Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Pertempuran jilid 2


__ADS_3

🍎🍎🍎🍎Mengandung adegan dewasa ya, harap bijak dalam memilih bacan yang di bawah umur tolong di skip aja ya, terima kasih.🍎🍎🍎🍎


Dyah dan Arkan berada dalam bathtub dengan air hangat, waktu masih menunjukan pukul sepuluh malam, setelah beberapa menit berendam dengan air hangat, mereka pun merasa segar kembali.


Senyum mesum kembali terlukis di wajah Arkan, perlahan tanganya menyentuh lembah tandus yang telah di basahi oleh nya.


Melihat Dyah yang bersandar, ia pun kembali memposisikan tubuhnya di atas tubuh Dyah.


Dyah memejamkan matanya mencoba menikmati sensai lilin aroma therapy, kembali membuka matanya.


Dyah kembali mendesah saat tangan Arkan menyentuh sudut yang hampir lancip di lembah tandus itu.


"Ehm, mas, pelan-pelan" ucapnya lirih.


Tangan Arkan masih menggoyang dan menggetarkan area yang sangat peka, tubuh Dyah bergetar menahan geloranya, apa lagi bibir Arkan sudah membenam di salah satu puncak bukit yang bewarna coklat itu.


"Ahk, " Dyah menggigit lembut bibirnya sambil meremas rambut Arkan.


"Aw, akh ehm,"


Hanya kata-kata itu yang terdengar di telinga Arkan.


"Udah mas, aku ngak sanggup, silakan saja."


Dyah mengangkat betis nya di kedua sisi bathub dengan demikian Arkan bisa menyerang nya secara membabi buta.


"Ahk," suara itu terdengar lirih di telinga Arkan, membuatnya semakin berhasrat untuk melakukan pertemburan jilit dua.


"Akh," ehm aw, suara Dyah, merintih menyeimbangi gerakan ganas Arkan.


Pesawat boeing 707 tanpa awak itu menjajal masuk sempurna di celah-celah sempit milik Dyah.


Gemericik air terdrngar akibat dari gerakan yang mereka timbulkan di dalam bathub.


"Masih mau lagi sayang?" tanya Arkan di telinga Dyah.


"Ehm, jangan berhenti dulu Mas," ucapnya sambil menyambar bibir Arkan, sementara Arkan mengeluarkan tenaga yang cukup besar untuk melakukan gerakan dorong tarik dan hentakkan sekaligus.


"Ehs, Mas, aku mau ganti posisi," ucap Dyah Lirih.


Arkan pun menarik tubuhnya, meriam nya masih mengeras saat itu, Arkan dalam posisi duduk, kini giliran Dyah berada diatas tubuhnya,


Dyah bergerak turun naik, sambil meremas rambut Arkan, Arkan tak kalah sengit, ia langsung menyambar salah satu bukit kembar itu dan melahapnya, lidah nya bergoyang mencicipi bukit kenyal itu, seiring goyangan yang ada di atas tubuh nya kini.


"Akhhhh," ucap keduanya, ketika mereka mencapai klimax masing-masing.


Dyah menarik tubuhnya dan bersandar pada bahu kekar Arkan.


Mereka pun coba mengatur nafas, sungguh sangat melelahkan, tapi juga memuaskan, tak sia-sia keduanya menanti saat-saat ini.


Arkan pun merangkul Dyah, dan mencium pucuk kepalanya.


Terima kasih sayang," kau memang memuaskan," ucapnya ngos-ngosan.


"Terima kasih juga Mas, aku juga merasa puas dan bahagia, kini aku telah resmi menjadi istri mu," ucap Dyah haru.


Sebulan kemudian.


Amira bangun di pagi hari karna merasa perutnya nya sakit.


"Yah, bangun yah," ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Dion.


"Kenapa Bu?" tanya Dion khawatir, ia panik saat melihat Amira merintih sambil mengeluarkan keringat dingin.


Dion bangkit dan memeriksa perut Amira.


"Bu, sudah kontraksi, kita kerumah sakit saja." kata Dion sambil bergegas menyiapkan keperluaan Amira.


"Iya yah, tapi ini sudah hilang nyerinya."


"Ini tuh belum sampai taksiranya Yah, ibu ngak mau lah kebidan, nanti di colok-colok, mending di colok sama ayah saja," sahut Amira.


"ehm, masih sempat aja bercanda." guman Dion.


"Ibu tuh kecapeaan, udah di suruh cuti masih bandel aja," omel Dion sambil memasukan bebepa kain dan pakaian untuk bersalin.


"Aduh yah, sakit lagi," ucapnya lirih sambil menahan air matanya.


Melihat Amira yang menitikan air mata Dion pun segera memanggil ummi.

__ADS_1


"Bentar ya sayang,"


Dion pun memanggil Ummi.


Ummi dan Abi langsung masuk ke kamar Amira.


"Amira kamu kenapa?" tanya ummi khawatir.


"Perut Amira sakit, padahal ini belum masuk hari taksiran melahirkan," ucapnya sambil mengerang kesakitan.


"Abi siapin mobil ya," ucap Abi yang langsung keluar dari kamar.


Sementara Dion binggung melihat istrinya yang merasa kesakitan, ia pun hanya mebelai rambut sang istri.


Dion memang sudah sering melihat orang yang menangis dan merintih kesakitan di rumah sakit dan semua dengan tenang ia bisa di atasi, tapi jika menyangkut istrinya, ia seperti kehilangan kontrol, justru Dion lebih panik dari Amira sendiri.


"Dion, kamu kok diam saja, cepat bawa Amira kerumah sakit," titah Ummi.


"Iiya, Ummi," ucapnya gugup.


Dion menuntun Amira menuju mobil, di sana sudah ada Abi yang menunggu.


"Ummi, ummi ikut, atau tunggu di rumah?" tanya Dion.


"Ummi tunggu di rumah, Gea dan Geo belum bangun," sahut Ummi.


Di dalam mobil, Amira kembali merasakan kontraksinya.


"Aduh yah," ucapnya sambil menggigit bibirnya. ia pun meremas tangan Dion.


Dion memeluk Amira.


"Sabar ya Bu, " hanya itu yang bisa ia ucapkan.


Dion pun mengusap pundak Amira dan berkali-kali mencium pucuk kepala dan kening istrinya.


Amira besandar pada tubuh Dion, meski merasakan sakit, tapi ia bahagia, karna saat ini, ada suaminya yang mendampinginya, Amira tak merasa takut seperti saat melahirkan si kembar, di mana ia harus berjuang sendirian, melawan rasa sakit dan kecewanya pada Dion saat itu.


Setelah sampai di rumah sakit, Amira langsung menuju ruang bersalin.


Saat itu ada bidan yang memeriksa pembukaan pada jalan lahir Amira.


"Pembukaan sudah lengkap, Pak, anda mau tetap di sini atau menunggu di luar, karna persalinan akan segera di mulai," kata bidan tersebut kepada Dion.


"Saya akan menunggu di sini," sahut Dion.


Amira menggenggam erat tanggan Dion, rasa sakit tersebut membuatnya mencengram tangan Dion begitu kuat, meski merasa sakit, tapi Dion membiarkan istrinya melakukan apa saja terhadapnya.


Amira mengatur nafas nya, rasa sakit muncul kembali, tak kuat menahan sakit, tubuhnya pun menggelepar.


"ha..ha..ha, sakit Yah," ucapan lirih dan tetesan air mata Amira, menggugah hati Dion.


Perlahan air mata Dion menetes melihat Amira yang sepertinya begitu kesakitan saat melahirkan anak mereka.


Dion memeluk istrinya dan berusaha menenangkan Amira, walau pun dirinya juga sedang merasa gelisah.


"Sabar bu, ibu akan mendapat pahala yang sangat besar, jika ibu sabar dan iklas dalam menjalani persalinan, "ucap Dion.


Amira pun meneteskan air matanya, kali ini ia benar-benar merasa sakit, isi perutnya seperti di peras dan di putar-putar.


Dion yang melihat itu, langsung memeluk dan menciumi istrinya, Dion mengelap setiap tetesan keringat yang keluar dari kening Amira.


Para bidan dan perawat kagum melihat pasangan muda itu, apalagi ia melihat, Dion yang sepertinya masih muda, namun terlihat bijak sana, mereka juga mengagumi Dion yang begitu menyayangi istrinya.


Persalinan pun Di mulai.


Amira coba mengatur nafasnya, menariknya dengan cepat dan menghempuskanya perlahan, ia pun mulai mengejan.


"Emkk..., Amira mengejan sekali tapi nafas nya belum sampai.


Ayo tarik nafas panjang bu dan dorong," ucap bidan tersebut.


Amira melakukan instruksi, ia pun menarik nafas kembali dan mengejan.


Keringat sudah membasahi seluruh tubuh Amira, Dion pun menyapu keringat yang menetes itu kemudian ia mencium Amira.


"Ayo sayang sedikit lagi," ucap Dion sambil berbisik di telinga Amira.


Amira pun menarik nafas panjang dan mengejan sekali lagi, wajahnya pun memerah.

__ADS_1


"Ayo sekali lagi, kali ini tarik nafas lebih panjang dan hembuskan," ucap bidan tersebut.


Sementara Dion tanpa sadar sudah meleleh kan air matanya, melihat istrinya yang hanya melahirkan satu anak saja, Amira sudah begitu menderita, apalagi saat melahir si kembar, membayangkan hal itu Dion pun meneteskan air matanya kembali.


Satu kali lagi Amira menghembuskan nafasnya, dan dengan tenaga yang tersisa ia keluarkan seluruh nya untuk mengejan, sementara tangganya sudah mengcengram erat tangan Dion.


Owek..owekk...,


"Alhamdullilah Pak, bayinya laki-laki,"ucap bidan yang menyabut kelahiran putra mereka.


Terdengar suara tangisan bayi, seketika tubuh Amira melemas, Dion pun membaring kan istrinya, kemudian ia kecup kening istrinya.


"Yah, anak kita sudah lahir, " ucap Amira dengan nafas yang masih belum teratur.


"Iya anak kita sudah lahir,Terima kasih bu," ucap Dion.


Bidan memotong tali pusar dan langsung membersih kan bayi tersebut, salah seorang bidan lagi menjahit jalan lahir Amira.


"Bu, di jahit ya." ucap bidan tersebut sambil memegang jarum.


"Engak, aku ngak mau di jahit, yah." ucap Amira panik.


"Kalau ngak di jahit ntar ngak bisa di pakai sama si bapak bu, nanti bapak cari istri baru lagi loh," goda suster tersebut.


"Ha, emang benar gitu yah?" tanya Amira panik.


"Iya kali bu," jawab Dion tertawa geli.


"Iya deh, mau," ucap Amira lirih.


"Tuh dengar pak, istrinya sayang banget sama bapak, si ibu sampai rela di jahit demi bapak, iya ngak bu," goda bidan lagi.


Seorang suster membawa bayi laki-laki itu ke Dion, pak di Azanin dulu, ucap perawat sambil menyodorkan bayi tersebut kepada Dion.


Dion, mencium bayi munggil yang berkulit merah itu, air matanya kembali menetes melihat buah cinta bersama sang istri telah lahir ke dunia dengan selamat.


Dion membawa bayi tersebut keluar dan menghadap kiblat, ia pun meminta Abi untuk mengAzan kannya.


Abi merasa senang bisa meng Azankan cucunya, karna sebelumnya, ia tak pernah melihat Gea dan Geo saat di lahirkan.


Dengan suara yang merdu dan titik air mata haru, Abi mengumandankan Azan di telinga munggil itu, sang bayi tampak begitu tenang.


Setelah selesai Abi kembali mencium cucunya itu, dan saat itu Ummi dan si kembar baru tiba, Ummi pun kembali menangis haru melihat cucunya dan menggendongnya.


"Oma, turunkan adeknya, Gea dan Geo mau lihat" ucap Gea.


Abi menggendong Gea dan Geo, mereka berdua pun mencium adik mereka secara bergantian.


Sementara Dion kembali menemani istrinya, setelah selesai di jahit, Dion merapi kan Amira, agar Abi dan Ummi bisa menjenguk nya.


Amira begitu bahagia, saat Ummi, Abi dan si kembar menjenguk nya, tak hanya keluarga inti saja, bahkan Dyah dan Arkan juga datang.


Amira menyambut bayi nya itu dengan perasaan haru dan bahagia, ia pun mendapat ucapan selamat dari Dyah dan Arkan.


"Selamat ya Mbak," ucap Dyah sambil mencium Amira dan bayi munggil itu.


"Arkan pun memeluk Dion, selamat ya Dion, masih muda tapi sudah jadi ayah dari tiga anak," ucap Arkan.


"Alhamdullilah rejeki," ucap Dion sambil menepuk pundak Arkan.


"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Dion.


"Alhamdullilah Dion, Dyah hamil sudah tiga minggu," ucap Arkan dengan bangga.


"Alhamdullilah," ucap mereka semua,


"Kalau gitu, ngak lama lagi Gea dan Geo dapat adik lagi dari tante Dyah dan Om Arkan," ucap Amira.


"Yey, jadi saudara kita rame dong Geo," ucap Gea girang.


"Eh ngomong-ngomong kalian mau kasi nama apa untuk anak kalian?" tanya Ummi.


Amira dan Dion saling berpandangan, mereka sama sekali belum mempersiapkan nama untuk sang buah hati.


Nah, bantu Dion dan Amira dong, untuk memberi nama anak mereka, nama yang cocok dari reader, akan benar2 author jadikan nama untuk nama anak mereka, please like komen dan votenya.


Untuk reader tersayang mampir di novel author yang lain juga dong, kali ini dengan genre romantis komedi yang bikin kalian cukup terhibur, dukung biar author cepat lulus kontraknya πŸ‘ŒπŸ‘Œ


__ADS_1


__ADS_2