yah kenapa ngak di baringkan saja yah Amanda nya?" tanya Amira heran.
"Ngak bisa, Ayah harus pastikan pendarahanya berhenti dahulu, takutnya Amanda pingsang sebelum perdarahanya berhenti, ia bisa koma," tutur Dion.
Setelah agak beberapa saat, Dion bisa bernafas lega, akhirnya pendarahan itu berhenti.
Amanda masih sadar, dan sangat sadar dengan perlakuan Dion terhadapnya, ia juga merasakan, bagaimana saat bibir Dion menyentuh bibirnya dan menghembuskan nafas ke dalam mulutnya, sebuah perasaan yang membuatnya cukup kuat untuk bertahan, kini tubuhnya berada dekat dengan Dion bahkan satu sisinya menempel, rasa yang membuat Amanda bisa menguatkan dirinya agar tak pingsan saat itu.
Pendarahan berhenti, Dion pun membersihkan sisa darah dengan tissue basah dengan kandungan alkohol.
"Amanda kamu dengar aku kan?" tanya Dion masih menahan tubuh Amanda, Amanda pun mengangguk.
"Apa kamu merasa pusing?" tanya Dion kembali.
Ia pun mengangguk.
"Baiklah, coba kamu atur nafas kamu, tarik sampai hitungan ketiga dan hembuskan dengan perlahan, dan ulangi sampai kamu benar-benar merasa sadar sepenuhnya."
Amanda pun mengikuti instruksi Dion, dan dengan perlahan pandanganya pun sudah terang kembali.
"Sudah ?" tanya Dion, dan di jawab anggukan kepala, setelah itu Dion mengangkat tubuh Amanda dan membawanya ke kamar.
Setelah beberapa lama berada dalam situasi menegangkan, Amira pun menghampiri Dion yang duduk di ruang tamu, setelah mengganti pakaianya.
"Yah, sebenarnya Amanda itu sakit apa sih, ibu baru lihat orang mimisan sebanyak itu darah yang keluar?" tanya Amira gusar.
"Leukimia bu, sebab itulah Amanda mudah mengalami pendarahan, tak hanya di hidung, jika semakin parah, ia bisa mengeluarkan tinja bercampur darah," papar Dion.
Amira kaget dan langsung menutup mulutnya," Separah itu Yah?" tanya Amira.
Dion hanya mengangguk.
"Tapi dari mana Ayah tahu Yah?" tanya heran.
"Dari obat-obatnya bu," jawab Dion spontan.
"Trus bagaimana Yah?" tanya Amira.
"Besok kita bawa Amanda kerumah sakit, kita ngak tahu seperti apa keadaanya, mungki dokter akan menyarankannya kemoterapi atau cangkok sumsum tulang belakang, tergantung dari tingkat keparahanyanya," papar Dion.
"Trus kenapa ngak di bawa sekarang saja Yah?" tanya Amira.
"Bu, kita harus beri tahu ibunya terlebih dahulu, ngak bisa sembarangan, jika akan diambil tindakan, maka harus melalui persetujuan keluarganya," papar Dion.
"Kita tunggu besok pagi, jika keadaan masih memburuk kita langsung bawa ke rumah sakit, jika sudah mendingan kita tunggu ibunya saja, dan malam ini kita tidur di kamar Amanda saja Bu, biar Ayah hampar kasurnya, kasihan dia ngak ada yang jaga," papar Dion, Amira pun setuju.
Dion menghampar kasur untuk istrinya tidur, karna ia harus begadang menjaga Amanda semalaman.
Please
like
komen dan
__ADS_1
vote, bunga juga boleh,
Terima kasih